Memilih yang Bisa Dipilih

Leave a comment

April 6, 2008 by ahmadnajip

Inilah hidup!
Jika orang lain pada akhirnya menyanjungku seperti Tuhan, maka itu adalah kemalangan mereka. Sesungguhnya mereka punya pilihan lain. Tapi ketakutan, kelemahan, dan kebodohan mereka telah memengaruhi pilihan mereka.

Di sini!

Di kaki Bukit Ramalan ini, telah kupancangkan tiang tekad dengan kuat bahwa menebarkan kesesatan adalah sebuah keharusan bagiku. Hanya dengan cara demikianlah aku bisa membahagiakan diriku dan menunjukkan pada semesta bahwa tak seorang pun boleh mengangkangi nasibku!

Akulah Lenggini!

Jika takdir bisa menyingkirkan aku dari kehidupan, maka aku akan menyingkirkan takdir dari keyakinan manusia. Inilah peran yang telah kupilih. Kupilih karena memang aku tak punya pilihan lain.

Begitulah Novia Syahidah mengawali tulisan fiksinya dengan bahasa yang provokatif. Selanjutnya, pembaca akan dibuatnya bertanya-tanya bagaimana jalan cerita itu. Lebih khusus lagi, siapa Lenggini itu. Pertanyaan ini baru akan terjawab beberapa lama sebelum novel ini berakhir. Alur penulisan yang meronta-ronta melahirkan sebuah kepenasaranan.

Setiap orang yang pernah mendengar nama Lenggini dan bagaimana besarnya pengaruh perempuan sepuh itu di tengah Buangan, pastilah ingin melihat langsung seperti apa wajah Lenggini yang sebenarnya.

Anehnya, ketika Lenggini menampakkan diri keluar dari guanya yang gelap, semuanya malah menghindar. Entah kenapa, orang-orang malah lebih memilih menjauh dan menghindarinya. Hanya ada satu orang berani bebeda sikap. Dia adalah Kasah, seorang keriput yang teramat pemberani. Dan, kecintaannya pada cucunya, Sindra, menjadikannya lebih “brutal”.

Dialah yang berani adu argumentasi dengan Lenggini sang peramal hari-hari buruk. Kasah memiliki suami, Mundil, yang tukang tidur. Kebiasaan itulah yang kerap membuat Kasah jengkel. Wajar memang, kalau sudah tidur, Mundil tak pernah mengenal tempat maupun waktu. Dia bisa tidur di rumah maupun di atas pematang sawah. Meski begitu, Mundil, seperti halnya Kasah, sangat menyayangi anak cucunya.

Tekadnya untuk melindungi sang cucu itu yang memaksa Mundil untuk melintas di depan gua Lenggini, sebuah gua yang semula dikenal sebagai gua kelelawar. Singkatnya, saat melintas gua itulah Mundil benar-benar bertemu Lenggini. Lengkap dengan dua sosok di belakangnya (hal 3-22).

Cuma saja, pertemuannya dengan Lenggini tidak merubah sikapnya. Dia tetap takut pada sosok yang melegenda selama ratusan tahun itu. Yang pasti, ketakutannya pada Lenggini tidak pernah hilang sampai cerita ini berakhir. Penulis rupanya tidak ingin mengungkapkan cerita seraya utuh. Beberapa fragmen cerita mereduksi cerita itu sendiri dengan flashback ke cerita awal. Hasilnya, alur cerita menjadi semacam puzzle atau mungkin mozaik.

Yang agak terlalu jauh melompati kewajaran adalah sosok Sindra. Ketika disinggung belum pernah haid, penulis mengontraskannya dengan kedewasaan yang teramat dalam. Dia mampu mengungkapkan dialog-dialog yang sehat dan dewasa (62-68). Sebuah ilustrasi yang tak lazim pada dunia nyata.

Bagaimana cerita berakhir? Penulis punya cara menarik untuk menyampaikan pesannya. Apa yang ingin disampaikannya sebenarnya hanya terdapat pada dua bagian terakhir. Yakni, bagaimana seseorang yang terasing dalam kehidupannya mampu menjadi sosok yang luar biasa. Sosok yang mematahkan stigma kabanyakan tentang ingatan kolektif. Novia juga seakan menegaskan bahwa saat ini telah terjadi kerancuan berpikir masyarakat. Mereka kerap terjebak untuk menyalahkan korban (blaming the victim).

Akibatnya, korban tidak pernah mendapatkan haknya untuk dilindungi. Korban menjadi korban berikutnya. Dan, inilah yang ditepis Novia. Sebaliknya, korban mampu menjadi Tuhan baru yang mampu membuat takdir baru. Kesesatan menjadi pilihan ketika pilihan lain tak pernah ada. Dialah Lenggini!

Hidup Lenggini adalah buku ini. Bagi saya, “Bayangan Lenggini” bukan misteri. Dia adalah jawaban misteri. Kalau pun tetap mau dibilang misteri, maka ini cerita “bergizi” tinggi. Lebih dari itu, cerita ini menjadi kritik pedas bagi konstruksi berpikir masyarakat yang masih lekat dengan balutan magis. Masyarakat yang terasing dalam kehidupannya sendiri. Lenggini ingin menyadarkan semua itu.(*)

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: