Archive for April, 2008
Memilih yang Bisa Dipilih
Inilah hidup!
Jika orang lain pada akhirnya menyanjungku seperti Tuhan, maka itu adalah kemalangan mereka. Sesungguhnya mereka punya pilihan lain. Tapi ketakutan, kelemahan, dan kebodohan mereka telah memengaruhi pilihan mereka.
Di sini!
Di kaki Bukit Ramalan ini, telah kupancangkan tiang tekad dengan kuat bahwa menebarkan kesesatan adalah sebuah keharusan bagiku. Hanya dengan cara demikianlah aku bisa membahagiakan diriku dan menunjukkan pada semesta bahwa tak seorang pun boleh mengangkangi nasibku!
Akulah Lenggini!
Jika takdir bisa menyingkirkan aku dari kehidupan, maka aku akan menyingkirkan takdir dari keyakinan manusia. Inilah peran yang telah kupilih. Kupilih karena memang aku tak punya pilihan lain.
Begitulah Novia Syahidah mengawali tulisan fiksinya dengan bahasa yang provokatif. Selanjutnya, pembaca akan dibuatnya bertanya-tanya bagaimana jalan cerita itu. Lebih khusus lagi, siapa Lenggini itu. Pertanyaan ini baru akan terjawab beberapa lama sebelum novel ini berakhir. Alur penulisan yang meronta-ronta melahirkan sebuah kepenasaranan.
Setiap orang yang pernah mendengar nama Lenggini dan bagaimana besarnya pengaruh perempuan sepuh itu di tengah Buangan, pastilah ingin melihat langsung seperti apa wajah Lenggini yang sebenarnya.
Anehnya, ketika Lenggini menampakkan diri keluar dari guanya yang gelap, semuanya malah menghindar. Entah kenapa, orang-orang malah lebih memilih menjauh dan menghindarinya. Hanya ada satu orang berani bebeda sikap. Dia adalah Kasah, seorang keriput yang teramat pemberani. Dan, kecintaannya pada cucunya, Sindra, menjadikannya lebih “brutal”.
Dialah yang berani adu argumentasi dengan Lenggini sang peramal hari-hari buruk. Kasah memiliki suami, Mundil, yang tukang tidur. Kebiasaan itulah yang kerap membuat Kasah jengkel. Wajar memang, kalau sudah tidur, Mundil tak pernah mengenal tempat maupun waktu. Dia bisa tidur di rumah maupun di atas pematang sawah. Meski begitu, Mundil, seperti halnya Kasah, sangat menyayangi anak cucunya.
Tekadnya untuk melindungi sang cucu itu yang memaksa Mundil untuk melintas di depan gua Lenggini, sebuah gua yang semula dikenal sebagai gua kelelawar. Singkatnya, saat melintas gua itulah Mundil benar-benar bertemu Lenggini. Lengkap dengan dua sosok di belakangnya (hal 3-22).
Cuma saja, pertemuannya dengan Lenggini tidak merubah sikapnya. Dia tetap takut pada sosok yang melegenda selama ratusan tahun itu. Yang pasti, ketakutannya pada Lenggini tidak pernah hilang sampai cerita ini berakhir. Penulis rupanya tidak ingin mengungkapkan cerita seraya utuh. Beberapa fragmen cerita mereduksi cerita itu sendiri dengan flashback ke cerita awal. Hasilnya, alur cerita menjadi semacam puzzle atau mungkin mozaik.
Yang agak terlalu jauh melompati kewajaran adalah sosok Sindra. Ketika disinggung belum pernah haid, penulis mengontraskannya dengan kedewasaan yang teramat dalam. Dia mampu mengungkapkan dialog-dialog yang sehat dan dewasa (62-68). Sebuah ilustrasi yang tak lazim pada dunia nyata.
Bagaimana cerita berakhir? Penulis punya cara menarik untuk menyampaikan pesannya. Apa yang ingin disampaikannya sebenarnya hanya terdapat pada dua bagian terakhir. Yakni, bagaimana seseorang yang terasing dalam kehidupannya mampu menjadi sosok yang luar biasa. Sosok yang mematahkan stigma kabanyakan tentang ingatan kolektif. Novia juga seakan menegaskan bahwa saat ini telah terjadi kerancuan berpikir masyarakat. Mereka kerap terjebak untuk menyalahkan korban (blaming the victim).
Akibatnya, korban tidak pernah mendapatkan haknya untuk dilindungi. Korban menjadi korban berikutnya. Dan, inilah yang ditepis Novia. Sebaliknya, korban mampu menjadi Tuhan baru yang mampu membuat takdir baru. Kesesatan menjadi pilihan ketika pilihan lain tak pernah ada. Dialah Lenggini!
Hidup Lenggini adalah buku ini. Bagi saya, “Bayangan Lenggini” bukan misteri. Dia adalah jawaban misteri. Kalau pun tetap mau dibilang misteri, maka ini cerita “bergizi” tinggi. Lebih dari itu, cerita ini menjadi kritik pedas bagi konstruksi berpikir masyarakat yang masih lekat dengan balutan magis. Masyarakat yang terasing dalam kehidupannya sendiri. Lenggini ingin menyadarkan semua itu.(*)
Add comment April 6, 2008
Masjid Tempo Doeloe
Konon, sepenggal cerita lucu terjadi di sebuah masjid di kota Bandung. Tersebutlah Haji Tajudin, seorang penduduk di kawasan Ancol di Bandung tengah melakukan adegan rukuk dalam shalat tahiyyaatul masjid. Salah satu ujung sarungnya terinjak –atau sengaja diinjak- oleh anak-anak yang lalu lalang di dalam masjid. Akibatnya, wow, sarung Pak Haji langsung melorot. Praktis, bagian dalam yang semula hanya tertutup kain sarung langsung menyembul tanpa busana.
Gegerlah pengunjung masjid yang sore itu mulai ramai. Meskipun Pak Haji dengan sigap menyambar sarungnya, namun tak pelak perbuatan bocah-bocah cilik menginjak sarung Pak Haji saat itu membuat guyur, ramai, hingar bingar diselingi gelak tawa pengunjung. Mohon maklum, kala itu belum ada Satuan Pengamanan (Satpam). Jadi, segala bentuk pengamanan masjid dilimpahkan kepada Marebot, si penabuh bedug.
Nah, mengenai polosnya bagian dalam sarung, hal itu memang kebiasaan saat itu. Bagian serambi masjid-masjid di tanah Priangan memiliki paku-paku yang menancap pada dinding masjid. Fungsinya untuk mengantungkan celana pantaloon dan celana dalam pengunjung pria semacam Pak Haji. Lha, selama adegan shalat berlangsung berarti pengamanan bagian dalam hanya secarik kain sarung.
Tentu, cerita Haji Tajudin hanya sepenggal cerita dari pojok masjid tempo doeloe di kota Bandung. Belum lagi kalau bocah-bocah cilik itu iseng menukar-nukarkan celana yang tergantung di paku. Atau, pentungan penabuh bedug milik Marebot disembunyikan “setan-setan kecil” masjid.
Cerita lucu diatas sesaat membuat kita tersenyum tipis. Itulah penggambaran realitas sosial masyarakat Bandung pada masa kolonial yang terrekam lewat masjid. Pada zamannya, bukan semata-mata tempat melangsungkan aktivitas ritual keagamaan, tapi juga pusat aktivitas publik dalam potret yang sangat sederhana. Mari kita bandingkan dengan sekarang. Di Masjid Raya Cipaganti misalnya, kita tidak akan lagi menemukan cerita lucu semacam itu. Begitu masuk halaman masjid, terdengarlah sayup-sayup lantunan ayat suci Alquran berpadu dengan keceriaan anak-anak TKA/TPA yang sedang belajar mengaji. Suaranya menggema ke seluruh kawasan masjid.
Tentu saja ini bukan kemunduran. Sebagai karya budaya, masjid wajar mengalami perubahan bentuk maupun fungsi. Tak aneh bila sekarang kita menemukan masjid sebagai tempat berlangsungnya proses pendidikan, tabligh akbar, tempat mencari hidup para pengumpul zakat, sunatan masal, resepsi pernikahan, bahkan menjadi pemicu perang tender atas pembangunannya. Tidak jarang juga masjid menjadi tempat favorit pasangan muda untuk melewatkan sore menjelang senja. Bagaimana dengan masjid Cipaganti. Didirikan tahun 1933 oleh CP Wolff, seorang terkemuka Belanda, kini masjid tersebut terus berkembang. Selain menambah badan bangunan ke bagian kanan dan kirinya, fungsi-fungsi lain pun mulai bertambah. Masjid Raya Cipaganti -meninjam bahasa MS Barliana- telah merepresentasikan komunitas ummat Islam yang melahirkan dan memakmurkannya.
Bisa jadi, ungkapan Nabi SAW yang diriwayatkan Abu Naim juga telah terpenuhi oleh masjid Cipaganti. “Sesungguhnya rumah-rumah-Ku di bumi ialah masjid-masjid. Dan, pengunjungnya adalah yang memakmurkannya.” Semoga saja begitu. Betatapun demikian, sedikit bernostalgia melihat kembali masjid-masjid tempo doeloe menjadi semacam wisata ziarah. Dari sanalah kita sejenak menundukkan kecongkakan masa kini. Siapa tahu di sana ada kearifan yang tidak kalah dari sini. Bukan. Kita bukan ingin mengulang kehidupan masjid tempo doeloe. Tidak akan mengulangi kejahilan bocah yang memelorotkan kain sarung Haji Tajudin atau Pak Ruhiat (Ketua DKM Masjid Raya Cipaganti sekarang) misalnya.
Add comment April 3, 2008
Tamasya ke Penjara
Hidup di bui bagaikan burung
Bangun pagi makan nasi jagung
Tidur di ubin pikiran bingung
Apa daya badanku terkurung
Terompet pagi harus bangun
Makan diantri nasinya jagung
Mau merokok rokoknya puntung
Mau mandi tidak ada sabun
Penggalan lirik lagu bertajuk “Hidup di Bui” gubahan vokalis Band D’Lloyd Sjamsudin cukup memberikan ilustrasi kepada kita betapa hidup dalam penjara sangat tidak nyaman dan meyiksa. Karya sastra berupa novel ataupun cerita pendek juga kerap menggambarkan penjara sebagai “rumah” yang harus dihindari. Cerita seputar penjara memang begitulah adanya, seram.
Namun, di balik keseraman tersebut penjara tetap menjadi ruang perenungan yang nyaman. Hasil pergulatan pikiran di balik jeruji besi di satu sisi telah membidani kelahiran ide-ide kreatif yang kelak berimbas besar bagi kebudayaan manusia. Andai pada 1924 Adolf Hitler tidak mencicipi penjara, mungkin takkan ada Nazi yang menginvasi Eropa dan membantai jutaan orang Yahudi. Mein Kampf, sebuah naskah yang kemudian berfungsi sebagai panduan Jerman untuk menjadi global superpower lahir saat Hitler mendekam di penjara.
Dari penjara Pennsylvania Amerika Serikat, Mumia Abu-Jamal, seorang wartawan Afro-Amerika sebelum divonis mati pada 1982 juga menghabiskan waktunya dengan menulis. Tulisan-tulisannya kemudian dibukukan menjadi dua buku, Live From Death Row dan All Things Censored. Di kemudian hari tulisannya disetarakan dengan tulisan Martin Luther King Jr sewaktu dalam penjara: Letter From Birmingham Jail. Mumia kemudian menjadi lambang gerakan anti rasialisme di Amerika Serikat.
Penjara juga menjadi tempat bagi penulis Mesir, Nawal el Saadawi pada tahun 1981. Selama di sel Saadawi menulis dengan medium kertas toilet dan pensil alis. Sekeluarnya dari penjara, tulisan itu menghasilkan esai berjudul Memoar dari Penjara Perempuan. Dalam buku itu, dia mengisahkan bahwa ketimpangan sosial-ekonomi dan jender merupakan penyebab masuknya perempuan ke dalam sel penjara tersebut.
Nah, bangsa Indonesia juga tidak kekurangan stok dari produk pemikiran kamar gelap. Dalam keterasingan, Soekarno maupun Hatta sama-sama aktif menulis dari balik jeruji. Naskah pembelaan “Indonesia Menggugat” yang dibacakan Soekarno di hadapan pengadilan Belanda juga lahir dari balik tembok penjara Sukamiskin. Tentu, kita juga tidak lupa dengan karya monumental Tan Malaka “Madilog” yang juga lahir selama pengembaraannya dari penjara ke penjara.
Atau, yang masih segar dalm ingatan kita, literatur Indonesia produk penjara yang paling terkenal “Nyanyi Sunyi Seorang Bisu” dan tetralogi Pulau Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca) karya Pramoedya Ananta Toer yang ditulis di Pulau Buru. Proses kreatif Pram di penjara Pulau Buru mirip dengan yang dilakukan Antonio Gramsci pada 1930-an.
Cerita diatas cukup menjadi jalan bagi kita untuk melihat penjara dari sisi yang lain. Penjara bukan semata-mata bangunan tua yang menyeramkan. Bukan hanya itu. Menyelami alam pemikiran penjara akan membimbing kita untuk memahami kearifan ruang sunyi yang ditakutkan anak kecil hingga orang dewasa tersebut. Berkunjung ke penjara bukan sekedar besuk, tapi ziarah jauh ke masa lalu. Dari masa lalu yang asing kita mencoba mengais pengalaman untuk melihat hari esok.
Dalam pengantarnya untuk buku Wiranto “Bersaksi di Tengah Badai (2003) tar Sejarawan Taufik Abdullah yang memberi pengantar pada buku Wiranto “Bersaksi di Tengah Badai” mengatakan, “Masa lalu”, katanya, “adalah negeri asing”. Siapa tahu “di sana di negeri asing itu” terletak sumber ketidakberesan yang kini dirasakan. Kalau perjalanan ke masa lalu seperti juga ke negeri asing, bisa dilakukan, bukankah unsur-unsur yang menyebabkan ketidakberesan itu diperbaki, agar yang terjadi “di sini” baik-baik saja.
Semoga, dengan mengelola masa lalu akan membimbing kita menata masa depan. Perjalanan ke masa lalu adalah nostalgia. Selamat bernostalgia. Selamat datang ke penjara.
Add comment April 3, 2008
Saat “Penyambung Lidah Rakyat” Mengeluh
Wajah Soekarno hari itu lain dari biasanya. Kegagahannya seakan luntur seiring dengan renggekannya kepada pemerintahan Belanda agar mau membebaskan dirinya dari tekanan penjara Sukamiskin. Hari itu 30 Agustus 1993, Soekarno tengah menulis surat ihwal permohonannya untuk dilepaskan dari Sukamiskin.
“Maksud surat ini adalah memohon dengan hormat agar diri saya –juga isteri, anak dan ibu bapak saya yang sudah tua- diselamatkan dengan membebaskan saya dari proses pengusutan hokum atau penamahan lebih lanjut. Saya memohon untuk ini kepada tuan dan kepada pemerintah agar membebaskan saya. Selanjutnya saya berjanji untuk mengundurkan diri dari kehidupan politik dan menghidupi keluarga saya sebagai warga negara yang damai dengan bekerja sebagai arsitek dan insinyur yang selama ini telah saya lalaikan akibat kegiatan politik saya. Saya tak akan pernah mengingkari janji saya. Surat ini adalah jaminannya: bila saya menyalahi janji, maka sebar luaskan kalimat-kalimat ini dan segeralah penjarkan atau hukumlah saya. Saya hanya akan merusak diri saya bila saya mengingkari janji: penyebarluasan surat ini berarti kematian social saya.”
Tulisan Soekarno sebagaimana dikutip John Ingleson dari laporan surat rahasia pemerintah Belanda diatas cukup membawa kita untuk melihat sisi lain kehidupan Soekarno selama berada dalam sel penjara Sukamiskin. Lewat surat itu pula kita bisa menyelami alam pemikiran seorang narapidana dalam ruang gelap tahanan. Tak tersecuali Soekarno, penjara terasa begitu menekan dan melelahkan.
Soekarno mulai memasuki penjara Sukamiskin yang belakangan berubah nama menjadi lembaga pemasyarakatan (lapas) kelas I Sukamiskin pada 22 Desember 1930. Hari itu bertepatan dengan pembacaan putusan pengadilan pemerintah Belanda yang dipimpin majelis hakim Siegenbeek van Heukelom. Soekarno dijatuhi hukuman empat tahun penjara dan ditempatkan di sel 233, dekat tangga besi di sudut lantai dua.
Kini sel itu tetap menjadi bagian dari 552 sel di lapas Sukamiskin. Cuma, nomornya berubah menjadi TA (Timur Atas) 01. Sel dengan dua pintu dan dua jendela bercat abu-abu tua berukuran 2,5 x 3 m itu sejak lama sengaja dikosongkan. Di salah satu pintunya tertulis: “The former room of BK”.
Di dinding kuningnya menempel empat foto tua, sulaman tusuk silang gambar BK, dan Garuda Pancasila. Di atas lantai ubin abu-abu terdapat tempat tidur yang dapat dilipat ke dinding, dengan kasur dan seprai putih. Ada pula sebuah kursi, sebuah meja tulis dan kursi bulat, lemari gantung, serta rak buku dengan sembilan buku tua tentang atau karya Soekarno dalam bahasa Indonesia dan Belanda. Di bawah tempat tidur, dekat jendela, ada kloset duduk.
Berbeda dengan penghuni sel lain, BK diawasi lebih ketat. Ia juga dipekerjakan untuk membuat garis di atas kertas menggunakan mesin penggaris dan pemotong penuh gemuk (pelumas). Sekarang mesin itu tersimpan di salah satu sudut percetakan LP Sukamiskin.
Sementara itu, di luar sel, Inggit Garnasih yang lebih dikenal dengan panggilan Ibu Inggit berjuang menyambung hidup. Ia berjualan bedak buatan sendiri, menjahit pakaian dan kutang, serta memasarkan kerajinan pandai besi Ciwidey, dengan sistem bagi hasil. Untuk membiayai perjuangan suaminya, Inggit menggadaikan perhiasannya. Menurut Tito, tabungan hasil usaha itu menjadi modal untuk memproduksi “Rokok Kawung Ratna Djuami bikinan Ibu Inggit”.
Salah satu surat Soekarno diatas hanya satu sisi dari banyak sisi kehidupan Soekarno. Betapapun Kusno, panggilan Soekarno kecil, terkesan merenggek, namun tidak dipungkiri sosok bapak bangsa ini memancarkan hasil pemikirannya yang diracik dengan bahasa kaumnya. Bahasa sederhana yang mudah di mengerti manusia Jawa yang Inlander di tengah kepungan implerialisme.
Dalam biografinya yang ditulis wartawan Cindy Adams “Soekarno Penjambung Lidah Rakjat Indonesia” Soekarno sama sekali tidak terkesan cengeng sama sekali. Dalam tulisannya, saat itu kepala penjara mengantarnya hingga pintu keluar, dan bertanya, “Ir. Soekarno, dapatkah Tuan menerima kebenaran dari kata-kata ini? Apakah Tuan betul-betul akan memulai kehidupan baru?” Sambil tangan kanannya memegang tiang pintu, ia menjawab, “Seorang pemimpin tidak berubah karena hukuman. Saya masuk penjara untuk memperjuangkan kemerdekaan, dan saya meninggalkan penjara dengan pikiran yang sama.”
Yah, apapun yang disampaikan Soekarno adalah bahan apresiasi kita melihat sosok manusia yang tertekan dalam kekejaman penjara Sukamiskin. Bagaimanapun juga Soekarno adalah orator sekaligus penulis yang ulung. Dan –yang tidak boleh dilupakan- juga seorang lelaki yang gemar berkirim surat.
Untuk urusan menulis surat, dua minggu setelah dirinya mendekam di Sukamiskin, Kusno langsung menulis surat. Berikut surat pertamanya:
Sukamiskin, 17 Mei 1931
Saudaraku!
Baru sekarang saya menulis dari Sukamiskin, karena orang tangkapan hanya boleh berkirim surat sekali dalam dua minggu. Sesudah masuk ke dalam rumah kurungan, hampir semua yang saya bawa dari rumah tahanan di Bandung, diambil. Setiap hari saya mesti bekerja keras. Malam hari, badan sudah letih sehingga belajar pun tak ada hasilnya.
Sukamiskin tak lebih daripada rumah kurungan, dan saya ini adalah orang hukuman, yang mesti menyembah larangan dan suruhan, seorang manusia yang mesti melupakan kemanusiaannya. Orang hukuman tiada lain daripada seekor binatang ternak; orang hukuman menurut Nietzche, ialah orang yang dijadikan manusia yang tidak mempunyai kemauan sendiri, seperti binatang ternak.
Namun demikian, hatiku tinggal tetap; tak pernah saya melupakan suara hatiku. Bukankah Sir Oliver Lodge telah mengajarkan “No sacrifice is wasted,” atau dalam bahasa Jawa “Jer basuki mawa beya.”
Ya, itulah Soekarno kita.
1 comment April 3, 2008
Dialah Trump!
DIALAH Trump, Donald J. Trump. Pengasuh reality show The Apprentice, pemilik enam klub golf internasional, kasino, restoran, merek parfum pria, hingga pemegang hak penyelenggaraan Miss Universe. Dia juga triliuner juragan properti di New York, Los Angeles, Chicago, hingga Seoul, Korea Selatan. Sulit mengidentifikasi pendekatan tepat untuk Trump. Dia meraih semua itu dengan caranya sendiri, The Trump Way.
Ambil saja contoh ketika dia memantapkan diri untuk merambah bisnis properti di Manhattan. Sang ayah, Trump Sr., tak bisa memahami putusan yang diambil Trump Jr. Maklum, sebelumnya Trump Sr. sukses di Brooklyn dan Queens. Namun, pindah ke Manhattan sudah lama jadi tujuan Trump Jr. Baginya, Manhattan adalah pusat bisnis, budaya, dan sosial dunia. ”Manhattan adalah pusat perhatian dan ke sanalah saya ingin melangkah.” (hlm. 39)
Trump akhirnya ”benar”. Bertahun tahun kemudian, berdirilah menara berlapis perunggu di langit Manhattan, Trump Tower. Trump menyebut menaranya sebagai lambang supremasi sekaligus standar tinggi yang diterapkannya. Trump Tower lebih dari sekadar menara, ”Saya menginginkan sebuah tempat yang paling mengagumkan, luar biasa, dan dikagumi di seluruh dunia. Karena akan memakai nama saya, bangunan ini akan merepresentasikan saya. Jadi, saya ingin gedung ini benar-benar mengalahkan apa pun yang pernah dilihat warga New York.” (hlm. 40).
Lagi-lagi Trump ”benar”. Trump Tower menjadi landmark baru bagi kota Manhattan. Landmark-landmark Trump pun bertebaran di sejumlah kota. Semua itu diraih dengan keyakinan bahwa yang dilakukannya adalah yang terbaik di matanya. Trump percaya, walaupun kebanyakan orang bermaksud baik —dan kerap menawarkan saran masuk akal— tapi belum tentu mereka mengetahui apa yang terbaik baginya. Dia hanya melakukan jalannya, The Trump Way. Jalan Trump itulah yang kemudian menjadikannya sebagai pengendali bisnis raksasa sekaligus simbol mimpi Amerika, ikon keberhasilan, dan inspirasi bagi jutaan orang di dunia.
Mengawali bukunya, Trump mengungkapkan kecintaannya pada pekerjaan yang digelutinya. Kecintaan yang dipadukannya dengan pengalaman dan riset yang cermat mendorongnya untuk tetap semangat. Saking antusias dan bergairahnya, Trump merasa apa yang dilakukannya bukanlah pekerjaan (hlm. 29). Baginya, gairah sangatlah penting untuk mencapai segala macam kesuksesan abadi. Trump percaya, kita seseorang tidak memiliki gairah dalam suatu bidang, apa pun yang dilakukan pada akhirnya akan menguap atau setidaknya menjadi biasa-biasa saja. Dia berpesan, hendaknya seseorang sepenuhnya berdedikasi pada pekerjaan dan meraih kesuksesan.
Dialah Trump! Dia yang mendedikasikan hidupnya untuk mewujudkan visinya. Bagi Trump, kenikmatan utama dalam berbisnis adalah kemampuan menerapkan visi dan kreativitas serta mengekspresikan diri. ”Saya memiliki ide besar dan energi untuk mewujudkannya,” tegas Trump. Tak berlebihan bila kemudian Trump jumawa dengan mengatakan, ”Hasilnya sungguh luar biasa. Semua orang tahu bahwa Trump Organization selalu menyelesaikan apa yang dikerjakan dan proyek kami selalu kelas wahid.” (hlm. 41). Dan, alasan utama keberhasilan itu adalah karena dia menetapkan standar tinggi yang diidamkan semua orang. Ya, dialah Trump!
Donald J. Trump punya sederet kunci sukses, termasuk keputusannya untuk menyeberang Hudson River ke Jersey City. Pengembang properti terbesar di Manhattan ini membangun kondominium senilai USD 415 juta setinggi lebih dari 50 lantai di Jersey City. Tiap bangunan memiliki kolam renang, pusat bisnis, pusat kebugaran seluas 743 meter persegi, lapangan bola basket tertutup, dan bioskop pribadi. Dua menara ini mungkin tidak mencapai bintang-bintang, ”Namun para penghuninya akan merasa berada di surga.” (hlm. 47) Penyeberangan Trump berangkat dari satu kekuatan, yakni berpikir besar. Dia menyebutnya Skala Trump. Trump menegaskan, berpikir kecil di saat berpikir besar akan membatasi seseorang dalam segala aspek kehidupan. Orang sebenarnya mampu berbuat besar, tapi hanya jika mereka membayangkan diri mereka mencapai sesuatu yang besar.
Pesan lain yang ditorehkan di atas Jalan Trump adalah keberanian dan keteguhan. Dengan rendah hati Trump mengakui dirinya tidak bisa berhasil tanpa ketegaran, keteguhan, dan pantang mundur. Di jalannya juga Trump memberi batasan konsep tegar. Menurutnya, tegar bukan berarti keras, sulit diajak kompromi, atau tidak dapat diajak berdikusi. Baginya, tegar berarti gigih dan tidak mau menyerah. Tegar berarti percaya pada diri sendiri, pada gagasan dan proyek, dan siap berjuang. Trump memahami betul bahwa ketegaran dibutuhkan untuk dapat berdiri tegak dan memperjuangkan keyakinan serta keinginan. Dialah Trump!
Lewat bukunya, Trump ingin mencoba berbagi pengalamannya dengan orang lain di seluruh dunia. Boleh jadi, peta jalan yang disajikan Trump terkesan menggurui atau bahkan melangit. Tapi memang tak ada alasan untuk mengingkarinya. Trump sudah benar-benar melakukan sebelum kemudian menunjukkan jalan bagi orang lain. “Saya mengetahuinya dari pengalaman,” tegasnya. Karena itu, itulah Jalan Trump, The Trump Way. Lebih dari itu, sesekali pembaca akan diajak masuk ke dalam keseharian Trump. Jangan lewatkan bagian-bagian “Sepekan (Plus) yang Sangat Spesial dalam Kehidupan Saya”. Di sanalah kita akan menemukan potret utuh seorang Trump, dalam menjalankan roda bisnisnya atau sekadar kerelaannya menyempatkan diri menelepon sang istri untuk bertanya menu makan malam sepulang kerja. Dialah Trump!
Add comment April 3, 2008
