Memoar Seorang Budak Modern

Leave a comment

June 9, 2008 by ahmadnajip

Judul
SOLD: Kenapa Aku Dijual
Penulis
Zana Muhsen dan Andrew Crofts
Penerjemah
Astuti Pramiyanti
Penerbit
Madanisa

PENDERITAAN perempuan Indonesia di Timur Tengah, terutama tenaga kerja, sudah menjadi cerita biasa. Bahkan, mungkin terlalu biasa. Tapi kalau ada perempuan Inggris yang menderita di tanah kelahiran Islam tersebut, saya ingin menyebutnya luar biasa. Tersebutlah Zana dan Nadia, dua saudara kandung yang secara sengaja “dijual” orangtuanya kepada dua keluarga Arab. Janji liburan dan bertemu keluarga di Yaman tak lebih dari jebakan ayah mereka. Potret buram dua perempuan Inggris inilah yang dikupas Zana Muhsen dalam novelnya, Sold: Kenapa Aku Dijual?
Dua gadis itu masih sangat belia. Zana berumur 15 tahun, sementara Nadia masih 14 tahun. Keduanya tinggal bersama kedua orangtuanya, Dad dan Mum, di pinggiran kota Birmingham, Inggris. Layaknya remaja metro lainnya, Zana dan Nadia larut dalam gaya hidup kota industri di jantung Eropa. Rokok dan dansa menjadi keseharian mereka di tengah ketatnya aturan Dad yang sangat berorientasi ke tanah leluhurnya, bangsa Arab. Sehingga, butuh waktu tepat agar keduanya bisa mengenakan rok selutut, menikmati musik reggae, atau sekadar bermain ke Centre. Berteman dengan warga kulit hitam pun bisa mendatangkan masalah tersendiri di kemudian hari. Bagi Dad, “Kulit hitam adalah budak dan seharusnya hal itu berlaku di seluruh dunia.” Pandangan yang sama juga dimiliki sesama imigran Arab di Inggris.

Dad merupakan imigran Arab yang beruntung bisa “menikmati” kelonggaran Eropa dalam menerima kehadiran bangsa Arab pasca Perang Dunia II. Meski tumbuh dan besar di Inggris, imigran Arab tetap memegang teguh budaya mereka. Pun dengan keluarga Dad. Keluarga ini menjadi bagian dari komunitas masyarakat Muslim Inggris yang diperkirakan terbesar ketiga setelah Prancis dan Jerman. Sensus 1991 lalu menunjukkan jumlah pemeluk agama Islam di Inggris mencapai angka 12-13 juta jiwa atau 2,6 persen hingga 3,2 persen total penduduk sebanyak 47 juta jiwa. Sebagian besar Muslim adalah pendatang. Sekadar catatan, imigrasi kaum Muslim pertama ke Inggris terjadi sekitar akhir abad 18 dan awal abad 19 lalu. Mereka merupakan para kelasi kapal dari negeri Muslim yang direkrut oleh East India Company (Perusahaan India Timur).

Bertutur sebagai orang pertama, Zana sukses mengajak pembaca larut dalam memoarnya. Detil-detil sebuah kamar senyap di rumah keluarga Abdul Khada di puncak bukit tandus Yaman hingga deretan toko di sepanjang jalan yang dianggapnya tidak lebih dari gubuk terungkap jelas di dalamnya. Zana menulis, “Berjalan ke dalam rumah seakan memasuki gua. Seluruh dinding dan lantainya terbuat dari batu, tetapi sudah dilapisi campuran kotoran sapi kering dan pasir sehingga membuat seisi rumah berbau kotoran sapi.” Gambaran toilet lebih suram lagi, “Aku harus menunduk agar bisa masuk ke dalamnya. Di dalam benar-benar gelap dan satu-satunya sumber cahaya berasal dari lubang di sudut lantai. Ketika membungkuk aku dapat menyentuh keempat dinding toilet tersebut. Aku harus selalu membawa obor agar dapat melihat dengan benar apa yang sedang kukerjakan. Ada sebaskom air untuk mencuci tangan, dan cebok setelah menggunakan toilet yang hanya berupa lubang. Semua yang melewati lubang toilet hanya tertumpuk begitu saja di bebatuan di bawah rumah, mengering oleh sinar matahari di antara semak belukar.”

Sebagai gadis Inggris, tentu Zana sangat asing dengan kultur leluhurnya itu. Dan, tentu saja kekagetan bermula saat dia mendengar suara rendah Abdul Khada, “Dia adalah suamimu.” Tangannya menunjuk ke arah Abdullah, anak laki-lakinya. Zana kaget saat mengetahui dirinya telah dijual Dad kepada Khada untuk dinikahkan dengan anaknya. “Ayahmu telah mengatur pernikahan ini di Inggris. Begitu pula dengan adikmu Nadia. Kami memiliki surat nikah kalian, jadi pernikahan ini sah,” Khada melanjutkan. Sejak itulah dia dipaksa menjadi wanita Arab sesungguhnya. Mengenakan pakaian tradisional melewati lutut dan celana panjang hingga pergelangan kaki. Kepalanya dibalut kain semacam syal untuk menutupi rambut dan bercadar. Hanya jika mereka di sekitar rumah saja Zana diperbolehkan memperlihatkan wajah dan rambutnya.

Zana remaja harus menerima kenyataan bahwa dirinya telah dijual. Kenyataan bahwa dia menjadi wanita Arab yang rela hidup dalam keterkungkungan, tamparan, pukulan, hingga kerja paksa tanpa kenal belas kasihan. Zana dipaksa siang malam. Berjalan satu mil untuk membawa air ke rumah dan menyiram toilet sehabis digunakan para pria. Dia juga harus bercocok tanam di tanah tandus hanya menggunakan sebuah sendok semen atau belati. Zana –dan tentu saja Nadia- harus mengerjakan ritual hariannya itu selama bertahun-tahun. Dia larut dalam dunia yang kejam, bahaya, dan bahkan primitif. Laki-laki berkuasa penuh dan wanita harus menerima nasib mereka seperti keinginan laki-laki.

Boleh jadi, Zana dan Nadia bukanlah wanita Inggris pertama yang terjerumus dalam perkawinan paksa dan menjadi abdi seumur hidup di Yaman. Tetapi, Zana adalah orang pertama yang berhasil melarikan diri dengan bantuan ibu dan media Inggris. Mum butuh enam tahun untuk mencari kedua gadisnya yang disembunyikan di pegunungan. Dan, butuh dua tahun lagi untuk mengeluarkan Zana dari sana. Yang pasti, melarikan diri dari Yaman hanyalah setengah dari pertempuran. Dalam membebaskan adiknya, Zana terus berkeliling dunia, mencari bantuan dari pihak mana pun yang bisa membantu melawan birokrasi dan kemunafikan diplomasi.

Membaca kisah ini seperti berpetualang di tengah pertikaian mengerikan beberapa elemen paling primitif yang bertahan di tengah modernitas. Seperti kisah Seribu Satu Malam versi kontemporer, begitu buruk namun begitu kita sadar betapa cerita itu ada di kehidupan nyata. Mimpi itu ada di Yaman, salah satu negara termiskin di dunia yang sebagian besar rakyatnya hidup dalam kondisi yang sama selama ribuan tahun. Tanpa bermaksud mengeliminasi substansi cerita, penuturan Zana juga tampaknya tidak lepas dari semangat feminisme yang menggelora di dada penulisnya. Selain memoar, tulisan ini sekaligus protes terhadap dominasi kaum pria atas perempuan. Seperti diakuinya, buku ini merupakan “Janji untuk Nadia”, adiknya yang hingga buku ini diterbitkan pada 2007 lalu masih menjadi tahanan di Mokbana, Yaman. Selamat membaca!

Najip HS Parino, penikmat buku tinggal di Bandung.

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: