Saat “Penyambung Lidah Rakyat” Mengeluh

1

April 3, 2008 by ahmadnajip

Wajah Soekarno hari itu lain dari biasanya. Kegagahannya seakan luntur seiring dengan renggekannya kepada pemerintahan Belanda agar mau membebaskan dirinya dari tekanan penjara Sukamiskin. Hari itu 30 Agustus 1993, Soekarno tengah menulis surat ihwal permohonannya untuk dilepaskan dari Sukamiskin.

“Maksud surat ini adalah memohon dengan hormat agar diri saya –juga isteri, anak dan ibu bapak saya yang sudah tua- diselamatkan dengan membebaskan saya dari proses pengusutan hokum atau penamahan lebih lanjut. Saya memohon untuk ini kepada tuan dan kepada pemerintah agar membebaskan saya. Selanjutnya saya berjanji untuk mengundurkan diri dari kehidupan politik dan menghidupi keluarga saya sebagai warga negara yang damai dengan bekerja sebagai arsitek dan insinyur yang selama ini telah saya lalaikan akibat kegiatan politik saya. Saya tak akan pernah mengingkari janji saya. Surat ini adalah jaminannya: bila saya menyalahi janji, maka sebar luaskan kalimat-kalimat ini dan segeralah penjarkan atau hukumlah saya. Saya hanya akan merusak diri saya bila saya mengingkari janji: penyebarluasan surat ini berarti kematian social saya.”

Tulisan Soekarno sebagaimana dikutip John Ingleson dari laporan surat rahasia pemerintah Belanda diatas cukup membawa kita untuk melihat sisi lain kehidupan Soekarno selama berada dalam sel penjara Sukamiskin. Lewat surat itu pula kita bisa menyelami alam pemikiran seorang narapidana dalam ruang gelap tahanan. Tak tersecuali Soekarno, penjara terasa begitu menekan dan melelahkan.

Soekarno mulai memasuki penjara Sukamiskin yang belakangan berubah nama menjadi lembaga pemasyarakatan (lapas) kelas I Sukamiskin pada 22 Desember 1930. Hari itu bertepatan dengan pembacaan putusan pengadilan pemerintah Belanda yang dipimpin majelis hakim Siegenbeek van Heukelom. Soekarno dijatuhi hukuman empat tahun penjara dan ditempatkan di sel 233, dekat tangga besi di sudut lantai dua.

Kini sel itu tetap menjadi bagian dari 552 sel di lapas Sukamiskin. Cuma, nomornya berubah menjadi TA (Timur Atas) 01. Sel dengan dua pintu dan dua jendela bercat abu-abu tua berukuran 2,5 x 3 m itu sejak lama sengaja dikosongkan. Di salah satu pintunya tertulis: “The former room of BK”.

Di dinding kuningnya menempel empat foto tua, sulaman tusuk silang gambar BK, dan Garuda Pancasila. Di atas lantai ubin abu-abu terdapat tempat tidur yang dapat dilipat ke dinding, dengan kasur dan seprai putih. Ada pula sebuah kursi, sebuah meja tulis dan kursi bulat, lemari gantung, serta rak buku dengan sembilan buku tua tentang atau karya Soekarno dalam bahasa Indonesia dan Belanda. Di bawah tempat tidur, dekat jendela, ada kloset duduk.

Berbeda dengan penghuni sel lain, BK diawasi lebih ketat. Ia juga dipekerjakan untuk membuat garis di atas kertas menggunakan mesin penggaris dan pemotong penuh gemuk (pelumas). Sekarang mesin itu tersimpan di salah satu sudut percetakan LP Sukamiskin.

Sementara itu, di luar sel, Inggit Garnasih yang lebih dikenal dengan panggilan Ibu Inggit berjuang menyambung hidup. Ia berjualan bedak buatan sendiri, menjahit pakaian dan kutang, serta memasarkan kerajinan pandai besi Ciwidey, dengan sistem bagi hasil. Untuk membiayai perjuangan suaminya, Inggit menggadaikan perhiasannya. Menurut Tito, tabungan hasil usaha itu menjadi modal untuk memproduksi “Rokok Kawung Ratna Djuami bikinan Ibu Inggit”.

Salah satu surat Soekarno diatas hanya satu sisi dari banyak sisi kehidupan Soekarno. Betapapun Kusno, panggilan Soekarno kecil, terkesan merenggek, namun tidak dipungkiri sosok bapak bangsa ini memancarkan hasil pemikirannya yang diracik dengan bahasa kaumnya. Bahasa sederhana yang mudah di mengerti manusia Jawa yang Inlander di tengah kepungan implerialisme.

Dalam biografinya yang ditulis wartawan Cindy Adams “Soekarno Penjambung Lidah Rakjat Indonesia” Soekarno sama sekali tidak terkesan cengeng sama sekali. Dalam tulisannya, saat itu kepala penjara mengantarnya hingga pintu keluar, dan bertanya, “Ir. Soekarno, dapatkah Tuan menerima kebenaran dari kata-kata ini? Apakah Tuan betul-betul akan memulai kehidupan baru?” Sambil tangan kanannya memegang tiang pintu, ia menjawab, “Seorang pemimpin tidak berubah karena hukuman. Saya masuk penjara untuk memperjuangkan kemerdekaan, dan saya meninggalkan penjara dengan pikiran yang sama.”

Yah, apapun yang disampaikan Soekarno adalah bahan apresiasi kita melihat sosok manusia yang tertekan dalam kekejaman penjara Sukamiskin. Bagaimanapun juga Soekarno adalah orator sekaligus penulis yang ulung. Dan –yang tidak boleh dilupakan- juga seorang lelaki yang gemar berkirim surat.

Untuk urusan menulis surat, dua minggu setelah dirinya mendekam di Sukamiskin, Kusno langsung menulis surat. Berikut surat pertamanya:

Sukamiskin, 17 Mei 1931

Saudaraku!
Baru sekarang saya menulis dari Sukamiskin, karena orang tangkapan hanya boleh berkirim surat sekali dalam dua minggu. Sesudah masuk ke dalam rumah kurungan, hampir semua yang saya bawa dari rumah tahanan di Bandung, diambil. Setiap hari saya mesti bekerja keras. Malam hari, badan sudah letih sehingga belajar pun tak ada hasilnya.
Sukamiskin tak lebih daripada rumah kurungan, dan saya ini adalah orang hukuman, yang mesti menyembah larangan dan suruhan, seorang manusia yang mesti melupakan kemanusiaannya. Orang hukuman tiada lain daripada seekor binatang ternak; orang hukuman menurut Nietzche, ialah orang yang dijadikan manusia yang tidak mempunyai kemauan sendiri, seperti binatang ternak.
Namun demikian, hatiku tinggal tetap; tak pernah saya melupakan suara hatiku. Bukankah Sir Oliver Lodge telah mengajarkan “No sacrifice is wasted,” atau dalam bahasa Jawa “Jer basuki mawa beya.”

Ya, itulah Soekarno kita.

One thought on “Saat “Penyambung Lidah Rakyat” Mengeluh

  1. DharmaLubis says:

    karna kata ayah saya dulu..zaman Belanda penjara, kurungan atu bui bener didalamnya diberi hukuman atau siksaan yang membuat orang tidak ingin bahkan kepikiran untuk kembali kesana. tapi saat ini banyak orang bilang, kalo masuk penjara sama dengan menambah skill kejahatan yang dipunyai. atau dengan kata lain, yang jahat akan tambah jahat…tragis..

    nice post!!

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: