Sependar Asa di Lumbung TKI

Leave a comment

March 4, 2013 by ahmadnajip

Lebih terang dengan LED.   (Corleone Pictures)

Lebih terang dengan LED. (Corleone Pictures)

Peristiwa itu masih hangat dalam ingatan Amaq Rabiah, Kepala Dusun Pangsing, Desa Buwun Mas, Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Hari itu, Jumat, sekitar pukul 11.00 pagi, tahun 1978. Amaq sedang bersampan ria bersama dua teman sebayanya ketika air laut bergetar cukup hebat. Perahu cadik yang ditumpanginya nyaris terbalik ketika sebuah gelombang menghentak.

“Kami langsung mengayuh sekuat tenaga agar bisa segera sampai di bibir pantai. Perkiraan kami, gempa berlangsung sekitar lima menit. Air bergoyang keras sekitar lima menit juga. Setelah itu, gelombang datang,” kenang Amaq.

Amaq Rabiah bukan nama sebenarnya. Pria berkulit gelap dengan sorot mata tajam ini terlahir dengan nama Shahnun. Dalam tradisi Sasak, nama orang tua biasanya “kalah” oleh nama anaknya. Amaq sendiri berarti bapak atau ayah. Nah, Rabiah merupakan nama cikal lima bersaudara yang satu di antaranya telah meninggal. Amaq Rabiah lebih kurang berarti bapaknya Rabiah. Dan, nama inilah yang kemudian dianggap lazim di kalangan masyarakat setempat. Wajar bila kemudian nama Ketua Komite Sekolah yang tertera di kantor guru merangkap perpustakaan SD Negeri Buwun 8 tersebut Amaq Rabiah, bukan Shahnun. Nama ibu juga kalah beken dari anak. Perempuan yang sudah melahirkan biasanya dipanggil Ina yang kemudian diikuti nama anaknya. Nyonya Shahnun pun kini dipanggil Ina Rabiah.

Setelah sesaat mengernyitkan dahi, kembali menceritakan pengalamannya berhadapan dengan tsunami kecil 34 tahun lalu. Sahnun ini mengaku masih ingat betul ketika air kemudian surut hingga ke dasar teluk. Tidak lama kemudian air laut kembali dan menghempas hingga ke daratan. Selang beberapa menit kemudian, air pun kembali surut. Seingat Shahnun yang kini berusia 44 tahun, pasang-surut air laut tersebut berlangsung hingga tiga kali. Selama itu pula Shahnun belia dibekap cemas di balik pohon, tidak jauh dari lahan yang kini berdiri rumahnya. Terlebih melihat gelombang setinggi tiga meter di depan mata.

Pengalaman masa kecil itu yang kemudian membuat Shahnun selalu waspada terhadap kemungkinan bencana. Pria beranak lima ini dia sadar posisi kampungnya rawan bencana. Apalagi, satu-satunya sekolah yang nota bene menjadi pusat konsentrrasi anak-anak di kampung tersebut hanya berjarak kurang dari 50 meter dari garis pantai.

Bermain itu asyiik :D (Corleone Pictures)

Bermain itu asyiik😀 (Corleone Pictures)

“Sekolah ini milik kami bersama di sini. Tamu sekolah, tamu saya juga. Tentu saya sangat peduli dengan keberadaannya. Kalau sekolah kami rusak, berarti kami harus menyeberang ke kampung sebelah,” kata Shahnun sambil menunjuk ke arah Kampung Pangsing  yang terpisah oleh lautan di depannya.

Walaupun berada di desa yang sama, Pangsing dan kampung yang dipimpin Shahnun terpisah selat yang lumayan lebar. Dari dermaga sederhana tanpa anjungan, kampung Shahnun hanya bisa ditempuh menggunakan perahu cadik bermotor. Butuh sekitar 15 menit untuk tiba di bibir pantai di seberangnya.

Tentu, Pangsing bukanlah dermaga sibuk yang dipenuhi lalu-lalang perahu. Praktis penumpang perahu hanya mereka yang bermukim di sana yang berkepentingan dengan penyeberangan. Wajar bila kemudian pemilik perahu hanya bersedia menyeberangkan penumpang pada waktu-waktu tertentu. Menjelang gelap, jangan harap ada perahu mau menyeberang.

Beruntung setahun lalu kampung Shahnun menerima bantuan perahu dari pemerintah pusat. Perahu gelondongan tersebut lantas dilengkapi motor kecil. Duitnya berasal dari patungan warga kampung. Perahu itulah yang digunakan anak-anak kampung yang kebetulan tengah bersekolah di SMP dan MTs di Pangsing.

“Berkat perahu itu lumayan anak-anak mau meneruskan sekolah. Sebelumnya, setelah tamat SD mereka cukup menjadi petani. Kalaupun tidak, mereka memilih menjadi TKI ke Malaysia,” terang Shahnun lagi.

 

Lumbung TKI

 

Menjadi TKI tampaknya memang menjadi pilihan terbaik di tengah kemiskinan yang membelit sebagian besar warga. Lahan kering yang mendominasi sebagian besar wilayah tak mampu memenuhi tuntutan kebutuhan warga. Pun dengan laut. Meski tinggal di garis pantai, ternyata sebagian besar warga menggantungkan hidup dari pertanian. Proporsi ini juga bisa dilihat dari pekerjaan orang tua murid SDN Buwun Mas 8. Dari 66 murid, 61 orang di antaranya merupakan petani. Sementara nelayan hanya empat orang. Adapun seorang lainnya merupakan pegawai negeri sipil (PNS).

“Saya pergi ke Malaysia karena tuntutan ekonomi keluarga. Bila tidak menggarap ladang, di sini tidak ada lagi yang bisa dikerjakan. Di sana saya bekerja di perkebunan sawit,” ungkap Mana, warga Pangsing yang baru 15 hari berada di kampungnya setelah sebelumnya merantau di Malaysia.

Tentang jumlah TKI ini, Shahnun memperkirakan hampir setengah warganya mengadu nasib di Malaysia. Sebagian besar di antaranya merupakan laki-laki. Ada juga perempuan namun tak sebanyak kaum pria. Shahnun yang saat ditemui tengah santai di beruga, bangunan kayu semacam gazebo, mengaku tidak tahu persis apa yang dikerjakan warganya di negeri jiran. Dia hanya tahu seseorang bekerja di Malaysia dari apa yang dihasilkan warganya itu. “Itu hasil (bekerja di) Malaysia,” Shahnun menunjuk ke beberapa rumah sederhana tidak jauh dari beruga miliknya.

Beruga memang sudah menjadi semacam trade mark warga Lombok pada umumnya. Beruga banyak ditemukan hampir di setiap rumah warga. Tentu, bentuk dan ukurannya tidak sama. Boleh jadi bentuk dan ukuran ikut menentukan prestise seseorang. Semakin banyak kekayaan, semakin bagus beruga berdiri di depan rumah. Di Lombok, umumnya warga menerima tamu di beruga. Jarang tamu yang bersedia masuk ke ruang tamu atau bagian dalam rumah. Bisa juga sebaliknya, tuan rumah tidak berkenan bila tamu mengetahui lebih banyak isi rumahnya.

“Pernah saya kedatangan tamu dari kabupaten. Mereka datang untuk memancing. Saya mengajak para pejabat itu tidur di rumah. Eh, mereka malah memilih tidur di beruga ini. Di daerah kami memang banyak warga yang memilih tidur di beruga. Itu sudah menjadi kebiasaan. Walaupun begitu, tidak banyak warga yang memiliki beruga. Hanya beberapa orang,” ungkap Shahnun seolah menegaskan bahwa beruga hanya bisa dimiliki oleh mereka yang relatif mapan.

Belakangan diketahui bahwa NTB merupakan salah satu kantung TKI di bagian tengah Indonesia. Selain beberapa rumah di kampung Shahnun, terdapat sebuah kampung di Kabupaten Lombok Barat yang sebagian besar warganya merupakan TKI. Kampung itulah yang kemudian mendapat julukan “Kampung Malaysia.” Saking banyaknya TKI yang mengadu nasib di Malaysia, maskapai penerbangan murah AirAsia tak ragu membuka rute anyar Lombok-Kuala Lumpur.

Menjemput di Bandara. Only at Lombok :)) (Corleone Pictures)

Menjemput di Bandara. Only at Lombok :)) (Corleone Pictures)

Asosiasi Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (Apjati) Nusa Tenggara Barat (NTB) mencatat setiap bulannya terdapat sekitar 58 TKI NTB yang terbang ke Malaysia. Alasan ini yang kemudian mendorong Apjati meminta AirAsia membuka penerbangan langsung Lombok-Kuala Lumpur. Ketua Apjati NTB H Muazzim Akbar mengungkapkan, sejauh ini perusahaan pengguna TKI di Malaysia seperti Sime Darby Bhd dan Felda Plantations Sdn Bhd, gencar mempekerjakan TKI asal NTB. Para TKI itu difasilitasi oleh 215 unit PPTKIS yang beroperasi di wilayah NTB, sebanyak 11 unit PPTKIS di antaranya berkantor pusat di Jakarta, selebihnya berbentuk kantor cabang yang pusatnya di Jakarta dan daerah lain di luar wilayah NTB.

“NTB merupakan daerah potensial pengirim TKI, dan terbanyak ke Malaysia yang mencapai sekitar 58 ribu setiap bulan.  Sebelum ada penerbangan langsung, TKI asal NTB yang bekerja di Malaysia diberangkatkan melalui Bandara Ngurah Rai, Bali, Bandara Juanda, Surabaya, dan Bandara Internasional Soekarno-Hatta,” kata Muazzim seperti dikutip kantor berita Antara.

Angka yang dirilis kantor berita Antara tersebut sama dengan angka serupa milik Keduataan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Malaysia. Atase Ketenagakerjaan KBRI Malaysia Agus Triyanto menyebutkan jumlah TKI legal di Malaysia sekitar 1,1 juta orang. Dari jumlah tersebut, 450 ribu di antaranya bekerja di sektor perkebunan. Tak hanya itu, KBRI memperkirakan ada sekitar 1,3 juta TKI ilegal yang tersebar di sejumlah negara bagian Malaysia.

 

Berkat Lampu LED Mereka Berubah

 

Nyala api tampak meliuk-liuk tersapu angin yang menyusup melalui celah daun pintu yang terbuka. Seorang perempuan tua tampak telentang berbalut sarung setengah dada sambil mengunyah daun sirih. Bibirnya tampak menyala merah ketika pendaran cahaya mengenainya. Di sudut lain tampak duduk bersila seorang lelaki tua. Tangannya sesekali menepuk nyamuk yang kebetulan melintas di depan matanya. Terdengar obrolan kecil menggunakan bahasa Sasak. Setelah itu kembali terdiam. Sepasang renta ini getol menunggui sang cucu, Hernawati (10 tahun), yang asyik menyalin tulisan dari buku bacaan ke buku tulis.

Hernawati yang duduk di bangku kelas empat SD Negeri Buwun Mas 8 ini tampak tak terganggu dengan obrolan kakek dan neneknya. Bocah yang bercita-cita menjadi guru ini pun tak terganggu dengan liukan cahaya lampu yang meredup setiap kali angin berembus. Sekitar 20 centimeter dari mukanya menyala sebuah lampu kecil yang tampak benderang di tengah pekatnya rumah panggung sederhana tersebut. Maklum, selain lampu belajar Hernawati tadi, rumah itu hanya bergantung kepada penerangan sebuah lampu  minyak. Nyalanya bahkan tak menyentuh dinding bagian belakang yang terbuat dari anyaman bambu.

“Dia terus belajar sampai malam. Saya sudah tidur, dia masih belajar,” kata sang kakek merujuk pada kebiasaan baru Hernawati sejak menerima lampu LED melalui program Sekolah Madrasah Aman dan Hemat Energi (SMAHE). Di sekolah pilot lainnya, SDN Jeringo di Kabupaten Lombok Timur, lampu berdaya 1 watt ini mendapat julukan Si Ledi.

“Hernawati memang dikenal pintar. Sampai jelas empat ini, dia sudah dua kali ranking satu. Dia belajarnya rajin, apalagi setelah ada lampu LED. Murid-murid lain pun begitu, rata-rata pola belajarnya berubah dalam dua bulan terakhir,” terang Astar, Kepala SD Negeri Buwun Mas 8, yang malam itu inkut menyambangi sejumlah murid penerima bantuan lampu LED.

Hernawati yang ditinggal ibunya mearantau ke Saudi Arabia dalam beberapa tahun terakhir ini mengaku makin betah belajar. Berbekal penerangan lampu LED yang memanfaatkan energi alternatif berupa sinar matahari dan angin tersebut, Hernawati kini bisa membaca buku cerita maupun mengerjakan pekerjaan rumah (PR) pada malam hari. Sebelumnya, nyaris tak ada kegiatan lain sepulang mengaji dari surau kampung setiap malamnya.

“Saya sangat senang sekarang punya lampu ini. Lebih terang dari lampu minyak,” ujar Hernawati malu-malu.

Sang kakek pun manggut-manggut. Menurutnya, cucu kesayangannya tersebut biasanya belajar sekitar dua jam setiap harinya. Satu jam pada siang hari. Satu jam lagi pada malam sepulang mengaji sekitar pukul 20.00. Khusus malam Jumat, biasanya mengaji diliburkan. Libur mengaji pada malam Jumat ini seperti sudah menjadi tradisi atau setidak-tidaknya konvensi bahwa malam itu merupakan hari libur mengaji. Konvensi juga berlaku bagi kaum pria dewasa pada Jumat siang hari. Cuma saja, ini terkait pekerjaan. Para petani atau nelayan di Kampung Pangsing memilih meliburkan diri dari rutinitas mereka di ladang maupun di laut setiap Jumat. Alasannya beragam. Shahnun sendiri mengaku sengaja libur demi menghormati hari yang dikenal rajanya hari dalam Islam tersebut. “Nanti kalau tetap bekerja, masjid jadi kosong,” kata Shahnun mencoba memberi alasan.

Menyebrang lautan demi anak didik. (Corleone Pictures)

Menyebrang lautan demi anak didik. (Corleone Pictures)

Masih soal sambutan terhadap lampu hemat energi, sejumlah murid SD Negeri Buwun Mas 8 mengungkapkan hal sama dengan Hernawati. Ditemui Kamis malam 15 November 2012 lalu, sejumlah anak yang kebetulan libur mengaji tampak asyik membolak-balik buku bermodalkan lampu LED. Ada tiga anak yang berkumpul mengelilingi satu lampu LED. Tiga belia ini tidak sedang membaca. Mereka tampak asyik menggambar di atas buku gambar seukuran buku tulis.

“Dia pernah juara gambar tingkat kecamatan,” kata Astar yang malam itu ikut berkeliling ke sejumlah rumah.

Astar menunjuk kepada Sabirin (13 tahun), murid kelas enam di sekolah yang dipimpinnya. Malam itu, Sabirin berbagi cahaya LED bersama Bai Titi (12 tahun) dan Wiranto yang masih duduk di kelas tiga di sekolah yang sama. Dibanding dua temannya, gambar Sabirin memang tampak paling mencolok. Apalagi dibandingkan dengan Wiranto yang masih susah payah mengeja huruf. Sabirin mengaku makin semangat belajar. Dia pun optimistis bakal meraih cita-citanya menjadi tentara angkatan laut. Semangat yang sama diungkapkan Bai Titi yang bapaknya merantau di Malaysia. Hanya Wiranto yang masih slengean ogah mengungkapkan tanggapannya.

Ekspresi senada juga diungkapkan Muliatul Aini (9 tahun), Rendi (10 tahun), Syaiful Azmi (12 tahun), Hasanul Bakiah (9 tahun), Hidayatul Laili (9 tahun), dan Gunawan (8 tahun). Pada umumnya mereka senang bisa belajar lebih tenang dengan penerangan LED. Beberapa di antara mereka menjawab polos dengan mengatakan bahwa biasanya tidak pernah belajar pada malam hari. Beberapa lainnya menjawab terkesan berlebihan dengan mengaku belajar tiga jam setiap malamnya. Muliatul Aini misalnya, mengaku belajar tiga jam setiap malam. Melihat usianya yang baru sembilan tahun tentu lama belajar tersebut terbilang luar biasa.

Selain digunakan untuk belajar, lampu LED juga biasa difungsikan menjadi lampu senter ketika berangkat dan pulang ke surau tempat mengaji. Beberapa orang tua juga tampak malu-malu mengaku memanfaatkan lampu LED untuk penerangan rumah mereka setelah tidak lagi digunakan oleh anaknya. Kapan lampu itu digunakan? Setidaknya pada malam hari sebelum tidur dan pagi hari ketika bangun. Dengan kemampuan menyala hingga lima jam, lampu tersebut memberikan benefit lain.

“Ya kami pakai saja buat di rumah. Mau tidur dimatikan. Nanti ketika bangun dinyalakan lagi. Lampu anak-anak ini juga membantu ketika genset mati di masjid. Kegiatan mengaji tetap berlangsung karena anak-anak membawa lampu sendiri,” kata Amaq Bakiah, orang tua Hasanal Bakiah yang sebelumnya pernah bekerja di Brunei Darussalam.

Nah, nama Hasanul Bakiah sendiri tidak lepas dari pengembaraannya ke negeri kaya Brunei Darussalam. Dia terus terang mengaku bahwa nama anaknya tersebut terinspirasi dari nama pemimpin negara di Pulau Kalimantau tersebut, Sultan Hassanal Bolkiah. Setelah pulang ke Pangsing, dia kembali bekerja serabutan. Pekerjaannya adalah apa yang bisa dia kerjakan. Amaq Bakiah menyebutnya wiraswasta. “Kadang jadi makelar tanah. Pokoknya apapun yang bisa mendatangkan uang,” ungkapnya tanpa tedeng aling-aling.

Bakiah sendiri mengaku senang bisa belajar pada malam hari. Bocah kelas enam SD Buwun Mas 8 ini makin yakin cita-citanya menjadi polisi bisa tercapai. Yang tidak kalah pentingnya, tidak ada lagi cerita rambut terbakar atau hidung mampet akibat jelaga yang timbul dari pembakaran lampu minyak. “Pokoknya saya senang,” ujarnya sumringah.

Perasaan senang rupanya taka hanya milik 66 murid penerima lampu LED. Rasa yang sama ikut menular ke seluruh penghuni rumah, terurama para ibu yang selama ini dipusingkan harga dan kelangkaan minyak tanah. Dengan memanfaatkan sisa waktu belajar anak-anak mereka, setidaknya mereka bisa menghemat pengeluaran rutin. Angka penghematan makin signifikan manakala dibandingkan dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk membayar listrik kepada pemilik genset.

“Kami tak punya uang untuk membeli genset. Satu-satunya penerangan menggunakan lampu minyak. Di sini, harga minyak tanah Rp 14 ribu per liter. Kalau satu liter bisa digunakan untuk dua malam, berarti saya harus membeli 15 liter minyak tanah. Artinya, saya harus punya uang Rp 210 ribu setiap bulan. Padahal, kami hanya panen setahun sekali. Itu pun sebagian besar hasil panen dimakan sehari-hari,” terang Samiah (50 tahun), orang tua Rendi yang malam itu mendampingi anaknya membaca buku cerita binatang.

Terjebak di masa lalu. Apa kabar Perusahaan Listrik Negara (Corleone Pictures)

Terjebak di masa lalu. Apa kabar Perusahaan Listrik Negara (Corleone Pictures)

Malam makin terasa sendu di Kampung Pangsing. Nyaris tak ada cahaya yang bisa tertangkap dari jarak dekat sekalipun. Semuanya gelap. Dari 280 kepala keluarga (KK) di dua blok kampung, hanya sebagian kecil yang memiliki genset. Itu pun bantuan dari pemerintah pusat beberapa tahun sebelumnya. Sialnya, kini genset-genset tersebut banyak yang mangkrak. Selain karena pemakaian, sebagian lain justru rusak karena jarang dipakai. Alasannya sederhana: tidak ada bahan bakar. Di blok yang di sana berdiri SD Negeri Buwun Mas 8 kini hanya tersisa tiga unit genset yang masing berfungsi dengan baik. “Saat bantuan turun, kampung kami menerima 50 unit genset. Blok ini menerima 19 unit, sisanya di blok sana di balik bukit ini. Kampung kami menerima paling banyak karena memang yang mengusulkan. Total bantuan sebenarnya 250 unit untuk enam kampung. Kampung Pangsing paling banyak,” Shahnun menjelaskan.

Pangsing memang terasing. Kampung yang memunggungi bagian barat Australia ini berjarak dua jam perjalanan dari Mataram, ibu kota Nusa Tenggara Barat. Waktu tempuh relatif lebih singkat dari Praya, Kabupaten Lombok Tengah, yang  sejak setahun terakhir berdiri Bandar Udara Internasional Lombok (BIL). Dari dua jam tersebut, setengah perjalanan dapat dilalui memanfaatkan jalan mulus yang menghubungkan Lombok dengan Pulau Bali. Seperempat perjalanan jalanan sempit dengan kondisi jalan berlubang di beberapa bagian. Tanaman jagung menghampar hampir di sepanjang setengah perjalanan. Sementara seperempat lainnya berupa perbukitan gersang dengan beberapa pohon ketapang di bahu jalan. Tidak jauh dari badan jalan berdiri kokoh sejumlah bukit.

Nah, seperempat perjalanan berikutnya mulai mendaki dan menurun perbukitan curam. Tanah lempung yang berbaur dengan cadas di kanan dan kiri jalan menjadikan jalanan lebih licin ketika tersiram hujan. Butuh kehati-hatian ekstra untuk tiba di Kecamatan Sekotong. Terlebih bila perjalanan dilanjutkan hingga ke Desa Buwun Mas. Sebelum ditemukan emas di beberapa bukit, Sekotong dikenal sebagai daerah minus. Kecamatan ini mulai menggeliat seiring meningkatkan aktivitas penambangan liar di sana. Namun begitu, Pangsing tetap tak tersentuh. Faktanya, tak ada sinyal telekomunikasi seluler di Buwun Mas. Apalagi di Pangsing.

Kepala adalah ruang bagasi. (Corleone Pictures)

Kepala adalah ruang bagasi. (Corleone Pictures)

Mengunjungi Pangsing seolah bertamu ke sebuah tempat di masa lalu. Masyarakat seolah tak terusik kemajuan teknologi informasi. Warga Pangsing tetap berladang seperti yang dilakukan moyang mereka. Mereka tetap bertelanjang dada pada siang hari atau bahkan malam sekalipun. Kain sarung merupakan pakaian sekaligus identitas mereka. Ke mana-mana mereka mengenakan kain sarung. Kaki mereka juga terbiasa telanjang menyentuh tanah atau pasir pantai. Dan, tubuh mereka adalah sarana transportasi. Berjalan menggunakan kaki dan kepala menjadi “bagasi” penyimpanan barang bawaan. Perempuan terbiasa menaruh baskom atau hasil pertanian di atas kepala.

 

Harapan Baru Generasi Pangsing

 

Pagi baru saja tiba ketika segerombol anak-anak berebut memasuki ruang perpustakaan SD Buwun Mas 8. Tanpa perlu aba-aba, mereka menuju ke pojok sebelah kiri dari arah pintu masuk. Di sana sudah terpasang seperangkat charger dan seonggok kabel untuk mengisi ulang lampu LED. Dari situ barulah mereka berhambur ke halaman sekolah sebelum kemudian masuk kelas. Selain bermain kejar-kejaran, sebagian di antara murid SD Buwun Mas 8 ini tampak menyapu halaman yang dipenuhi dedaunan lapuk. Dedauan sepertinya tak bisa dipisahkan dari sekolah seluas 2000 meter persegi yang berdiri sejak 1984 tersebut. Maklum, di halaman sekolah berdiri tegak pohon beringin berukuran raksasa. Dua beringin yang menjulang tinggi ini menjadi penanda tersendiri keberadaan seolah. Pohon beringin inilah yang terlihat dari dermaga di seberang teluk.

Solar cell dan wind turbin. Karena energi begitu melimpah. (Corleone Pictures)

Solar cell dan wind turbin. Karena energi begitu melimpah. (Corleone Pictures)

Aktivitas mengisi ulang baterai lampu LED merupakan rutinitas baru 66 murid SD Buwun Mas 8 sejak dua bulan terakhir. Keriangan tampak dalam raut wajah generasi baru Pangsing tersebut. Mereka senang karena dengan lampu LED tersebut bisa belajar pada malam hari. Bahkan dengan kemampuan menyala optimal hingga lima jam, mereka bisa memanfaatkannya untuk aktivitas lain. Kalau sudah begitu, menjadi tugas baru untuk mengisi ulang setiap pagi. Geliat kegiatan belajar ini yang kemudian memantik asa baru Shanhun maupun Astar. Dua orang ini jelas merasa paling bertanggung jawab atas pendidikan anak-anak di Kampung Pangsing. Sebagai kepala kampung, Shahnun kini makin optimistis mengenai masa depan warganya. Sementara itu, Astar berbahagia karena dengan begitu tugas guru yang dua orang menjadi lebih mudah. Guru bukan lagi satu-satunya sumber belajar. Dengan lampu tersebut, anak-anak bisa belajar sendiri di rumah masing-masing.

“Saya sangat berterima kasih atas perhatian pemerintah melalui program SMAHE ini. Bantuan ini sangat dirasakan murid-murid kami di sini. Manfaatnya terasa langsung. Saya sudah empat kali menginap di sekolah untuk melihat perkembangan belajar anak-anak. Hasilnya seperti Bapak juga saksikan. Ada peningkatan aktivitas belajar yang cukup signifikan dibanding sebelum menggunakan LED. Peningkatan juga bisa dilihat pengerjaan PR. Saya berkoordinasi dengan dengan teman-teman guru untuk memberikan PR kepada anak-anak. Keesokan harinya kita cek. Hasilnya, Alhamdulillah kini lebih banyak anak mengerjakan PR,” kata Astar saat ditemui saat menginap di kantornya, Kamis malam, 15 November 2012.

Astar memang terpaksa harus menginap di sekolah ketika melakukan monitoring. Maklum, kepala sekolah yang menjadi guru sejak 1986 tersebut tinggal jauh dari Pangsing. Meski masih satu desa dengan Pangsing, jaraknya lumayan jauh. Yang pasti, harus menyeberang laut. Sadar akan keterbatasan jarak itu, Astar pun mengaku terus mendorong orang tua murid untuk mendampingi anak-anak mereka belajar. Astar juga berpesan agar orang tua ikut menjaga lampu LED agar bisa dimanfaatkan lebih lama. Apalagi, sampai saat ini Astar belum mengetahui memperbaiki atau mengganti manakala lampu tersebut rusak. Sampai 15 November 2012 lalu misalnya, Astar mencatat adanya lima unit lampu yang rusak. Keluhan serupa juga diungkapkan Shahnan yang ditemui keesokan harinya.

“Jelas kami sangat terbantu dengan adanya lampu LED ini. Boleh dibilang, lampu ini membawa harapan baru bagi kami di sini yang masih terisolasi jaringan listrik PLN maupun sinyal telekomunikasi. Kami sangat berharap bisa menemukan tempat untuk membeli atau setidak-tidaknya untuk memperbaiki kerusakan yang terjadi pada lampu. Saya berpendapat lampu ini tak hanya bermanfaat bagi anak-anak untuk belajar. Bila memungkinkan, kami berkeinginan memiliki untuk digunakan sebagai alat penerangan sehari-hari. Genset di sini masih terbatas. Penggunaannya pun tidak optimal karena berbenturan dengan kebutuhan bahan bakar. Satu botol solar di sini dijual dengan harga Rp 7.000. Itu hanya cukup untuk 3-4 jam pemakaian. Bayangkan kalau harus menyala sepanjang malam. Untuk itu, kami sangat berharap adanya perluasan pemakaian lampu untuk kebutuhan warga di sini,” harap Shahnun yang pagi itu tampil santai dengan balutan sarung di beruga miliknya.

Anak-anak masa depan Pangsing. (Corleone Pictures)

Anak-anak masa depan Pangsing. (Corleone Pictures)

Harapan lain diungkapkan Astar. Sebagai pimpinan sekolah, Astar berharap bisa mendapatkan suplai energi alternatif untuk keperluan administrasi sekolah. Salah satunya untuk menghidupkan satu unit komputer di kantornya. Sejak dibeli beberapa waktu lalu, komputer tersebut belum pernah digunakan. Pernah suatu ketika Astar mencoba menyalakan dengan memanfaatkan listrik yang dihasilkan solar cell dan turbin yang digunakan untuk program SMAHE. Bukannya menyala, malah kini lampu pijar yang biasanya memanfaatkan sumber energi tersebut sama sekali mati. “Mungkin daya yang dibutuhkan komputer lebih besar dari daya yang dihasilkan turbin dan matahari. Mudah-mudahan ke depan bisa diperbaiki,” Astar penuh harap.

Lebih dari sekadar penerangan, Astar maupun Shahnun menaruh asa lebih tinggi. Keduanya berharap peningkatan prestasi belajar anak-anak Pangsing mampu memperbaiki kehidupan mereka di kemudian hari. Dengan begitu, ada mobilitas vertikal di tengah kehidupan lumbung TKI tersebut. Semoga. (Tulisan ini merupakan versi paling awal sebelum disunting dari salah satu materi buku good practices Sekolah Aman dan Hemat Energi di Nusa Tenggara Barat yang ditulis Ahmadnajip Corleone)

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: