DRE Aceh, Sebuah Ziarah Kebangsaan Risers Datsun

Leave a comment

September 1, 2016 by ahmadnajip

Tim DRE 2 Aceh saat melintasi perbukitan yang berbatasan dengan pesisir pantai Aceh. (NAJIP HENDRA SP)

Tim DRE 2 Aceh saat melintasi perbukitan yang berbatasan dengan pesisir pantai Aceh. (NAJIP HENDRA SP)

Suatu ketika seorang teman berbagi kabar melalui grup percakapan. Dengan suka cita dengan mengabarkan sedang menjalankan umroh. Sudah bisa ditebak, beberapa detik kemudian untaian syukur dan doa berbondong-bondong membanjiri ruang percakapan. Apa yang saya katakan kala itu? Hampir bisa dipastikan, ucapan saya bukan yang diharapkan tamu Allah. Lebih kurang begini komentar saya kala itu, “Kalau saya mendapat rejeki senilai biaya umroh atau naik haji, maka uang tersebut akan saya gunakan untuk berkeliling Indonesia. Saya lebih ingin mengenal Indonesia dari dari dekat daripada menghabiskan puluhan juta rupiah untuk menyumbang devisa Saudi Arabia.”

Ah, responsnya lagi-lagi sudah bisa ditebak. Kalau tidak Astagfirullah, lainnya adalah doa agar saya mendapat hidayah. Saya sendiri lupa mana yang paling banyak di antara dua frasa tadi. Malas juga saya menghitungnya, heheh.. Apapun itu, saya percaya mereka berkirim doa baik untuk saya. Saya percaya. Seingat saya bukan kali pertama mengatakan hal serupa di sejumlah lapak berbeda. Betapa saya sangat ingin mengenal Indonesia. Seandainya saya adalah Sam Bimbo, maka saya tak akan menulis lirik lagu Rindu Kami Padamu Ya Rasul. Mungkin rasul bakal saya ganti saja menjadi Indonesia saja. Ah, tentu saja saya hanya berandai-andai.

Dan, tererereng! Indonesia pun akhirnya “memanggil” saya pekan lalu. Ya, pekan lalu. Boleh dibilang panggilan datang serba mendadak. Juga berhasil diselesaikan dalam tempo sesingkat-singkatnya. Indonesia memanggil lewat sebuah hajat kolosal Datsun Risers Expedition 2. Kalau Sukarno dan Hatta butuh sehari-semalam plus diculik ke Rengasdengklok untuk menjawab panggilan kemerdekaan, saya tak kalah cepat. Begini ceritanya.

Hari sudah berganti ketika seorang teman, sebut saja namanya Adhie Fardianto –masak mau disebut Mawar. LOL– membagikan sebuah link event tahunan Datsun, Datsun Risers Expedition (DRE). Jika tak salah mengingat, pukul 01.26 isuk-isuk. Entah dari mana si Om dapat link tersebut. Yang jelas bukan disakuin sebagai dari Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2016 yang dikunjunginya di Indonesia Convention and Exhibition (ICE), kawasan BSD City, pada siang harinya. Sedikit membaca pengantar di website bersangkutan, 10 menit kemudian saya sudah mendaftarkan diri. Siang harinya datang email berisi permintaan melengkapi data, tepatnya data akun-akun media sosial yang dimiliki. Lagi-lagi saya langsung membalasnya dengan lengkap.

Sadar bukan seleb Twitter atau Instagram, saya bonusin alamat blog. Kalaulah usia yang belum genap 22 tahun (ah, yang benar saja) atau akun-akun tak memenuhi syarat, saya mencoba peruntungan dengan menuliskan alamat blog tadi. Nah, gara-gara ngeblog juga senen-kemis, lagi-lagi saya mencoba mengail lewat kata. Beberapa menit setelah apply DRE, saya mencoba beternak kata-kata selama sejam hingga akhirnya lahirlah sebuah tulisan melalui persalinan caesar. Beruntung saya baru saja melangsungkan ritual kecil para penggila otomotif, touring. Hasil kawin silang antara hasrat keliling menyapa tepian negeri dan kantuk tiada tara ini melahirkan sebuah tulisan pendek di sini. Saya menduga tulisan ini pula yang menjadi pengantar panggilan tadi. Tidak percaya? Saya sih tidak percaya juga.

Yang dinanti akhirnya tiba sehari kemudian. Kalau biasanya tak mengangkap panggilan masuk dengan nomor depan 021, kali ini saya yakin harus mengangkatnya. Suara seorang pria menyapa di seberang sana. “Saya dari Datsun,” ujarnya memulai. “Oh, dari DRE?” saya langsung nyambar. Dialog berikutnya begitulah. Jawaban saya bulat, tanpa benjol sedikit pun. Saya ikut DRE. Bahkan, saya sudah menjawab sebelum ditanya bisa atau tidak. Nah, lho! Siapakah yang menghubungi menggunakan kode area horror tersebut? Samar-samar saya mendengar namanya. Saat mendarat di Aceh lah saya sadar kalau yang menghubungi via telepon sebelumnya adalah Ario Bayu, entah KW ke berapa. Saya serius. Maafin saya ya, Bang Yugo. Ampuuun, Mukidi bercanda kok.

O iya, soal kode area tadi saya memang punya catatan buruk. Dalam kepala saya, kode area 021 itu memberi dua pilihan. Kalau bukan telemarketing yang doyan mengganggu waktu sempit, biasanya adalah leasing mobil atau debt collector kartu kredit. Rasa-rasanya lebih sering golongan kedua ini. Dan, kalau golongan kedua sudah barang tentu tak pernah membawa kabar baik. Hayati lelah dengan kaum kedua tersebut. Kalau boleh berdoa, Tuhan berkahilah para petugas leasing dan debt collector tadi sebuah penyakit yang tak perlu mematikan. Amnesia ketika mengingat nomor telepon saya saja sudah lebih dari cukup. Amiiin.

Jalan Sejarah Aceh

Saya sangat antusias mendapati kenyataan bahwa atape perdana DRE 2 adalah Aceh. Sebagai pembaca sejarah amatiran mulai SD hingga pascasarjana yang tak terselesaikan, saya melihat Aceh memiliki posisi intimewa di atas altar sejarah bangsa ini. Membaca sejarah Indonesia tanpa Aceh di dalamnya sama halnya menghilangkan kepingan puzzle historis sebuah negara bangsa (nation-state) bernama Indonesia. Terus terang saya merasa tersanjung mendapat kemewahan untuk menginjakkan kaki di Serambi Mekkah. Bagi saya, menyusuri Banda Aceh tak ubahnya menjejaki jalan sejarah. Menghampiri Aceh adalah sebuah ziarah. Sebuah napak tilas peradaban Islam. Sampai di sini pantas kiranya saya mengucapkan terima kasih kepada Datsun yang memprakarsai DRE.

Bandara Sultan Iskandar Muda. (NAJIP HENDRA SP)

Bandara Sultan Iskandar Muda ketika pagi. (NAJIP HENDRA SP)

Bersiap bernagkat ke Tanah Rencong layaknya menyambut pembagian rapor kenaikan atau bahkan pengumuman kelulusan sekolah. Mulai menyiapkan perlengkapan hingga travel menuju bandara, saya melakukannya dengan penuh sukacita dan kegirangan tiada tara. Hanya kepungan deadline beberapa kerjaan tertunda yang “menganggu” persiapan tadi. Yakin bandara adalah destinasi populer travel Bandung yang menjamur setelah adanya Tol Purbaleunyi, saya agak abai untuk segera membeli tiket.

Belakangan saya sadar kalau bandara yang dituju bukanlah Cengkareng alias Bandara Sukarno-Hatta. Bandara saya itu adalah Halim Perdanakusuma, bandara lebih kecil di sisi timur Jakarta. Hmmm.. tak banyak travel ke sana. Kalaupun ada, keberangkatan pertama hanya tersedia pukul 02.00 dini hari. Sementara jadwal take off 05.25 WIB. Travel berjadwal pun bukan pilihan. Setelah ngubek Mbah Gugel, saya menemukan sebuah travel khusus yang bersedia menjemput dari pintu rumah untuk kemudian mengantarkannya ke bandara. Dans Trans nama jemputan door to door tadi. Tak mau ambil risiko, saya memilih dijemput pukul 23.00. Akhirnya saya kebagian dijemput menjelang pukul 01.00 dini hari dan sudah nongkrong di Halim sebelum pukul 03.00 pagi. Asal tahu saja, pukul 03.00 saja gerbang keberangkatan belum dibuka.

Karena sehari sebelumnya mondar-mandir ke sana ke mari memadatkan kewajiban anter-jemput pemberi izin di rumah, saya sudah tak ingat lagi ketika pesawat meninggalkan runway  basah Halim. Terlebih hingga sejam sebelum jadwal jemputan travel tiba saya masih menyusuri lapak-lapak merchandise Persib Bandung. Selain karena memang merasa bobotoh, saya kok merasa memakai baju Persib adalah sebuah kewajiban. Pertama sebagai identitas urang Bandung, kedua secara kebetulan Datsun merupakan sponsor utama Persib musim ini. Kalau sudah begitu, memakai kaos Persib menjadi fardhu ‘ain. Hidup Persib!

Nasi Lemak by Batik Air (NAJIP HENDRA SP)

Nasi Lemak by Batik Air (NAJIP HENDRA SP)

Sungguh suasana tanah Serambi sudah terasa sejak dalam pesawat. Aroma rempah khas kuliner Melayu menguar di atas ketinggian. Pagi itu Batik Air menyajikan nasi lemak yang kaya rempah. Suasana khas Aceh juga begitu terasa ketika landing di Bandara Sultan Iskandar Muda di Aceh Besar, bukan Banda Aceh lho. Bandara yang sanggup menampung 1,7 juta penumpang per tahun ini tampak ikonik dengan atap berbentuk menara layaknya masjid. Bandara yang namanya diambiil dari pahlawan paling legendaris dalam sejarah Aceh ini sukses menempatkan diri sebagai gerbang masuk kawasan istimewa yang secara khusus menerapkan syariat Islam dalam kehidupan sehari-hari masyarakatnya.

Replika Makam Sultan Iskandar Muda di Banda Aceh. (NAJIP HENDRA SP)

Replika Makam Sultan Iskandar Muda di Banda Aceh. (NAJIP HENDRA SP)

Reputasi Sultan Iskandar Muda sebagai pahlawan Aceh kembali dibuktikan dengan hadirnya komplek makam khusus di pusat kota Banda Aceh. Tidak jauh dari komplek Museum Aceh, makam Sultan tampak mencolok dengan bangunan penutup berukuran besar. Konon katanya makam yang sekarang berdiri bukanlah makam sebenarnya, melainkan hasil rekonstruksi berdasarkan kesaksian seorang permeisuri Kesultanan Aceh Darussalam. Lalu, ke manakah makam otentik Sang Sultan? Guide Museum Aceh yang siang itu memandu rombongan para risers menjelaskan bahwa makam Sultan secara sengaja dihancurkan oleh Belanda. Duplikat makam didasarkan pada petunjuk Pocut Meurah, isteri Sultan Mahmudsyah. Dia masih rnengingat letak makam Sultan lskandar Muda karena sebelum dihancurkan Belanda dia sering berziarah ke sana sambil menghitung langkahnya sebanyak 44 langkah dari pinggir Krueng Daroy.

Tarian Ranup Lampuan menyambut rombongan Datsun Risers Expedition 2 (NAJIP HENDRA SP)

Tarian Ranup Lampuan menyambut rombongan Datsun Risers Expedition 2 (NAJIP HENDRA SP)

Adalah aspek historis yang menjadikan saya begitu menikmati suasana Museum Aceh atau titik-titik penghentian ekspedisi. Lebih dari sekadar barisan kata, kali ini saya menikmati jalan sejarah Aceh. Untuk tidak mengatakannya lengkap, Museum Aceh di Jalan Sultan Alaidin Mahmudsyah, Kota Banda Aceh, cukup memberi gambaran wajah peradaban Aceh dari masa ke masa. Beberapa artefak bisa disaksikan secara kasat mata. Aiiihh.. Ada yang terasa spesial ketika tiba di gerbang museum. Apalagi kalau bukan tarian Ranup Lampuan. Bang Yudi Randa, riser cum blogger Aceh, menjelaskan bahwa ranup lampuan merupakan tarian ini selamat datang yang biasanya khusus dihelat ketika menyambut tamu penting kesultanan atau bangsawan Aceh. Kini, tarian pun menjadi sambutan istimewa bagi para petinggi negara atau pejabat daerah. Kalau begitu, riser keren yang mewakili wajah senusantara ini layak menyandang predikat-predikat tadi: bangsawan atau pejabat. Ehem-ehem..

Koleksi Museum Aceh (NAJIP HENDRA SP)

Koleksi Museum Aceh (NAJIP HENDRA SP)

Koleksi Museum Aceh (NAJIP HENDRA SP)

Koleksi Museum Aceh (NAJIP HENDRA SP)

Koleksi Museum Aceh (NAJIP HENDRA SP)

Koleksi Museum Aceh (NAJIP HENDRA SP)

Koleksi Museum Aceh (NAJIP HENDRA SP)

Koleksi Museum Aceh (NAJIP HENDRA SP)

Sebagian besar dari koleksi yang dipamerkan, tampaknya saya memang baru melihatnya di sana. Tak bisa dimungkiri memang, arus besar sejarah Aceh identik dengan perang. Lazim kiranya bila kemudian sejarah Aceh terkesan lurus dan simetris. Lurus karena secara apik menyajikan rentetan para raja, para panglima, laksamana, dan senjata. Simetris karena hanya membagi sejarah ke dalam dua penampang: Aceh dan musuh Aceh.

Garis sejarah tadi mengingatkan saya pada buku-buku perkualiahan, ceramah-ceramah para sejarawan dan guru besar. Dalam konteks yang demikian tadi, sejarah menjadi milik orang-orang besar, raja-raja, sultan, bupati, sentana, dan seterusnya. Itulah yang kemudian dikenal dengan teori orang besar dalam sejarah atau the great men theory. Thomas Cartyle yang mempopulerkan konsep the great man theory berpendapat bahwa, “the great man dominates all history”. Dalam ranah ilmu sejarah, maka the great man akan dikupas tuntas, terkait dengan perjalanan sejarahnya.

Hal ini bisa dipahami karena para penulis, para pujangga, pencatat, hadir di lingkungan kekuasaan atau bahkan menjadi pembantu raja. Sejarah ini menempatkan orang-orang besar sebagai faktor determinan dalam arus sejarah sebuah bangsa. Sejarah ini sedikit –untuk mengatakan tidak ada sama sekali– mengungkap peran orang-orang kecil, orang kebanyakan, kaum miskin dan sejenisnya. Kalau pun ada, pada umumnya mereka hanyalah figuran. Dalam hal ini kita harus berterima kasih pada mendiang Sartono Kartodirdjo, begawan sejarah yang memelopori sejarah sosial (social history) yang lebih memberi ruang pada peran masyarakat sebagai pelaku sejarah.

Tentu wajah-wajah sultan dan panglima atau laksamana bukanlah satu-satunya koleksi Museum Aceh. Secara umum, koleksi museum Aceh tergolong atas tiga klasifikasi besar, yaitu koleksi anorganik, organik, dan campuran. Klasifikasi tersebut terbagi lagi dalam 10 jenis disiplin ilmu. Merujuk pada daftar koleksi yang saya intip melalui website resmi museum, ke-10 koleksi Museum Aceh meliputi disiplin ilmu geologika, biologika, etnografika, arkeologika, historika, numismatika dan heraldika, filologika, keramonologika, seni rupa, dan teknologika. Arti dari istilah-istilah tadi intip di Google saja yah, hehehe.

Mukidi berpose di depan Rumoh Aceh ditemani penari Ranup Lampuan. (DOK. PRIBADI)

Mukidi berpose di depan Rumoh Aceh ditemani penari Ranup Lampuan. (DOK. PRIBADI)

Kira-kira dua lusin langkah dari gedung koleksi, komplek Museum Aceh melengkapi diri dengan bangunan rumah adat Aceh yang disebut Rumoh Aceh. Sayang para risers kurang beruntung sehingga tidak bisa masuk ke bagian dalam rumah yang seluruhnya terbuat dari materil kayu tersebut. Walaupun begitu, kami masih berkesempatan bisa berpose di depan Rumoh Aceh. Lumayan, kan. Sepintas dari penjelasan pemandu, rumah adat Aceh secara anatomi biasanya memiliki tiga sampai lima ruangan. Bangunan terdiri atas seuramoe keue (serambi depan), seuramoe teungoh (serambi tengah), dan seuramoe likot (serambi belakang), serta bagian tambahan yaitu dapur.

Kali ini saya beruntung. Teman saya riser Aceh bermurah hati menjelaskan rumah adat ini selama perjalanan menuju Pidie. Beruntungnya lagi, dua teman saya semuanya wartawan. Chaidir Mahyuddin merupakan fotografer AFP, kantor berita milik Pemerintah Prancis. Kemudian Misdarul Ihsan, wartawan muda jaringan MNC Media milik taipan Harry Tanoe. Menurut Chaidir, rumah adat Aceh kaya akan nilai filosofis dan estetis. Hal tersebut terlihat dari berbagai ornamen yang menghiasinya. Bagian pancang yang menyanggah bangunan rumah biasanya terdiri dari 16-24 batang kayu.

Bagian bawah rumah yang disebut dengan yup meh ini biasa dipergunakan untuk memelihara ternak. Selain itu, bagian ini juga difungsikan oleh para ibu sebagai tempat untuk membuat songket. Di masa lalu, penyangga pada rumoh Aceh berfungsi agar binatang buas tidak dapat masuk ke dalam rumah. Nah, Chaidir sendiri punya penfsiran tambahan menyoal kolong rumah adat Aceh. Bentuk panggung pada dasarnya merupakan sebuah cara para leluhur Aceh dalam menyikapi bencana gempa yang kerap melanda tepian Republik ini. Bentuk ini menunjukkan local genius bangsa Aceh dalam mitigasi bencana gempa. Bangunan bertiang tinggi memiliki daya tahan tinggi terhadap gempa. Sayangnya, konsep mitigasi ini makin menguap tegerus sejarah itu sendiri. Khusus bencana gempa dan tsunami yang meluluhlantakkan Aceh ini (rencananya) akan saya tulisa dalam seri berikutnya. Kali ini soal sejarah dulu, hehehe..

Head of Marketing Datsun Indonesia Christian Gandawinata (DOK. DATSUN)

Head of Marketing Datsun Indonesia Christian Gandawinata (DOK. DATSUN)

Menyimak paparan riser keren ini tampaknya sejalan dengan tema DRE 2.  Yakni, bagaimana mengeksplorasi kearifan budaya dan sosok pahlawan lokal inspiratif. Ditodong saat para riser mampir di Dealer Nissan-Datsun Aceh, Head of Marketing Datsun Indonesia Christian Gandawinata menjelaskan, DRE 2 mengusung tema “Do More Explore More” yang digelar di sejumlah kota sejak Agustus hingga Maret 2017. Eksplorasi kearifan budaya, sosok pahlawan lokal inspiratif, festival rakyat, dan kegiatan jadi agenda utama pada DRE 2.   Melalui hajat ini, Datsun hadir di tengah-tengah warga Aceh untuk menyelami secara langsung nilai-nilai kebudayaan yang ada serta mengangkat sosok lokal Aceh yang inspiratif, yang patut membuat Indonesia bangga.

Sebagai anak bangsa, saya sangat bangga menjadi bagian dari DRE 2 yang mencoba mengeksplorasi keindonesiaan secara lebih nyata. Menjadi sebuah kehormatan mendapat kesempatan berkunjung ke tepian negeri bernama Serambi Mekkah. Bagi saya, mengunjungi Aceh sama halnya dengan menyusuri jalanan sejarah. Mengunjungi Aceh adalah ziarah kebangsaan. Hatur nuhun Aceh. Hatur nuhuh Datsun. Datsun galak loen.(*)

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: