BSK

4

November 20, 2011 by ahmadnajip

BSK 2011 di Jayagiri

Barangkali dari berlaksa atau lebih peristiwa yang dialami semasa tujuh tahun kuliah, sudah termasuk cuti satu semester di dalamnya, satu di antaranya yang tak terlupakan adalah BSK, Bulan Studi Kesejarahan. Begitu memilukan, mengharukan, atau apalah namanya. Saya berani bertaruh, berkali-kali jatuh cinta dengan aneka perempuan, angkatan, suku bangsa, masih lebih mengesankan yang namanya BSK tadi. Saya tidak tahu mengapa begitu berkesan. Beginilah BSK saya itu.

Sabtu pagi, entah tanggal berapa di bulan September 2000, saya dan 58 orang mahasiswa baru Jurusan Pendidikan Sejarah Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) berkumpul di halaman Gedung Garnadi, dekanat Fakultas Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS) kala itu. Sebenarnya, angkatan 2000 merupakan mahasiswa angkatan pertama UPI karena mulai tahun itulah Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Bandung bertransformasi menjadi UPI. Dan, mahasiswa yang lulus pada tahun itu merupakan lulusan pertama UPI. Dalam masa transisi itu, aktivis mahasiswa masih mengenakan jas almamater dengan logo IKIP di dada sebelah kirinya.

Lagi-lagi saya lupa, tata urutan upacara pagi itu. Singkatnya, kelompok demi kelompok berjalan menuju ke arah Pondok Hijau di barat kampus Bumi Siliwangi. Ada tugas, pertanyaan, jawaban, yel, dan seabrek lainnya menyapa pos demi pos perjalanan siang. Ya, siang karena malamnya ternyata kami harus melakukan perjalanan serupa dengan derita tiada tara. Suasana tetap ceria dan penuh semangat sampai pada pos-pos elementer sesuai pembidangan di Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Sejarah (Himas).

Ihwal penyakit lupa saya itu, wajar kiranya bila sejarawan menekankan pentingnya kritik sumber. Ingatan kita terbatas untuk sekadar mengingat pengalaman kita sendiri, apalagi mengingat peristiwa orang lain. Koroborasi atau pembuktian silang pun menjadi satu keharusan untuk menguji otentisitas sumber dalam kritik eksternal. Saya teringat Garraghan yang bukunya A Guide to Historical Method setengah mati saya terjemahkan. Kata dia, sumber primer pun tidak semuanya kuat (strictly primary sources), namun juga ada yang kurang kuat (less-strictly primary sources). Hanya pelaku dan saksi mata (eye-witness) yang dibilang kuat itu, sementara yang tidak berhubungan langsung hanya disebut sumber sezaman. Wajar pula bila dulu Ali bin Abi Thalib, sahabat nabi dalam agama saya, pernah berpesan, “Ikatlah ilmu dengan cara menuliskannya.”

BSK 2010 di Panaruban

Dan, dalam sisa-sisa ingatan itu saya kini mengingat lagi BSK. Saya masih ingat saat diberikan tugas menyanyikan Himne Guru, pengertian sejarah, dan lain-lain. Hingga yang paling berat adalah mendapat tugas kelompok bernyanyi nasyid, mahluk aneh dalam kamus ingatan saya yang abangan. Tempatnya di sebuah saung, di tengah sawah antara dua bukit daerah Ciwaruga bagian atas. Adalah Mia, ketua bidang kerohanian Himas kala itu, yang memberikan tugas superberat itu. Setelah bersusah payah, loloslah kami dari malapetaka bernama nasyid itu.

Hmmm… Beberapa menit sebelumnya, saya baru saja mencicipi tamparan hangat yang cukup memerahkan pipi saya yang masih ABG itu. Lagi-lagi area itu ada di sebuah saung, tidak jauh dari bibir Jalan Waruga Jaya yang menghubungkan Parongpong dengan Gegerkalong. Wajahnya garang, rambutnya panjang, hitam kulitnya, namanya Dodi Sugandi atau lebih beken dengan sebutan Dosu, mahasiswa tiga yang mengawali ritual tampar pipi dua hari di Ciwaruga. Bagaimana rasanya, saya lupa. Yang paling saya ingat adalah tamparan di malam menjelang pagi. Lidah saya mencecap rasa aneh dini hari itu: ASIN. Darah itu terasa setelah Risdadang Kamaludin, alumni angkatan 1990, mendaratkan telapaknya di kedua pipi.

Oya, di tempat Dosu dan kawan-kawan itu pula saya pertama kali mendapat kosakata baru, “DIBONGA-BONGA.” Jujur, sampai sekarang saya tidak tahu arti sebenarnya. Belakangan, kosakata itu pula yang kemudian diwariskan kepada mahasiswa baru. Yang saya pahami, dibonga-bonga adalah dipelonco. Entah benar, entah tidak. Terakhir kali saya mendengar kalimat itu pada Minggu dini hari, 13 November 2011, di Jayagiri. “Aing hayang dibonga-bonga,” pekik sekelompok mahasiswa baru saat memasuki pos alumni di atas tanjakan licin tanpa aspal atau rumput. Saya tersenyum mendengarnya. Boleh jadi, kata-kata itu akan diwariskan kembali kepada generasi baru Himas.

Setelah Mia, masih ada beberapa pos yang kami lalui. Saya langsung ke pos terakhir saja. Di sebuah jembatan, di sana berdiri seorang laki-laki tidak cukup tinggi. Hasan, namanya. Dia angkatan 1996. Kekhasannya satu saja, setiap menjawab harus diawali dengan kata “SIAP”. Kalau kami disuruh push up jawab saja, “Siap masih kuat.” Di pos ini saya harus turun ke badan sungai dan merendamkan setengah badan di air yang keruh di kala maghrib menjemput. Ah, kami jawan aja “Siap”. Heheheh..

Tibalah kami di sebuah lapangan. Belakangan saya tahu, lapangan yang dimaksudkan itu ternyata kavling-kavling perumahan di Pondok Hijau. Saya berkali-kali menganalisis tempat itu. Saya makin yakin bahwa tempat itu adalah Pondok Hijau setelah kini tinggal di belakang kompleks real estate itu. Detil-detilnya masih ingat. Ada bukit, jalan-jalan lurus, sawah, dua tebing yang mengapit di sebelah barat dan lain-lain. Tentu saja, dulu belum seramai sekarang. Rumah-rumah keren itu belum berdiri. Kavling-kavling itu lebih mirip tegalan.

Tenda mulai didirikan. Makanan dikeluarkan dari ransel. Salat dan makan. Hari mulai gelap ketika tenda berdiri. Ternyata masih ada kelompok yang baru datang. Saya tidak tahu diapakan dulu mereka sepanjang perjalanan. Saya menduga tidak jauh berbeda dengan apa yang pernah dilakoni kelompok kami. Tenda kelompok yang datang belakangan ini dibangun bergotong-royong antarsesama mahasiswa. Pemandu dan beberapa senior lain juga membantu. Semuanya kelar pukul 19.00-an. Selanjutnya adalah api unggun. Sampai pesta api selesai, semua normal-normal saja.

Bayangan saya tentang api unggun tidak jauh berbeda dengan acara malam itu. Ada api, tentu saja. Ada pertunjukkan masing-masing kelompok. Kemudian angkatan lain. Bila digeneralisasi, semua bermuara pada musik dan lagu. Serasa malam begitu ceria bersama kami. Semua kelompok atau angkatan menampilkan yang terbaik potensi mereka. Kondisi ini jauh dengan suasana di Jayagiri pada Sabtu malam lalu, 12 November 2011. Mereka tampil alakadarnya, bahkan asal-asalan. Seolah semua itu tidak penting, kecuali perjalanan malam. Saya tidak tahu mengapa begitu.

Malam terus beranjak ketika akhirnya kami diminta istirahat. Benarkah istirahat? Sampai satu atau dua jam kemudian, tentu saja jawabannya benar. Hingga suatu detik yang menentukan: kami dibangunkan. Dan, inilah awal dari cerita pilu yang tiada akhir untuk diceritakan. “Saya memberikan amanat, tolong jaga amanat itu,” ucap Mohammad Taufik, ketua panitia yang juga Ketua Bidang Organisasi Himas kala itu. Dia memberikan sesuatu. Langsung saya masukkan ke dalam saku. Kami berjalan ke arah kanan, lurus cukup jauh hingga bertemu cahaya lilin yang berpendar disapa angin malam.

BSK 2005 di Jayagiri

Jika tak salah mengingat, orang pertama yang menyapa kami adalah Usep, mahasiswa angkatan 1996. Ngobrol santai beberapa waktu. Dampai akhirnya kami diminta membuka mulut. Dan lep, sebuah benda meluncur ke mulut. “Langsung kunyah,” kata dia. Saya menurut saja, barangkali yang lain pun demikian. Dari aromanya tentu saja kami hapal benda itu: bawang merah. Mereka tertawa. Kami ikut-ikutan tertawa. Perintah selanjutnya adalah saling meniupkan mulut berpasangan. Tak usah ditanya bau apa yang dini hari itu menyapa kami. Itu belum selesai. Kami masih minum seteguk air. Terlalu berlebihan bila kami berharap mendapat penghapus bau bawang atau jigong. Disruputlah air itu. Hampir saja dimuntahkan kembali ke muka si pemberi. Itulah brotowali. Saya percaya, sebagian besar orang tahu seperti apa rasanya. Yang pasti, cukup ampuh untuk menyapih seorang bayi dari ketergantungan pada susu emaknya.

Mestinya malam itu saya tak usah berkeluh. Brotowali atau Tinospora tuberculata Beumee ternyata memiliki banyak manfaat. Ya, brotowali atau bratawali merupakan tanaman obat yang dapat dijadikan sebagai obat tradisional untuk mengobati berbagai macam penyakit dalam maupun luar. Kulit batangnya mengandung zat-zat seperti alkaloida dan damar lunak berwarna kuning. Akarnya mengandung zat berberin dan kolumbin. Alkaloid berguna untuk membunuh bakteri pada luka. Zat pahit pikroretin dapat merangsang kerja urat saraf sehingga alat pernapasan bekerja dengan baik dan menggiatkan pertukaran zat sehingga dapat menurunkan panas. Brotowali juga berfungsi sebagai penambah nafsu makan dan menurunkan kadar gula dalam darah. Melihat manfaat itu, tak terlalu sulit bagi saya untuk memaafkan Usep cs. Kini, Usep yang bergelar magister pendidikan (MPd) tengah menempuh pendidikan doktor (S3) di UPI.

Usep adalah tangga pertama menuju hilangnya hak asasi kami sebagai manusia biasa. Di pos berikutnya kami mendapat pertanyaan, “Ada amanat?” “Ada, sudah diberikan ke Kang Usep di pos sebelumnya,” jawab saya yang ketua kelompok. Debat kusir berlangsung bergantian dengan push up, merangkak, guling-guling, dan mendaratnya telapak tangan. Saking banyaknya, berapa kali saya atau kami push up. Naik-turunnya badan berulang setiap kali tidak kompak. Sulit membedakan antara menggigil dengan keringat yang menyergap. Semua menyatu.

Jalan kini mengarah ke pos selanjutnya. Ada sosok tinggi besar, kurus kering kerempeng bermata tajam, kecil-kecil cabe rawit juga ada. Inilah pos angkatan 1997. Saya baru tahu ada orang yang sama dengan menampar tadi siang di Jalan Ciwaruga. Selain Dosu, ada Eka Respationo yang dipanggil Brutus karena bertubuh tinggi besar, Rana Kuya, Ira, dan nama-nama lainnya. Eka dengan botol mineral 1,5 liter terus memukuli setiap anggota kelompok. Dia jarang ngomong. Kami diceramahi itu-itu soal amanat yang bocor tadi. Tentu saja, menu pokoknya adalah push up dan kepak sayap telapak tangan bergantian. Sampai pos ini saya sudah tak bisa lagi membedakan tamparan keras atau ringan. Kalau telinga berdengung, berarti tamparan lebih keras dari biasanya. Basa-basi selesai, dan pipi sudah mati rasa.

Trek selanjutnya adalah mendaki bukit terjal agak licin. Saya sudah sempoyongan. Capek tidak karuan. Masih ada tubuh besar yang menyambut dan perempuan dengan mata tajam di sebelahnya. Dia adalah Hendrayana, bekas Ketua Himas dua periode sebelumnya, dan Yati. Inilah pos 1996. Dengan tenaga tersisa kami berhasil menyerahkan diri ke perangkap baru. Kaos putih yang tak lagi karuan warnanya dilepas. Air pun diguyur ke atas tanah yang sebelumnya juga basah. Kami berguling di sana disaksikan tawa dan mata yang melotot tajam. Ceramah bergantian. Tak ada satu pun yang saya ingat sekarang. Ingatan saya lebih didominasi adegan guling-guling, pipi yang disepuh tangan kanan, dan sederet adegan pendukung. Baru kali saya mengatakan, malam itu saya hampir putus asa.

Saya berharap episode malam berakhir di situ. Kami menuruni bukit dengan gontai. Melintas di pematang. Naik lagi jalan kecil licin. Di antara pagar kebun penduduk, dibatasi tanaman perdu setinggi dua meteran, kami bertemu Risdadang Kamaludin yang sudah saya singgung tadi. Kalaulah darah akhirnya merembes di antara gigi dan bibir, mungkin karena dua hal: 1) Tamparan ekstrakeras dari senior paling ditakuti sepanjang zaman prasejarah, hahahah.. lebayy..; 2) Pipi sudah tak kuat menahan hantaman berpuluh, atau ratus, mulai pertengahan malam. Barangkali itulah pos aliansi atau alumni. Memang itulah pos terakhir sebelum “dievaluasi” kembali di lapangan terbuka. Selain Risdadang, ada Aris AMd yang turut menyumbang rasa.

Itulah malam paling horor yang seolah tak habis untuk diceritakan. Hampir satu tahun kami selalu menceritakan malam itu, terutama saat berkumpul di teras himpinan, di kosan teman, di mana saja. Menariknya, kami menceritakan itu bersama Dosu, Brutus, Usep, Hasan, Hendrayana, Aris, Slamet Widodo (Ketua Himas kala itu), M Taofik, dan barisan paling bengis tadi secara bersama-sama atau bergantian seiring kesempatan. Sambil menonton televisi di lantai dua Himas kami tak habis bercerita. Bercerita sambil tertawa-tawa seolah baru saja membaca cerita lucu dalam novel Wiro Sableng. Bersama para perenggut asasi tadi kami ngaliwet bersama atau bertukar makanan. Malam itu memang sakit, tapi semua selesai malam itu. Tak ada dendam di antara kita. Semua begitu alami.

Fajar menyingsing seiring jarum jam berputar ke arah pagi. Kami kelompok pertama yang tiba di perkemahan. Lega tiada tara. Saya tidak tahu bahwa kemudian semua dikumpulkan di puing api unggun. Laki-laki berbaris dua lajur. Semua hening. Sampai kemudian ada satu mahasiswa baru diseret dari tenda. Bajunya masih bersih. Pun syalnya. Katanya dia sakit, kata panitia tidak sakit. Ditampar kanan-kiri, guling, ditendang sampai terkapar. Mahasiswa itu Mung Mulyana.

Selanjutnya adalah evaluasi perjalanan malam. Masalah demi masalah disampaikan seolah kami berbuat dosa besar. Hukuman lagi. Push up dan pipi lagi menunya. Sampai akhirnya ada perintah buka baju. Kami buka saja baju kumal sisa semalam itu. Kecuali satu orang, Kiki Nurjaman. Dia berdalih membuka baju sama dengan mempertontonkan aurat sehingga melanggar aqidah. Debat dengan penuh intimidasi pun berlangsung. Adu ayat. Rumusnya sudah baku: 1) Senior tidak pernah salah; 2) Bila senior salah, kembali ke pasal satu. Dari rumus itu kita tentu tahu jawaban akhir episode pagi itu. Rumus yang sama pernah saya dapatkan sebelumnya, juga saya praktikkan saat menjadi Komandan Diklat Unit Protokol di Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Kota Bandung, semacam kesatuan khusus yang ditempa secara militer.

Saya tak berhenti berpikir, apa yang saya dapatkan selama BSK. Ada manfaat, ada mudharat. Sampai pada akhirnya saya sampai pada satu kesimpulan: BSK HARUS DIUBAH. Saya berdiskusi cukup panjang tentang hal ini. Tingkat kedua tidak memungkinkan untuk merealisasikan gagasan transformasi itu. Maka masa transisi itu terjadi ketika BSK 2001. Saya banyak berbenturan dengan beberapa nama. Hasilnya tidak sempurna, masih ada satu nama yang matanya bengkak terkena tinju angkatan 1997. Korban itu adalah Agus, dan pelakunya adalah Billy. Bagi saya, berangkat pagi, berjalan siang, berjalan lagi malam sangat tidak efektif. Jika cuma demikian, saya pikir mahasiswa baru tak perlu tenda karena secara praktis tidak pernah dipakai layaknya orang berkemah.

Maka, pada 2002 BSK diubah secara total. Beruntung ada banyak teman sepaham soal ide itu. Pemikiran saya kala itu, BSK merupakan modal dasar untuk menjadi seorang mahasiswa sejarah. Karena itu, dia harus memiliki prasyarat dasar, semacam syarat kecakapan umum (SKU) dalam kepramukaan. Prasyarat itu adalah keterampilan hidup (life skill) di alam terbuka, kerjasama (team work), intelektualitas, kemandirian, dan solidaritas kelompok atau jiwa korsa. Kurikulum BSK dirancang sedemikian rupa hingga dipastikan menyentuh setiap titik dari urat nadi tujuan organisasi. Kami menerapkan standar tinggi untuk itu. Semua punya dasar dan tujuan yang jelas dan terukur. Untuk keperluan itu, BSK dilaksanakan selama tiga hari: Jumat-Sabtu-Minggu.

Itulah pertama kali BSK digelar tiga hari di alam terbuka. Bagi saya, acara dua hari dengan perjalanan siang, lalu perjalanan malam, lalu pagi berkemas pulang sangat tidak efektif. Dan, biaya yang dikeluarkan antara dua hari dan tiga hari relatif sama. Dalam tiga hari itu pula leluasa untuk mengembang skenario kegiatan. Mengapa di alam terbuka? Di sanalah kita akan melihat potensi utuh dari setiap mahasiswa baru. Di sanalah setiap kita berzikir secara nyata. Di sana pula mahasiswa baru dilatih untuk bertahan hidup secara rasional.

Dalam skenario itu pula, mahasiswa baru menyatu dengan lingkungan. Tak ada jam tangan atau telepon seluler. Setiap kesalahan dihukum secara proporsional. Semua menjadi berat bagi mahasiswa baru. Tapi saya bangga dengan hasil itu. Betapapun kontroversialnya BSK 2002 itu. Karena itu, saya tidak bisa mengerti ada sebuah BSK dilaksanakan di kampus. Karena ketidakmengertian itu, saya tidak akan pernah datang ke sana. Ke sebuah acara yang sudah dipahat dalam relung terdalam saya untuk sekadar hadir bersama tamu-tamu istimewa di sebuah kehidupan bernama Himas. BSK adalah adalah ritual tahunan dalam sebuah ritus kehidupan.

Setiabudhi, 20 November 2011.

4 thoughts on “BSK

  1. rushadi says:

    luar biasa…
    hanya itu yang mampu terucap_

    • jajang jamaludin says:

      dibonga-bonga itu kosa kata dari cerita di radio. begini ceritanya. ada seorang pemburu di sungai amazon. karena terlalu jauh melebihi batas akhirnya tertangkapoleh salah satu suku pedalaman amazon. singkatnya tertangkaplah ia. kenudian dihadapkan kepada kepala suku. sejurus kemudian terjadi dialog, kebetulan pemburu tersebut menguasi bahasa suku tersebut.
      singkatnya dialog itu berkesimpulan ada dua pilihan yang dihadapkan kepada pemburu pertama di bunuh atu dibonga-bonga. si pemburu tentu memilih dibonga-bonga dari pada dibunuh.kemudian si pemburu dibonga-bonga oleh semua orang,setelah puas, maka dilepaskanlah ia.
      dasar sial si pemburu kembali tertangkap oleh suku yang lain. hampir persis sama pada kejadian pertama, kembali ada dua pilihan dihadapkan pada pemburu. dan untuk keduakalinya si pemburu memilih dibonga-bonga. setelah semua orang puas (setelah membonga-bonga si pemburu) akhirnya dilepaskanlah ia.
      keberuntungan belum juga menghinggapi si pemburu. dan untuk ketig kalinya ia tertangkap oleh suku yang berbeda. karena sudah sangat payag h karena dibonga-bonga, akhirnya ia memilih untuk langsung saja di bunuh.kepala suku mengumumkan kepada anggotanya, bahwa orang asing ingin dibunuh. tapi sebelum kita bunuh, ujar kepala suku kita bonga-bonga dulu.
      dibonga-bonga=disodomi

  2. Gewage says:

    mantap Kaisar……..!!!

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: