Archive for Juni, 2008
Cahaya Sang Puteri Mahkota
Judul : Pitaloka: Cahaya
Penulis : Tasaro
Penerbit : Aditera (Group Syaamil)
Terbit : Januari 2007
Tebal : vi + 448 halaman
Sekarang sejarah menjadi ajang pertarungan. Karena mengontrol masa lalu merupakan bagian dari menguasai masa kini (Asvi Warman Adam)
PERNYATAAN sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) ini mengingatkan betapa sejarah sangat ditentukan penulis sejarah itu sendiri. Bisa jadi, sejarah sangat bergantung kepada “dapur” tempat sejarah itu diolah. Bila dapur sejarah itu Soviet, maka sejarah adalah urusan negara. Jika dapurnya Orde Baru, maka sejarah adalah Angkatan Darat.
Kalau sudah begitu, sejarah memang bisa dikendalikan. Setidaknya ada dua cara mengendalikan sejarah. Pertama dengan menambah unsur-unsur tertentu, kedua dengan kebisuan sejarah (le silence de l’histoire). Yang kedua ini kaitannya dengan legitimasi atau bahkan berkaitan dengan perlunya menutup aib sejarah.
Lalu, bagaimana jadinya jika dapur sejarah itu berada di lereng Gunung Geulis, Jatinangor, dan penulisnya adalah bekas wartawan? Ceritanya memang bisa menjadi lain. Apalagi, sejarah yang terkadang rumit itu disajikan dalam bentuk fiksi. Pitaloka, itulah menu sejarah yang dikemas menjadi cerita penuh intrik. Penulisnya, Tasaro, mengaku tidak bisa menerima tafsir sejarah yang menceritakan seorang putri mahkota Kerajaan Sunda secara begitu-begitu saja. Dia penasaran.
“Saya selalu merasa, sejarah terlalu sederhana mewujudkan sosok Dyah Pitaloka. Perannya berhenti pada kenyataan bahwa dia seorang perempuan jelita, diinginkan raja Majapahit, kemudian belapati (bunuh diri) di lapangan Bubat. Padahal, sebagai putri mahkota kerajaan yang bahkan Majapahit pun tak sanggup menaklukannya, dia tentu memiliki kepribadian yang luar biasa.” Begitu kata Tasaro yang memulai kiprahnya di dunia kepenulisan dengan cerita fiksi, Samita: Bintang Berpijar di Langit Majapahit (DAR! Mizan, 2005).
Peraih Adikarya Ikapi 2006 ini mencoba menggambarkan sosok sang puteri mahkota secara apik namun tetap lugas. Cerita bermula tatkala Pitaloka kecil disandera di salah satu gua di luar wilayah kekuasaan istana. Sebagai bocah belia, sosok yang kelak menggunakan nama Sanaha ini tak mampu berkutik. Adalah Purandara, anak gembong penjahat sekaligus musuh nomor wahid kerajaan, Yaksapurusa, yang kemudian menyelamatkan perawaris tahta (hal 6).
Tasaro rupanya tidak ingin cerita beralur datar. Proses kaburnya Citraresmi alias Piatlola alias Sanaha cukup disajikan sebagai kilas balik. Dia memilih adegan penghadangan di Sungai Taruma sebagai kelanjutan ceritanya. Meski tidak disebutkan secara jelas, waktunya berselang delapan tahun dari adegan penyekapan di gua.
Pemenang I lomba novel nasional Forum Lingkar Pena (FLP) pada 2005 ini memilih memenggal cerita menjadi fragmen-fragmen yang terserak. Seperti puzzle, Tasaro menyajikan fiksi-historik ini secara acak, lalu kemudian menyatukannya ke dalam satu kesatuan. Meski dalam bab (sebut saja begitu) yang sama, ceritanya bisa jadi mengular, naik-turun. Bikin penasaran.
Sang puteri harus mengorbankan seorang pengawalnya untuk bisa sampai ke sebuah padepokan di kaki Gunung Pangrango. Sementara satu pengawal lagi, Brajagiri, sukses menyertai Pitaloka ke padepokan Candrabhaga. Siapa Candrabhaga, Brajagiri, Purandara? Di sinilah kepiawaian Tasaro merajut cerita. Tanpa mambacanya hingga tuntas, bukan tidak mungkin sosok itu tak akan terkuak.
Konflik, intrik, dan tentu saja cinta, menjadikan cerita ini benar-benar hidup. Untuk menyebut Candrabhaga sebagai pembawa ajaran Islam ke Tatar Sunda, Tasaro cukup menyebutnya sebagai keyakinan. Dia tampak hati-hati agar tidak sampai terjebak pada konsep dakwah secara terbuka. Pesan ini tampak jelas ketika sang tokoh menyadari hidupnya akan segera berakhir. Candrabhaga tidak menitipkan apapun -termasuk keluarganya- selain keyakinannya (hal 285).
Kalau saja saat membaca novel ini sebelumnya sempat menonton film anyar “300” yang dibintangi Gerad Butler, pembacanya akan melihat dua kutub berbeda namun sesungguhnya memiliki kesamaan. Candrabhaga meyakini ada surga (sebut saja begitu) di kemudian waktu, maka Raja Leonidas menyadari akan segera ke neraka.
“Kalian harus banyak makan pagi ini karena malam ini kita makan malam di neraka,” pekik sang raja kepada 300 prajuritnya di tebing Hot Gate. Terasa satire memang, tapi itulah harga kebebasan yang ingin diraihnya. Raja Sparta di Yunani menolak tunduk kepada penguasa Persia. Dia bertekad bebas dan merdeka. Pun dengan Candrabhaga. Tokoh yang digambarkan matang sekaligus sarat pengalaman hidup ini memilih mati untuk sebuah keyakinannya. Keduanya menolak tunduk, apalagi mundur.
Tentu, sebagian besar cerita dalam novel ini milik Pitaloka. Tasaro mencoba memasukkan unsur psikologi dalam novelnya. Muatan ini tampak jelas saat dia mengambarkan kedatangan sang puteri ke padepokan. Gejolak emosi remaja yang baru menginjak usia 17-an terlalu sederhana bila disebut kekanak-kanakan, namun begitulah sang puteri digambarkan Tasaro (hal 38).
Lagi-lagi seperti halnya film “300”, novel ini sarat konspirasi. Konflik tak hanya muncul secara makro, antara kerajaan dengan padepokan atau kerajaan dengan pengacau keamanan. Konflik juga muncul dalam sebuah bilik sederhana di pedepokan. Juga di dalam gua. Sejarah menjadi begitu renyah di tangan Tasaro. Kalau saja kita berandai-andai Tasaro menjadi penulis buku sejarah, maka ungkapan sejarah itu membosankan sepertinya tidak kan pernah ada. Ah, tentu saja itu hanya berandai-andai.(Najip HS Parino)
1 comment Juni 18, 2008
Jadilah The Winner, Jadilah Trend Setter
Judul : I Am The Winner!
Penulis : Tim Annida & Syaamil
Penerbit : Syaamil Teens
Terbit : 2005
Tebal : 100 halaman
SETIAP kita pada dasarnya adalah pemenang alias The Winner (hal 9). Semangat itulah yang ingin disampaikan Tim Annida dan Syaamil lewat buku mungilnya itu. Rangkaian proses bagaimana menjadi the winner secara syar’i berhasil dikemas secara apik namun tetap sederhana. Perbedaan dengan buku lain yang mengusung tema sejenis terletak pada “dapur” itu sendiri. Warna islami terasa lekat dengan masuknya ayat-ayat tekstual. Ada juga kutipan hadits dan pendapat ulama atau cendekiawan muslim.
Tulisan ini diawali dengan proses peruangan atau kontektualisasi tentang siapa seorang muslim dan di mana dia berada. Eksistensi seseorang ditegaskan penulisnya sebagai nilai keberadaan. Buku yang menyajikan ragam ilustrasi menarik berupa kartun ini mengatakan bahwa eksistensi adalah pengakuan lingkungan akan kehadirannya.
Ketika ingin diterima, tentu ia harus melakukan sesuatu yang berarti. Nah, ini selaras dengan keberadaan seorang muslim, karena misi suci seorang muslim adalah menjadikan dirinya penuh arti. Nilai keberadaan kita tergantung pada sejauh mana kita berjuang untuk menjadikan diri kita menjadi berarti (hal 4). Nilai keberadaan itulah yang kemudian hadir sebagai buah dari prestasi seseorang.
Dalam batas tertentu, spirit ini selaras dengan pendapat David McClelland tentang teori prestasi (achievement theory). Menurutnya, achievement oriented behavior yang merupakan tingkah laku yang diarahkan terhadap pencapaian standard of excellent. Dengan begitu, seorang yang mempunyai need for achievement yang tinggi selalu mempunyai pola pikir tertentu ketika ia merencanakan untuk melaksanakan sesuatu (Muktiono Waspodo: 2001).
Soal prestasi ini, tim penulis turut menambahkan “bumbu” spiritual di dalamnya. Selain menjadikan lebih berarti, prestasi juga diamanatkan untuk senantiasa berbuat kebaikan (hal 5). Dari sini kita bisa menangkap pesan yang teramat mendalam. Yakni, adanya transformasi dari konsep menjadi praksis. Dengan bahasa yang berbeda, seorang tokoh pendidikan Katolik asal Brazil, Paulo Freire, menyebutnya sebagai kesadaran kritis. Sebuah kesadaran otentik tentang eksistensi manusia.
Sesuai dengan sasaran pembacanya, buku ini memberikan contoh tentang dunia akademik (hal 10). Tentu, prestasi yang dimaksudkan di sini tidak melulu seputar prestasi akademik. Dengan tidak menafikan ranah akademik, penulisnya mengajak pembaca untuk membidik alternatif di luar prestasi kuantitatif berupa ranking di persekolahan. Sebaliknya, buku ini berusaha meyakinkan adanya celah lain untuk menunjukan eksistensi diri alias berprestasi. Tidak kalah pentingnya, buku suntingan Tina Rakhmatin ini turut menggiring pembaca ke arah trend kecerdasan emosional dan spiritual alias ESQ.
Memang sudah bukan zamannya mematok diri pada ranking. Lagi pula, nilai bagus tidak menjamin hidup akan sukses. IQ bukan jaminan, saat ini orang semakin mengutamakan kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ) (hal 10).
Sorotan lain buku yang disajikan dengan bahasa santai ini adalah keterampilan mengemas rencana. Artinya, kemampuan untuk menemukan celah peluang menjadi satu cara menuju sukses. Simak misalnya sebuah pernyataan di dalamnya, “Yang menjadi pertanyaan inti sekarang adalah: ‘Kamu mau mengerjakan apa?’ Bukan cuma ‘Apa yang kamu bisa’” (hal 11).
Fase tertinggi dalam prestasi disebutkan buku ini adalah bagaimana mengaktualisasikan nilai-nilai keteladanan Rasulullah. Keteladanan itu sendiri akan muncul manakala seseorang berhasil menahbiskan diri sebagai pemenang (the winner) alias berprestasi. Dalam konteks masyarakat kita, keteladanan yang diperlukan adalah adalah moralitas (hal 12).
Masih berkutat pada konsep eksistensi diri, buku ini menyinggung makna penting kemerdekaan. Menjadi orang merdeka, demikian kata buku ini, adalah menjadi orang yang tidak mudah-mudah diombang-ambing trend. Istiqamah, ya itulah yang diusung buku terbitan Agustus 2005 ini. Sebaliknya, menjadi trend setter adalah satu pilihan seorang muslim untuk menunjukan eksistensi diri. Tentu, predikat trend setter hanya akan melekat saat seseorang berhasil menjadi yang terbaik di tengah masyarakat.
Seperti halnya pemaknaan prestasi, bagian ini juga tetap menempatkan nilai Islam sebagai basis pijakannya. Yakni, bagaimana menjadikan piranti akidah sebagai panduan. Pada halaman 15 terdapat kata kunci pentingnya aspek tersebut. So, buang jauh-jauh deh trend-trend semu yang bikin pikiran terbelenggeu dan fisik nggak merdeka. Yakinlah, Islam itu selalu dan selamanya akan menjadi trend. Karena ada Al-Qur’an yang menjadi dustur (panduan) dan Rasulullah yang menjadi qudwah (teladan).
Prestasi juga hanya akan diraih manakala seseorang berhasil menyingkirkan kemasalaasan. Merujuk kepada Kamus Besar Bahasa Indonesia, buku ini membuat definisi malas sebagai ketidakmauan bekerja atau mengerjakan sesuatu, segan, tidak suka, dan tidak bernafsu. Dimensi yang terakhir ini disebutkannya sebagai buah dari capek dan bosan (hal 20).
Ada contoh menarik yang disajikan saat menyoroti kemalasan. Identifikasi penyebab dipadukan dengan solusi sederhana. Penyebab banyak masalah misalnya, buku ini memberikan solusi dengan menyarankan untuk memilah masalah dan menyelesaikannya. Kalau perlu, mintalah bantuan kepada orang lain. Ini penting untuk melihat masalah dari sudut pandang berbeda (hal 24). Contoh menarik lainnya adalah tentang statistik waktu seseorang yang hidup selama 60 tahun (hal 96).
Yup, pokoknya buku menjadi semacam referensi elementer bagi siapa saja yang ingin menemukan jalan prestasi melalui jalur syari’at. Setelah membaca buku ini, barisan buku lain siap menanti untuk memandu jalan yang kian berliku. Inilah menu segar untuk menemukan solusi yang dekat dengan Islam.(Najip HS Parino)
1 comment Juni 18, 2008
Mengurai Kejujuran Suami Muda
Judul : Ini Wajah Cintaku, Honey!
Penulis : Tasaro
Tebal : x + 130 halaman
Terbit : Januari 2006
Penerbit : Syaamil Cipta Media, Bandung
Kalimat-kalimat dia, kritik dan keluh kesah dia, bahasa tubuh dia, dan semua yang ada pada dirinya, saya rekam dalam otak saya. Buku ini menjadi sebuah kemasan yang memindahkan file-file ingatan di benak saya, supaya bisa dia baca, pada akhirnya.
“Pokoknya, Neng nanti bakal makin cinta sama Akang.”
“Ah, sekarang juga sudah cinta.”
“Ya… nanti makin cinta.”
“Ah, Akang mah meni tega, bikin penasaran.”
“Namanya juga kejutan.”
Bisa jadi sekarang Neng yang disebut Tasaro dalam seri Diari Pengantin #2 ini tidak lagi penasaran. Jawaban kepenasaran itu adalah buku ini sendiri. Dan, Neng itu adalah Alit Tuti, istrinya yang tinggal bersamanya di “Istana” Jatinangor. Sebuah rumah mungil yang persekot-nya berasal dari hadiah penulisan lomba menulis Forum Lingkar Pena (FLP), dua tahun lalu (hal 7-12).
Selain soal “istana”, ada 21 bagian lain dalam buku yang disunting Asep Syamsu Romli ini. Semuanya menggambarkan bagaimana pertemuan awal antara suami muda di dunia yang baru dikenalinya, dunia rumah tangga. Ada keharuan yang menggetarkan dan kebahagiaan yang amat sangat. Tentu, ada pula bagian-bagian yang membuat pembaca tersenyum simpul atau bahkan bergelak tawa. Semuanya menjadi potret utuh sebuah rumah tangga belia.
Ini memang diakui sendiri oleh Tasaro. Pada bagian pengantarnya, mantan pekerja jurnalistik Harian Pagi Radar Bandung ini mengakui bahwa tulisannya hanya berkutat pada masalah “tembok batako tanpa plester” (hal vii). Artinya, penulis mencoba memagari diri pada peristiwa yang benar-benar terjadi di bawah atap rumahnya. Yang membuat tulisannya lebih menarik adalah pengalamannya itu, wartawan. Dia mampu menyajikan hal sederhana dengan cara yang sederhana pula. “Tulisannya mengalir. Saya seperti mengobrol dengan penulisnya.” Begitu kata seorang pembaca yang sempat meminjam buku ini sebelum diresensi.
Memang, tulisan Tasaro enak untuk dibaca. Adalah kejujuran yang kemudian patut mendapat acungan jempol dari pembaca. Tasaro secara gamblang mengungkapkan masalah-masalahnya saat pertama kali menasbihkan diri untuk mengawali “karier” baru sebagai suami.
“Titik pandang suami yang saya pilih tentu saja menjadi pembeda yang paling tegas dari buku ini dibanding seri sebelumnya. Namun, segala beda itu justru saya harap menjadi titik pikir yang anyar bahwa buku ini mempersilakan siapa saja, terutama mereka yang berada dalam posisi ‘perkenalan’ dengan Islam, seperti saya, untuk membaca dan merenungkan betapa riuhnya sebuah rumah tangga yang tidak diawali oleh pemahaman hidup seragam antara suami dan istri.” Begitu Tasaro menulis dalam pengantarnya (hal viii).
Saat mengungkapkan pengalamannya, Tasaro memang tidak langsung pada masalah perkenalan dengan Islam sebagaimana diakuinya. Melainkan mencoba mengungkap problematika kehidupan ketika seseorang memilih untuk menikah. Dia menyebutnya nekat. Padahal, pembaca seharusnya menyebutnya berani. “Seperti ketika memutuskan untuk menikah, saya tak punya konsep jelas bagaimana menjalani pernikahan itu.” (hal 1).
Boleh dibilang, inilah cuplikan episode perjalanan Tasaro yang dikemas sedemikian rupa sehingga menjadi menu yang mampu menggugah selera. Mungkin, rasanya lebih enak dari sekedar “oseng-oseng daun pepaya” kesukaannya (hal 29). Karya nonfiksi ini menjadi lebih berwarna dari sekedar “gorden yang aneh” saat pertama kali menetap di Jatinangor (hal 13).
Apapun itu, semuanya menjadi bahan perenungan bagi mereka yang hendak mengikuti jejak Tasaro, “menjadi suami, menjadi laki-laki” (19). Jika benar soal hikmah adalah urusan Allah, maka problematika buku ini adalah urusan para suami. Anggap saja secangkir cokelat panas di waktu hujan rintik. Tidak, Tasaro tidak sedang menjual dirinya. Yang benar adalah dia mengajak berdialog dengan autogiografinya. Entah, apakah tampilnya muka penulis pada bagian sampul menjadi salah satu cara untuk menjual buku ini? Wallahualam.(Najip HS Parino)
Add comment Juni 18, 2008
Menjadi Manajer Sukses Islami
Judul : Menjadi Manajer Sukses
Penulis : Muhammad Fathi
Tebal : viii + 217 halaman
Terbit : Maret 2006
Penerbit : Syaamil Cipta Media, Bandung
Harga : Rp 35.800,00
MENJADI manajer sebuah perusahaan merupakan pencapaian tertinggi dalam karir seseorang. Pada pundak manajer itulah dibebankan aneka tanggung jawab perusahaan. Tentu, yang utama adalah tanggung jawab manajerial. Dialah yang dituntut menjadi dinamisator sekaligus akselerator jalannya perusahaan.
Nah, masalahnya sekarang adalah bagaimana mengemban amanah itu? Apalagi, bila kedatangan amanah itu secara tiba-tiba. Penulis buku ini, Muhammad Fathi, memberikan stimulan menarik untuk mengantar pembacanya memahami arti penting manajerial. Atau, bagaimana menjadi manajer yang dianggapnya sukses.
“… ketika Anda baru bangun tidur suatu pagi, tiba-tiba sepucuk surat tergeletak di depan pintu kamar. Isinya adalah ‘tantangan baru’, Anda diangkat menjadi manajer baru di perusahaan tempat Anda bekerja’. Tentu saja, Anda akan merasa gembira sekali. Akan tetapi, ketika Anda menyadari bahwa tanggung jawab yang ada di pundak Anda begitu berat, boleh jadi kegembiraan itu akan berubah menjadi kebingungan dan kegelisahan…” (hal v).
Ah, tentu saja kalimat pembuka Fathi tadi tidak sedang menakut-nakuti pembacanya untuk menjadi manajer. Saya sendiri lebih suka menyebut penulis buku sedang me-warning calon pembacanya. Fathi tidak ingin menjebak calon pembaca kepada sebuah utopia jabatan prestisius yang serba enak. Sebagai gantinya, Fathi ingin menegaskan pentingnya rumus jitu menjadi seorang manajer sukses di dunia usaha.
Dalam bukunya yang dibalut cover bernuansa kuning plus ilustrasi kartun yang cukup menarik, penulis merangkum semua kiat manajemen ke dalam satu konsep “kecapakan manajerial”. Enam poin yang dikekedepankan Fathi dalam menu yang disajikannya itu. Yakni, perencanaan, optimalisasi pekerja, komunikasi yang efektif, pemberian upah pekerja, mengatasi konflik, mengevaluasi pekerjaan bawahan.
Untuk mengupas sekadarnya, ambil saja contoh bagian perencanaan yang ditampilkan pada bab pembuka. Di sini, penulis mencoba mengeksplorasi seputar konsep perencanaan, mulai esensi perencanaan, alasan perlunya perencanaan, prinsip, hingga evaluasi perencanaan. Bagi Fathi, perencanaan tidak semata dibuat alam kerangka teoritis. Lebih dari itu, perencanaan harus mampu diterjemahkan ke dalam tataran praktikal. Dengan begitu, perencanaan mestilah realiastis dan mampu dilaksanakan di lapangan (hal 1).
Saat mengurai alasan perlunya perencanaan, penulis menyodorkan empat hal mengapa seorang manajer perlu membuat perencanaan. Pertama, adanya kesenjangan waktu antara keputusan terkini dan out put pada masa datang. Kedua, bertambahnya problematika organisasi perusahaan. Ketiga, melakukan berbagai kewajiban tersisa. Dan keempat, bertambahnya perubahan eksternal perusahaan.
Semua itu dilakukan dengan mengedepankan prinsip kontinuitas, futuristik, komprehensif, fleksibilitas, berperan dalam menuykseskan tujuan, profesionalisme, penentuan waktu, gradual, dan realistis (hal 7). Dengan prinsip tadi, manajer akan mampu mengondisikan persiapan dan mengonfigurasi tujuan secara jelas.
Di bagian akhir, bacaan renyah yang melengkapi diri dengan sederet lampiran matriks manajemen ini menyoroti evaluasi kerja. Menurut Fathi, evaluasi kerja adalah anaslisis tipe-tipe dan tingkatan-tingkatan pola kerja karyawan dan pegawai. Selain itu, menjadi upaya mengidentifikasi tingkat profesionalitas pada masa kini dan masa datang (hal 197).
Pada akhirnya, buku yang diembel-embeli “Seri Manajemen Islami” ini tidak berlebihan bila dianggap sebagai salah satu referensi penting bagi praktisi manajemen. Menyoal terma islami tadi, saya sebenarnya tidak menemukan adanya bahasan yang menghubungkan antara konsep manajemen konvensional dengan Islam. Meski begitu, tidak dengan sendirinya menurunkan gizi buku ini. Selamat membaca! (Najip HS Parino)
1 comment Juni 18, 2008
Resep Jitu Mengelola Gejolak Remaja
Judul : Manajemen Gejolak
Penulis : Dr Akram Ridha
Penerbit : Syaamil Cipta Media
Terbit : Maret 2006
Tebal : x + 236 halaman
Merokok, hobi menonton, mencari gadis tetangga, angkuh, berani membangkang kepada orangtua, meminta uang tiada henti, lelet dalam belajar, dan tidak betah tinggal di rumah. Malah, anak perempuan lebih parah lagi. Ia acap menganggap orangtuanya sebagai tumpukan sampah. Dandanannya aneh pula (hal 13).
Begitulah gambaran sosok remaja yang baru saja memasuki masa pubertas atau baligh. Dalam batas-batas tertentu, mereka seakan melupakan atau pura-pura lupa perilaku baik yang pernah diajarkan orangtuanya. Hal itu pula yang kerap membuat para orang tua dirundung kebingungan. Bingung memilih ”resep” jitu mengelola masa-masa kritis sang buah hatinya.
Nah, jawaban atas kebingungan itu yang rupanya disajikan Akram Ridha dalam bukunya, Manajemen Gejolak #1: Panduan Ampuh Orangtua Mengelola Gejolak Remaja. Sajian berupa dialog tiga tokoh orangtua menjadikan buku ini terasa renyah sekaligus mudah dicerna. Tak hanya itu, buku ini juga melengkapi diri dengan semacam kuesioner atau angket untuk mengukur sejauhmana tingkat pemahaman orangtua terhadap masalah yang dihadapi anaknya.
Dari 28 pertanyaan berupa test case yang diajukan penulis, orangtua bisa mengetahui apakah dia care terhadap anaknya atau sebaliknya. Dengan cara ini, orangtua tidak bisa serta merta bisa memvonis anaknya. Tidak menutup kemungkinan perilaku negatif remaja itu muncul akibat dari kurang aware-nya orangtua.
Akram Ridha mengidentifikasi sedikitnya 10 fenomena psikologis yang acap muncul pada masa remaja (hal 33-41). Pertama, remaja lebih suka menyendiri dan mengisolasi diri. Fase ini merupakan titik balik dari masa pencarian terman pada anak-anak. Remaja kehilangan semangat untuk bergaul dengan teman bermain. Dia akan menegasikan sikapnya dengan cara menarik diri dari kelompok bermain dan menghabiskan waktu dalam kesendirian.
Kedua, malas beraktivitas dan menunaikan pekerjaan. Kemalasan ini muncul sebagai regresi dari puncak vitalitas yang muncul pada anak-anak. Ambivalensi ini biasanya muncul berupa keengganan mengerjakan tugas sekolah dan tidak memedulikan kondisi rumah. Menurut Akram Ridha (hal 34), tidak arif bila si anak tersebut dicaci, dicerca, dihardik, dimarahi karena perubahan tersebut.
Ketiga, mudah bosan dan tidak konsisten. Kondisi ini muncul karena remaja tidak menemukan aktivitas baru yang bisa dinikmati layaknya masa anak-anak. Akibatnya, dia kerap terjangkit penyakit jemu dan bosan. Di sinilah diperlukan kepekaan orangtua untuk merespons sikap sang anak dengan mengajaknya berekreasi sesuai dengan honbi mereka (hal 34).
Keempat, remaja cenderung suka menolak dan membangkang. Peralihan dari periode anak ke dewasa menjadikan selalu ingin membuktikan bahwa dia bukan lagi anak kecil yang harus selalu menjadi penurut. ”Saya sudah dewasa,” begitu kira-kira remaja mengidentifikasi diri. Buruknya lagi, sosok ibu kerap menjadi orang yang paling tidak beruntung menghadapi si remaja.
Dia berupaya meyakinkan sosok yang paling lama menyertainya dan paling banyak memberi perintah pada masa kanak-kanak. Remaja ingin meyakinkan bahwa bagaimanapun juga, sosok ibu adalah seorang perempuan. Sementara dia adalah laki-laki. Bagi perempuan, ambang masa dewasa ini ditandai dengan keberanian mengkiritisi ibu. Sebaliknya, dua semakin dekat dengan ayah.
Akram Ridha memberikan kunci untuk memecahkan masalah ini. Yakni, kepercayaan (trust) dari remaja kepada orangtua. Berikan kepercayaan kepada sang anak. Dengan begitu, dia akan terbuka kepada si orangtua. Buatlah remaja menjadi nyaman untuk menumpahkan problematika yang dihadapinya. Jadilah orang tua layaknya ember butut yang siap menampung semua keluh kesah remaja.
Sayyidina Ali ra pernah berkata, ”Ajaklah anak Anda main pada usia tujuh tahun pertama. Didiklah ia pada tujuh tahun kedua. Temanilah ia pada tujuh tahun ketiga.”
Erat kaitannya dengan fenomena keempat, remaja juga cenderung menjadi pembangkang. Pada saat ini, dia akan berusaha melawan setiap bentuk kekuasaan. Bila usahanya gagal, ia akan semakin menentang (hal 35). Tidak kalah pentingnya, masa remaja juga menjadi masa ketika seorang manusia muda mulai memerhatikan masalah seksual.
Tanpa arahan yang benar, remaja berisiko terjerumus pada tindakan keliru. Untuk memenuhi hasratnya dalam masalah ini, dia kerap membaca buku-buku roman picisan, menonton film porno, dan lain-lain. Akram Ridha menegaskan, bahwa realitas membuktikan bahwa masalah seks adalah masalah yang terus mewabah laksana penyakit (hal 37).
Itu sebagian saja dari fenomena psikologis remaja yang dituliskan Akram Ridha. Fenomena lainnya adalah kebiasaan melamun, cenderung pemalu yang berlebihan, tidak percaya diri, dan gampang marah. Masalah-masalah tadi dikupas sederhana dengan contoh yang relevan. Tentu, yang juga penting adalah kepiawaian Akram Ridha dalam memadukan fenomena tadi dengan tuntutan syariat.
Tak hanya itu, lewat dialog tokoh Ustaz Muhammad, penulis buku juga merujuk sejumlah pendapat psikolog maupun sosiolog kontemporer. Untuk mendefinisikan remaja, misalnya. Akram Ridha mengutip pendapat Stanley Hall tentang pubertas. Menurut Hall, remaja adalah fase badai dan kelemahan yang dibebani oleh gejolak psikologis dan diikuti dengan penderitaan, kemunduran, pertentangan, kegelisahan, problematika, dan kesulitan bersosialisasi.
Kalau sudah begitu, tentu tidak ada alasan bagi para orangtua untuk tidak membaca buku ini. Buku ini ibarat resep jitu untuk mengelola gejolak remaja. Wallahualam… (Najip HS Parino)
Add comment Juni 18, 2008
Menguak Tabir Mafia Tionghoa
Judul : Bukan Putri Angsa
Penulis : Ernest JK Wen
Penerbit : Ener Jik Kharisma
Terbit : November 2005
Tebal : 291 halaman
Febi tidak terlihat seperti keturunan keluarga Yap yang rata-rata berwajah persegi. Seperti lukisan Kubilai Khan, si penakluk dari Mongolia itu. Febi memiliki kecantikan yang sangat sempurna, seakan dia terbentuk dari bagian-baian gen terbaik ayah-ibunya. Wajahnya yang lonjong adalah arisan ibunya, hidungnya yang mancung adalah turunan dari ayahnya. Sedangkan bibirnya yang sensual adalah karunia tambahan (hal 9).
Kalau saja tidak diawali dengan bab kecil “Naomi” (hal 7), kemungkinan besar bisa terjebak kepada siapa tokoh utama yang diperankan dalam novel ini. Penggambaran sosok Febi yang demikian sempurna bisa menggiring pada simpulan bahwa peran utamanya adalah “Putri Angsa” itu. Padahal, sesuai dengan judul novel ini, Ernest mencoba memunculkan sosok Naomi yang berupaya membalas dendam kepada Yap Fuk-Shen. Tentu saja, dia “Bukan Putri Angsa”.
Naomi yang merupakan “anak haram” dari perselingkuhan ibunya dengan Yap ini digambarkan sebagai pegawai sebuah perusahaan besar, kalau tidak disebut raksasa, milik Yap di Pontianak. “Yap Fuk-shen itu? Hm, dia bukan saja bosku, tapi ayahku!” (hal 197) Dendam sejarah itulah yang kemudian mendorong Naomi untuk melakukan apa saja agar dendamnya terbalaskan. Dia akhirnya menyusup menjadi pegawai di PT Japindo sebagai Manajer Keuangan.
Bila dicermati, perjalanan Naomi untuk menuntaskan dendam ini sebenarnya tidak terlalu menarik. Alur cerita yang dibuat Ernest relatif datar, jarang ditemukan adanya kejutan. Malah, kisah cinta antara Febi dan Herman lah yang boleh dibilang lebih menyentuh. Bagaimana perjuangan seorang keturunan taoke untuk menjalin asmara dengan dokter muda yang keturunan Tionghoa kere sekaligus musuh bisnis ayahnya. Pertemuan keduanya di atas kapal barang juga cukup menarik (hal 25-36).
Nah, hal yang lebih menarik tentu saja adalah teknik pengungkapan masalah yang digunakan Ernest tentang mafia pajak dan likuiditas perbankan di kalangan pengusaha Tionghoa dengan pejabat pemerintah. Ernest berupaya “menelanjangi” praktik korupsi, kolusi, penggelapan pajak, penyalahgunaan HPH, hingga money laundry. Ungkapan-ungkapan yang lugas mengenai suap dan sogok seakan membuka mata pembaca untuk melihat kebobrokan rezim Orde Baru (hal 264-268).
Dengan mengambil setting cerita sekitar 1997 hingga awal dekade pertama abad 21, Ernest mengungkapkan bagaimana perubahan iklim bisnis di Indonesia. Termasuk di dalamnya tentang olengnya pengusaha keturunan setelah kejatuhan penguasa Orde Baru. Menariknya lagi, penulis menggunakan nyaris 100 persen tokoh-tokoh warga keturunan Tionghoa sebagai pemeran ceritanya. Ini bisa dimengerti mengingat perbandingan penduduk keturunan dengan pribumi di Pontianak mencapai 50:50.
Konstruksi wacana yang dikedepankan Ernest seakan ingin menghindari dimensi moral yang sangat personal. Pembaca tidak akan menemukan sentuhan moral dalam novel ini. Sebaliknya, gambaran cinta yang lebih sarat dalam bingkai biologis sekaligus psikologis lebih mengemuka. Lihat saja misalnya saat pasangan dokter muda bertukar kondom (hal 245) atau seorang suami memaklumi istrinya bermain gila dengan majikan di perusahaannya (hal 227-228).
Lebih besar dari itu, Ernest ingin mengungkapkan wacana besar tentang pentingnya akuntabilitas publik dalam pengelola perusahaan maupun pemberantasan korupsi secara menyeluruh. Naomi memang berhasil. Tapi sekali lagi, dia “Bukan Putri Angsa”. Cuma saja, pembaca yang jeli menyelami sosok Naomi bisa saja berkesimpulan bahwa dia juga tengah memainkan peran ganda, yakni merebut kekuasaan perusahaan.(Najip HS Parino)
Add comment Juni 18, 2008
Menengok Gerbang Priangan
Naik kereta api tut, tut, tut
Siapa hendak turut
Ke Bandung, Surabaya
Bolehlah naik dengan percuma
Ayo temanku lekas naik
K’retaku tak b’renti lama
Lirik lagu anak-anak diatas mengingatkan kita pada alat transportasi massal bernama kereta api. Alat inilah yang keberadaannya sempat menjadi raja jalanan, digunakan untuk mengangkut manusia hingga batubara. Banyak cerita yang menyertai perjalanannya.
Awal keberadaannya, pembangunan jalan kereta api telah melahirkan tragedi kemanusiaan tiada tara. Ratusan -bahkan ribuan- nyawa manusia hilang saat mengikuti kerja paksa di masa kolonial. Namun, perjalanan di atas kereta juga tidak jarang menjadi cerita menarik. Keindahan alam yang bisa disaksikan lewat kaca jendela gerbong adalah satu episode perjalanan yang menakjubkan.
Nah, ketika bercerita tentang kereta api, maka Bandung merupakan satu nama yang tidak bisa dilepaskan begitu saja. Meski cikal bakal perkeretaapian lahir pertama kali di Lawang Sewu, Jawa Tengah, namun kehadiran kereta api di tanah Priangan telah membawa imbas yang tidak kecil.
Menurut catatan, Bandung pada pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20 merupakan kota kecil yang sunyi di pegunungan Jawa Barat. Kota ini dikelilingi perkebunan di setiap kaki pegunungan yang tersebar di sekeliling Bandung. Sarana transportasi yang digunakan kala itu terbatas pada pedati yang ditarik dengan kerbau, sisanya dilakukan dengan berjalan kaki.
Kondisi itu bertahan hingga akhirnya pada 16 Juni 1884 dibangun stasiun kereta api. Masuknya kereta api ke Bandung terjadi beberapa waktu sebelum dibangunnya stasiun tersebut, tepatnya tepatnya 17 Mei 1884, pada masa Bupati Kusumadilaga. Sejak itu, ibukota Kabupaten Bandung-pun mulai ramai. Penghuninya bukan saja hanya pribumi, namun orang Eropa dan Bangsa Cina terus berdatangan.
Saat dilangsungkannya peresmian stasiun, warga Bandung memberikan sambutan sangat meriah. Untuk merayakannya, digelarlah pesta selama dua hari berturut-turut. Sebuah surat kabar saat itu, Javabode, melaporkan “Geheel Bandong was in feestdos” yang berarti seluruh Bandung berpesta ria.
Dalam perkembangannya, pembukaan jalur kereta api di Bandung telah menjadi pintu gerbang bagi kemajuan Bumi Siliwangi. Bandung yang sebelumnya terisolasi dengan gunung-gunung yang menjulang tinggi sedikit demi sedikit mulai terkuak. Apalagi, sejak tahun 1894 jalur kereta api Jakarta-Surabaya berhasil dirampungkan. Dengan sendirinya, penumpang yang melintasi kawasan sejuk Pasundan bisa menikmati hawa Bandung yang dikenal nyaman dan segar.
Bahkan tidak sedikit diantara mereka yang sengaja berhenti sementara untuk menikmati keindahan Bandung. Kondisi ini memacu pertumbuhan sosial-ekonomi ditandai kemunculan penginapan dan rumah makan. Nama hotel yang cukup terkenal kala ini adalah “Hotel Grand National”. Hotel ini sering disinggahi para pembesar pemerintah kolonial.
Meningkatnya arus penumpang di stasiun Bandung, maka pada tahun 1909 diadakan perluasan area stasiun. Perluasan stasiun berimbas besar bagi perkembangan kota Bandung pada fase berikutnya. Kala itu, sempat beredar wacana di kalangan kolonial untuk memindahkan ibukota Hindia Belanda dari Jakarta ke Bandung.
Mengantisipasi hal itu, tahun 1928 stasiun Bandung kembali mengalami pelebaran. Stasiun lama dibongkar dan dibangun stasiun baru seperti statsiun selatan yang bisa disaksikan sekarang. Arsitek F.J.A. Cousin yang menangani saat itu menampilkan karya arsitektur berupa garis-garis geometris yang dipadu dengan sempurna. Pada bagial hall stasiun ditambahkan hiasan kaca patri untuk memperkuat nuansa art deco sebagai ciri utamanya.
Sebelumnya, stasiun Bandung pernah menadapat penghargaan dari pemerintah kota (Gemeente Bandoeng) berupa monumen tugu atas keberhasilannya menjadikan stasiun sebagai pintu pembuka kemajuan di tanah Pasundan. Tugu tersebut di diterangi lampu dengan kekuatan 1000 lilin hasil rancangan Ir. E.H. De Roo.
Monumen tersebut sekaligus dijadikan sebagai titik triangulasi kota Bandung, yakni titik yang menandakan daerah tersebut sebagai area terdalam danau Bandung pada zaman purba. Sayang, monumen tugu kini sudah tidak bisa lagi kita saksikan. Sebagai gantinya, di bagian depan stasiun selatan dibangun monumen berupa lokomotif kuno yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan sejarah stasiun Bandung.
Begitulah wajah stasiun Bandung. Keberadaannya menjadi satu sisi dari sejarah perkeretaapian di tanah air. Pada permulaan dibangunnya mampu mengundang berduyun-duyun manusia dari berbagai penjuru. Maka, menjelang lebaran tiba, stasiun Bandung kembali akan didatangi mereka yang akan berduyun-duyun mudik ke daerah asalnya.(Najip HS Parino/dari berbagai sumber)
1 comment Juni 17, 2008
Braga, Tempat Belanja Sepanjang Masa
Konon, seorang Stations-Chief (Kepala Stasiun) Purwakarta mendapat undangan resepsi dari bosnya, seorang “bule” di “Hoofd-kantor” S.S Bandung. Menurut cerita, akibat undangan itu sang kepala stasiun kelabakan mencari pakaian untuk digunakan dalam resepsi tersebut. Maklum, untuk masuk ke dalam lingkungan sang bos dituntut untuk mengenakan pakaian yang tidak sembarangan. Pakaian yang dianggap layak pada tahun 1935-an tersebut adalah stelan “Black and White”.
Nah, untuk mendapatkan stelan jas diperlukan waktu yang lama untuk membuatnya. Untunglah saat itu dia teringat kleermakerij (tukang jahit) “Savelkoul” di Jalan Braga. Segeralah sang kepala mengirim telegram kepada Savelkoul agar mengirimkan orangnya ke rumahnya di Purwakarta dengan menggunakan kereta api kilat “Vlugge-Vier” jurusan Bandung-Jakarta untuk mengukur pakaian yang akan dipesanya.
Dengan menggunakan kereta paling pagi, tuan Nipius langsung meluncur ke Purwakarta. Tidak lebih dari 10 menit Nipius tiba di Purwakarta. Setelah melakukan pengukuran, segeralah dia kembali ke Bandung dengan menggunakan kereta api.
Malam harinya, dengan kereta api Vlugge Vier terakhir dari Bandung, stelan jas “Black White” yang dipesan paginya sudah sampai di tangan kepala statiun. Tentulah kekalutan kepala stasiun tersebut sirna. Apalagi barang yang diterimanya merupakan barang kualitas terbaik di jamannya. Mengenakan pakaian made in Savelkoul merupakan kebanggaan tersendiri.
Cerita kepala stasiun dalam memperoleh setelan jas “Black White” sedikit menggambarkan citra belanja di Jalan Braga saat jalan tersebut tengah mencapai masa keemasannya di tanah priangan. Pada zaman keemasannya, Braga merupakan pusat belanja paling bergengsi. Masyarakat Bandung dan sekitarnya yang tergolong kaya berusaha memenuhi kebutuhannya dari Braga.
Mereka membeli kain berkualitas impor di Toko Onderling Belang yang bangunannya sekarang ditempati Sarinah, atau hanya sekadaar cuci mata melihat-lihat barang yang dipamerkan di etalase toko sepanjang jalan Braga.
Di sanalah satu-satunya tempat belanja ekslusif orang-orang berduit. Bahkan, untuk sekedar membetulkan arloji merek-merek terkenal pun lag-lagi hanya bisa dilakukan di jalan yang sebelumnya dikenal dengan jalan pedati (pedatiweg) tersebut. Mereka yang ingin membetulkan jam tangan merek Rolex, Titoni, Mido, dan Omega, hanya bisa dilakukan di toko Horlogerie Stocker dan PE Huber.
Jalan Braga juga merupakan toko induk, agen tunggal pabrik atau produsen serta distributor barang-barang dari Amerika, Eropa dan negara-negara lainnya. Perusahaan Fuchs & Rens yang didirikan tahun 1919, merupakan agen tunggal untuk seluruh Nusantara bagi kendaraan-kendaraan Chrysler, De Soto, Plymouth, Renault, dan Fargo. Merek-merek mobil yang menggambarkan status sosial tinggi.
Jadi, bila Yogya punya Malioboro dan Surabaya memiliki Tunjungan, maka Bandung sebenarnya tidak kalah hebat karena punya Braga. Jalan yang menjadi salah satu landmark dan kebanggaan urang Bandung.
Selain menjadi pusat perbelanjaan, jalan Braga juga dikenal dengan sebagai pusat peredaran valuta di kalangan “preangerplanters” (pengusaha-pengusaha perkebunan di tanah Priangan). Ini berkaitan dengan didirikannya Escompto Bank di salah satu sudut Jalan Braga. Pada awal abad ke-20 lahirlah ungkapan di kalangan para saudagar perkebunan “naar beneden geld halen!” yang berarti “ke bawah, mengambil uang!”.
Bank lain yang terkenal di kawan Braga kala itu adalah Bank DENIS (De Erste Nederlandsche – indische Spaarkas en Hypotheekbank). Inilah bank tabungan dan hipotek pertama di Nederlands Indie (Hindia Belanda) pada tahun 1915 di Jalan Braga No. 14. Selain bergerak dalam sektor perbankan, DENIS juga bergerak dalam usaha asuransi.
Menurut catatan, jumlah uang tabungan milik nasabah DENIS meningkat lebih dari 900 persen dalam lima tahun pendiriannya (1925-1930). Bila pada tahun 1935 jumlah tabungannya 504.500 gulden, maka pada tahun 1930 mencapai 4.718.500 gulden. Tatkala pemerintah Belanda menghadapi kesulitan keuangan saat menghadapi Perang Dunia II, maka DENIS merupakan sumber yang bisa menanggulangi pembiayaan perang tersebut. Tidak berlebihan kiranya, bila angka diatas juga dianggap pencerminan tingkat kemakmuran yang dialami Bandung saat itu.
Begitulah penggalan cerita yang menggambarkan keadaan Bragaweg semasa jayanya. Braga merupakan pusat niaga terbesar di tanah Priangan sekaligus pusat budaya Eropa di tanah Pasundan. Kini, meski Braga masih menjala ritual niaganya, namun hingar bingar keemasannya mulai -bahkan sudah- luntur.
Hasil penelitian Prof Djoko Sujarto pada tahun 1979 menunjukkan, dari 250 konsumen yang dijadikan responden ternyata hanya 11 persen yang mengganggap Braga sebagai kawasan tempat berbelanja. Selebihnya menganggap Braga sebagai tempat bersantai (24.5 persen), tempat jalan-jalan (33.5 persen) dan tempat sekadar lewat (31 persen).
Ya, begitulah. Meski tak seramai dulu, Braga masih menjadi tempat belanja yang masih menyisakan puing-puing keemasannya. Braga menjadi tempat berniaga sepanjang masa.(Najip HS Parino/dari berbagai sumber)
1 comment Juni 17, 2008
Rumah Baru
Memasuki tempat kerja baru seakan menemukan rumah baru. Ada suasana baru, teman baru, dan kepusingan baru. Ah, tentu saja tidak ada istri baru. heheh
2 comments Juni 17, 2008
Memoar Seorang Budak Modern
Judul
SOLD: Kenapa Aku Dijual
Penulis
Zana Muhsen dan Andrew Crofts
Penerjemah
Astuti Pramiyanti
Penerbit
Madanisa
PENDERITAAN perempuan Indonesia di Timur Tengah, terutama tenaga kerja, sudah menjadi cerita biasa. Bahkan, mungkin terlalu biasa. Tapi kalau ada perempuan Inggris yang menderita di tanah kelahiran Islam tersebut, saya ingin menyebutnya luar biasa. Tersebutlah Zana dan Nadia, dua saudara kandung yang secara sengaja “dijual” orangtuanya kepada dua keluarga Arab. Janji liburan dan bertemu keluarga di Yaman tak lebih dari jebakan ayah mereka. Potret buram dua perempuan Inggris inilah yang dikupas Zana Muhsen dalam novelnya, Sold: Kenapa Aku Dijual?
Dua gadis itu masih sangat belia. Zana berumur 15 tahun, sementara Nadia masih 14 tahun. Keduanya tinggal bersama kedua orangtuanya, Dad dan Mum, di pinggiran kota Birmingham, Inggris. Layaknya remaja metro lainnya, Zana dan Nadia larut dalam gaya hidup kota industri di jantung Eropa. Rokok dan dansa menjadi keseharian mereka di tengah ketatnya aturan Dad yang sangat berorientasi ke tanah leluhurnya, bangsa Arab. Sehingga, butuh waktu tepat agar keduanya bisa mengenakan rok selutut, menikmati musik reggae, atau sekadar bermain ke Centre. Berteman dengan warga kulit hitam pun bisa mendatangkan masalah tersendiri di kemudian hari. Bagi Dad, “Kulit hitam adalah budak dan seharusnya hal itu berlaku di seluruh dunia.” Pandangan yang sama juga dimiliki sesama imigran Arab di Inggris.
Dad merupakan imigran Arab yang beruntung bisa “menikmati” kelonggaran Eropa dalam menerima kehadiran bangsa Arab pasca Perang Dunia II. Meski tumbuh dan besar di Inggris, imigran Arab tetap memegang teguh budaya mereka. Pun dengan keluarga Dad. Keluarga ini menjadi bagian dari komunitas masyarakat Muslim Inggris yang diperkirakan terbesar ketiga setelah Prancis dan Jerman. Sensus 1991 lalu menunjukkan jumlah pemeluk agama Islam di Inggris mencapai angka 12-13 juta jiwa atau 2,6 persen hingga 3,2 persen total penduduk sebanyak 47 juta jiwa. Sebagian besar Muslim adalah pendatang. Sekadar catatan, imigrasi kaum Muslim pertama ke Inggris terjadi sekitar akhir abad 18 dan awal abad 19 lalu. Mereka merupakan para kelasi kapal dari negeri Muslim yang direkrut oleh East India Company (Perusahaan India Timur).
Bertutur sebagai orang pertama, Zana sukses mengajak pembaca larut dalam memoarnya. Detil-detil sebuah kamar senyap di rumah keluarga Abdul Khada di puncak bukit tandus Yaman hingga deretan toko di sepanjang jalan yang dianggapnya tidak lebih dari gubuk terungkap jelas di dalamnya. Zana menulis, “Berjalan ke dalam rumah seakan memasuki gua. Seluruh dinding dan lantainya terbuat dari batu, tetapi sudah dilapisi campuran kotoran sapi kering dan pasir sehingga membuat seisi rumah berbau kotoran sapi.” Gambaran toilet lebih suram lagi, “Aku harus menunduk agar bisa masuk ke dalamnya. Di dalam benar-benar gelap dan satu-satunya sumber cahaya berasal dari lubang di sudut lantai. Ketika membungkuk aku dapat menyentuh keempat dinding toilet tersebut. Aku harus selalu membawa obor agar dapat melihat dengan benar apa yang sedang kukerjakan. Ada sebaskom air untuk mencuci tangan, dan cebok setelah menggunakan toilet yang hanya berupa lubang. Semua yang melewati lubang toilet hanya tertumpuk begitu saja di bebatuan di bawah rumah, mengering oleh sinar matahari di antara semak belukar.”
Sebagai gadis Inggris, tentu Zana sangat asing dengan kultur leluhurnya itu. Dan, tentu saja kekagetan bermula saat dia mendengar suara rendah Abdul Khada, “Dia adalah suamimu.” Tangannya menunjuk ke arah Abdullah, anak laki-lakinya. Zana kaget saat mengetahui dirinya telah dijual Dad kepada Khada untuk dinikahkan dengan anaknya. “Ayahmu telah mengatur pernikahan ini di Inggris. Begitu pula dengan adikmu Nadia. Kami memiliki surat nikah kalian, jadi pernikahan ini sah,” Khada melanjutkan. Sejak itulah dia dipaksa menjadi wanita Arab sesungguhnya. Mengenakan pakaian tradisional melewati lutut dan celana panjang hingga pergelangan kaki. Kepalanya dibalut kain semacam syal untuk menutupi rambut dan bercadar. Hanya jika mereka di sekitar rumah saja Zana diperbolehkan memperlihatkan wajah dan rambutnya.
Zana remaja harus menerima kenyataan bahwa dirinya telah dijual. Kenyataan bahwa dia menjadi wanita Arab yang rela hidup dalam keterkungkungan, tamparan, pukulan, hingga kerja paksa tanpa kenal belas kasihan. Zana dipaksa siang malam. Berjalan satu mil untuk membawa air ke rumah dan menyiram toilet sehabis digunakan para pria. Dia juga harus bercocok tanam di tanah tandus hanya menggunakan sebuah sendok semen atau belati. Zana –dan tentu saja Nadia- harus mengerjakan ritual hariannya itu selama bertahun-tahun. Dia larut dalam dunia yang kejam, bahaya, dan bahkan primitif. Laki-laki berkuasa penuh dan wanita harus menerima nasib mereka seperti keinginan laki-laki.
Boleh jadi, Zana dan Nadia bukanlah wanita Inggris pertama yang terjerumus dalam perkawinan paksa dan menjadi abdi seumur hidup di Yaman. Tetapi, Zana adalah orang pertama yang berhasil melarikan diri dengan bantuan ibu dan media Inggris. Mum butuh enam tahun untuk mencari kedua gadisnya yang disembunyikan di pegunungan. Dan, butuh dua tahun lagi untuk mengeluarkan Zana dari sana. Yang pasti, melarikan diri dari Yaman hanyalah setengah dari pertempuran. Dalam membebaskan adiknya, Zana terus berkeliling dunia, mencari bantuan dari pihak mana pun yang bisa membantu melawan birokrasi dan kemunafikan diplomasi.
Membaca kisah ini seperti berpetualang di tengah pertikaian mengerikan beberapa elemen paling primitif yang bertahan di tengah modernitas. Seperti kisah Seribu Satu Malam versi kontemporer, begitu buruk namun begitu kita sadar betapa cerita itu ada di kehidupan nyata. Mimpi itu ada di Yaman, salah satu negara termiskin di dunia yang sebagian besar rakyatnya hidup dalam kondisi yang sama selama ribuan tahun. Tanpa bermaksud mengeliminasi substansi cerita, penuturan Zana juga tampaknya tidak lepas dari semangat feminisme yang menggelora di dada penulisnya. Selain memoar, tulisan ini sekaligus protes terhadap dominasi kaum pria atas perempuan. Seperti diakuinya, buku ini merupakan “Janji untuk Nadia”, adiknya yang hingga buku ini diterbitkan pada 2007 lalu masih menjadi tahanan di Mokbana, Yaman. Selamat membaca!
Najip HS Parino, penikmat buku tinggal di Bandung.
Add comment Juni 9, 2008
