Jadilah The Winner, Jadilah Trend Setter

1

June 18, 2008 by ahmadnajip

Judul : I Am The Winner!
Penulis : Tim Annida & Syaamil
Penerbit : Syaamil Teens
Terbit : 2005
Tebal : 100 halaman

SETIAP kita pada dasarnya adalah pemenang alias The Winner (hal 9). Semangat itulah yang ingin disampaikan Tim Annida dan Syaamil lewat buku mungilnya itu. Rangkaian proses bagaimana menjadi the winner secara syar’i berhasil dikemas secara apik namun tetap sederhana. Perbedaan dengan buku lain yang mengusung tema sejenis terletak pada “dapur” itu sendiri. Warna islami terasa lekat dengan masuknya ayat-ayat tekstual. Ada juga kutipan hadits dan pendapat ulama atau cendekiawan muslim.

Tulisan ini diawali dengan proses peruangan atau kontektualisasi tentang siapa seorang muslim dan di mana dia berada. Eksistensi seseorang ditegaskan penulisnya sebagai nilai keberadaan. Buku yang menyajikan ragam ilustrasi menarik berupa kartun ini mengatakan bahwa eksistensi adalah pengakuan lingkungan akan kehadirannya.

Ketika ingin diterima, tentu ia harus melakukan sesuatu yang berarti. Nah, ini selaras dengan keberadaan seorang muslim, karena misi suci seorang muslim adalah menjadikan dirinya penuh arti. Nilai keberadaan kita tergantung pada sejauh mana kita berjuang untuk menjadikan diri kita menjadi berarti (hal 4). Nilai keberadaan itulah yang kemudian hadir sebagai buah dari prestasi seseorang.

Dalam batas tertentu, spirit ini selaras dengan pendapat David McClelland tentang teori prestasi (achievement theory). Menurutnya, achievement oriented behavior yang merupakan tingkah laku yang diarahkan terhadap pencapaian standard of excellent. Dengan begitu, seorang yang mempunyai need for achievement yang tinggi selalu mempunyai pola pikir tertentu ketika ia merencanakan untuk melaksanakan sesuatu (Muktiono Waspodo: 2001).

Soal prestasi ini, tim penulis turut menambahkan “bumbu” spiritual di dalamnya. Selain menjadikan lebih berarti, prestasi juga diamanatkan untuk senantiasa berbuat kebaikan (hal 5). Dari sini kita bisa menangkap pesan yang teramat mendalam. Yakni, adanya transformasi dari konsep menjadi praksis. Dengan bahasa yang berbeda, seorang tokoh pendidikan Katolik asal Brazil, Paulo Freire, menyebutnya sebagai kesadaran kritis. Sebuah kesadaran otentik tentang eksistensi manusia.

Sesuai dengan sasaran pembacanya, buku ini memberikan contoh tentang dunia akademik (hal 10). Tentu, prestasi yang dimaksudkan di sini tidak melulu seputar prestasi akademik. Dengan tidak menafikan ranah akademik, penulisnya mengajak pembaca untuk membidik alternatif di luar prestasi kuantitatif berupa ranking di persekolahan. Sebaliknya, buku ini berusaha meyakinkan adanya celah lain untuk menunjukan eksistensi diri alias berprestasi. Tidak kalah pentingnya, buku suntingan Tina Rakhmatin ini turut menggiring pembaca ke arah trend kecerdasan emosional dan spiritual alias ESQ.

Memang sudah bukan zamannya mematok diri pada ranking. Lagi pula, nilai bagus tidak menjamin hidup akan sukses. IQ bukan jaminan, saat ini orang semakin mengutamakan kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ) (hal 10).

Sorotan lain buku yang disajikan dengan bahasa santai ini adalah keterampilan mengemas rencana. Artinya, kemampuan untuk menemukan celah peluang menjadi satu cara menuju sukses. Simak misalnya sebuah pernyataan di dalamnya, “Yang menjadi pertanyaan inti sekarang adalah: ‘Kamu mau mengerjakan apa?’ Bukan cuma ‘Apa yang kamu bisa’” (hal 11).

Fase tertinggi dalam prestasi disebutkan buku ini adalah bagaimana mengaktualisasikan nilai-nilai keteladanan Rasulullah. Keteladanan itu sendiri akan muncul manakala seseorang berhasil menahbiskan diri sebagai pemenang (the winner) alias berprestasi. Dalam konteks masyarakat kita, keteladanan yang diperlukan adalah adalah moralitas (hal 12).

Masih berkutat pada konsep eksistensi diri, buku ini menyinggung makna penting kemerdekaan. Menjadi orang merdeka, demikian kata buku ini, adalah menjadi orang yang tidak mudah-mudah diombang-ambing trend. Istiqamah, ya itulah yang diusung buku terbitan Agustus 2005 ini. Sebaliknya, menjadi trend setter adalah satu pilihan seorang muslim untuk menunjukan eksistensi diri. Tentu, predikat trend setter hanya akan melekat saat seseorang berhasil menjadi yang terbaik di tengah masyarakat.

Seperti halnya pemaknaan prestasi, bagian ini juga tetap menempatkan nilai Islam sebagai basis pijakannya. Yakni, bagaimana menjadikan piranti akidah sebagai panduan. Pada halaman 15 terdapat kata kunci pentingnya aspek tersebut. So, buang jauh-jauh deh trend-trend semu yang bikin pikiran terbelenggeu dan fisik nggak merdeka. Yakinlah, Islam itu selalu dan selamanya akan menjadi trend. Karena ada Al-Qur’an yang menjadi dustur (panduan) dan Rasulullah yang menjadi qudwah (teladan).

Prestasi juga hanya akan diraih manakala seseorang berhasil menyingkirkan kemasalaasan. Merujuk kepada Kamus Besar Bahasa Indonesia, buku ini membuat definisi malas sebagai ketidakmauan bekerja atau mengerjakan sesuatu, segan, tidak suka, dan tidak bernafsu. Dimensi yang terakhir ini disebutkannya sebagai buah dari capek dan bosan (hal 20).

Ada contoh menarik yang disajikan saat menyoroti kemalasan. Identifikasi penyebab dipadukan dengan solusi sederhana. Penyebab banyak masalah misalnya, buku ini memberikan solusi dengan menyarankan untuk memilah masalah dan menyelesaikannya. Kalau perlu, mintalah bantuan kepada orang lain. Ini penting untuk melihat masalah dari sudut pandang berbeda (hal 24). Contoh menarik lainnya adalah tentang statistik waktu seseorang yang hidup selama 60 tahun (hal 96).

Yup, pokoknya buku menjadi semacam referensi elementer bagi siapa saja yang ingin menemukan jalan prestasi melalui jalur syari’at. Setelah membaca buku ini, barisan buku lain siap menanti untuk memandu jalan yang kian berliku. Inilah menu segar untuk menemukan solusi yang dekat dengan Islam.(Najip HS Parino)

One thought on “Jadilah The Winner, Jadilah Trend Setter

  1. fatimatus zahroh says:

    yuuuuupz bgd dech

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: