Kawin, Setelah itu Sakit (Berbagi Kekonyolan Pagi)

8

April 13, 2011 by ahmadnajip

Pegawai yang satu ini tukang ngacak-ngacak, tapi saya nggak berani memecatnya. She is God Daughter!

Sangat jarang, bahkan mungkin tidak pernah, saya ngeblog pagi-pagi layaknya hari ini. Biasanya jam segini saya masih bermalas-malas di rumah, bahkan belum bangun. Pagi ini lain cerita. Pukul 06.45 saya mendapat SMS mengagetkan, “A.. Hampura agung te masuk.. Agung na ka bancen a..” Suerrr saya kurang mengerti maksud “ka bancen”. Perkiraaan saya, mungkin maksudnya sakit, sehingga tak bisa masuk. Tentu, saya tak perlu menggunakan metode Sherlock Holmes –layaknya istri saya menyimpulkan posisi saya lagi di rumah tadi malam,hehehe..- untuk menyimpulkan itu.

Tanpa ba bi bu, saya langsung meluncur ke kamar mandi. Sikat gigi, mandi tak usahlah. Cukup cuci muka. Kalaupun saya tadi malam makan pete tiga papan, ah itu lain soal. Masalah itu beres dengan sikat gigi. Tak juga ngopi, rutinitas yang berlangsung saban pagi sejak bertahun-tahun. Target saya, tiba di Violet Copy Centre secepat mungkin. Kalau mungkin, secepat kilat. Hahahah..

Benar, si Agung absen hari ini. Kabancen itu sakit, mungkin juga kasibat, tak tahu ada istilah lain yang lebih pas. Dalam hati saya bergumam, untung kemarin saya tak menanyakan Pak Teguh (Kabid KSPK BKKBN Jawa Barat yang jadi pemimpin redaksi saya di Majalah Warta Kencana) yang tempo hari mau mengajak saya ke Karawang. Saya tahu kalau dia terlalu sibuk untuk mengingat janjinya ngajak saya ke Karawang. Jadi, kalau saya tak mengingatkannya, saya anggap dia memang tak pernah bilang. Saya yakin dia juga lupa pernah bilang begitu di Jayagiri sehari sebelumnya.

Hmm.. si Agung sakit. Manusiawi, tapi agak mengelitik. Agung menambah daftar aksioma dalam memori saya. Begini kira-kira; Setiap pegawai baru tentu ingin menunjukkan bahwa dia rajin. Selain rajin bekerja, dia juga tekun beribadah. Pegawai ingin menunjukkan citra bahwa saya tak salah memilih dia bekerja di perusahaan (ehem..  ehem… perusahaan, hahahah). Oya, bagian ini anggap saja kalau saya sedang berbagi pengalaman sebagai pebisnis pemula. Ini adalah pengalaman Violet Copy Centre memiliki karyawan yang lajang untuk kemudian menikah. Dua karyawan laki-laki saya memiliki stereotipe yang sama, rajin di awal lalu kemudian cenderung santai –untuk menghindari sebutan malas- setelah menikah.

Saya mencatat dalam ingatan, si Ucil pegawai saya sebelumnya sangat rajin di awal. Kemudian jadi pemalas. Setelah menikah, malasnya menjadi-jadi. Lebih dari itu, dalam seminggu hampir bisa dipastikan sakit. Parahnya lagi, kerjanya jadi nggak karu-karuan manakala berantem dengan istrinya. Sebagai keluarga pemula, penyesuaian psikologis memang butuh waktu. Lama-lama jengkel juga. Si Ucil saya suruh mengundurkan diri saja. Tidak dipecat lho.. Tekanan Dewan Syuro PKS kepada Arifinto yang tepergok nyabul di sidang paripurna beberapa hari lalu untuk mundur, lebih kurang mirip dengan apa yang saya lakukan kepada si Ucil. Dalam hal ini, saya lebih maju dari Dewan Syuro, hahahah… Anjrit kampring!

Kini, si Agung. Dia menikah belum lama. Sebulan bekerja di tempat saya, dia bilang mau menikah. Saya bercanda, “Gung, lamun geus kawin sok geringan siah!” “Ah, Agung mah moal.” Dia mantap mengatakan itu. Saya juga mantap dalam hati, lihat saja nanti. Faktanya, si Agung mulai geringan setelahnya. Saya tidak ingin membuat generalisasi. Ini hanya pengalaman. Dan, kata orang bijak, “Pengalaman adalah guru terbaik.” Pengalaman tak perlu sertifikasi, tak perlu pendidikan profesi. Dia begitu otentik, sehingga keabsahannya tak perlu diragukan. Saya percaya itu. Ini pula yang barangkali mengilhami Bung Karno menulis pidato pembelaan di hadapan MPRS dengan judul Jas Merah; Jangan Sekali-sekali Melupakan Sejarah. Historia magistra vitae!

Eits, tapi jangan terlalu serius. Tak perlu berlebihan menyikapi karyawan. Sekali lagi, saya hanya berbagi. Setidak-tidaknya berbagi kekonyolan. Sebaiknya, berilah dia kepercayaan. Ini penting karena tanpa itu, hati akan selalu resah dan curiga kepada pegawai. Jangan pula berlebihan. Maklum, seperti kata Bang Napi, *tuing-tuing* kejahatan muncul bukan semata-mata ada keinginan, tapi juga kesempatan. Bang, buka dong topengnya! Heuheuheu…

Akhirul kalam, kalimat kedua dalam tulisan ini berlaku ketika saya memulai ngetik, bukan sekarang. Sekarang sudah 10.30, setiap hari pun saya sudah berkeliaran di luar rumah. Lama juga ngetik sependek ini. Maklum, saya pagi-pagi ke Violet bukan buat ngeblog, tapi buat motokopi. Wajar tulisan ini berkali-kali kepotong motokopi, ngejilid, etc.. Oh, ternyata asya belum sarapan..

8 thoughts on “Kawin, Setelah itu Sakit (Berbagi Kekonyolan Pagi)

  1. dhila13 says:

    yaa sakit emang manusiawi banget bang..
    hehe.. semangat pagi!

  2. ny demarda says:

    3 papan pete? njissss…..kuerenn huahaha…..
    *sambil semprot2 perfume bau na nepi kadieu kang…*

    • ahmadnajip says:

      saya menerapkan strategi, yakni menghindari komunikasi verbal ketika menghadapi mahasiswi yang mau motokopi. sepagian ini saya kebanyakan senyum. untung, senyum itu katanya ibadah ya..

  3. Ika Rahma says:

    Yang nulis juga jadi gampang sakit setelah nikah. Sayang kekonyolan sendiri tak dibagi😛

  4. Nokky says:

    Sanes kabancen panginten, cape teuing, digeder jigana mah , , , ,

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: