Ziarah ke Pusara Tan Malaka

5

August 29, 2012 by ahmadnajip

Bersama Violeta berdoa di pusara Tan Malaka.

Revolusi memang kerap memakan anak kandungnya sendiri. Sebutlah Tan  Malaka, dia yang rela terlunta-lunta demi kemerdekaan yang dicita-citakannya, harus rela meregang nyawa di ujung laras panjang senjata tentara negara yang dibelanya sedemikian rupa. Tubuh penyakitan yang akrab dengan aroma penjara di sejumlah negara ini -dikabarkan- hanyut mengambang di derasnya Kali Brantas di Kediri, Jawa Timur. Bahkan, namanya harus hilang dari buku-buku sejarah. Selain mahasiswa sejarah atau mereka yang bersimpati terhadap gerakan kiri, nyaris tak ada orang yang mengenalnya. Begitu tragis.

Deretan kalimat di atas merupakan paragraf pembuka skripsi saya yang ditulis 2007 lalu di Jurusan Pendidikan Sejarah Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Islam dalam Perspektif Tan Malaka, demikian judul skripsi saya itu. Tentu, saya tak perlu mengurai lebih banyak lagi mengenai riwayat hidup sang Patriot. Malam ini, sehari setelah berkunjung ke pekuburan yang di dalamnya diduga terbaring jasad Tan Malaka, saya menulis karena dua alasan. Pertama, saya merindukan dia, Tan Malaka, setelah baru saja menuntaskan melahap sebuah autobiografi Sukarno yang ditulis wartawati cantik Cindy Adams, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Saya ragu atas kewarasan Bung Karno dengan tidak menuliskan sekali pun nama Tan Malaka di buku yang judul aslinya Sukarno an Autobiography as Told to Cindy Adams tersebut.

Alasan kedua, saya malu kepada mereka yang sudi mampir ke blog ini. Malu karena jarang menyuguhi mereka dengan cemilan baru. Konon katanya, salah satu pengunjung blog ini adalah mertua tercinta, Pak Mashad. Ehem-ehem… Perasaan ini terus berulang setiap kali membuka halaman dasbor WordPress. Meskipun tak sebanyak blog tetangga, mendapat kunjungan lebih dari 100 orang per hari merupakan sebuah kemewahan. Bagi saya, berkunjung ke tepas ini merupakan sebuah salam persahabatan. Sebagai tuan rumah, saya tentu harus membalasnya. Tentu saja dengan suguhan bermanfaat. Bila sebelumnya banyak tamu kesasar karena mencari Maria Ozawa, kini mereka yang mencari alamat-alamat sekolah, dinas pendidikan, kantor bupati, Gunung Lalakon, Herbert Spencer, teori konflik, dan sesekali soal resensi buku. Kali ini saya akan menyuguhkan peristirahatan terakhir Tan.

Di manakah pusara Tan Malaka itu? Untuk menjawab pertanyaan ini, lagi-lagi saya akan mengutip bagian skripsi yang sempat terbengkalai lebih dari satu tahun itu. Untuk kenyamanan pembaca, saya sengaja menghilangkan teknik pengutipan seperti dalam skripsi. Terdapat beberapa versi seputar kematian Tan Malaka. Ketua LPPM Tan Malaka Datuk Putih Asral menduga adanya keterlibatan Van der Plass. Letkol Surachmad, mantan pegawai pamong praja era Van der Plass, beserta  pasukannya diduga sebagai eksekutor kematian Tan Malaka. Tindakan Letkol Surachmad itu adalah buah dari benih-benih adu domba yang ditebar Van der Plass. Ada dua desa yang disebut sebagai lokasi penembakan Tan Malaka, yaitu Desa Pethok dan Desa Blimbing.

Menurut versi hasil penyelidikan Partai Murba, pada 19 Februari 1949 Tan Malaka dibunuh di bawah tentara reguler “Macan Kerah” dari Brigade “S” di bawah pimpinan Letkol Surachmad di desa Pethok, Kediri. Mayatnya dibuang ke Sungai Brantas dan tidak pernah ditemukan. Bersama dengan Tan Malaka juga dibunuh pengawal-pengawalnya seperti Kapten Dimin, Pak Ali, dan Teguh. Sementara Fahsin M. Fa’al menyebut Tan Malaka ditembak ketika sedang melakukan gerilya di daerah pegunungan bersama Batalyon Sabarudin. Pada 19 Februari 1949 Sabarudin dan pasukannya yang menjaga Tan Malaka diserang oleh satuan lain dari faksi TNI. Anggota pasukan yang berada dalam sebuah rumah, termasuk Tan Malaka, disuruh keluar dan kemudian ditembak di tempat. Beberapa di antaranya dibawa pergi.

Tan Malaka yang ikut tertangkap dalam penyerbuan tersebut dan digiring bersama pengikutnya ke sebuah desa bernama Sawahan, Brebek, 15 kilometer dari Blimbing. Pasukan Sabarudin lari ke sebelah timur Gunung Wilis, tepatnya di Tarokan. Sedangkan rombongan Tan Malaka lari ke Desa Mojo. Di desa itulah dia ditangkap oleh CPM. Ia dibawa lari sampai di dekat Sungai Brantas, dan tanpa ampun ditembak di tepian sungai. Dengan luka menganga dan darah yang masih basah mayat pejuang kesepian itu dilempar di tengah Sungai Brantas.

Aboe Bakar Loebis menyebut Tan Malaka ditembak di pinggir Kali Brantas di dekat Desa Mojo oleh satu unit militer “Macan Kerah” dari Brigade Surachmad, setelah itu tubuhnya dihanyutkan begitu saja. Menurut dia, Brigade S (Soerachmad) formalnya masih ada satu batalyon lagi di bawah komandonya. Namun sejak semula sudah diduga bahwa Batalyon Sabaroedin yang diusulkan masuk Brigade S oleh Mayor Jonosewojo kemudian ikut dalam operasi penumpasan FDR/PKI di Dungus.

Batalyon Sabaroedin sebelumnya ditugaskan Kolonel Soengkono untuk mengawal Tan Malaka. Mungkin karena itu kemudian Mayor Sabaroedin secara politis dipengaruhi tan Malaka yang dikenal sebagai Trotzkyist. Setelah Belanda menduduki Kota Kediri, pasukan Sabaroedin dengan Tan Malaka berada di suatu daerah di barat Sungai Brantas di sekitar Desa Gringging. Di dekat daerah itu terdapat pula markas Divisi I/Gubernur Militer Jawa Timur di bawah Panglima Divisi Kolonel Soengkono dengan kompi dekking-nya Kompi Macan Kerah dengan komandan Kapten Sampoerno.

Tan Malaka kemudian berhasil ditangkap dan dibawa ke jurusan selatan ke daerah Kecamatan Mojo oleh Kompi Soekadji Hendrotomo. Kemudian Soerachmad menanyakan kepada Lettu Soekadji Hendrotomo, “Di mana Tan Malaka sekarang?” Soekadji menjawab, “Sudah ditembak mati Pak, dan sudah ditanam.” “Apa melalui proses?” “Ya, proses yang singkat pengadilan perang di lapangan,” jawabnya. Menurut Zulhasril Nasir, kalimat “pengadilan perang di lapangan” bisa dimaknai bermacam-macam. Jawaban Lettu Soekadji Hendrotomo itu tidak menjelaskan dua hal, apakah  Tan Malaka ditembak kemudian jasadnya dihanyutkan ke Sungai Brantas dan apakah Soekadji sendiri yang menembaknya langsung atau anak buahnya.

Harry A. Poeze dalam suatu kesempatan di Jakarta menjelaskan bahwa dia dapat membuktikan bahwa jasad Tan Malaka tidak dibuang ke Sungai Brantas, tetapi dikuburkan di halaman markas militer di dekat kejadian. Sambungnya, memang terdapat sebuah tugu kecil di pinggir Kali Brantas yang menyebut di sana dibunuh Tan Malaka, tetapi yang benar ialah di sana dibunuh pengikut dan pengawal Tan Malaka. Itulah kutipan skripsi itu.

Berpose bersama Harry A. Poeze usai diskusi di UIN Bandung.

Poeze memang sejarawan yang getol meneliti Tan Malaka. Selain menulis disertasi mengenai riwayat hidup Tan Malaka, dia juga menulis sejumlah buku mengenai Tan Malaka. Saya sangat beruntung ketika berkesempatan memandu diskusi di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung tentang Tan Malaka pada 3 November 2010 yang salah satu pembicaranya adalah Poeze. Saya salut atas dedikasinya selama 37 tahun meneliti tokoh yang juga menjadi inspirasi saya itu. Dalam hal ini kami sama: sama-sama meneliti Tan Malaka. Bedanya, Poeze meneliti selama 37 tahun dan menghasilkan delapan buku tebal. Sementara saya, meneliti ogah-ogahan selama sebulan dan hasilnya hanya skripsi tipis. Yah, segitu juga uyuhan, hehehe..

“Untuk Najip dari Harry Poeze” hadiah buku plus tandatangan.

Ada satu lagi persamaan saya dengan Poeze, kami sama-sama berkunjung ke Selopanggung di Kecamatan Semen Kabupaten Kediri. Bedanya, Poeze melakukan serangkaian wawancara dan ikut membongkar pusara untuk mengambil sampel deoxyribose nucleic acid (DNA) Si Bung, saya sekadar rekreasi sepulang menukar tiket kereta api di stasiun Kediri. Dan, inilah yang ingin saya bagikan kepada pengunjung blog. Begini ceritanya.

Kabar bahwa makam atau pusara Tan Malaka terletak di Selopanggung sudah saya dengar sekurang-kurangnya sejak tiga tahun lalu, termasuk dari Poeze ketika saya menjadi moderator diskusi dia. Dia sempat menunjukkan video dokumenter penggalian kuburan. Sayangnya saya belum berkesempatan berkunjung ke sana. Dan, baru Selasa 28 Agustus 2012 inilah saya bisa menengok pusara Tan. “Tan, saya datang ke tempatmu,” gumam saya di samping pusaranya yang berimpit dengan makam Mbah Karso Sam.

Violeta kecil saya ajak ikut berdoa. “Vio, ayo berdoa untuk Mbah Malaka,” ajak saya kepada anak saya yang berusia dua tahun lima bulan itu. Ika Rahma Hadiyanti sempat mengabadikan adegan baca doa duo Corleone ini, Ahmadnajip Corleone dan Rahmania Violeta Corleone. Narsis! Hehehe… Saya membaca Al-Fatihah. Violeta komat-kamit –barangkali– membaca doa andalannya, “Bismika Allahuma ahya wabismika amuut.”😀

Pemakaman warga Selopanggung, di sana turut berbaring Tan Malaka.

Makam sang pejuang terletak di tengah ladang yang berbaur dengan kuburan warga. Istriku yang cantik, Ika Rahma, sempat beberapa kali bertanya kepada warga ihwal lokasi makam. Maklum, sebagai produk asli Kediri dia cukup menguasai bahasa Jawa kromo yang sangat halus. Sebagian besar frasa yang diucapkannya saya sama sekali tidak paham. Barangkali bahasa yang memiliki 16 tingkatan itu terlalu sulit bagi saya yang pituin urang Sunda, bahkan bagi anak-anak Jawa generasi kekinian. Inilah barangkali salah satu keuntungan beristri perempuan Jawa. I love you pisan lah, heheh…

Makam Mbah Karso berimpit dengan makam Tan Malaka di sebelah kanannya.

Sebenarnya jarak geografis makam tidaklah terlalu jauh dari pusat kota. Dengan mencatat capaian kilometer pada sepeda motor yang kami kendarai, saya memastikan jaraknya tidak lebih dari 11 kilometer terminal bus Kota Kediri. Dari terminal di pinggir kota ini bisa ditempuh menggunakan sepeda motor maupun mobil. Cuma saja, hanya sepeda motor yang bisa menyentuh hingga ke bibir ladang di dekat pemakaman. Dari 10 kilometer lebih itu, sembilan kilometer memiliki jalanan lebar dan bagus, satu kilometer jalan beraspal buruk, 500 meter tanpa aspal, 50 meter jalan kaki.

Pemandangan sepanjang sembilan kilometer tadi benar-benar bagus. Saya yang menumpang Supra X 125 milik ipar itu mendapat suguhan pepohonan rindang. Jalan berkelok di antara perbukitan menjadi sensasi tersendiri untuk menikmati Kediri. Berkunjung ke Selopanggung merupakan cara lain menikmati kota yang dikenal dengan tahu itu. Empat kilometer terakhir sebelum memasuki jalanan beraspal buruk merupakan puncak dari eksotika Selopanggung. Di sayap kanan maupun kiri berdiri pohon mahoni dengan jarak teratur dan pohon mangga yang tak beraturan. Ada juga tanaman jati di antara pohon-pohon tadi. Di tanjakan sebelum resor keren, saya juga bertemu dengan deretan pohon petai. Lokasi ini tidak jauh dari persemaian milik Perum Perhutani di bawah tebing jalan.

Saya menduga petai, mahoni, dan jati memang ditanam secara khusus. Wajar bila kemudian jarak antarpohon beraturan. Sementara mangga tersebar di hampir sepanjang perjalanan. Kalau saja dijumlah, saya kira pohon mangga lebih banyak dari gabungan tiga tanaman produktif tadi. Tentu saja saya tidak menghitungnya.

Memasuki dua 1.550 meter terakhir, pengendara harus lebih hati-hati. Jalan sempit hanya cukup untuk satu pick up kecil. Bahkan benar-benar kecil. Ditambah aspal buruk dan curam, kehati-hatian pun menjadi sebuah kewajiban. Ika Rahma sempat beberapa kali mengingatkan saya untuk lebih hati-hati. Mendapat warning itu saya menjawab santai, “Tenang, jalan ke Majalengka kemarin lebih parah dari ini.” Ibu muda ini pun tersenyum. Sementara Violeta tetap enjoy dalam pangkuan.

Kami benar-benar bertemu jalan lebih buruk lagi. Kali ini tanpa aspal. Hanya batu kali yang disusun rapi jalan menuju ke tepi ladang. Di sayap kanan terdapat tebing cukup curam dan berbatu. Beruntung kami memilih memakai sepeda motor. Sehari sebelumnya, Pak Mashad pengunjung setia blog ini mengajak menggunakan mobilnya yang sporty. Saya yakin pasti kuat mendaki dan berkelok. Masalahnya lebar jalan tak akan mampu menampung badan kendaraan keluaran Isuzu dengan silinder mesin 2,5 liter tersebut.

Dan, sampailah kami bertiga di tepi ladang. Di bawah sana tampak gundukan makam yang teduh. Pemakaman warga di sana kecil saja, mungkin tidak lebih dari 50×50 meter persegi. Untuk mencapai tempat ini kita harus menuruni jalan sempit licin, karena debu atau air di kala hujan. Saya menggendong Violeta berjalan lebih dulu ke area makam. Si bocah tampak santai berjalan dari nisan ke nisan lain seolah taman bermain. Dia juga sempat beberapa kali duduk di pusara yang kebetulan ditembok. Saya melarangnya, juga Ika Rahma. Dia tak peduli.

Violeta di depan makam Mbah Pejuang.

Duo Rahma di depan pusara Tan Malaka.

Yang manakah pusara Tan Malaka? Lagi-lagi kami bingung karena memang tidak ada nama Tan Malaka di sana. Seorang warga yang ditemui di samping jalan hanya menyebut pusara Tan ada di bawah pohon besar. Lamat-lamat saya teringat tayangan Poeze di UIN dulu. Kalau tidak salah ada pelindungnya. Saya mencari-cari tancapan paku yang pernah digunakan untuk menggantung foto Tan. Tapi tidak ada. Sementara istriku terus berupaya mencari penampakan mekalui ponsel cerdas besutan RIM.

Tibalah pada kesimpulan bahwa pusara Tan adalah salah satu dari tiga makam yang terdapat di bawah sebuah saung. Salah satu kata kuncinya adalah nisan Mbah Karso. Dalam banyak pemberitaan, makam tokoh kampung itulah penandanya. Ada juga bekas galian berupa gundukan agak meninggi beberapa centimeter dibanding tanah lainnya. Setelah yakin, di sanalah saya berdoa. Dan, tentu saja berfoto.

Mendaki pulang dari makam Mbah Malaka.

Kami tidak lama berada di sana. Selain tujuan telah terpenuhi, saya harus bersiap-siap untuk melakukan perjalanan pulang ke Bandung malam harinya. Tujuannya memang sederhana saja, ziarah. Kebetulan kami mendapat bonus berupa pemandangan elok di perjalanan. Di area makam sendiri tidak ada yang istimewa. Hanya ada tanaman kacang tanah yang baru ditanam di satu sisi dan tomat yang juga baru ditanam. Di sekeliling banyak berdiri pohon kelapa, dengan dua di antaranya bekas ditebang pada bagian atasnya. Ada juga pohon jati, termasuk dua yang mengapit di bibir turunan. Lagi-lagi Violeta menikmati perjalanan mendaki ini. Barangkali memang dia bahagia sudah berkunjung ke pusara Mbah Pejuang.

Dalam perjalanan pulang saya teringat ucapan Tan Malaka ketika ditangkap polisi Inggris Murphy di Hongkong pada 1932. “…ingatlah bahwa dari dalam kubur, suara saya akan lebih keras dari pada dari atas bumi…” Dia benar.

Saya juga teringat tragisnya kematian Tan Malaka seperti diungkapkan Poeze. “Dalam sebuah peristiwa yang dipicu oleh serangkaian kejadian yang tidak penting, kesalahan pilihan telah dibuat, dan seperti drama klasik, tidak bisa dihindari lagi berakhir dengan kematian seorang tokoh utama. Bukan sebuah kematian yang heroik, tanpa kehormatan gugur dalam pertempuran, namun dengan sebuah eksekusi diam-diam oleh prajurit TNI dan tanpa kuburan yang jelas, telah mengakhiri hidup Tan Malaka. Sejak itu ia dilupakan, seorang yang hidup tanpa nama dalam jangka waktu lama dalam panti asuhan sejarah.”(*)

5 thoughts on “Ziarah ke Pusara Tan Malaka

  1. aliyudin says:

    Inspiratif, keren akhir yang tragis. untung bukan polisi yang mengeksekusinya heheheheeee

  2. “Kelahiran suatu pikiran sering menyamai kelahiran seorang anak. Ia didahului dengan Penderitaan-penderitaan pembawaan kelahirannya. Naar de ‘Republiek Indonesia’Menuju Republik Indonesia (1925)” Tan Malaka, Thaks kawan atas infonya

  3. Heru Dwi S says:

    Tan Malaka, bagi saya adalah seorang Pejuang Revolusioner, Filsuf, & Pemikir Ulung yang jauh melebihi jamannya. Salah satu karya besarnya “Materialisme, Dialektika, & Logika” (MADILOG) menjadi acuan untuk merevolusi paradigma dan polapikir rakyat Indonesia yg penuh tahayul menjadi lebih bisa berpikir ilmiah, progresif, & revolusioner.
    Luar biasa kang Ahmad Najib informasinya!

  4. Punten, kang. Saya juga alumni UPI walaupun bukan dari jurusan sejarah. Boleh saya ikut baca skripsinya?

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: