Sing Bisa, Kudu Bisa, Sabisa-bisa, Pasti Bisa!
April 11, 2011 at 1:35 pm Tinggalkan komentar
Menurut saya, sebenarnya kalimat judul di atas bisa simpel saja, Maksa! Tujuh kata dalam “Sing Bisa, Kudu Bisa, Sabisa-bisa, PastiĀ Bisa!” sama saja artinya dengan satu kata: Maksa! Saya pertama kali mendengar kalimat ini di Pangandaran, beberapa waktu lalu. Kalau kamera saya tidak salah mencatat folder, 8 Februari 2011, sekitar pukul 09.00 sampai zuhuran. Dari Ahmad Heryawan yang gubernur Jawa Barat itu. Saat itu, Heryawan memberikan sambutan di hadapan 4.000 pengelola program keluarga berencana (KB) se-Jawa Barat. Heryawan memekikkan kalimat itu di antara peluh yang menetes di batik cokelatnya dan deburan ombak di Pantai Barat. Menarik juga kalimat itu. Diam-diam saya berencana menjadikan kalimat itu menjadi judul berita yang akan saya tulis untuk terbutan Majalah Warta Kencana Mendatang. Setelah itu, saya lama tak mendengar kalimat itu lagi. Meski begitu, saya tidak untuk tetap menjadikan judul berita untuk majalah yang tak kunjung rengse ini. Ayo, Jip! Sing bisa, kudu bisa, sabisa-bisa, pasti bisa! Heheheh…
Hari ini, saya seperti diingatkan untuk segera mentranskrip pidato Heryawan. Pemicunya, tadi pagi saya menyimak ceramah Netty Heryawan, nyonya gubernur yang tadi pagi mampir -meminjam istilah Netty di microbloogging Twitter- di Jayagiri, Lembang. Untuk menyambut Ketua PKK Jabar ini, 200-an penggerak BKB, BKR, BKL, BLK, kaluarga harmonis, seterusnya saya lupa, dilatih memekik slogan Program KB, ya itu tadi jawabannya. Kalau koordinator berteriak Program KB Jawa Barat, tujuh kata itu yang mesti diteriakkan. Ada embel-embelnya, heueuh, heueuh! Bagi Netty, heueuh heueuh itu kreativitas karena dia tidak mengajarkannya. Lain kitu, heueuh?! hahahah
Bagi saya, kalimat Heryawan yang setelahnya langsung makan dengan lahap itu, sangat fisilofis. Wualah, sok keren gue,heheh.. Yeah, kalimat itu semacam penekanan bahwa hanya dengan kerja keras suatu hal bisa dicapai. Di kalangan pekerja jurnalistik, hal itu sama maknanya dengan vitalitas. Yakni, mengerjakan yang biasa-bisa dengan cara luar biasa. Dan, hasilnya tentulah luar biasa. Dalam beberapa kesempatan, setiap kali mengisi materi pelatihan pers maupun sekolah kepemimpinan di himpunan mahasiswa saya mengulang kalimat itu. Begini kira-kira, “Mengerjakan sesuatu dengan biasa-biasa, maka hasilnya biasa-biasa saja. Pun ketika mengerjakan dengan cara luar biasa, maka hasilnya juga luar biasa.” Mudah-mudahan yang mendengar ocehan saya tidak bosan yaa..
Ungkapan filosofis itu juga menjadi antitesis terhadap stereotipe urang Sunda yang dikenal santayyyy dan agak “Kabayan”, heheh.. Tujuh kata dalam judul itu juga bisa dibilang spirit Ki Sunda kekinian, dia yang tak menyerah kepada alam. Sebaliknya, dia yang berupaya keras memaksimalkan potensinya. Lagi-lagi bagi saya, tujuh kata itu menjadi cambuk untuk mengejar sejumlah obsesi tahun ini: menerbitkan majalah Warta Kencana milik BKKBN secara berkala, membangkitkan kembali jurnal Educare dan tabloid Alumni Network punya Ikatan Alumni Universitas Pendidikan Indonesia (IKA UPI), kuliah S2, punya rumah, mengasuransikan Violeta dan emaknya, dan beberapa di antaranya. Secara matematis memang berat. Ah, tapi hidup bukan melulu matematika. Hidup adalah perjuangan, kata pepatah. Kata bekas petualang politik yang belum lama ini menerbitkan buku Soetrisno Bachir Terus Melangkah, hidup adalah perbuatan! Pokoknya, sing bisa, kudu bisa, sabisa-bisa, pasti bisa!
Cag, ahhh…
Like this:
Entry filed under: Feature. Tags: ahmad heryawan, BKKBN, filsafat sunda, gubernur jawa barat, gumelar, IKA UPI, jumbara, kabayan, KB, netty heryawan, spirit.
Alamat Kantor Bupati/Wali Kota di Indonesia Kawin, Setelah itu Sakit (Berbagi Kekonyolan Pagi)

Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed