Masjid Tempo Doeloe

Leave a comment

April 3, 2008 by ahmadnajip

Konon, sepenggal cerita lucu terjadi di sebuah masjid di kota Bandung. Tersebutlah Haji Tajudin, seorang penduduk di kawasan Ancol di Bandung tengah melakukan adegan rukuk dalam shalat tahiyyaatul masjid. Salah satu ujung sarungnya terinjak –atau sengaja diinjak- oleh anak-anak yang lalu lalang di dalam masjid. Akibatnya, wow, sarung Pak Haji langsung melorot. Praktis, bagian dalam yang semula hanya tertutup kain sarung langsung menyembul tanpa busana.

Gegerlah pengunjung masjid yang sore itu mulai ramai. Meskipun Pak Haji dengan sigap menyambar sarungnya, namun tak pelak perbuatan bocah-bocah cilik menginjak sarung Pak Haji saat itu membuat guyur, ramai, hingar bingar diselingi gelak tawa pengunjung. Mohon maklum, kala itu belum ada Satuan Pengamanan (Satpam). Jadi, segala bentuk pengamanan masjid dilimpahkan kepada Marebot, si penabuh bedug.

Nah, mengenai polosnya bagian dalam sarung, hal itu memang kebiasaan saat itu. Bagian serambi masjid-masjid di tanah Priangan memiliki paku-paku yang menancap pada dinding masjid. Fungsinya untuk mengantungkan celana pantaloon dan celana dalam pengunjung pria semacam Pak Haji. Lha, selama adegan shalat berlangsung berarti pengamanan bagian dalam hanya secarik kain sarung.

Tentu, cerita Haji Tajudin hanya sepenggal cerita dari pojok masjid tempo doeloe di kota Bandung. Belum lagi kalau bocah-bocah cilik itu iseng menukar-nukarkan celana yang tergantung di paku. Atau, pentungan penabuh bedug milik Marebot disembunyikan “setan-setan kecil” masjid.

Cerita lucu diatas sesaat membuat kita tersenyum tipis. Itulah penggambaran realitas sosial masyarakat Bandung pada masa kolonial yang terrekam lewat masjid. Pada zamannya, bukan semata-mata tempat melangsungkan aktivitas ritual keagamaan, tapi juga pusat aktivitas publik dalam potret yang sangat sederhana. Mari kita bandingkan dengan sekarang. Di Masjid Raya Cipaganti misalnya, kita tidak akan lagi menemukan cerita lucu semacam itu. Begitu masuk halaman masjid, terdengarlah sayup-sayup lantunan ayat suci Alquran berpadu dengan keceriaan anak-anak TKA/TPA yang sedang belajar mengaji. Suaranya menggema ke seluruh kawasan masjid.

Tentu saja ini bukan kemunduran. Sebagai karya budaya, masjid wajar mengalami perubahan bentuk maupun fungsi. Tak aneh bila sekarang kita menemukan masjid sebagai tempat berlangsungnya proses pendidikan, tabligh akbar, tempat mencari hidup para pengumpul zakat, sunatan masal, resepsi pernikahan, bahkan menjadi pemicu perang tender atas pembangunannya. Tidak jarang juga masjid menjadi tempat favorit pasangan muda untuk melewatkan sore menjelang senja. Bagaimana dengan masjid Cipaganti. Didirikan tahun 1933 oleh CP Wolff, seorang terkemuka Belanda, kini masjid tersebut terus berkembang. Selain menambah badan bangunan ke bagian kanan dan kirinya, fungsi-fungsi lain pun mulai bertambah. Masjid Raya Cipaganti -meninjam bahasa MS Barliana- telah merepresentasikan komunitas ummat Islam yang melahirkan dan memakmurkannya.

Bisa jadi, ungkapan Nabi SAW yang diriwayatkan Abu Naim juga telah terpenuhi oleh masjid Cipaganti. “Sesungguhnya rumah-rumah-Ku di bumi ialah masjid-masjid. Dan, pengunjungnya adalah yang memakmurkannya.” Semoga saja begitu. Betatapun demikian, sedikit bernostalgia melihat kembali masjid-masjid tempo doeloe menjadi semacam wisata ziarah. Dari sanalah kita sejenak menundukkan kecongkakan masa kini. Siapa tahu di sana ada kearifan yang tidak kalah dari sini. Bukan. Kita bukan ingin mengulang kehidupan masjid tempo doeloe. Tidak akan mengulangi kejahilan bocah yang memelorotkan kain sarung Haji Tajudin atau Pak Ruhiat (Ketua DKM Masjid Raya Cipaganti sekarang) misalnya.

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: