Surat dari Tony

Leave a comment

January 13, 2015 by ahmadnajip

Tony Fernandes, bos AirAsia. (FOTO DARI KOMPAS.COM)

Tony Fernandes, bos AirAsia. (FOTO DARI KOMPAS.COM)

Yang Terhormat Najip ,

Beberapa pekan terakhir adalah masa-masa paling sulit dalam hidup saya sejak mendirikan AirAsia 13 tahun yang lalu.

Wow! Lama sekali saya tak ngeblog. Posting terakhir 4 Maret 2013. Itu pun sebenarnya salinan dari reportase saya untuk buku Praktik Baik Sekolah Aman Bencana dan Hemat Enegeri, oleh-oleh dari pesisir Sekotong, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, yang belum terjamah listrik. Malu juga sama WordPress yang sudah ngasih lapak gratisan begini, heheh..

Sibuk? Ah, tidak juga. Setiap hari saya memang menulis. Berita kependudukan atau keluarga berencana alias KB dan pembangunan keluarga merupakan salah satunya. Hampir setiap hari saya menulis berita begituan. Tulisan lainnya tersebar berupa rupa-rupa artikel tidak penting, bahan presentasi, surat-menyurat beberapa organisasi, atau apa saja. Tentu saja, setidak-tidaknya saya menulis dalam bentuk status geje Fesbuk, Twitter, atau BBM, SMS, hihihi…

Dan, entah mengapa saya kok tiba-tiba malam ini ingin menulis. Pemicunya surat dari Tony Fernandes, GCEO AriAsia, Founder of Tune Group, Chairman of QPR , dan Chairman of Caterham Group ini. Pembuka suratnya seperti yang saya kutip di atas. Nah, ketika menerima surat dari big bos pesawat nahas bernomor penerbangan QZ8501 tersebut terus terang saya agak kaget. Kaget karena saya bukan pelanggan setia AirAsia. Kalaupun member BIG Shot alias anggota klub pelanggan AirAsia, saya malah sudah lupa password untuk mengaksesnya. Saking lamanya gak dipakai. Lagian terbang juga jarang,hehehe..

Saya baru sadar masih memiliki hubungan dengan AirAsia ketika menengok e-ticket dari Traveloka buat kepulangan duo kesayangan saya, Rahma dan Rahma, dari Surabaya ke Bandung pada 17 Januari 2015 nanti. Saya baru sadar kalau beli tiketnya pakai email dan kartu kredit saya. Kalau yang bayar tagihan kartu kreditnya entah ya, hahaha… Pembelian tiket AirAsia ini mengagetkan saya, dan tentu saya bapak mertua maupun ipar saya di Kediri. Maklum, keputusan terbang menggunakan AirAsia ini membutuhkan mental luar biasa mengingat 28 Desember 2014 atau 10 hari sebelumnya AirAsia nomor penerbangan QZ8501 hilang dan tenggelam di Selat Karimata. O iya, saya beli tiket AirAsia pada 6 Januari 2015.

Istri saya sempat BBM, apakah boleh naik AirAsia dari Surabaya ke Bandung? Saya balik nanya, kalau berani sih gapapa. Tadinya sempat muncul opsi naik Garuda dengan pertimbangan harga tiketnya beda dikit doang. Selain memberikan kenyamanan kabin berlebih, ketepatan jadwal juga jadi pertimbangan. Dan, keputusan akhirnya pada AirAsia. Dalam hati saya memuji keberanian istri saya, Ika Rahma Hadiyanti, yang berani naik AirAsia berdua dengan Rahma lainnya, si bocah Rahmania Violeta Corleone, hehehe.. Untuk membesar hati istri saya –tepatnya hati saya, hahahah…– lantas saya bercerita kalau saya terbang naik Adam Air untuk mengikuti media gathering sebuah operator seluler di Yogyakarta. Beberapa hari sebelumnya, 1 Januari 2007, Adam Air nomor penerbangan 574 (KI 574, DHI 574), sebuah penerbangan domestik terjadwal Adam Air jurusan Jakarta-Surabaya-Manado, hilang dalam penerbangan setelah transit di Surabaya. Saya masih ingat bagaimana deg-degannya saat terbang di atas awan.

Surat pribadi Tony Fernandes yang dikirim kepada mereka yang pernah terbang bersama AirAsia. (CAPTURE DARI EMAIL SAYA)

Surat pribadi Tony Fernandes yang dikirim kepada mereka yang pernah terbang bersama AirAsia. (CAPTURE DARI EMAIL SAYA)

Lalu, mengapa saya ngeblog setelah membaca surat Tony Fernandes malam ini? Saya menulisnya untuk menunjukkan respek saya pada Tony. Bagi saya, surat Tony menunjukkan adanya tanggung jawab seorang petinggi perusahaan penerbangan terhadap penerima jasanya. Surat ini menunjukkan komitmen besar Tony pada kemanusiaan. Tony menulis surat personal, bukan atas nama perusahaan. Ini menarik karena Tony juga menyapa langsung nama tujuannya. Dengan begitu, saya membaca surat tersebut merasa benar-benar buat saya secara personal. Sebenarnya model surat begini pula yang dipilih Anies Baswedan ketika menyapa pendukungnya melalui Gerakan Turun Tangan.

Di luar soal komitmen, Tony mengucapkan terima kasih atas dukungan yang telah diberikan semua pihak dan memberitahukan adanya proses investigasi yang berlangsung di balik peristiwa nahas QZ8501. Setuju dengan tulisan Iszet di Kompasiana, “Pada titik ini, atau setidaknya lewat surat yang disebarkan ke pelanggan, Tony membuktikan bahwa dirinya adalah pebisnis yang lulus uji dan tahu bagaimana menghadapi hari-hari terberat dalam hidupnya. Ini bukan sekadar bagaimana mendulang simpati, melainkan bagaimana berempati dan beraksi atas apa musibah yang telah terjadi.”

Soal komitmen, saya kira tak perlu diragukan lagi. Dia sigap dan tanggap mengurusi langsung jatuhnya AirAsia QZ8501, franchise AirAsia Indonesia yang dimilikinya sebesar 49 persen. Ia tak menyerahkan, seperti kebanyakan bos besar lainnya, keputusan dan tanggungjawab kepada direktur AirAsia di Indonesia saja. Ia datang ke Crisis Center di Surabaya, Pangkalan Bun, hingga pemakaman jenazah para korban yang sudah ditemukan. Hebat, bukan? Inilah yang membuat saya respek sama Tony.

Bravo Tony Fernandes! PrayforAirAsia #togetherwestand

Maneh keren, Tony🙂

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: