Mengurai Kejujuran Suami Muda

Leave a comment

June 18, 2008 by ahmadnajip

Judul : Ini Wajah Cintaku, Honey!
Penulis : Tasaro
Tebal : x + 130 halaman
Terbit : Januari 2006
Penerbit : Syaamil Cipta Media, Bandung

Kalimat-kalimat dia, kritik dan keluh kesah dia, bahasa tubuh dia, dan semua yang ada pada dirinya, saya rekam dalam otak saya. Buku ini menjadi sebuah kemasan yang memindahkan file-file ingatan di benak saya, supaya bisa dia baca, pada akhirnya.
“Pokoknya, Neng nanti bakal makin cinta sama Akang.”
“Ah, sekarang juga sudah cinta.”
“Ya… nanti makin cinta.”
“Ah, Akang mah meni tega, bikin penasaran.”
“Namanya juga kejutan.”

Bisa jadi sekarang Neng yang disebut Tasaro dalam seri Diari Pengantin #2 ini tidak lagi penasaran. Jawaban kepenasaran itu adalah buku ini sendiri. Dan, Neng itu adalah Alit Tuti, istrinya yang tinggal bersamanya di “Istana” Jatinangor. Sebuah rumah mungil yang persekot-nya berasal dari hadiah penulisan lomba menulis Forum Lingkar Pena (FLP), dua tahun lalu (hal 7-12).

Selain soal “istana”, ada 21 bagian lain dalam buku yang disunting Asep Syamsu Romli ini. Semuanya menggambarkan bagaimana pertemuan awal antara suami muda di dunia yang baru dikenalinya, dunia rumah tangga. Ada keharuan yang menggetarkan dan kebahagiaan yang amat sangat. Tentu, ada pula bagian-bagian yang membuat pembaca tersenyum simpul atau bahkan bergelak tawa. Semuanya menjadi potret utuh sebuah rumah tangga belia.

Ini memang diakui sendiri oleh Tasaro. Pada bagian pengantarnya, mantan pekerja jurnalistik Harian Pagi Radar Bandung ini mengakui bahwa tulisannya hanya berkutat pada masalah “tembok batako tanpa plester” (hal vii). Artinya, penulis mencoba memagari diri pada peristiwa yang benar-benar terjadi di bawah atap rumahnya. Yang membuat tulisannya lebih menarik adalah pengalamannya itu, wartawan. Dia mampu menyajikan hal sederhana dengan cara yang sederhana pula. “Tulisannya mengalir. Saya seperti mengobrol dengan penulisnya.” Begitu kata seorang pembaca yang sempat meminjam buku ini sebelum diresensi.

Memang, tulisan Tasaro enak untuk dibaca. Adalah kejujuran yang kemudian patut mendapat acungan jempol dari pembaca. Tasaro secara gamblang mengungkapkan masalah-masalahnya saat pertama kali menasbihkan diri untuk mengawali “karier” baru sebagai suami.

“Titik pandang suami yang saya pilih tentu saja menjadi pembeda yang paling tegas dari buku ini dibanding seri sebelumnya. Namun, segala beda itu justru saya harap menjadi titik pikir yang anyar bahwa buku ini mempersilakan siapa saja, terutama mereka yang berada dalam posisi ‘perkenalan’ dengan Islam, seperti saya, untuk membaca dan merenungkan betapa riuhnya sebuah rumah tangga yang tidak diawali oleh pemahaman hidup seragam antara suami dan istri.” Begitu Tasaro menulis dalam pengantarnya (hal viii).

Saat mengungkapkan pengalamannya, Tasaro memang tidak langsung pada masalah perkenalan dengan Islam sebagaimana diakuinya. Melainkan mencoba mengungkap problematika kehidupan ketika seseorang memilih untuk menikah. Dia menyebutnya nekat. Padahal, pembaca seharusnya menyebutnya berani. “Seperti ketika memutuskan untuk menikah, saya tak punya konsep jelas bagaimana menjalani pernikahan itu.” (hal 1).

Boleh dibilang, inilah cuplikan episode perjalanan Tasaro yang dikemas sedemikian rupa sehingga menjadi menu yang mampu menggugah selera. Mungkin, rasanya lebih enak dari sekedar “oseng-oseng daun pepaya” kesukaannya (hal 29). Karya nonfiksi ini menjadi lebih berwarna dari sekedar “gorden yang aneh” saat pertama kali menetap di Jatinangor (hal 13).

Apapun itu, semuanya menjadi bahan perenungan bagi mereka yang hendak mengikuti jejak Tasaro, “menjadi suami, menjadi laki-laki” (19). Jika benar soal hikmah adalah urusan Allah, maka problematika buku ini adalah urusan para suami. Anggap saja secangkir cokelat panas di waktu hujan rintik. Tidak, Tasaro tidak sedang menjual dirinya. Yang benar adalah dia mengajak berdialog dengan autogiografinya. Entah, apakah tampilnya muka penulis pada bagian sampul menjadi salah satu cara untuk menjual buku ini? Wallahualam.(Najip HS Parino)

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: