Menakar Kadar Politik Pers Mahasiwa

Leave a comment

July 7, 2008 by ahmadnajip

Najip HS Parino – 2003

Pers mahasiswa dan pers umum dalam fungsi dan persyaratan yang harus dipenuhinya pada dasarnya tidak berbeda. Perbedaan keduanya terletak pada idiom “mahasiswa” itu sendiri. Sebagai sebuah entitas, mahasiswa mempunyai privilege tersendiri sesuai alam pikiran universitas yang berimbas pada muatan produk yang dihasilkannya. Nilai lebih status inilah yang menjadikan pers mahasiswa menempatkan posisinya sebagai pers alternatif yang isinya lebih berani merefleksikan kenyataan hidup masyarakat ketimbang pers umum. Dan, Jawa Barat melalui pers mahasiswa yang tumbuh subur di berbagai perguruan tinggi turut memberikan warna dalam konstruksi wacana politik di tanah air.

Sekelumit Historis

Mahasiswa Indonesia, sebuah koran mingguan yang terbit di Jawa Barat pada awal kekuasaan Orde Baru (1966-1974) merupakan referensi sahih betapa pers mahasiswa di Jawa Barat mampu menunjukkan kiprahnya dengan nyata. Angkatan ’66 yang dikenal sebagai motor penggerak kemunculan Orde Baru merasa perlu untuk memiliki alat ekspresi baru sesuai peranan baru mereka di masyarakat (Francois Raillon : 1985). Dalam kiprah politiknya, Mahasiswa Indonesia terlalu sederhana untuk dianggap sebagai media komunitas mahasiswa. Walaupun terbit dengan muncul-tenggelam, Mahasiswa Indonesia senantiasa menghadirkan bahasan dan profesionalisme tinggi tentang satu masalah. Selain itu, latar belakang para penulis yang berasal dari kalangan diatas rata-rata menambah bukti bahwa Mahasiswa Indonesia saat itu memang sangat diperhitungkan.

Dalam perkembangannya, pers mahasiswa dengan kekhasannya telah turut membantu “menyuntikan” spirit keberanian kepada pers umum untuk menyajikan persoalan-persoalan umum secara kritis dan berani. Namun demikian, seiring dengan tindakan represif yang diterapkan Orde Baru, maka pers mahasiswa pada akhirnya menjadi salah satu target pengendalian kekuasaan. Disinilah terjadi distorsi atas peran politik pers mahasiswa seperti yang selama ini dikembangkannya (Yudaningsih : 2004). Akhirnya, rentang periode 70-an sampai l980-an Jawa Barat tidak banyak memunculkan peran-peran politis mahasiswa melalui penerbitannya. Baru pada awal 1990-an pers mahasiswa kembali mengangkat isu-isu eksternal kampus dengan bahasan-bahasan terbatas. Walaupun mengangkat tema-tema dengan skala besar, namun bila dibandingkan dengan zamannya Mahasiswa Indonesia kadar politik yang disajikan masih lemah.

Pers Mahasiswa Pasca Reformasi

Salah satu imbas reformasi terhadap pers mahasiswa adalah kembalinya kuasa mahasiswa untuk berkiprah dalam pentas politik. Geliat reformasi yang berimbas pada terbukanya keran kebebasan di kemudian hari ternyata menjadi masalah tersendiri bagi kalangan pers mahasiswa. Keberanian pers mahasiswa seperti tercermin pada Mahasiswa Indonesia diawal kemunculan Orde Baru tidak lagi milik mahasiswa semata. Bahkan, dalam beberapa hal pers umum lebih berani membuat sajian kritis ketimbang mahasiswa. Masalah ini juga dirasakan penggiat pers mahasiswa di Jawa Barat dengan Bandung sebagai parameter keterukurannya.

Kondisi tersebut memaksa penggiat mahasiswa untuk “banting stir” kembali ke isu-isu kampus yang sifatnya terbatas. Itupun sebenarnya sebuah nilai lebih ketimbang memaksakan diri berkutat pada isu-isu besar dengan kajian dangkal dan terkesan memaksakan. Suara Kampus (SUAKA) milik pers mahasiswa IAIN Bandung dengan tiga seri terbitannya mengangkat suksesi internal kampus dan gejala militerisasi dalam kehidupan mahasiswa merupakan satu contoh yang mengambil tipe pertama. Contoh lainnya adalah Majalah Abdi Paja milik pers mahasiswa STPDN Jatinangor yang lebih cenderung berkonsentrasi pada isu-isu lokal dan terbatas pada kajian pemerintahan semata. Sementara beberapa lembaga lain lebih cenderung mengambil pada isu besar dengan kajian yang terbatas dan akhirnya kalah gaung dengan pers umum. Secara lebih jauh, Yudaningsih (2004) menilai pers mahasiswa pasca reformasi telah terhinggapi gejala “onani” dimana produk pers mahasiswa tersebut dibuat dan dinikmati sendiri.

Saatnya Ditakar Kembali

Reformasi bagi pers mahasiswa nampaknya menjadi masalah tersendiri bagi para penggiat pers mahasiswa. Keterbukaan pers yang berkembang pasca bergulirnya reformasi telah melahirkan pers umum yang lebih kritis dan berani dibandingkan periode sebelumnya. Dengan sendirinya hal tersebut menjadi batu uji bagi pers mahasiswa dalam menyajikan produknya. Jawa Barat dengan letak geografis relatif dekat dengan ibu kota tempat lahirnya media-media besar nasional semacam Kompas, Media Indonesia, dan Republika misalnya menjadi bahan perbandingan dalam menentukan besar kecilnya yang diangkat. Media lokal semacam Pikiran Rakyat dan Metro Bandung misalnya, mengharuskan mereka menimbang kembali untuk mengangkat isu lokal.

Dengan kondisi tersebut diatas, kini para penggiat pers mahasiswa Jawa Barat ditantang untuk mampu menakar kembali bobot produk yang dihasilkannya. Politik sebagai terminologi yang terus berkembang seyogyanya dimaknai secara kritis dan strategis. Politik bukan semata-mata isu perebutan kekuasaan ti tingkat pusat, tetapi juga banyak terma lain yang erat kaitannya dengan dunia politik seperti budaya, pendidikan, agama, lingkungan, dan lain-lain. Maka, satu alternatif yang sekiranya patut diperhitungkan adalah bagaimana sajian produk pers mahasiswa Jawa Barat dilandasi dengan basis keilmuan almamaternya. Bersaing isu dengan pers umum bisa jadi malah sebuah tindakan bunuh diri. Sebagai contoh, Abdi Praja milik mahasiswa STPDN misalnya tetaplah mengkaji bidang pemerintahan, Isola Pos milik mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia mengkaji pendidikan, Hijau milik mahasiswa Fakultas Kehutanan UNWIM mengkaji kehutanan, dan lain-lain. Tentu, ini hanya satu alternatif melawan uangkapan Chairil Anwar, “Sekali berarti sesudah itu mati”.

Najip HS Parino, penggiat pers mahasiswa

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: