Bandung Awal Revolusi

Leave a comment

September 6, 2012 by ahmadnajip

Buku Bandung Awal Revoludi (Bandung in the Early Revolution)

Mengapa Buku Ini?

Barangkali tidak ada –atau sekurang-kurangnya sangat sedikit– urang Bandung yang tidak mengenal Bandung Lautan Api. Setidaknya-tidaknya pernah mendengar. Atau, paling tidak pernah mengetahui lagu Halo-halo Bandung. Namun begitu, siapa di antara mereka yang memahami secara rinci peristiwa historis tersebut? Saya menduga hanya sedikit. Mungkin cuma ada dalam benak para sejarawan dan buku-buku pelajaran di sekolah. Sisanya milik Pusat Sejarah TNI. Karena itu, perlu ada upaya pemahaman kembali mengenai peristiwa sosial yang berkecamuk pada masa revolusi itu.

Peristiwa itu tentu tidak muncul serta merta, melainkan keberlanjutan dari rangkaian peristiwa sebelumnya. Boleh jadi, peristiwa ini sebagai akumulasi keputusasaan masyarakat atas tekanan sosial yang demikian kuat. Keresahan sosial yang timbul akibat tekanan kolonial Belanda secara alamiah menjadi prakondisi pada munculnya gerakan sosial. Kondisi ini semakin meningkat selama periode kolonial Jepang yang menjadikan masyarakat pribumi semakin terjerembab ke kubangan penderitaan dan konfrontasi pergulatan identitas sebuah bangsa.

Dalam konteks ini, upaya memahami Kota Bandung sebagai satu kesatuan geografis maupun politis hanya bisa dilakukan dengan cara mementaskan kembali peristiwa-peristiwa dari kelampauan. Sehingga, menghadirkan kelampauan sebagai pengalaman kolektif suatu komunitas merupakan knowing is remembering yang menunjuk pada kesatuan pengetahuan. Dan, Revolusi kemerdekaan yang terjadi di Kota Bandung berwujud pada konstruksi tersendiri. Dia tidak bisa dipersamakan dengan daerah lain. Namun demikian, tidak juga bisa dipisahkan secara tegas dengan revolusi nasional maupun revolusi lokal pada umumnya. Bandung pada awal Revolusi merupakan konstruk tersendiri yang hadir dalam keunikannya.

Bila kemudian muncul pertanyaan mengapa buku ini yang ditulis? Jawabannya sangat sederhana, belum begitu banyak kajian revolusi Indonesia yang fokus menjadikan Bandung sebagai lokus peristiwa. Lagi pula, ada semacam kecenderungan gejala antikuarisme dalam historiografi Indonesia. Kesan itulah yang tertangkap dalam sejumlah pertemuan tatap muka perkuliahan semester kedua ini. Gejala ini nampak menonjol terutama pada batas periode kajian yang semakin jauh dari periode kekinian. Menurut Mumuh Muhsin Zakaria, hal ini cukup mengasyikkan secara keilmuan. Akan tetapi, nilai praktis atau jarak antara kajian dengan kemanfaatan praktisnya akan semakin jauh. “Untuk apa,” kata Reiza D. Dienaputra.

Dua pernyataan di atas memberi perspektif lain tentang historiografi. Produk-produk historiografi itu relatif lebih sulit dipantulkan ke masa kini. Selain karena rentang waktu yang terlalu jauh, konteks peristiwa atau topik zaman juga boleh jadi tidak relevan dengan alam kekinian. Lalu, di mana relevansi buku ini dengan kondisi kekinian? Bagi saya, buku yang naskah aslinya terbit pada 1964 ini membawa tawaran baru historiografi Indonesia modern. Konteks sosio-politik yang menjadi batasan dalam pembahasannya mencoba memberikan tempat pada orang-orang kecil yang bukan sesiapa. Di sisi lain, heterogenitas kultural yang dikemukan dalam buku ini masih sangat relevan dengan kondisi Bandung saat ini yang menjadi tujuan para migran. Sehingga, pemahaman konteks sosial pada masa revolusi diharapkan mampu dipantulkan ke masa kini sehingga mampu menampilkan citra baru Kota Bandung yang lebih berbudaya dan ramah bagi masa depan. Saya sendiri percaya selalu ada yang aktual dari masa lalu. Melalui buku inilah kita bisa menemukan sepenggsal aktualitas itu.

Kata Buku Ini

A.        Latar Belakang

Buku Bandung Awal Revolusi: 1945-1946 menjadi semacam ikhtisar peristiwa yang terjadi pada awal Revolusi di Bandung. Periode yang disajikan terbilang singkat, hanya satu tahun. Namun demikian, penulis memberikan latar belakang historis cukup panjang. Bandung yang dalam perkembangannya tidak bisa dipisahkan dari keberadaan entitas Sunda diuraikan secara singkat mulai peralihan masa prasejarah hingga awal kemerdekaan. Rupanya Smail ingin memberikan gambaran utuh kondisi sosio-kultural maupun sosio-politik Kota Bandung dari masa ke masa.

Peta Bandung pada awal Kemerdekaan (1945)

Dibanding Jawa Tengah dan Jawa Timur, Jawa Barat –dengan tentu saja Kota Bandung di dalamnya–  mengalami transisi lebih lambat. Transisi prasejarah dimulai ketika masuknya pengaruh India pada abad kelima sampai ketujuh yang kemudian mengalami perubahan berarti pada abad ke-14 sampai ke-16. Pergerakan dinamis berlangsung setelah masuknya Islam pada abad ke-16 melalui pantai utara Jawa Barat, lewat kerajaan Cirebon dan Banten. Pengaruhnya makin kuat menjelang pergantian abad ke-17. Pada saat itulah mulai menguat pengaruh Mataram dalam masyarakat Sunda. Kebudayaan Jawa datang dengan memperkenalkan sistem ekonomi, sosial, dan budaya itu sendiri. Pengaruhnya bercokol kuat hingga abad ke-19. Penyebaran nilai-nilai kebudayaan Jawa ke dalam masyarakat Sunda berlangsung selama lebih kurang empat abad.

Penanda utama masuknya pengaruh Jawa dalam kehidupan masyarakat Sunda adalah penerapan sistem pemerintahan pola Mataram ke dalam birokrasi masyarakat Sunda. Para pejabat pemerintahan menjadi pusat dari pusaran kebudayaan Jawa yang demikian masif. Bahasa Jawa sebagai salah satu unsur kebudayaan Jawa menjadi salah satu agen perubahan sosial. Masyarakat Sunda pun secara perlahan beralih dari penduduk perbukitan atau dataran tinggi menjadi penduduk dataran rendah. Proses ini relatif sama dengan tahapan yang dilalui masyarakat Jawa.

Meredupnya pengaruh Mataram pada abad ke-17 berdampak langsung pada kehidupan masyarakat Sunda. Priangan yang sejak semula menjadi jantung kehidupan masyarakat Sunda diserahkan kepada pemerintah kolonial. Faktanya, Belanda tidak begitu menaruh perhatian terhadap Priangan sampai kemudian disadari bahwa daerah tersebut cocok untuk dijadikan basis penanaman kopi. Dalam beberapa dekade berikutnya, kopi Priangan berkembang menjadi dalah satu tanaman ekspor utama pemerintah kolonial. Komunitas Sunda di Priangan mulai menguat, bukan lagi varian dari kebudayaan Jawa, melainkan sebuah entitas budaya tersendiri. Kopi berhasil mengantarkan Priangan sebagai daerah yang tenang secara politik maupun sosial. Pada periode ini, abad ke-17 hingga 1945, Smail menilai Jawanisasi lebih berkembang dibanding Westernisasi.

Adalah penetrasi ekonomi Barat yang kemudian berhasil mengikis pengaruh Jawa pada masyarakat Sunda. Pembukaan jalur kereta api Bandung-Jakarta pada 1884 mempercepat modernisasi tanah Priangan. Proses pembaratan dalam skala luas makin terasa setelah berkembangnya perkebunan swasta di Priangan dan sekitarnya. Salah satu indikatornya adalah pertumbuhan populasi Kota Bandung yang demikian pesat. Dalam satu abad terakhir, penduduk Kota Bandung bertambah dari 11 ribu jiwa (1846) menjadi 437 ribu jiwa (1945). Penduduk Eropa –termasuk di dalamnya India dan Arab– mengalami lonjakan dari hanya sembilan orang menjadi 16 ribu orang.

Perubahan radikal elite Indonesia di Kota Bandung terjadi selama empat dekade awal abad ke-20. Pendidikan Barat yang mulai diberikan kepada masyarakat sejak awal abad ke-20 menjadi perantara runtuhnya dinding pembatas baik secara intelektual  maupun sosial. Pendidikan menjadi jalur alternatif meraih status sosial. Pendidikan Barat ibarat paspor atau bahwa shortcut untuk mengantarkan seseorang menjadi elite modern baru di tanah Priangan. Mereka menduduki sejumlah jabatan dan profesi berbeda. Apalagi, sejumlah kantor pemerintah dan perusahaan berkantor pusat di Bandung. Secara politik, bertambahnya elite Sunda berdampak besar pagi gerakan kebangsaan. Terminologi orang Sunda mulai bergeser menjadi orang Indonesia yang menandai babak baru nasionalisme. Di sinilah pentingnya pendidikan Barat sebagai katalisator utama perubahan sosial di Indonesia, termasuk di Bandung.

Bandul politik internasional terus berayun. Hindia Belanda yang merupakan daerah jajahan Kerajaan Belanda jatuh ke tangan Jepang pada 9 Maret 1942. Tiga setengah tahun pemerintahan Jepang membawa perubahan besar bagi Bandung dan sekitarnya. Perubahan pertama terjadi pada aspek ekonomi dan sosial. Perkebunan yang sejak semula menjadi komoditas utama ekonomi Priangan lumpuh akibat kebijakan perang yang diambil Jepang. Semua diarahkan pada terpenuhinya logistik perang Asia Timur Raya. Perdangan lokal lumpuh akibat kurang terserapnya komoditi ekonomi. Kondisi ini diperburuk dengan kebijakan penetapan keresidenan sebagai daerah otonom yang dituntut mampu memenuhi kebutuhan ekonomi secara mandiri. Lagi-lagi mematikan aktivitas ekonomi regional.

Perubahan kedua yang terjadi pada masa pemerintahan Jepang pada kebijakan politik otokratik-totalitarian, kontrol berlebihan yang disertai kebrutalan polisi militer terhadap masyarakat. Kondisi ini berbeda dengan kolonial Belanda yang cenderung konservatif, meskipun tetap otokratik. Salah satu ciri pada periode ini adalah pengorganisasian pemuda disertai indoktrinasi. Sementara peranan politik bergeser dari priyayi bangsawan menjadi pengarusutamaan politisi nasional dan pemimpin Islam. Naiknya peran pemuda menjadi babak baru dalam revolusi di tanah Priangan. Di sisi lain, tatanan sosial masyarakat Bandung semakin kacau selama masa pemerintahan Jepang.

Revolusi baru saja dimulai ketika perubahan fundamental dalam masyarakat Indonesia terjadi. Di sisi lain, anarkisme mewarnai jalannya revolusi sehingga menjerumuskan bayi republik ke alam ketidakteraturan dan kekacauan. Pergumulan antarkelas sosial makin terasa manakala memasuki ranah ideologi. Benturan nasionalis dan Islam makin kentara dalam perumusan tatanan kenegaraan. Dialog ideologis ini berujung pada kemenangan kaum nasionalis, dan Masyumi sebagai representasi Islam semakin melemah.

Salah satu fenomena penting pada awal revolusi adalah kemunculan pemuda sebagai elite baru yang menguasai sejumlah pos penting nasional. Pemuda pun mendefinisikan dirinya sendiri sebagai sebuah kekuatan baru yang militan dan revolusioner. Angka muda revolusioner ini dimulai ketika pada Mei 1945 mereka mengadakan pertemuan organisasi di Villa Isola, Kota Bandung. Pertemuan ini dihadiri sekitar 100 pemuda dari Bandung, Semarang, Surabaya, Surakarta, Yogyakarta, dan Jakarta. Pertemuan Isola memuncak pada pengemukaan apa yang kemudian menjadi slogan utama pemuda pada periode Revolusi: meningkatkan kecepatan gerakan menuju kemerdekaan.

B.        Bandung dalam Pusaran Revolusi

Monumen Bandung Lautan Api, bukti heroisme dan simbol pengorbanan rakyat.

Revolusi memang kerap memakan anak kandungnya sendiri. Dan, itulah yang terjadi dalam pusaran revolusi yang terjadi di Kota Bandung selama kurun waktu 1945-1946. Sedikitnya 1.500 orang menjadi “tumbal” revolusi yang berkecamuk selama 17 Agustus 1945 sampai 24 Maret 1946. Smail memilih periodisasi ini untuk memberikan batasan temporal secara jelas, yakni Proklamasi Kemerdekaan yang dampaknya langsung dirasakan di Bandung dan peristiwa pembumihangusan Kota Bandung pada 24 Maret 1946. Belakangan, peristiwa pembakaran seluruh isi kota –yang mungkin berhasil dihancurkan para pejuang– dikenal dengan sebutan peristiwa Bandung Lautan Api. Peristiwa heroik ini terus diperingati setiap tahun.

Perjalanan revolusi Bandung selama lebih kurang delapan bulan dipaparkan secara detail, terutama menyangkut peristiwa-peristiwa utama yang berkaitan dengan revolusi itu sendiri. Menariknya, Smail tidak terjebak pada sejarah konvensional yang dengan begitu saja menulis peristiwa berdasarkan tata urutan waktu. Dia sedapat mungkin mengomparasi data meragukan dengan beragam sumber. Wajar bila kemudian uraiannya demikian rinci, termasuk bagaimana sebuah kabar kemerdekaan sampai kepada masyarakat dan bagaimana masyarakat meresponsnya.

Hanya beberapa jam setelah duo Sukarno-Hatta membacakan proklamasi kemerdekaan di Jakarta, kabar kemerdekaan dengan aneka simpang-siur yang menyertainya sudah tiba di Bandung pada siang harinya. Sejam kemudian, bantahan resmi otoritas Jepang disampaikan. Namun demikian, babar secara perlahan merambat ke seluruh penjuru kota. Wartawan muda Tjahaja menjadi pihak pertama yang menyebarluaskan kemerdekaan melalui sejumlah poster. Kabar kemerdekaan ditindaklanjuti dengan mencetak pamflet yang kemudian menjadi media utama penyampaian kabar itu. Smail mengilustrasikan derasnya informasi mengenai kemerdekaan sehingga para pekerja mengetahuinya melalui poster dan pamflet di jalan. Ketika pulang ke rumah, istri mereka sudah terlebih dahulu menhetahuinya.

Pernyataan di atas tentu saja tidak linier dengan pemaknaan masyarakat Bandung terhadap proklamasi kemerdekaan. Faktanya, masyarakat belum mengetahui rumor menyerahnya Jepang kepada Sekutu. Kemerdekaan sendiri menjadi konsep abstrak yang tidak terjangkau masyarakat kebanyakan. Mereka baru memahami makna proklamasi kemerdekaan melalui penegasan bahwa kemerdekaan berarti tidak dikuasai Jepang. Simpang siur dan aneka rupa sambutan masyarakat terhadap proklamasi terekam jelas melalui sejumlah wawancara langsung Smail dengan masyarakat. Untuk menguji hal itu, Smail mewawancarai masyarakat biasa hingga lingkungan persekolahan. Informasi hilir mudik selama beberapa hari setelah proklamasi dibacakan di Jakarta. Toh, tidak semua siap menerima berita kemerdekaan. Para petani tidak memiliki akses untuk mengetahui bahwa pendudukan Jepang akan segera berakhir.

Proklamasi telah dibacakan. Kemerdekaan sudah berada di pangkuan. Berikutnya adalah atmosfer ketidakpastian menyelimuti masyarakat Bandung. Salah seorang militan yang diwawancarai Smail menggambarkan kebimbangan masyarakat yang berbalut kegembiraan. Gembira karena mereka sudah merdeka, bimbang karena pada dasarnya mereka belum tahu apa arti kemerdekaan itu. Dalam beberapa hari berikutnya, masyarakat Bandung bergeming dengan kehidupan masing-masing tanpa gesekan serius di antara mereka, baik antarpenduduk lokal maupun antara penduduk lokal dengan orang-orang Belanda, Jepang, dan asing lainnya. Adalah Komite Nasional Indonesia (KNI) lokal yang kemudian mengambil inisiatif mengisi kekosongan politik. KNI Keresidenan Priangan resmi terbentuk pada 24 Agustus 1945.

Dua bulan pertama kehidupan masyarakat berada dalam suasana transisi politik. Kekuatan nasionalis menjadi pengendali utama selama periode pendek ini. Pada periode ini juga terjadi peristiwa pembubaran dan pelucutan PETA, barisan pemuda terlatih bentukan Jepang. Ikatan komando yang melekat pada tubuh semi militer ini menjadikan orang-orang PETA tetap memiliki ikatan kuat antaranggotanya. Alumni PETA secara perlahan bermetamorfosis menjadi anggota Badan Keamanan Rakyat (BKR), tepatnya setelah pertemuan tokoh-tokoh PETA pada 26 Agustus 1945. Lembaga baru ini menjalankan fungsi sebagai penjaga ketertiban masyarakat, bukan kekuatan generik ketentaraan. Bendera merah putih mulai dikibarkan di rumah-rumah dan toko-toko. Bendera menjadi satu bentuk euforia khas masa Revolusi.

Atmosfer revolusi baru benar-benar dirasakan pada 21 september 1945 ketika terjadi penembakan oleh seorang Eurasia kepada seorang penjaga gedung yang mengakibatkan terbunuhnya orang tersebut. Kematian pemuda itulah yang menjadi pemantik api revolusi Bandung. Pekik “Merdeka” dan gelombang massa menjadi mengikuti pemakaman. Meski berjalan damai, kematian ini berhasil membangkitkan semangat nasionalisme. Dari sinilah masuk suasana baru revolusi yang lebih rentan konflik. Bara revolusi makin memanas ketika gentlemen’s agreement masih menyisakan ambiguitas. Kaum republiken yang sejatinya mendapat kebebasan dalam menempatkan pejabat di pemerintahan masih harus berhadapan dengan fakta bahwa orang-orang Jepang masih bercokol di sana. Puncaknya, pada 25 September 1945 pemerintah mendeklarasikan bahwa seluruh pegawai sipil berada di bawah Republik.

Salah satu karakteristik revolusi adalah kemunculan pemuda sebagai kekuatan baru. Pun di Kota Bandung, mereka menjadi salah satu elemen utama pergerakan revolusi yang terus berkembang dalam beberapa bulan setelah proklamasi. Gesekan antara kaum muda yang revolusioner dan kaum tua yang cenderung moderat membawa dinamika tersendiri pada revolusi Bandung. Kondisi ini terjadi karena sejak lama Bandung merupakan basis pendidikan. Kaum terpelajar tersedia dalam jumlah signifikan ketika proklamasi diembuskan. Ikatan solidaritas yang melekat dalam sosok pemuda menjadi kekuatan baru di tanah Priangan.

Kehadiran pemuda sebagai salah satu kekuatan utama revolusi makin nyata tatkala mereka memerankan diri sebagai garda terdepan proses pengalihan kekuasaan sejumlah perusahaan. Selama kurun waktu Oktober 1945 hingga Maret 1946, pemuda adalah motor utama perebutan Departemen Pos, Telegraf, dan Telekomunikasi (PTT) maupun pabrik senjata di Kiaracondong. Kini, tempat terakhir ini dikenal sebagai PT Pindad, salah satu industri strategis di Indonesia. Hal yang sama juga terjadi ketika merebut Departemen Kereta Api maupun perampasan senjata milik Jepang dan kekuatan lainnya.

Sejalan dengan itu, periode ini memunculkan sebuah gesekan kultural antara tokoh-tokoh pemuda Sunda di satu sisi dan Jawa di sisi lainnya. Smail mencatat, ada rivalitas antara kedua kultur dominan tersebut. Ada kecenderungan orang Sunda kalah militan dibanding orang Jawa pada umumnya. Tren ini mencuat ketika terjadi pergeseran kekuasaan dari elite lokal Sunda kepada golongan nasionalis yang secara kebetulan berasal dari etnis Jawa. Rivalitas ini sejatinya tidak dapat dipisahkan dari gerak revolusi Bandung dan sekitarnya. Betatapun demikian, rivalitas ini tidak sampai terpolarisasi secara tegas. Fokus utama para pejuang adalah kekuatan asing yang dianggap merongrong bayi republik. Terlebih ketika Jepang kembali melakukan kontrol atas nama Sekutu sebagai pemenang perang. Gemuruh revolusi secara fluktuatif berlangsung sampai beberapa tahun kemudian.

Bara dalam sekam revolusi tak pernah benar-benar mendingin. Klimaks revolusi terjadi selama kurun November 1945 dan beberapa bulan berikutnya. Pemicunya adalah tindakan arogan dan represif Belanda terhadap pribumi dalam berbagai aspek kehidupan. Mengutip Merdeka, Smail menggambarkan bagaimana seorang Belanda menggunakan senapan mesin hanya untuk memaksa pedagang memberikan dagangannya. Kejadian ini memicu aksi brutal masyarakat yang memang gerah terhadap perilaku Belanda maupun asing lainnya. Perang pun berkecamuk, kontak senjata tak bisa terhindarkan. Aksi-aksi heorik ini tidak lepas dari konstelasi nasional yang memang tengah demam revolusi. Apalagi, pada 10 November terjadi pertempuran dahsyat di  Surabaya.

Revoluasi mencapai puncaknya ketika di mana-mana terjadi anarki dan baku tembak. Bertambahnya populasi Eurasia secara signifikan, mencapai empat kali lipat, semakin memicu aksi-aksi masa. Gejolak yang terjadi sungguh tak bisa dibandingkan dengan kejadian serupa sebelumnya. Atmosfer luar biasa ini semakin menarik ketika Smail berhasil mengidentifikasi tiga karakteristik utama di dalamnya. Yakni, kepercayaan akan kekuatan magis, kecurigaan yang mendekati paranoia, dan maraknya aksi kriminalitas. Dalam kerang kecurigaan tersebut banyak kejadian lucu muncul. Smail mencontohkannya dalam tiga kasus. Salah satunya merek baju NICA yang digunakan dianggap merepresentasikan yang bersangkutan sebagai agen NICA. Atau ketika seorang bernama Dai dianggap melecehkan Indonesia karena Dai bisa diinterpretasi sebagai dood alle Indonesiers yang berarti matilah semua orang Indonesia. Barangkali inilah salah satu bentuk kekonyolan revolusi yang luput dari dokumen-dokumen resmi.

Tentu, Bandung bukan pemilik tunggal revolusi di Jawa Barat. Revolusi juga berkecamuk dalam skala mikro di pedesaan. Perjuangan kolektif rakyat Indonesia menghadapi Inggris dan Belanda menjadi faktor penting munculnya kekacauan sosial hampir di seluruh tatar Priangan. Karakteristik revolusi pedesaan sendiri bisa dikenali dari sifatnya yang sederhana dan berlangsung singkat. Pemicunya adalah adanya kekosongan kekuasaan (vacuum of power). Hal ini berbeda dengan Kota Bandung yang merupakan basis kekuatan Eurasia di Priangan. Salah satu fenomena revolusi pedesaan adalah pembunuhan orang asing, terutama Eurasia di pedesaan. Pedesaan juga menjadi penyuplai pemuda Kota Bandung. Meski tidak ada jumlah pasti, Smail memperkirakan ada sekitar 1.000 pemuda yang datang lalu kemudian kembali ke desa. Ada juga di antara mereka yang menetap. Walhasil, kedatangan mereka membawa gesekan tersendiri di lingkungan perkotaan.

Babak akhir periode awal Revolusi adalah peristiwa Bandung Lautan Api itu sendiri. Akhir bahasan Smail ini merupakan sebuah akumulasi dari ketidakpastian sejarah di Kota Bandung. Kebuntuan diplomasi antara Inggris sebagai wakil Sekutu dan Indonesia menggiring suasana kacau atau setidak-tidaknya memicu ketidaknyamanan. Para pemuda yang nota bene menjadi kekuatan utama revolusi tidak memiliki kekuatan cukup untuk memberikan perlawanan berarti kepada Inggris. Sadar akan kelemahan itu, para pemuda berupaya menyusun kekuatan di pinggiran kota. Keberadaan mereka adalah magma revolusi yang siap meledak kapan saja. Pertempuran hampir bisa dipastikan terjadi setiap kali ada konvoi kendaraan.

Dalam perkembangan selanjutnya, Inggris menetapkan Kota Bandung sebagai zona bebas aktivitas ektremis. Dalam radius 11 kilometer, Kota Bandung harus dikosongkan dari kekuatan-kekuatan revolusioner. Dengan demikian, harus ada evakuasi besar-besaran terhadap sumber daya Republik di pusat kota. Beberapa jam sebelum batas waktu yang ditentukan, pertengkaran pemuda militan dengan kekuatan tua makin mengemuka. Intinya, pemuda menolak meninggalkan kota dan memilih untuk melawan. Sementara kaum tua akan berperan sebagai negosiator di pusat kota. Pemuda pun memunculkan opsi untuk evakuasi total, termasuk pemerintah lokal yang tidak dipersyaratkan oleh Inggris sebagai pemegang otoritas Kota Bandung. Keputusan akhir dibuat oleh Sutoko dan Omon Abdurachman, komandan resimen kedelapan pada siang hari 24 Maret 1946.

Pilihan sudah dijatuhkan. Evakuasi total menjadi pilihan masyarakat Bandung, di bawah tekanan pemuda tentunya. Masyarakat mengungsi keluar dari zona 11 kilometer dari pusat kota. Di belakang pengungsi terdengar dinamit yang disulut para pemuda revolusioner. Sejumlah kesaksian melukiskan suasana malam yang lebih menakutkan daripada sebenarnya. Bandung benar-benar menjadi lautan api. Kobaran api itu yang kemudian melekat selama beberapa tahun kemudian dalam benak masyarakat. Memang tidak semua gedung berhasil dihancurkan akibat keterbatasan mereka sendiri alias kurang berpengalaman. Smail menyampaikan sejumlah sumber setuju mengatakan bahwa daerah distrik Cina di sebelah barat alun-alun mengalami kerusakan paling parah. Hanya ada beberapa bangunan Cina yang tidak hancur karena sejumlah martir bersedia disuap.

Revolusi telah terjadi. Peristiwa pembumihangusan secara nyata telah memecah komunitas menjadi dua bagian utama. Orang-orang Belanda, Erurasia, dan Cina tumbuh berkembang di seantero kota. Sementara penduduk pribumi menepi ke pedesaan di pinggiran Priangan. Dalam pandangan Smail, perpindahan sejumlah besar orang ini menjadi gambaran nyata proses revolusi di Kota Bandung selama setengah tahun terakhir. Meski tidak termanifestasikan secara jelas sebagaimana terjadi di Bandung, kekacauan revolusi terjadi juga di sejumlah daerah lainnya di Jawa. Gambaran mengerikan terjadi di desa-desa ketika pemuda revolusioner terus melakukan teror dan penculikan yang disertai pembunuhan terhadap kelompok Eurasia dan Ambon. Proses ini berlangsung hingga beberapa tahun kemudian seiring dimulainya sistem sosial baru Indonesia.

Beberapa Catatan

Eksplanasi Smail dalam Bandung Awal Revolusi: 1945-1946 ini memberikan sebuah perspektif yang relatif baru tentang revolusi di Kota Bandung. Ada beberapa hal yang menarik perhatian saya untuk dikaji lebih jauh menggunakan pendekatan dan konsep-konsep ilmu sosial maupun berdasarkan perbandingan dengan sumber lain yang relevan. Berikut beberapa catatan itu.

a. Revolusi dan Perubahan Sosial

Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat

Revolusi dan perubahan sosial tampaknya selalu memiliki hubungan erat. Dalam revolusi selalu ada perubahan sosial, namun tidak semua perubahan sosial berlangsung secara revolusioner. Di sini, perubahan sosial bisa saja berlangsung secara alami, gradual, dan bertahap. Namun demikian, dalam revolusi maupun evolusi selalu ada dua proses, reproduksi dan transformasi (Salim, 2002: 20). Dalam perubahan sosial yang terjadi di Bandung pada awal Revolusi sudah barang tentu perubahan yang terjadi berlangsung secara cepat dan kadang berupa kejutan. Pemaparan Smail secara jelas menegaskan adanya perubahan mendasar dalam tata kehidupan masyarakat Bandung pasca kemerdekaan.

Apa saja yang berubah? Perubahan pertama yang sangat kasat mata adalah tatanan politik dari kolonial menjadi republik berdaulat. Arus utama kemerdekaan ini membawa dampak turunan berupa perubahan sosial dalam masyarakat Bandung. Transisi kolonial-republik secara cepat melahirkan sejumlah elite baru, terutama dari kalangan pemuda. Pada saat yang sama terjadi rivalitas etnis antara Sunda di satu sisi dan Jawa di sisi lain. Etnis Sunda yang secara generik dianggap kurang militan secara perlahan tergeser oleh etnis Jawa dan beberapa di antaranya dari etnis lain di tanah air.

Eksalasi di atas sejatinya tidak bisa dilepaskan dari akar historis Kota Bandung sebagai ibu kota Priangan. Dalam beberapa dekade sebelumnya, perubahan sosial terjadi melalui saluran pendidikan. Pesatnya perkembangan ekonomi Hindia Belanda dengan sendirinya membutuhkan hadirnya sejumlah tenaga kerja baru yang murah namun memiliki pendidikan cukup. Pendidikan pun menjadi katalisator utama dalam melahirkan elite baru di Indonesia. Dalam perspektif Herbert Spencer (Ritzer, 2007: 50) tentang perubahan universal, kaum elite mempunyai kedudukan dominan dalam struktur masyarakat sebagai konsekuensi perkembangan ukuran (size) yang melahirkan diferensiasi. Secara universal, masyarakat berkembang dari yang sederhana menuju kompleksitas melalui taraf diferensiasi dan kesinambungan. Perubahan berlangsung dari homogenitas ke arah heterogenitas. Celah-celah heterogenitas ini kemudian diisi kelompok elite dari kalangan pribumi. Menjadi suatu ciri penting dari masyarakat-masyarakat industrial dengan munculnya generasi muda yang bertentangan dengan kelompok tua.

Kahin dalam pengantarnya untuk buku Smail tersebut, George M. T. Kahin melihat perubahan dalam skala yang lebih luas selama berkecamuknya revolusi di Kota Bandung. Perubahan itu tampak jelas dalam bentuk perkembangan organisasi militer, kepentingan golongan di balik konflik fundamental, anarkisme, dan perubahan ekonomi makro. Tambahan Kahin ini menjadi semacam penekanan bahwa buku Smail berhasil memberi sumbangan baru dalam khazanah sejarah lokal di Indonesia Modern. Sumbangan baru tersebut boleh jadi karena buku ini terbit kali pertama dalam bahasa Inggris pada 1964.

b. Pemuda, Revolusi, dan Kekerasan

Veteran pejuang revolusi Bandung (ANTARA)

Dalam paparannya tentang peran pemuda dalam revolusi, Smail terlebih dahulu membuat batasan mengenai konsep pemuda. Pemuda muncul untuk mengisi celah revolusi. Di sini, pemuda diasosiasikan sebagai sosok atau kelompok militan. Istiklah ini mengacu kepada peran politik khusus dari generasi muda saat itu, yaitu Angkatan 45. Meskipun tidak semua lelaki muda bisa disebut pemuda, secara politik diartikan sebagai aktivis muda revolusioner. Makna inilah yang digunakan Smail dalam penjelasannya.

Pemuda memang punya posisi tersendiri dalam revolusi Indonesia. Bahkan, Taufik Abdullah (1994: 1) secara tegas dilekatkan pada sosok yang di dalamnya sarat akan nilai-nilai. Pemuda seringkali merupakan pengertian ideologis atau kultural. Konsep yang dikemukakan begawan sejarah ini relevan dengan definisi pemuda sebagai satu kekuatan politik dalam pemaparan Smail. Menurut Taufik, munculnya generasi muda atau kelompok pemuda sangat erat hubungannya dengan perubahan sosial, terutama perubahan revolusioner yang dipelopori pemuda.

Mengapa pemuda kerap –untuk tidak menyebut selalu– muncul dalam setiap revolusi? Barangkali memang sudah menjadi keharusan sejarah bahwa perubahan sosial memang senantiasa ditandai terjadinya kegentingan hubungan generasi. Dalam banyak kasus, perubahan sosial kerap menampakkan diri dalam bentuk konflik generasi. Generasi muda secara alami lebih sedikit memiliki kepentingan terhadap berlanjutnya dasar struktur sosial lama. Walaupun demikian, Taufik Abdullah (1994: 4) menegaskan probalilitas kaum muda elite untuk tampil sebagai pemimpin lebih besar daripada kaum muda kebanyakan. Dalam paparan Smail pula tesis Taufik Abdullah ini bisa diterima.

Fenomena lain yang melekat pada golongan pemuda adalah kekerasan fisik yang dalam beberapa kasus disertai aksi kriminal. Kemunculan aksi kekerasan bisa dipahami sebagai dinamika yang berkembang dalam revolusi Indonesia. Kekerasan dianggap sebagai instrumen penting dari kekuatan politik dan badan perjuangan untuk merebut kekuasaan. Latar belakang ideologi yang berbeda satu sama lain menjadi pemicu kemunculan kekerasan itu. Terlebih pada kaum revolusioner yang menjadikan instrumen kekerasan sebagai salah satu prasyarat revolusi sosial.

Dalam kasus Surakarta, Julianto Ibrahim (2004: 117, 222) mengunkapkan bahwa kekacauan sosial ini menjadi ladang subur bagi tumbuhnya perbanditan atau kriminalitas. Bagi para bandit, revolusi merupakan kesempatan baik untuk melakukan kejahatan. Berkaitan dengan hal tersebut, maka untuk mengusir penjajahan, maka pemuda-pemuda bersatu dalam berbagai gerakan dan badan-badan perjuangan. Pada awal kemerdekaan, badan-badan perjuangan bergabung dalam partai politik, sehingga badan-badan perjuangan memuat dua tujuan, yaitu berupaya mempertahankan kemerdekaan, dan di pihak lain membela dan menjaga kepentingan kekuatan politik yang diikutinya. Sejauh ini terdapat kesamaan fenomena antara Surakarta dan Bandung sebagaimana dikemukakan Smail.

Konsep pemuda dikemukakan secara berbeda oleh George M. T. Kahin dalam Nasionalisme dan Revolusi di Indonesia: Refleksi Pergumulaj Lahirnya Republik. Mentor Smail ini mengungkap manifestasi pemuda dalam sapaan Bung selama revolusi. Panggilan yang diperkenalkan Sukarno ini merupakan sintesa dari saudara revolusioner, saudara nasionalis Indonesia, atau saudara republiken (Kahin, 1995: 175). Pada makna ini, panggilan Bung merupakan wujud egalitarian para pejuang pada masa Revolusi. Sayang sekali Smail tidak mengungkap adanya kekhasan panggilan revolusioner ala Bandung.

c. Sejarah Lisan dan Historiografi Indonesia

Satu hal yang menarik dalam buku Smail adalah konsep sejarah lisan (oral history) yang digunakan dalam pencarian sumber. Smail mencoba tidak terjebak pada sejarah kritis-konvensional yang bergantung kepada dokumen tertulis semata. Sumber lisan yang melimpah menjadi perhatian Smail di tengah keterbatasan dokumen tertulis. Tentang sumber lisan ini, Nina Herlina Lubis (2008: 7) mengklasifikasinya ke dalam dua kategori, sejarah lisan (oral history) dan tradisi lisan (oral tradition). Sejarah lisan merupakan kesaksian lisan oleh pelaku, sementara tradisi lisan lebih kepada bayangan kenyataan (mirage of reality) dan bercorak simbolik. Dalam konteks Revolusi di Bandung ala Smail, maka penggunaan sumber lisan merupakan sebuah kemajuan historiografi. Rupanya Smail sadar betul rendahnya tradisi tulis dalam masyarakat Indonesia. Karena itu, sumber lisan menjadi sangat penting artinya.

Smail beralasan rejarah awal Revolusi Indonesia, termasuk di dalamnya Bandung, masih sangat kontroversial. Sejumlah dokumen masih berada dalam kategori rahasia, sehingga sangat sulit diakses publik. Di sisi lain, para pelaku revolusi dan saksi mata masih mudah ditemukan. Memang, Smail menemui kendala alamiah dalah pengungkapan sumber. Hasil wawancara tidak bisa seakurat seperti yang dikehendaki sejarawan. Karena itu, Smail mencoba melakukan verifikasi secara cermat. Hasilnya, Smail mencoba memberi penafsiran pada setiap apa yang disampaikan narasumber.

Pokok bukan tokoh. Demikian ungkapan Goenawan Mohammad yang melekat dalam benak saya. Ketika Smail memilih untuk tidak mengemukakan identitas narasumber yang diwawancarai, maka saya langsung teringat kata-kata GM, sebutan Goenawan, itu. Smail sengaja tidak mempublikasikan identitas narasumber karena kerapkali tidak berguna. Saya setuju dengan pendapatnya. Atribusi yang dilekatkan pada narasumber sudah cukup memberikan gambaran peristiwa itu sendiri. Wajar bila kemudian Smail memunculkan narasumber seorang tukang cukur, pedagang, guru, dan lain-lain. Saya percaya, Smail tidak sedang mempertaruhkan reputasinya dengan memasukkan narasumber palsu atau imajiner.

d. Sebuah Komparasi

Mari kita membandingkan. Bukan untuk mencari kelemahan, melainkan mengidentifikasi kebaruan yang disampaikan Smail melalui karyanya. Adakah yang baru? Kebaruan itu mencoba ditemukan melalui serangkaian komparasi karya historiografi. Beberapa karya yang sempat diintip untuk keperluan analisis ini antara lain buku Nasionalisme dan Revolusi di Indonesia: Refleksi Pergumulan Lahirnya Republik (Kahin, 1995), Sejarah Indonesia Modern (M.C. Ricklefs, 1991), Politik Etis dan Revolusi Kemerdekaan (Baudet dan Brugmans, 1987), Bandit dan Pejuang di Simpang Bengawan: Kriminalitas dan Kekerasan Masa Revolusi di Surakarta (Ibrahim, 2004). Sejarah Jawa Barat Jilid II (Lubis, 2011), “… Mari Bung, Rebut Kembali!” (Saleh, 2000), dan beberapa sumber untuk keperluan analisis konseptual.

Dari sejumlah pembanding itu, saya melihatnya bahwa karya Smail membawa kebaruan sudut pandang maupun metodologi. Ditinjau secara sudut pandang, Smail mencoba membawa pembacanya untuk melihat peristiwa revolusi di Bandung dari sudut pandang paling pinggir. Dia menempatkan orang-orang kecil sebagai sumber melalui wawancara lisan yang dilakukannya. Hal ini menjadikan kesan bahwa historiografi yang dihasilkannya menjadi sangat “sosial”, jauh dari kesan elitis. Smail berhasil melakukan dekonstruksi historiografi politik yang melulu berbicara konflik kepentingan antarelite. Barangkali karyanya layak disebut grounded history atau sebuah model sejarak sosial-politik yang komplet. Secara metodologis, Smail berhasil menjadikan oral history sebagai sumber yang layak dipentaskan di atas panggung sejarah modern.

Dibanding karya-karya Kahin, Lubis, Baudet dan Brugmans, karya Smail lebih mampu memotret secara utuh jalannya peristiwa di tingkat makro. Ini tidak lepas dari batas spasial yang dipilih Smail. Bila karya-karya yang disebutkan tadi menyoroti konteks makro atau setidak-tidaknya Jawa Barat (Lubis), Smail lebih mengakar karena mengungkap dalam lokus sempit. Di samping itu, periodisasi yang dipilih sangat memungkinkan untuk mengungkap lebih banyak yang tidak terungkap oleh karya sejenis.

Sementara itu, dibandingkan dengan karya-karya Ibrahim dan Saleh, penjelasan Smail juga berhasil mengungkap lebih banyak hal. Memang, Ibrahim juga memberikan sudut pandang dari dekat tentang Surakarta. Perbedaan keduanya terletak pada pemilihan tempat dan konsep yang digunakan. Bila Ibrahim fokus pada perbanditan dan kriminalitas, Smail lebih umum karena mengungkap hal-hal lain yang berlangsung selama revolusi. Buku ini menjadi sebuah sejarah umum yang riqid dan sistematis. Lalu bagaimana dengan karya Saleh? Buku Saleh memiliki lokus yang sama dengan Smail, yakni Kota Bandung. Bedanya, Smail lebih menyoroti aspek sosial secara keseluruhan, sementara Saleh hanya menyoroti perjalanan Komandemen I-Jawa Barat selama Revolusi. Jelas, Smail lebih berhasil memberikan eksplanasi memadai ketimbang Saleh.

Akhirnya, saya berada pada satu simpulan. Buku Bandung Awal Revolusi: 1945-1946 merupakan sebuah kontekstualisasi sebuah kecamuk revolusi sosial di sebuah kota. Dia berhasil memberikan sudut pandang baru historiografi Indonesia modern. Dalam konteks ini, revolusi sosial dan revolusi nasional tentunya tidak dapat dipisahkan begitu saja. Selalu ada irisan di antara keduanya. Dan, Bandung dalam pusaran revolusi memiliki keunikan tersendiri. Begitulah revolusi memilih jalannya sendiri-sendiri.(*)

Judul Buku

Bandung Awal Revolusi: 1945-1946 (Bandung in The Early Revolution, 1945-1946)

Penulis
John R. W. Smail

Penerjemah
Muhammad Yesa Aravena

Penerbit
Ka Bandung (Edisi Bahasa Indonesia); Cornell Modern Indonesia Project, Southeast Asia Program  (Edisi Asli)

Tahun Terbit
Mei 2011 (Edisi Bahasa Indonesia); 1964 (Edisi Asli)

Rujukan

Abdullah, Taufik (ed). 1994. Pemuda dan Perubahan Sosial. Jakarta: LP3ES.

Baudet, H dan Brugmans, I.J. 1987. Politik Etis dan Revolusi Kemerdekaan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Ibrahim, J. 2004. Bandit dan Pejuang di Simpang Bengawan: Kriminalitas dan Kekerasan Masa Revolusi di Surakarta. Wonogiri: Bina Citra Pustaka.

Kahin, George McTurnan. 1995. Refleksi Pergumulan Lahirnya Republik: Nasionalisme dan Revolusi di Indonesia. Jakarta: Sinar Harapan.

Lubis, Nina H. 2008. Metode Sejarah. Bandung: Satya Historika.

Lubis, Nina H. et al. 2011. Sejarah Provinsi Jawa Barat (Jilid 2). Bandung: Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Ricklefs, M. C. 1991. Sejarah Indonesia Modern. Terjemahan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Ritzer, George dan Goodman, Douglas J. 2007. Teori Sosiologi Modern (Edisi VI). Jakarta: Kencana.

Saleh, RHA. 2000. “…Mari Bung, Rebut Kembali!”. Jakarta: Sinar Harapan.

Salim, Agus. 2002. Perubahan Sosial: Sketsa Teori dan Refleksi Metodologi Kasus Indonesia. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: