Dunia Itu Kurang dari Satu Kilometer

Leave a comment

March 12, 2009 by ahmadnajip

YA, dunia itu pendek saja. Mulai dari pertigaan Jalan Asia Afrika-Cikapundung dan berakhir di bawah jembatan kereta api di Jalan Viaduct. Usianya juga cukup singkat, kurang dari 12 jam setiap harinya. Tapi, dunia itu punya denyut nadi menarik.

Seperti apa dunia itu? Sempatkanlah berjalan saat malam tiba di rentang jarak itu, yang hanya 800 meteran, kurang dari satu kilometer. Niscaya kita akan menemukan sebuah dunia baru yang sangat khas. Itulah dunia malam.

Jalan Asia Afrika tetap sepi hingga depan sebuah hotel legendaris, Savoy Homann Bidakara Hotel, tidak jauh dari tugu Nol Kilometer Bandung. Dari titik itulah wajah malam Kota Kembang akan terekam begitu nyata. Mulai dari sana, Kota Kembang seperti tak pernah layu dimakan senja.

Di antara penggalan jalan, kita akan bertemu satu toko kue yang tetap buka meski malam berganti pagi. Ada lagi empat minimarket, dua di kanan dan dua kiri. Juga warung makan khas dengan menu andalan gule babat. Tepat di sampingnya, warung berkonsep modern buka sejak pukul 10:00 pagi hingga fajar tiba.

Dan, inilah yang memperkuat perbedaan dunia ini dengan sudut-sudut kota lainnya. Ya, ada 11 tempat hiburan malam di sana. Semuanya terkonsentrasi di 100 meter terakhir menjelang Viaduct. Menunya macam-macam, mulai hiphop, heavy metal, hingga klab khusus bagi penikmat dangdut.

Ada juga tiga tempat olahraga  biliar. Tempatnya terselip di antara plasa sebuah apartemen dan rumah makam Padang. Ini belum termasuk restosan cepat saji dan kafe kecil di pintu masuk apartemen. Pokoknya, kompletlah sudah dunia itu, dunia malam.

Apa saja aktivitas di sana? Banyak. Bila sekadar ingin berfoto di deretan tiang bendera, berdirilah di depan Gedung Merdeka. Ada 29 tiang bendera yang kerap dijadikan arena berfoto ria oleh mereka yang kebetulan singgah di suatu malam maupun prewedding.

Bila ingin menikmati cita rasa makanan Sunda, mampirlah di sudut Jalan Banceuy. Ada warung yang tak pernah sepi menerima kunjungan. Padahal, menunya sederhana saja, nyaris tidak berbeda dengan rumah makan lainnya. Di sana dan gule yang jadi unggulan. Ada juga tempe bacem hingga gorengan alakadarnya. Harganya cukup bersahabat.

Tentu, bila ingin merasakan nuansa kafe harus beranjak ke warung sebelahnya. Ada warung baru yang diperuntukkan bagi “kelas” menengah. Di sampingnya lagi ada sebuah warung yang khusus menyediakan aneka minuman, mulai nonalkohol hingga beralkohol. Sampai di sini tak ada musik yang mengiringi perjalanan malam.

Suguhan musik baru akan ditemukan di Jalan Braga. Suka musik apapun, tinggal pilih saja. Bila ingin bermain bola sogok plus musik, ya ada juga. Masuk saja! Butuh teman untuk menikmati dentuman musik, ada juga kok. Nikmatilah dunia itu karena tidak lama setelahnya akan berakhir. Ya, usianya kurang dari 12 jam sehari. Fajar yang menyingsing secara perlahan menutup tirai malam itu.

Masih ada yang tersisa. Kali ini bagi mereka yang haus informasi. Mundurlah ke Cikapundung. Semua koran yang terbit hari itu ada di sana, harian hingga bulanan. Ada puluhan agen dan ratusan pengasong yang dengan suka cita menjadi penyambung fakta siang kemarin dengan pembaca di pagi itu. Tapi jangan terlena, dunia itu sangat singkat. Koran segera raib seiring tibanya matahari.

Ya, karena dunia itu sangat pendek. Juga singkat.(*)

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: