Tamasya ke Penjara

Leave a comment

April 3, 2008 by ahmadnajip

Hidup di bui bagaikan burung
Bangun pagi makan nasi jagung
Tidur di ubin pikiran bingung
Apa daya badanku terkurung

Terompet pagi harus bangun
Makan diantri nasinya jagung
Mau merokok rokoknya puntung
Mau mandi tidak ada sabun

Penggalan lirik lagu bertajuk “Hidup di Bui” gubahan vokalis Band D’Lloyd Sjamsudin cukup memberikan ilustrasi kepada kita betapa hidup dalam penjara sangat tidak nyaman dan meyiksa. Karya sastra berupa novel ataupun cerita pendek juga kerap menggambarkan penjara sebagai “rumah” yang harus dihindari. Cerita seputar penjara memang begitulah adanya, seram.

Namun, di balik keseraman tersebut penjara tetap menjadi ruang perenungan yang nyaman. Hasil pergulatan pikiran di balik jeruji besi di satu sisi telah membidani kelahiran ide-ide kreatif yang kelak berimbas besar bagi kebudayaan manusia. Andai pada 1924 Adolf Hitler tidak mencicipi penjara, mungkin takkan ada Nazi yang menginvasi Eropa dan membantai jutaan orang Yahudi. Mein Kampf, sebuah naskah yang kemudian berfungsi sebagai panduan Jerman untuk menjadi global superpower lahir saat Hitler mendekam di penjara.

Dari penjara Pennsylvania Amerika Serikat, Mumia Abu-Jamal, seorang wartawan Afro-Amerika sebelum divonis mati pada 1982 juga menghabiskan waktunya dengan menulis. Tulisan-tulisannya kemudian dibukukan menjadi dua buku, Live From Death Row dan All Things Censored. Di kemudian hari tulisannya disetarakan dengan tulisan Martin Luther King Jr sewaktu dalam penjara: Letter From Birmingham Jail. Mumia kemudian menjadi lambang gerakan anti rasialisme di Amerika Serikat.

Penjara juga menjadi tempat bagi penulis Mesir, Nawal el Saadawi pada tahun 1981. Selama di sel Saadawi menulis dengan medium kertas toilet dan pensil alis. Sekeluarnya dari penjara, tulisan itu menghasilkan esai berjudul Memoar dari Penjara Perempuan. Dalam buku itu, dia mengisahkan bahwa ketimpangan sosial-ekonomi dan jender merupakan penyebab masuknya perempuan ke dalam sel penjara tersebut.

Nah, bangsa Indonesia juga tidak kekurangan stok dari produk pemikiran kamar gelap. Dalam keterasingan, Soekarno maupun Hatta sama-sama aktif menulis dari balik jeruji. Naskah pembelaan “Indonesia Menggugat” yang dibacakan Soekarno di hadapan pengadilan Belanda juga lahir dari balik tembok penjara Sukamiskin. Tentu, kita juga tidak lupa dengan karya monumental Tan Malaka “Madilog” yang juga lahir selama pengembaraannya dari penjara ke penjara.

Atau, yang masih segar dalm ingatan kita, literatur Indonesia produk penjara yang paling terkenal “Nyanyi Sunyi Seorang Bisu” dan tetralogi Pulau Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca) karya Pramoedya Ananta Toer yang ditulis di Pulau Buru. Proses kreatif Pram di penjara Pulau Buru mirip dengan yang dilakukan Antonio Gramsci pada 1930-an.

Cerita diatas cukup menjadi jalan bagi kita untuk melihat penjara dari sisi yang lain. Penjara bukan semata-mata bangunan tua yang menyeramkan. Bukan hanya itu. Menyelami alam pemikiran penjara akan membimbing kita untuk memahami kearifan ruang sunyi yang ditakutkan anak kecil hingga orang dewasa tersebut. Berkunjung ke penjara bukan sekedar besuk, tapi ziarah jauh ke masa lalu. Dari masa lalu yang asing kita mencoba mengais pengalaman untuk melihat hari esok.

Dalam pengantarnya untuk buku Wiranto “Bersaksi di Tengah Badai (2003) tar Sejarawan Taufik Abdullah yang memberi pengantar pada buku Wiranto “Bersaksi di Tengah Badai” mengatakan, “Masa lalu”, katanya, “adalah negeri asing”. Siapa tahu “di sana di negeri asing itu” terletak sumber ketidakberesan yang kini dirasakan. Kalau perjalanan ke masa lalu seperti juga ke negeri asing, bisa dilakukan, bukankah unsur-unsur yang menyebabkan ketidakberesan itu diperbaki, agar yang terjadi “di sini” baik-baik saja.

Semoga, dengan mengelola masa lalu akan membimbing kita menata masa depan. Perjalanan ke masa lalu adalah nostalgia. Selamat bernostalgia. Selamat datang ke penjara.

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: