Cahaya Sang Puteri Mahkota

2

June 18, 2008 by ahmadnajip

Judul : Pitaloka: Cahaya
Penulis : Tasaro
Penerbit : Aditera (Group Syaamil)
Terbit : Januari 2007
Tebal : vi + 448 halaman

Sekarang sejarah menjadi ajang pertarungan. Karena mengontrol masa lalu merupakan bagian dari menguasai masa kini (Asvi Warman Adam)

PERNYATAAN sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) ini mengingatkan betapa sejarah sangat ditentukan penulis sejarah itu sendiri. Bisa jadi, sejarah sangat bergantung kepada “dapur” tempat sejarah itu diolah. Bila dapur sejarah itu Soviet, maka sejarah adalah urusan negara. Jika dapurnya Orde Baru, maka sejarah adalah Angkatan Darat.

Kalau sudah begitu, sejarah memang bisa dikendalikan. Setidaknya ada dua cara mengendalikan sejarah. Pertama dengan menambah unsur-unsur tertentu, kedua dengan kebisuan sejarah (le silence de l’histoire). Yang kedua ini kaitannya dengan legitimasi atau bahkan berkaitan dengan perlunya menutup aib sejarah.

Lalu, bagaimana jadinya jika dapur sejarah itu berada di lereng Gunung Geulis, Jatinangor, dan penulisnya adalah bekas wartawan? Ceritanya memang bisa menjadi lain. Apalagi, sejarah yang terkadang rumit itu disajikan dalam bentuk fiksi. Pitaloka, itulah menu sejarah yang dikemas menjadi cerita penuh intrik. Penulisnya, Tasaro, mengaku tidak bisa menerima tafsir sejarah yang menceritakan seorang putri mahkota Kerajaan Sunda secara begitu-begitu saja. Dia penasaran.

“Saya selalu merasa, sejarah terlalu sederhana mewujudkan sosok Dyah Pitaloka. Perannya berhenti pada kenyataan bahwa dia seorang perempuan jelita, diinginkan raja Majapahit, kemudian belapati (bunuh diri) di lapangan Bubat. Padahal, sebagai putri mahkota kerajaan yang bahkan Majapahit pun tak sanggup menaklukannya, dia tentu memiliki kepribadian yang luar biasa.” Begitu kata Tasaro yang memulai kiprahnya di dunia kepenulisan dengan cerita fiksi, Samita: Bintang Berpijar di Langit Majapahit (DAR! Mizan, 2005).

Peraih Adikarya Ikapi 2006 ini mencoba menggambarkan sosok sang puteri mahkota secara apik namun tetap lugas. Cerita bermula tatkala Pitaloka kecil disandera di salah satu gua di luar wilayah kekuasaan istana. Sebagai bocah belia, sosok yang kelak menggunakan nama Sanaha ini tak mampu berkutik. Adalah Purandara, anak gembong penjahat sekaligus musuh nomor wahid kerajaan, Yaksapurusa, yang kemudian menyelamatkan perawaris tahta (hal 6).

Tasaro rupanya tidak ingin cerita beralur datar. Proses kaburnya Citraresmi alias Piatlola alias Sanaha cukup disajikan sebagai kilas balik. Dia memilih adegan penghadangan di Sungai Taruma sebagai kelanjutan ceritanya. Meski tidak disebutkan secara jelas, waktunya berselang delapan tahun dari adegan penyekapan di gua.

Pemenang I lomba novel nasional Forum Lingkar Pena (FLP) pada 2005 ini memilih memenggal cerita menjadi fragmen-fragmen yang terserak. Seperti puzzle, Tasaro menyajikan fiksi-historik ini secara acak, lalu kemudian menyatukannya ke dalam satu kesatuan. Meski dalam bab (sebut saja begitu) yang sama, ceritanya bisa jadi mengular, naik-turun. Bikin penasaran.

Sang puteri harus mengorbankan seorang pengawalnya untuk bisa sampai ke sebuah padepokan di kaki Gunung Pangrango. Sementara satu pengawal lagi, Brajagiri, sukses menyertai Pitaloka ke padepokan Candrabhaga. Siapa Candrabhaga, Brajagiri, Purandara? Di sinilah kepiawaian Tasaro merajut cerita. Tanpa mambacanya hingga tuntas, bukan tidak mungkin sosok itu tak akan terkuak.

Konflik, intrik, dan tentu saja cinta, menjadikan cerita ini benar-benar hidup. Untuk menyebut Candrabhaga sebagai pembawa ajaran Islam ke Tatar Sunda, Tasaro cukup menyebutnya sebagai keyakinan. Dia tampak hati-hati agar tidak sampai terjebak pada konsep dakwah secara terbuka. Pesan ini tampak jelas ketika sang tokoh menyadari hidupnya akan segera berakhir. Candrabhaga tidak menitipkan apapun -termasuk keluarganya- selain keyakinannya (hal 285).

Kalau saja saat membaca novel ini sebelumnya sempat menonton film anyar “300” yang dibintangi Gerad Butler, pembacanya akan melihat dua kutub berbeda namun sesungguhnya memiliki kesamaan. Candrabhaga meyakini ada surga (sebut saja begitu) di kemudian waktu, maka Raja Leonidas menyadari akan segera ke neraka.

“Kalian harus banyak makan pagi ini karena malam ini kita makan malam di neraka,” pekik sang raja kepada 300 prajuritnya di tebing Hot Gate. Terasa satire memang, tapi itulah harga kebebasan yang ingin diraihnya. Raja Sparta di Yunani menolak tunduk kepada penguasa Persia. Dia bertekad bebas dan merdeka. Pun dengan Candrabhaga. Tokoh yang digambarkan matang sekaligus sarat pengalaman hidup ini memilih mati untuk sebuah keyakinannya. Keduanya menolak tunduk, apalagi mundur.

Tentu, sebagian besar cerita dalam novel ini milik Pitaloka. Tasaro mencoba memasukkan unsur psikologi dalam novelnya. Muatan ini tampak jelas saat dia mengambarkan kedatangan sang puteri ke padepokan. Gejolak emosi remaja yang baru menginjak usia 17-an terlalu sederhana bila disebut kekanak-kanakan, namun begitulah sang puteri digambarkan Tasaro (hal 38).

Lagi-lagi seperti halnya film “300”, novel ini sarat konspirasi. Konflik tak hanya muncul secara makro, antara kerajaan dengan padepokan atau kerajaan dengan pengacau keamanan. Konflik juga muncul dalam sebuah bilik sederhana di pedepokan. Juga di dalam gua. Sejarah menjadi begitu renyah di tangan Tasaro. Kalau saja kita berandai-andai Tasaro menjadi penulis buku sejarah, maka ungkapan sejarah itu membosankan sepertinya tidak kan pernah ada. Ah, tentu saja itu hanya berandai-andai.(Najip HS Parino)

2 thoughts on “Cahaya Sang Puteri Mahkota

  1. tigin says:

    tks bro… update lagi donk blog-nya….

  2. khodijah says:

    duhh,, dah keliling jakarta n kaltim cari ne buku, tapi ga dapat2 juga, musti nyari dmna lagi ya.??

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: