Menengok Gerbang Priangan

1

June 17, 2008 by ahmadnajip

Naik kereta api tut, tut, tut
Siapa hendak turut
Ke Bandung, Surabaya
Bolehlah naik dengan percuma
Ayo temanku lekas naik
K’retaku tak b’renti lama

Lirik lagu anak-anak diatas mengingatkan kita pada alat transportasi massal bernama kereta api. Alat inilah yang keberadaannya sempat menjadi raja jalanan, digunakan untuk mengangkut manusia hingga batubara. Banyak cerita yang menyertai perjalanannya.

Awal keberadaannya, pembangunan jalan kereta api telah melahirkan tragedi kemanusiaan tiada tara. Ratusan -bahkan ribuan- nyawa manusia hilang saat mengikuti kerja paksa di masa kolonial. Namun, perjalanan di atas kereta juga tidak jarang menjadi cerita menarik. Keindahan alam yang bisa disaksikan lewat kaca jendela gerbong adalah satu episode perjalanan yang menakjubkan.

Nah, ketika bercerita tentang kereta api, maka Bandung merupakan satu nama yang tidak bisa dilepaskan begitu saja. Meski cikal bakal perkeretaapian lahir pertama kali di Lawang Sewu, Jawa Tengah, namun kehadiran kereta api di tanah Priangan telah membawa imbas yang tidak kecil.

Menurut catatan, Bandung pada pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20 merupakan kota kecil yang sunyi di pegunungan Jawa Barat. Kota ini dikelilingi perkebunan di setiap kaki pegunungan yang tersebar di sekeliling Bandung. Sarana transportasi yang digunakan kala itu terbatas pada pedati yang ditarik dengan kerbau, sisanya dilakukan dengan berjalan kaki.

Kondisi itu bertahan hingga akhirnya pada 16 Juni 1884 dibangun stasiun kereta api. Masuknya kereta api ke Bandung terjadi beberapa waktu sebelum dibangunnya stasiun tersebut, tepatnya tepatnya 17 Mei 1884, pada masa Bupati Kusumadilaga. Sejak itu, ibukota Kabupaten Bandung-pun mulai ramai. Penghuninya bukan saja hanya pribumi, namun orang Eropa dan Bangsa Cina terus berdatangan.

Saat dilangsungkannya peresmian stasiun, warga Bandung memberikan sambutan sangat meriah. Untuk merayakannya, digelarlah pesta selama dua hari berturut-turut. Sebuah surat kabar saat itu, Javabode, melaporkan “Geheel Bandong was in feestdos” yang berarti seluruh Bandung berpesta ria.

Dalam perkembangannya, pembukaan jalur kereta api di Bandung telah menjadi pintu gerbang bagi kemajuan Bumi Siliwangi. Bandung yang sebelumnya terisolasi dengan gunung-gunung yang menjulang tinggi sedikit demi sedikit mulai terkuak. Apalagi, sejak tahun 1894 jalur kereta api Jakarta-Surabaya berhasil dirampungkan. Dengan sendirinya, penumpang yang melintasi kawasan sejuk Pasundan bisa menikmati hawa Bandung yang dikenal nyaman dan segar.

Bahkan tidak sedikit diantara mereka yang sengaja berhenti sementara untuk menikmati keindahan Bandung. Kondisi ini memacu pertumbuhan sosial-ekonomi ditandai kemunculan penginapan dan rumah makan. Nama hotel yang cukup terkenal kala ini adalah “Hotel Grand National”. Hotel ini sering disinggahi para pembesar pemerintah kolonial.

Meningkatnya arus penumpang di stasiun Bandung, maka pada tahun 1909 diadakan perluasan area stasiun. Perluasan stasiun berimbas besar bagi perkembangan kota Bandung pada fase berikutnya. Kala itu, sempat beredar wacana di kalangan kolonial untuk memindahkan ibukota Hindia Belanda dari Jakarta ke Bandung.

Mengantisipasi hal itu, tahun 1928 stasiun Bandung kembali mengalami pelebaran. Stasiun lama dibongkar dan dibangun stasiun baru seperti statsiun selatan yang bisa disaksikan sekarang. Arsitek F.J.A. Cousin yang menangani saat itu menampilkan karya arsitektur berupa garis-garis geometris yang dipadu dengan sempurna. Pada bagial hall stasiun ditambahkan hiasan kaca patri untuk memperkuat nuansa art deco sebagai ciri utamanya.

Sebelumnya, stasiun Bandung pernah menadapat penghargaan dari pemerintah kota (Gemeente Bandoeng) berupa monumen tugu atas keberhasilannya menjadikan stasiun sebagai pintu pembuka kemajuan di tanah Pasundan. Tugu tersebut di diterangi lampu dengan kekuatan 1000 lilin hasil rancangan Ir. E.H. De Roo.

Monumen tersebut sekaligus dijadikan sebagai titik triangulasi kota Bandung, yakni titik yang menandakan daerah tersebut sebagai area terdalam danau Bandung pada zaman purba. Sayang, monumen tugu kini sudah tidak bisa lagi kita saksikan. Sebagai gantinya, di bagian depan stasiun selatan dibangun monumen berupa lokomotif kuno yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan sejarah stasiun Bandung.

Begitulah wajah stasiun Bandung. Keberadaannya menjadi satu sisi dari sejarah perkeretaapian di tanah air. Pada permulaan dibangunnya mampu mengundang berduyun-duyun manusia dari berbagai penjuru. Maka, menjelang lebaran tiba, stasiun Bandung kembali akan didatangi mereka yang akan berduyun-duyun mudik ke daerah asalnya.(Najip HS Parino/dari berbagai sumber)

One thought on “Menengok Gerbang Priangan

  1. DharmaLubis says:

    a najip postingannya keren-keren. yaiyalah secara penulis dan jurnalis. tulisannya berbobot dan banyak dapet pengetahuan. apalagi di kolom feature ini. btw ada yang kurang ni… maunya biar tambah seru dan lebih dapat feel-nya, tiap feature2nya disertai gambar yang bersangkutan. apalgi kalo itu tempat bersejarah. sapa tau yang bukan urang bandung en belum pernah kesana jadi malah tertarik buat datang kesana…heheheh…cuma saran lho….siipp

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: