Dekonstruksi Makna Puasa

Leave a comment

July 7, 2008 by ahmadnajip

Najip HS Parino – 2005

Ibadah semestinya tidak hanya disikapi secara formal ritualistik. Bagian terpenting dalam ibadah adalah pada sejauh mana manusia mampu mengimplementasi pesan yang ada dalam tindakan ibadah ke dalam kehidupan sosial praksis. (George Antonio,1965)

Sejauh ini puasa memang dikenal sebagai satu bentuk ibadah yang sifatnya sangat individual. Dengan demikian, keberhasilan puasa akibat subyektifnya hanya diketahui oleh pelakunya sendiri dan Tuhannya. Inilah nampaknya satu bentuk sifat egois “manusia berpuasa” manakala puasanya hanya dimaknai sebatas itu. Padahal, pesan Rasulullah SAW menegaskan, ”Betapa banyak orang berpuasa tapi sia-sia belaka, mereka tidak memperoleh apa-apa dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga, lantaran mengabaikan etika sosial atau melakukan dosa sosial.” Secara tersirat dapat kita temukan bahwa sesungguhnya puasa jangan hanya dilihat dalam perspektif individual-teologis tanpa dimensi sosial.

Ritualisme Teatrikal

Terlepas dari perannya yang individual, seiring kultur yang berlaku dalam masyarakat Indonesia, puasa telah menjadi semacam “magma sosial” yang menggairahkan -semoga saja- “kesadaran ilahiyyah” umat Islam. Di bulan ini terjadi loncatan-loncatan semu penghambaan “manusia berpuasa” akan tuhannya. Mendadak banyak sosok kian alim dan rajin ke tempat ibadah. Ramadhan seperti titian untuk mencapai garis tepi sehingga tak ayal harus dibuat banyak perbedaan dengan bulan sebelumnya dengan asumsi lebih baik. Pelaksanaan ibadah puasa kian terjebak lingkaran formal ritualistik.

Puasa hanya sebatas dimaknai sebagai paket ibadah yang harus dijalani berdasar produk fiqh yang telah baku. Puasa dimaknai sebatas ibadah; menahan makan, minum, dan bersebadan di siang hari. Ramadhan telah menjadi siklus ritual manusia Indonesia dalam memperlakukan ibadah sebagai ritualisme yang menyerupai teater, tontonan dan pertunjukan. Inilah yang nampaknya disebut Ulil Absor Abdalla sebagai Ritualisme Teatrikal. Ritual yang dianggap sebagai inti agama yang harus diperjuangkan habis-habisan. Seolah-olah ketaatan ritual umat Islam mampu menghilangkan seluruh masalah yang menghimpit. Keimanan kerapkali dimaknai sebagai pelaksanaan ritual dalam bentuk-bentuknya yang teatrikal: shalat, haji, puasa, zakat, dan seterusnya.

Persoalan yang kemudian muncul adalah, bagaimana adegan teatrikal tersebut memiliki makna dalam konteks sosial. Puasa secara kualitatif adalah dengan “menghadirkan Tuhan” dalam diri kita di tengah kehidupan masyarakat. Konsekuensi etis dari ibadah puasa memang menjadi urusan Tuhan, tetapi konsekuensi moralnya menjadi tanggung jawab kita dalam interelasinya sebagai anggota masyarakat. Di sinilah implementasi ibadah puasa mendapat signifikansinya.

Dimensi teologis ibadah puasa harus ditransformasikan ke dalam dimensi sosiologis, agar kebahagiaan religius dapat dirasakan, baik secara etik maupun secara moral. Dengan demikian, puasa harus memberi kekuatan pada pelakunya untuk mengendalikan keinginan dan kepentingan individu atau kelompoknya. Inilah internalisasi logis dari pengalaman keagamaan yang bermuara pada prinsip tauhid, yang menolak disequilibrium ekonomi dan ketidakadilan sosial.

Puasa Transformatif-Fungsional

Beberapa hal diatas menujukkan kepada kita betapa pelaksanaan puasa harus mampu termanifestasi secara duniawi. Puasa sejatinya tidak hanya sebatas ritual menahan haus dan lapar. Puasa seharusnya menjadi momentum perubahan sosial untuk mencapai kehidupan duniawi yang lebih adil dan beradab. Makna puasa dengan dimensi individu dan kesalehan egoistik sudah saatnya mengalami dekonstruksi menjadi satu upaya membangun kesalehan sosial dan holistik. Puasa sudah saatnya dimaknai sebagai satu proses fungsionalisasi ritual ibadah dalam transformasi sosial.

Ketika kualitas kesenjangan sosial cenderung menguat antarlapisan sosial, dan orang-orang rentan teralienasi secara struktural dan kultural, maka melalui ibadah puasa yang fungsional dan transformatif, umat Islam dituntut untuk mengembangkan kepedulian dan solidaritas sosial yang menusiawi sebagai implementasi dari dimensi teologis puasa itu sendiri. Dengan demikian, puasa transformatif mendorong kita untuk selalu introspeksi dan meningkatkan kualitas diri. Puasa transformatif tidak hanya membudayakan puasa seremonial-formal yang biasa dihiasi dengan membludaknya budaya konsumerisme mengiringi buka puasa dan menjelang hari raya Idul Fitri.

Akhirnya, puasa harus dilepaskan dari sifat formal ritualistiknya dan bukan sekadar selebrasi ibadah belaka. Manifestasi keikhlasan puasa harus mampu menanamkan dan menumbuhsuburkan keluhuran moral dan kemuliaan akhlak bagi setiap pribadi. “Manusia berpuasa” seharusnya mampu mengembangkan solidaritas solidaritas dan kepedulian terhadap sesama. Solidaritas dalam bentuk santunan terhadap mereka yang menderita kehausan dan kelaparan karena sebagai orang fakir dan miskin, anak yatim dan terlantar, mendapat musibah/bencana alam dan sebagainya.

Puasa harus ditarik sebagai momentum bersama guna menyadari akar penyebab keterpurukan bangsa dan penanggulangan gejala patologi sosial lainnya. Puasa diharapkan mampu membangun tranformasi kesadaran kolektif dalam upaya pencarian kebermaknaan sosial. Jangan sampai agama berhenti pada satu titik berupa teater kolosal yang tidak mempengaruhi kehidupan secara luas. Wallahu ‘alam.

Najip HS Parino, sedang belajar puasa

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: