Dan, Saya Memilih Kopi Priangan

5

July 11, 2012 by ahmadnajip

Kopi instan di salah satu restoran cepat saji. (Corpics)

Dalam sebuah perkuliahan, Dr. Mumuh Muhsin Zakaria bertanya kepada empat mahasiswa, “Berapa kali minum kopi dalam sehari?” Jawabannya beragam, saya menjawab 2-3 kali minum kopi hitam. Ada juga teman yang menjawab tidak suka kopi. Pertanyaan tadi terngiang-ngiang beberapa waktu berikutnya. Sebagai penyuka kopi, mengapa tidak tertarik menulis sejarah kopi. Menarik juga. Tentu, alasannya bukan semata karena alasan minum kopi, melainkan betapa peran kopi sangat signifikan dalam panggung sejarah Priangan.

Priangan dan kopi merupakan satu kesatuan historis yang sulit dipisahkan. Membahas Priangan sudah barang tentu membahas kopi di dalamnya. Namun demikian, belum banyak penelitian yang menkhususkan pada kopi sebagai objek yang diteliti. Kalaupun ada hal itu hanya menjadi bagian dalam pembahasan dinamika sosial-ekonomi. Karena itu, penelitian tentang kopi sebagai objek masih terbilang langka sehingga masih banyak sumber yang belum dimanfaatkan untuk historiografi ekonomi, terutama tata niaga kopi dengan segala kompleksitas di dalamnya.

Keberadaan kopi sebagai komoditas ekonomi tidak dapat dipisahkan dari sejarah perkebunan. Perkebunan memiliki arti penting dalam perjalanan panjang sejarah Indonesia. Bahkan, sejarah Indonesia sejak masa kolonial sampai sekarang tidak dapat dipisahkan dari sektor perkebunan. Sejarah kolonialisme dan imperialisme Barat di Indonesia merupakan sejarah perkebunan itu sendiri. Urgensi serupa juga berlaku di Priangan, terutama perkebunan komoditas kopi. Sektor perkebunan memang begitu dominan selama kurun kolonialisme di nusantara, baik selama pemerintahan Belanda maupun Inggris. Sektor perkebunan berperan besar dalam menentukan berbagai realitas ekonomi dan sosial masyarakat.

Dalam sejarah kolonial di Indonesia, perkebunan memiliki dua sisi yang bertolak belakang. Di satu sisi, perkebunan dianggap sebagai jembatan yang menghubungkan masyarakat Indonesia dengan ekonomi dunia, memberi keuntungan finansial yang besar, serta membuka kesempatan ekonomi baru. Di sisi lain, perkebunan juga dianggap sebagai kendala bagi diversifikasi ekonomi masyarakat yang lebih luas, sumber penindasan, serta salah satu faktor penting yang menimbulkan kemiskinan struktural.

Arti penting kopi di Priangan didasari atas kenyataan bahwa tempat ini menjadi daerah eksploitasi kolonial melalui kopi selama hampir dua abad. Selain itu, di Priangan inilah kali pertama tanaman kopi diperkenalkan dan diujicobakan sebelum kemudian dipraktikkan di sejumlah daerah di Pulau Jawa. Praktik tersebut merupakan sebuah sistem penanaman yang di kemudian hari dikenal dengan Preangerstelsel selama kurun waktu tahun 1677 hingga 1870. Dalam pelaksanaannya, penanaman kopi di Priangan melibatkan tenaga kerja dalam jumlah banyak sehingga produksinya menjadi yang terbesar di antara karesidenan lain di Pulau Jawa.

Indikasi pentingnya kopi Priangan makin kuat dengan memperhatikan statistik perdagangan VOC. Pada tahun 1726 VOC menguasai sekitar 50 hingga 75 persen perdagangan kopi dunia. Dari jumlah tersebut, sebanyak 4.000.000 pon atau sekitar 75 persen kopi VOC berasal dari Priangan. Jelas, jumlah tersebut memberikan keuntungan besar bagi VOC maupun pemerintah kolonial. Posisi Priangan baru tergeser oleh Pasuruan pada tahun 1860-an. Meskipun demikian, Priangan tetap menjadi benteng pertahanan sistem kopi.

Perkebunan kopi merupakan babak penting dalam perkembangan kolonialisme di nusantara. Tata niaga kopi sukses membebaskan Belanda dari ketergantungan atas perdagangan mokka setelah Turki menghambat kebijakan ekspor kopi. Namun demikian, Hall menilai praktik perdagangan kopi menjadi semacam dongeng menyedihkan bagi para petani. Pada praktiknya, tata niaga kopi telah menjerumuskan petani produsen ke dalam posisi yang lebih buruk dari budak.

Terlepas dari ironi di atas, tata niaga kopi –terutama setelah harga kopi mengalami kenaikkan– berhasil mendongkrak kesejahteraan rakyat, khususnya para petani kopi. Pada saat harga kopi naik dari 10 gulden menjadi 13 gulden per pikul (lebih kurang 62 kilogram),  para petani sudah memiliki sejumlah pohon kopi yang produktif. Dari hasil penjualan satu pikul kopi, mereka dapat mencukupi kebutuhan pokok sehari-hari selama waktu tertentu. Antara tahun 1870-an hingga 1880-an, harga satu pikul kopi dapat digunakan untuk membeli padi sebanyak ± 3,73 pikul (± 231 kg), yaitu padi dengan harga terendah antara f 3,50 hingga f 4,00 per pikul. Tahun 1870-an, untuk keperluan makan, tiap orang rata-rata menghabiskan ± 2 pikul (± 124 kg) padi per tahun. Berarti harga satu pikul kopi dapat memenuhi kebutuhan padi untuk makan seorang selama ± 21 bulan, atau keperluan makan sekeluarga (5 orang) selama ± 16 bulan. Surplus produksi ini dengan sendirinya mendorong petani untuk memenuhi kebutuhan lainnya.

Lalu, daerah manakah Priangan yang saya maksud itu? Ihwal Priangan ini dengan sendirinya mendorong untuk melihatnya dalam dua konteks berbeda. Pertama, Priangan merupakan satu kesatuan administratif berupa karesidenan. Istilah ini mulai digunakan sejak pemerintahan Thomas S. Raffles di Pulau Jawa pada 1811-1818. Terminologi Belanda menyebut keresidenan sebagai regentschappen. Dalam konteks ini, keresidenan Priangan pada abad ke-19 terdiri atas lima kabupaten, yaitu Cianjur, Bandung, Sumedang, Limbangan, dan Sukapura. Dalam perkembangannya, Limbangan berubah menjadi Kabupaten Garut dan Sukapura menjadi Kabupaten Tasikmalaya.

Kedua, Priangan juga memiliki dimensi kultural. Kesatuan geografis ini melekat dengan identitas kesundaan. Wajar bila kemudian wilayah  Priangan kerap diasosiasikan dengan Pasundan atau tempat tinggal etnis Sunda. Namun demikian, daerah Priangan juga dihuni berbagai etnis lain seperti Jawa, Eropa, Arab, Cina, dan lain-lain. Pada umumnya, orang Eropa tinggal di pusat-pusat kota, sementara orang Cina di pusat kegiatan ekonomi.  Sejak 1677 pusat pemerintahan daerah Priangan berada di Cianjur. Pada 1864 ibu kota keresidenan dipindahkan ke Bandung. Sejak itu Residen Priangan berkedudukan di Bandung.

Peta Keresidenan Priangan (Hardjasaputra)

Dari mana kata Priangan bermula? Priangan, Istana Para Dewa. Demikian bunyi judul laporan khusus Kompas edisi Sabtu, 17 Maret 2012 lalu, tentang potensi bencana daerah ini. Kompas kemudian mengutip Ensiklopedi Sunda: Alam, Manusia, dan Budaya (2000) yang menjelaskan bahwa Priangan berasal dari pa-rahyang-an yang berarti tempat para dewa (Hyang) yang harus dihormati” atau “tempat tinggal leluhur yang harus dihormati”. Jauh sebelum nama Priangan menjadi wilayah geografis pada 1620, terdapat naskah kuno dengan judul Carita Parahyangan.

Hmmm, jelaslah bagi saya untuk menyimpulkan bahwa betapa tanaman kopi di Priangan berada pada posisi spesial. Baik aspek signifikansi (significance) maupun kemenarikan (interesting) sudah terpenuhi dalam uraian di atas. Tidak berlebihan kiranya bila menyebutkan bahwa kopi merupakan salah satu pilar utama dalam sejarah Priangan. Di sisi lain, ketersediaan sumber yang melimpah (obtainable) sangat memungkinkan untuk mengeksplorasi lebih komprehensif keberadaan kopi di Priangan (manageable). Meskipun demikian, ternyata tidak banyak historiografi yang memfokuskan diri pada komoditas ini. Beberapa kajian sebelumnya lebih banyak mengurai tema lebih besar perkebunan atau bahkan sosial-ekonomi Priangan.

Tanpa bermaksud mengesampingkan aspek lainnya, saya bismillah untuk menjadikan kopi di Priangan sebagai topik penelitian tesis. Kira-kira judulnya begini, Kopi Priangan Setelah Preangerstelsel, 1871-1917. Periodisasi ini dipilih dengan pertimbangan bahwa 1871 merupakan babak baru budidaya maupun niaga kopi setelah berakhirnya Prengerstelsel pada 1870. Sementara itu, tahun 1917 merupakan akhir dari eksploitasi kopi oleh pemerintah kolonial di Priangan. Namun demikian, eksplanasi di dalamnya tetap menghadirkan periode sebelum 1971 maupun setelah 1917. Hal ini dilakukan untuk menunjukkan adanya keberlanjutan dan melihat sejauhmana perubahan berlangsung (continuity and change) dalam sejarah Priangan.

Mengapa saya memunculkan alasan memilih kopi? Anggap saja upaya saya untuk mengkavling lahan penelitian. Harapannya, mudah-mudahan (1) menjadi pemakluman bagi orang lain yang akan melakukan penelitian sejenis, sehingga tidak berebut lahan; (2) bila memang sudah ada, berarti saya harus menggantinya, setidak-tidaknya pendekatan yang akan digunakan. Bukankah sejarah bergantung kepada dari mana kita memandang, pendekatan apa yang digunakan, sumber yang digunakan, de el el… Meminjam pernyataan Aswi Warman Adam, sejarah sangat dipengaruhi di dapur mana dia diolah. Kalau sudah begitu, sejarah pun bisa memberikan sensasi kuliner tersendiri, hehehe.. 

5 thoughts on “Dan, Saya Memilih Kopi Priangan

  1. Penyuka Kopi says:

    like this!

  2. Yang tak kalah penting, tidak kaci kalau nongkrong di Bandung tanpa minum kopi.😀

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: