Resep Jitu Mengelola Gejolak Remaja

2

June 18, 2008 by ahmadnajip

Judul : Manajemen Gejolak
Penulis : Dr Akram Ridha
Penerbit : Syaamil Cipta Media
Terbit : Maret 2006
Tebal : x + 236 halaman

Merokok, hobi menonton, mencari gadis tetangga, angkuh, berani membangkang kepada orangtua, meminta uang tiada henti, lelet dalam belajar, dan tidak betah tinggal di rumah. Malah, anak perempuan lebih parah lagi. Ia acap menganggap orangtuanya sebagai tumpukan sampah. Dandanannya aneh pula (hal 13).

Begitulah gambaran sosok remaja yang baru saja memasuki masa pubertas atau baligh. Dalam batas-batas tertentu, mereka seakan melupakan atau pura-pura lupa perilaku baik yang pernah diajarkan orangtuanya. Hal itu pula yang kerap membuat para orang tua dirundung kebingungan. Bingung memilih ”resep” jitu mengelola masa-masa kritis sang buah hatinya.

Nah, jawaban atas kebingungan itu yang rupanya disajikan Akram Ridha dalam bukunya, Manajemen Gejolak #1: Panduan Ampuh Orangtua Mengelola Gejolak Remaja. Sajian berupa dialog tiga tokoh orangtua menjadikan buku ini terasa renyah sekaligus mudah dicerna. Tak hanya itu, buku ini juga melengkapi diri dengan semacam kuesioner atau angket untuk mengukur sejauhmana tingkat pemahaman orangtua terhadap masalah yang dihadapi anaknya.

Dari 28 pertanyaan berupa test case yang diajukan penulis, orangtua bisa mengetahui apakah dia care terhadap anaknya atau sebaliknya. Dengan cara ini, orangtua tidak bisa serta merta bisa memvonis anaknya. Tidak menutup kemungkinan perilaku negatif remaja itu muncul akibat dari kurang aware-nya orangtua.

Akram Ridha mengidentifikasi sedikitnya 10 fenomena psikologis yang acap muncul pada masa remaja (hal 33-41). Pertama, remaja lebih suka menyendiri dan mengisolasi diri. Fase ini merupakan titik balik dari masa pencarian terman pada anak-anak. Remaja kehilangan semangat untuk bergaul dengan teman bermain. Dia akan menegasikan sikapnya dengan cara menarik diri dari kelompok bermain dan menghabiskan waktu dalam kesendirian.

Kedua, malas beraktivitas dan menunaikan pekerjaan. Kemalasan ini muncul sebagai regresi dari puncak vitalitas yang muncul pada anak-anak. Ambivalensi ini biasanya muncul berupa keengganan mengerjakan tugas sekolah dan tidak memedulikan kondisi rumah. Menurut Akram Ridha (hal 34), tidak arif bila si anak tersebut dicaci, dicerca, dihardik, dimarahi karena perubahan tersebut.

Ketiga, mudah bosan dan tidak konsisten. Kondisi ini muncul karena remaja tidak menemukan aktivitas baru yang bisa dinikmati layaknya masa anak-anak. Akibatnya, dia kerap terjangkit penyakit jemu dan bosan. Di sinilah diperlukan kepekaan orangtua untuk merespons sikap sang anak dengan mengajaknya berekreasi sesuai dengan honbi mereka (hal 34).

Keempat, remaja cenderung suka menolak dan membangkang. Peralihan dari periode anak ke dewasa menjadikan selalu ingin membuktikan bahwa dia bukan lagi anak kecil yang harus selalu menjadi penurut. ”Saya sudah dewasa,” begitu kira-kira remaja mengidentifikasi diri. Buruknya lagi, sosok ibu kerap menjadi orang yang paling tidak beruntung menghadapi si remaja.

Dia berupaya meyakinkan sosok yang paling lama menyertainya dan paling banyak memberi perintah pada masa kanak-kanak. Remaja ingin meyakinkan bahwa bagaimanapun juga, sosok ibu adalah seorang perempuan. Sementara dia adalah laki-laki. Bagi perempuan, ambang masa dewasa ini ditandai dengan keberanian mengkiritisi ibu. Sebaliknya, dua semakin dekat dengan ayah.

Akram Ridha memberikan kunci untuk memecahkan masalah ini. Yakni, kepercayaan (trust) dari remaja kepada orangtua. Berikan kepercayaan kepada sang anak. Dengan begitu, dia akan terbuka kepada si orangtua. Buatlah remaja menjadi nyaman untuk menumpahkan problematika yang dihadapinya. Jadilah orang tua layaknya ember butut yang siap menampung semua keluh kesah remaja.

Sayyidina Ali ra pernah berkata, ”Ajaklah anak Anda main pada usia tujuh tahun pertama. Didiklah ia pada tujuh tahun kedua. Temanilah ia pada tujuh tahun ketiga.”

Erat kaitannya dengan fenomena keempat, remaja juga cenderung menjadi pembangkang. Pada saat ini, dia akan berusaha melawan setiap bentuk kekuasaan. Bila usahanya gagal, ia akan semakin menentang (hal 35). Tidak kalah pentingnya, masa remaja juga menjadi masa ketika seorang manusia muda mulai memerhatikan masalah seksual.

Tanpa arahan yang benar, remaja berisiko terjerumus pada tindakan keliru. Untuk memenuhi hasratnya dalam masalah ini, dia kerap membaca buku-buku roman picisan, menonton film porno, dan lain-lain. Akram Ridha menegaskan, bahwa realitas membuktikan bahwa masalah seks adalah masalah yang terus mewabah laksana penyakit (hal 37).

Itu sebagian saja dari fenomena psikologis remaja yang dituliskan Akram Ridha. Fenomena lainnya adalah kebiasaan melamun, cenderung pemalu yang berlebihan, tidak percaya diri, dan gampang marah. Masalah-masalah tadi dikupas sederhana dengan contoh yang relevan. Tentu, yang juga penting adalah kepiawaian Akram Ridha dalam memadukan fenomena tadi dengan tuntutan syariat.

Tak hanya itu, lewat dialog tokoh Ustaz Muhammad, penulis buku juga merujuk sejumlah pendapat psikolog maupun sosiolog kontemporer. Untuk mendefinisikan remaja, misalnya. Akram Ridha mengutip pendapat Stanley Hall tentang pubertas. Menurut Hall, remaja adalah fase badai dan kelemahan yang dibebani oleh gejolak psikologis dan diikuti dengan penderitaan, kemunduran, pertentangan, kegelisahan, problematika, dan kesulitan bersosialisasi.

Kalau sudah begitu, tentu tidak ada alasan bagi para orangtua untuk tidak membaca buku ini. Buku ini ibarat resep jitu untuk mengelola gejolak remaja. Wallahualam… (Najip HS Parino)

2 thoughts on “Resep Jitu Mengelola Gejolak Remaja

  1. Muhammad Ridha says:

    Stlah sy baca resensi buku ini, sy mnyimpulkan smentra, bahwa kenakalan remaja berawal dr kenakalan orang tua.
    Yang krang prhtian trhdp anak,trllu mmaksakn kehendak, membiarkan anak larut dlam hal yg sia-sia, broken home, tdak prnah brtnya pd anak: “apakah kmu sdah shalat?” malah yg sering dtnya apakah kamu sdh makan ato sudah belajar.
    Mngkn ortunya aja jrang shalat gmna mau tnya anaknya dah shalat.

  2. 0595ap says:

    masalah remaja adalah masa yang pelik dan paling sulit,…..psikologi yang islami oleh para psikolog sangat membantu orang tua Barokallahufik

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: