Braga, Tempat Belanja Sepanjang Masa

1

June 17, 2008 by ahmadnajip

Konon, seorang Stations-Chief (Kepala Stasiun) Purwakarta mendapat undangan resepsi dari bosnya, seorang “bule” di “Hoofd-kantor” S.S Bandung. Menurut cerita, akibat undangan itu sang kepala stasiun kelabakan mencari pakaian untuk digunakan dalam resepsi tersebut. Maklum, untuk masuk ke dalam lingkungan sang bos dituntut untuk mengenakan pakaian yang tidak sembarangan. Pakaian yang dianggap layak pada tahun 1935-an tersebut adalah stelan “Black and White”.

Nah, untuk mendapatkan stelan jas diperlukan waktu yang lama untuk membuatnya. Untunglah saat itu dia teringat kleermakerij (tukang jahit) “Savelkoul” di Jalan Braga. Segeralah sang kepala mengirim telegram kepada Savelkoul agar mengirimkan orangnya ke rumahnya di Purwakarta dengan menggunakan kereta api kilat “Vlugge-Vier” jurusan Bandung-Jakarta untuk mengukur pakaian yang akan dipesanya.

Dengan menggunakan kereta paling pagi, tuan Nipius langsung meluncur ke Purwakarta. Tidak lebih dari 10 menit Nipius tiba di Purwakarta. Setelah melakukan pengukuran, segeralah dia kembali ke Bandung dengan menggunakan kereta api.

Malam harinya, dengan kereta api Vlugge Vier terakhir dari Bandung, stelan jas “Black White” yang dipesan paginya sudah sampai di tangan kepala statiun. Tentulah kekalutan kepala stasiun tersebut sirna. Apalagi barang yang diterimanya merupakan barang kualitas terbaik di jamannya. Mengenakan pakaian made in Savelkoul merupakan kebanggaan tersendiri.

Cerita kepala stasiun dalam memperoleh setelan jas “Black White” sedikit menggambarkan citra belanja di Jalan Braga saat jalan tersebut tengah mencapai masa keemasannya di tanah priangan. Pada zaman keemasannya, Braga merupakan pusat belanja paling bergengsi. Masyarakat Bandung dan sekitarnya yang tergolong kaya berusaha memenuhi kebutuhannya dari Braga.

Mereka membeli kain berkualitas impor di Toko Onderling Belang yang bangunannya sekarang ditempati Sarinah, atau hanya sekadaar cuci mata melihat-lihat barang yang dipamerkan di etalase toko sepanjang jalan Braga.

Di sanalah satu-satunya tempat belanja ekslusif orang-orang berduit. Bahkan, untuk sekedar membetulkan arloji merek-merek terkenal pun lag-lagi hanya bisa dilakukan di jalan yang sebelumnya dikenal dengan jalan pedati (pedatiweg) tersebut. Mereka yang ingin membetulkan jam tangan merek Rolex, Titoni, Mido, dan Omega, hanya bisa dilakukan di toko Horlogerie Stocker dan PE Huber.

Jalan Braga juga merupakan toko induk, agen tunggal pabrik atau produsen serta distributor barang-barang dari Amerika, Eropa dan negara-negara lainnya. Perusahaan Fuchs & Rens yang didirikan tahun 1919, merupakan agen tunggal untuk seluruh Nusantara bagi kendaraan-kendaraan Chrysler, De Soto, Plymouth, Renault, dan Fargo. Merek-merek mobil yang menggambarkan status sosial tinggi.

Jadi, bila Yogya punya Malioboro dan Surabaya memiliki Tunjungan, maka Bandung sebenarnya tidak kalah hebat karena punya Braga. Jalan yang menjadi salah satu landmark dan kebanggaan urang Bandung.

Selain menjadi pusat perbelanjaan, jalan Braga juga dikenal dengan sebagai pusat peredaran valuta di kalangan “preangerplanters” (pengusaha-pengusaha perkebunan di tanah Priangan). Ini berkaitan dengan didirikannya Escompto Bank di salah satu sudut Jalan Braga. Pada awal abad ke-20 lahirlah ungkapan di kalangan para saudagar perkebunan “naar beneden geld halen!” yang berarti “ke bawah, mengambil uang!”.

Bank lain yang terkenal di kawan Braga kala itu adalah Bank DENIS (De Erste Nederlandsche – indische Spaarkas en Hypotheekbank). Inilah bank tabungan dan hipotek pertama di Nederlands Indie (Hindia Belanda) pada tahun 1915 di Jalan Braga No. 14. Selain bergerak dalam sektor perbankan, DENIS juga bergerak dalam usaha asuransi.

Menurut catatan, jumlah uang tabungan milik nasabah DENIS meningkat lebih dari 900 persen dalam lima tahun pendiriannya (1925-1930). Bila pada tahun 1935 jumlah tabungannya 504.500 gulden, maka pada tahun 1930 mencapai 4.718.500 gulden. Tatkala pemerintah Belanda menghadapi kesulitan keuangan saat menghadapi Perang Dunia II, maka DENIS merupakan sumber yang bisa menanggulangi pembiayaan perang tersebut. Tidak berlebihan kiranya, bila angka diatas juga dianggap pencerminan tingkat kemakmuran yang dialami Bandung saat itu.

Begitulah penggalan cerita yang menggambarkan keadaan Bragaweg semasa jayanya. Braga merupakan pusat niaga terbesar di tanah Priangan sekaligus pusat budaya Eropa di tanah Pasundan. Kini, meski Braga masih menjala ritual niaganya, namun hingar bingar keemasannya mulai -bahkan sudah- luntur.

Hasil penelitian Prof Djoko Sujarto pada tahun 1979 menunjukkan, dari 250 konsumen yang dijadikan responden ternyata hanya 11 persen yang mengganggap Braga sebagai kawasan tempat berbelanja. Selebihnya menganggap Braga sebagai tempat bersantai (24.5 persen), tempat jalan-jalan (33.5 persen) dan tempat sekadar lewat (31 persen).

Ya, begitulah. Meski tak seramai dulu, Braga masih menjadi tempat belanja yang masih menyisakan puing-puing keemasannya. Braga menjadi tempat berniaga sepanjang masa.(Najip HS Parino/dari berbagai sumber)

One thought on “Braga, Tempat Belanja Sepanjang Masa

  1. mukhdan says:

    pada tahun 2006 lalu saya pernah singgah ke Bandung dan karena baru pertama kali ke sana saya mengajak sopir hotel untuk jalan-jalan. dan memang jalan braga tidak terlalu ramai dan terkesan agak gelap dan kata sopir yang saya bawa bahwa di sana terkenal sebagai tempat hiburan malam (mohon maaf)

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: