Meretas Jalan Sejarah Visual

Leave a comment

May 7, 2012 by ahmadnajip

Lambang-lambang Kabupaten/Kota di Jawa Barat

(Analisis terhadap Artikel Budaya Visual Sunda oleh Reiza D. Dienaputra)

A.    Ringkasan

Lambang-lambang pemerintah daerah di Jawa Barat sedikit banyak merupakan rekonstruksi budaya visual daerah bersangkutan. Ragam elemen visual yang tampak pada lambang daerah memperlihatkan semangat zaman (zeitgeist) masyarakat urang Sunda. Terutama keberadaan delapan bentuk yang tersebar lebih dari lima daerah. Kedelapan bentuk terdiri atas perisai, gunung, padi, sungai, pita, kapas, laut, dan kujang. Pun dengan dominasi warna hijau, putih, dan biru pada sebagian besar lambang daerah.

Secara umum Reiza D. Dienaputra mengungkapkan bahwa setiap daerah berupaya mentransformasikan potensi daerah masing-masing ke dalam elemen visual lambang pemerintah daerah. Hal ini bisa dilihat dari munculnya bentuk gunung untuk daerah-daerah yang secara geografis memiliki pegunungan. Demikian pula dengan bentuk laut yang dijadikan elemen lambang bagi daerah dengan bentang alam pesisir.

Representasi potensi daerah juga bisa dikenali dengan adanya bentuk padi. Sebagai besar daerah yang menjadikan padi sebagai salah satu elemen lambang merupakan lumbung padi Jawa Barat. Kecenderungan serupa muncul pada sejumlah daerah yang memunculkan kekhasan masing-masing ke dalam lambang. Sebut saja misalnya kujang, udang, observatorium, payung, masjid, dan lain-lain.

Lebih jauh Reiza mengungkapkan bahwa keberadaan lambang bagi pemerintah daerah tidak sekadar memiliki fungsi sebagai identitas daerah, melainkan menunjukkan adanya kesadaran daerah tentang potensi yang dimilikinya. Dari perspektif budaya, lambang pemerintah daerah merupakann representasi budaya fisik (artefact), wujud ide (mentifact), dan wujud sosial (socifact). Karena itu, kemunculan berbagai potensi daerah sejatinya menjadi kekuatan daerah.

B.     Jurnal versus Jurnalistik

Tulisan Budaya Visual Sunda yang ditulis Reiza D. Dienaputra boleh dibilang menarik namun kurang memuaskan. Menarik karena topik yang dikemukakan relatif baru dalam khazanah keilmuan. Sejauh ini belum banyak pihak yang meneliti aspek visual dalam konteks budaya. Pada umumnya, pembahasan elemen visual dan kebudayaan dibahas secara terpisah. Juga, pembahasnya datang dari kalangan berbeda. Yang membuatnya menarik juga karena penulis berhasil menyajikan substansi topik secara ringan dan mudah dimengerti.

Mengapa kurang memuaskan? Jawabannya berkaitan dengan konteks jurnalistik. Sebagai produk jurnalistik, tulisan yang demikian ilmiah harus tunduk pada kaidah-kaidah jurnalistik. Dalam hal ini, keterbatasan ruang untuk mengeksplorasi lebih jauh tentang topik. Ruang yang sempit tidak cukup untuk memberikan penjelasan menyeluruh tentang sebuah permasalahan. Akibatnya, tulisan yang tampak pada artikel di atas lebih menyerupai ringkasan (summary) dari sebuah laporan penelitian. Dugaan saya, artikel tersebut memang merupakan ikhtisar dari sebuah laporan penelitian. Jadi, bila saya mengatakan kurang memuaskan, penilaian itu semata-mata karena ketertarikan saya untuk mendapatkan penjelasan lebih lengkap.

Barangkali saya akan mendapatkan penjelasan menyeluruh manakala tulisan di atas terdapat pada jurnal ilmiah. Sesuai karakteristiknya, jurnal ilmiah menyajikan sebuah laporan penelitian secara lengkap. Dalam jurnal, laporan mendaji mendalam karena mengurai secara rinci dan dilengkapi data pendukung berupa tabel, matrik, grafik, gambar, dan lain-lain. Dengan demikian, pembaca tentu memahami manakala membaca hanya menemukan hal-hal yang cenderung data permukaan dalam artikel jurnalistik. Ya, karena memang bukan jurnal.

Kaidah lain yang harus dipatuhi adalah pemilihan judul yang lagi-lagi dibatasi sempitnya ruang di media massa. Ada semacam konvensi dalam dunia jurnalistik bahwa judul yang baik terdiri atas lima kata. Judul demikian menjadi efektif karena diasumsikan sudah mengandung komponen kalimat. Terlalu panjang kurang baik. Pun bila terlalu pendek. Menurut saya, judul di atas masih terlalu abstrak karena tidak membatasi diri pada topik. Sunda dalam terminologi nusantara dapat dimaknai secara kultural maupun spasial. Dalam tulisan di atas cenderung lebih sempit lagi, yakni lambang pemerintah daerah di Jawa Barat. Padahal, Jawa Barat sebagai identitas administrasi politik tidak linier dengan budaya atau letak geografis Sunda.

Mari kita lihat misalnya pendapat Tome Pires dalam Lombard (1996: 29) yang menjelaskan bahwa pasundan memiliki ciri berbeda dengan Jawa. Orang Sunda yang dalam sehari-harinya menggunakan Bahasa Sunda sangat bangga akan identitas mereka dan tidak pernah ingin dianggap sebagai orang Jawa. Lombard mengelompokkan penduduk Pulau Jawa ke dalam tiga tipologi sosial-budaya besar.  1) Tanah Pasundan; 2) Tanah Jawa sebenarnya, meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta; 3) Tanah Pesisir, di mana identitas Sunda maupun Jawa sama-sama melemah bahkan menghilang dan digantikan sebuah kebudayaan yang lebih kosmopolit. Raffles dalam Zakaria (2009: 31) menyebutkan bahwa orang Sunda memiliki ciri sebagai berikut: berbadan pendek, kuat, keras, dan lebih aktif daripada penduduk pantai. Dalam hal ini, Sunda lebih dimaknai sebagai identitas kultural.

Saya tidak tahu apakah Reiza yang memilih judul tersebut atau redaksi Pikiran Rakyat. Bila saya menduga-duga, barangkali redaksilah yang memberikan judul itu. Alasannya sederhana, menyesuaikan dengan ruang yang tersedia. Saya berandai-andai, bila saya menjadi redaktur opini, maka akan mengubahnya menjadi Budaya Visual dalam Lambang Pemerintah Daerah di Jawa Barat. Tentu, saya hanya berandai-andai. Dengan begitu, saya “melanggar” konvensi judul dalam dunia jurnalistik yang ketat dalam menerapkapkan “ekonomi kata”. Artinya, setiap kalimat harus singkat dalam kata namun padat dalam makna.

C.    Beberapa Pertanyaan

Karena sudah mengungkapkan kurang memuaskan, maka ada beberapa pertanyaan untuk memuaskan ekspektasi saya. Pertama, bila benar lambang pemerintah daerah merepresentasikan fakta mental dan sosial, dalam bentuk apa hal itu muncul. Barangkali dalam beberapa lambang memang demikian, namun belum bisa di daerah lain. Benar bahwa lambang merupakan unsur pengikat imajiner masyarakat di suatu wilayah. Namun, pantulannya tidaklah berbanding lurus dengan perilaku masyarakatnya.

Kedua, beberapa elemen visual yang muncul memiliki dimensi historis. Hal ini bisa dilihat –misalnya–  dari penggunaan bentuk kujang di wilayah Bogor dan sekitarnya. Dugaan saya, penggunaan lambang itu tidak lepas dari fakta historis bahwa Kerajaan Sunda yang beribukota di Pajajaran atau lebih dikenal dengan nama Pakuan Pajajaran. Hal ini belum tampak dalam pembahasan penulis. Benarkah demikian? Memang inilah pertanyaan kedua itu.

Ketiga, wilayah administratif bertansformasi dari waktu ke waktu. Hal ini bisa dilihat dari adanya pemekaran wilayah. Sebagai contoh, Babupaten Bandung bertansformasi menjadi empat wilayah administratif, meliputi Kabupaten Bandung itu sendiri, Kota Bandung, Kota Cimahi, dan Kabupaten Bandung Barat. Namun demikian, hal itu tidak serta merta mengubah elemen visual dalam lambang pemerintah daerah. Gunung Tangkubanparahu misalnya yang diwujudkan berupa gunung berbentuk perahu terbalik tampak pada lambang pemerintahan. Faktanya, secara geografis Gunung Tangkubanparahu berada di Kabupaten Bandung Barat dan sebagian di Kabupaten Subang.

Keempat, pemilihan bentuk yang ikonik masih terbatas pada hal-hal besar. Terutama pada daerah yang secara historis berusia lama, belum tampak adanya elemen visual yang lebih sederhana. Sebagian besar dari mereka menjadikan potensi alam sebagai elemen visual. Wajar bila kemudian lambang pemerintah daerah didominasi oleh gunung dan sungai. Mengapa –misalnya– Kabupaten Sumedang tidak menjadikan tahu sebagai salah satu elemen visual dalam lambang daerah? Dugaan saya karena memang pada mulanya lambang daerah lebih cenderung elitis, sehingga kadang tidak mengakar.(*)

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: