BSK
Barangkali dari berlaksa atau lebih peristiwa yang dialami semasa tujuh tahun kuliah, sudah termasuk cuti satu semester di dalamnya, satu di antaranya yang tak terlupakan adalah BSK, Bulan Studi Kesejarahan. Begitu memilukan, mengharukan, atau apalah namanya. Saya berani bertaruh, berkali-kali jatuh cinta dengan aneka perempuan, angkatan, suku bangsa, masih lebih mengesankan yang namanya BSK tadi. Saya tidak tahu mengapa begitu berkesan. Beginilah BSK saya itu.
Sabtu pagi, entah tanggal berapa di bulan September 2000, saya dan 58 orang mahasiswa baru Jurusan Pendidikan Sejarah Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) berkumpul di halaman Gedung Garnadi, dekanat Fakultas Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS) kala itu. Sebenarnya, angkatan 2000 merupakan mahasiswa angkatan pertama UPI karena mulai tahun itulah Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Bandung bertransformasi menjadi UPI. Dan, mahasiswa yang lulus pada tahun itu merupakan lulusan pertama UPI. Dalam masa transisi itu, aktivis mahasiswa masih mengenakan jas almamater dengan logo IKIP di dada sebelah kirinya.
Lagi-lagi saya lupa, tata urutan upacara pagi itu. Singkatnya, kelompok demi kelompok berjalan menuju ke arah Pondok Hijau di barat kampus Bumi Siliwangi. Ada tugas, pertanyaan, jawaban, yel, dan seabrek lainnya menyapa pos demi pos perjalanan siang. Ya, siang karena malamnya ternyata kami harus melakukan perjalanan serupa dengan derita tiada tara. Suasana tetap ceria dan penuh semangat sampai pada pos-pos elementer sesuai pembidangan di Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Sejarah (Himas).
Ihwal penyakit lupa saya itu, wajar kiranya bila sejarawan menekankan pentingnya kritik sumber. Ingatan kita terbatas untuk sekadar mengingat pengalaman kita sendiri, apalagi mengingat peristiwa orang lain. Koroborasi atau pembuktian silang pun menjadi satu keharusan untuk menguji otentisitas sumber dalam kritik eksternal. Saya teringat Garraghan yang bukunya A Guide to Historical Method setengah mati saya terjemahkan. Kata dia, sumber primer pun tidak semuanya kuat (strictly primary sources), namun juga ada yang kurang kuat (less-strictly primary sources). Hanya pelaku dan saksi mata (eye-witness) yang dibilang kuat itu, sementara yang tidak berhubungan langsung hanya disebut sumber sezaman. Wajar pula bila dulu Ali bin Abi Thalib, sahabat nabi dalam agama saya, pernah berpesan, “Ikatlah ilmu dengan cara menuliskannya.”
Dan, dalam sisa-sisa ingatan itu saya kini mengingat lagi BSK. Saya masih ingat saat diberikan tugas menyanyikan Himne Guru, pengertian sejarah, dan lain-lain. Hingga yang paling berat adalah mendapat tugas kelompok bernyanyi nasyid, mahluk aneh dalam kamus ingatan saya yang abangan. Tempatnya di sebuah saung, di tengah sawah antara dua bukit daerah Ciwaruga bagian atas. Adalah Mia, ketua bidang kerohanian Himas kala itu, yang memberikan tugas superberat itu. Setelah bersusah payah, loloslah kami dari malapetaka bernama nasyid itu.
Hmmm… Beberapa menit sebelumnya, saya baru saja mencicipi tamparan hangat yang cukup memerahkan pipi saya yang masih ABG itu. Lagi-lagi area itu ada di sebuah saung, tidak jauh dari bibir Jalan Waruga Jaya yang menghubungkan Parongpong dengan Gegerkalong. Wajahnya garang, rambutnya panjang, hitam kulitnya, namanya Dodi Sugandi atau lebih beken dengan sebutan Dosu, mahasiswa tiga yang mengawali ritual tampar pipi dua hari di Ciwaruga. Bagaimana rasanya, saya lupa. Yang paling saya ingat adalah tamparan di malam menjelang pagi. Lidah saya mencecap rasa aneh dini hari itu: ASIN. Darah itu terasa setelah Risdadang Kamaludin, alumni angkatan 1990, mendaratkan telapaknya di kedua pipi.
Oya, di tempat Dosu dan kawan-kawan itu pula saya pertama kali mendapat kosakata baru, “DIBONGA-BONGA.” Jujur, sampai sekarang saya tidak tahu arti sebenarnya. Belakangan, kosakata itu pula yang kemudian diwariskan kepada mahasiswa baru. Yang saya pahami, dibonga-bonga adalah dipelonco. Entah benar, entah tidak. Terakhir kali saya mendengar kalimat itu pada Minggu dini hari, 13 November 2011, di Jayagiri. “Aing hayang dibonga-bonga,” pekik sekelompok mahasiswa baru saat memasuki pos alumni di atas tanjakan licin tanpa aspal atau rumput. Saya tersenyum mendengarnya. Boleh jadi, kata-kata itu akan diwariskan kembali kepada generasi baru Himas.
Setelah Mia, masih ada beberapa pos yang kami lalui. Saya langsung ke pos terakhir saja. Di sebuah jembatan, di sana berdiri seorang laki-laki tidak cukup tinggi. Hasan, namanya. Dia angkatan 1996. Kekhasannya satu saja, setiap menjawab harus diawali dengan kata “SIAP”. Kalau kami disuruh push up jawab saja, “Siap masih kuat.” Di pos ini saya harus turun ke badan sungai dan merendamkan setengah badan di air yang keruh di kala maghrib menjemput. Ah, kami jawan aja “Siap”. Heheheh..
Tibalah kami di sebuah lapangan. Belakangan saya tahu, lapangan yang dimaksudkan itu ternyata kavling-kavling perumahan di Pondok Hijau. Saya berkali-kali menganalisis tempat itu. Saya makin yakin bahwa tempat itu adalah Pondok Hijau setelah kini tinggal di belakang kompleks real estate itu. Detil-detilnya masih ingat. Ada bukit, jalan-jalan lurus, sawah, dua tebing yang mengapit di sebelah barat dan lain-lain. Tentu saja, dulu belum seramai sekarang. Rumah-rumah keren itu belum berdiri. Kavling-kavling itu lebih mirip tegalan.
Tenda mulai didirikan. Makanan dikeluarkan dari ransel. Salat dan makan. Hari mulai gelap ketika tenda berdiri. Ternyata masih ada kelompok yang baru datang. Saya tidak tahu diapakan dulu mereka sepanjang perjalanan. Saya menduga tidak jauh berbeda dengan apa yang pernah dilakoni kelompok kami. Tenda kelompok yang datang belakangan ini dibangun bergotong-royong antarsesama mahasiswa. Pemandu dan beberapa senior lain juga membantu. Semuanya kelar pukul 19.00-an. Selanjutnya adalah api unggun. Sampai pesta api selesai, semua normal-normal saja.
Bayangan saya tentang api unggun tidak jauh berbeda dengan acara malam itu. Ada api, tentu saja. Ada pertunjukkan masing-masing kelompok. Kemudian angkatan lain. Bila digeneralisasi, semua bermuara pada musik dan lagu. Serasa malam begitu ceria bersama kami. Semua kelompok atau angkatan menampilkan yang terbaik potensi mereka. Kondisi ini jauh dengan suasana di Jayagiri pada Sabtu malam lalu, 12 November 2011. Mereka tampil alakadarnya, bahkan asal-asalan. Seolah semua itu tidak penting, kecuali perjalanan malam. Saya tidak tahu mengapa begitu.
Malam terus beranjak ketika akhirnya kami diminta istirahat. Benarkah istirahat? Sampai satu atau dua jam kemudian, tentu saja jawabannya benar. Hingga suatu detik yang menentukan: kami dibangunkan. Dan, inilah awal dari cerita pilu yang tiada akhir untuk diceritakan. “Saya memberikan amanat, tolong jaga amanat itu,” ucap Mohammad Taufik, ketua panitia yang juga Ketua Bidang Organisasi Himas kala itu. Dia memberikan sesuatu. Langsung saya masukkan ke dalam saku. Kami berjalan ke arah kanan, lurus cukup jauh hingga bertemu cahaya lilin yang berpendar disapa angin malam.
Jika tak salah mengingat, orang pertama yang menyapa kami adalah Usep, mahasiswa angkatan 1996. Ngobrol santai beberapa waktu. Dampai akhirnya kami diminta membuka mulut. Dan lep, sebuah benda meluncur ke mulut. “Langsung kunyah,” kata dia. Saya menurut saja, barangkali yang lain pun demikian. Dari aromanya tentu saja kami hapal benda itu: bawang merah. Mereka tertawa. Kami ikut-ikutan tertawa. Perintah selanjutnya adalah saling meniupkan mulut berpasangan. Tak usah ditanya bau apa yang dini hari itu menyapa kami. Itu belum selesai. Kami masih minum seteguk air. Terlalu berlebihan bila kami berharap mendapat penghapus bau bawang atau jigong. Disruputlah air itu. Hampir saja dimuntahkan kembali ke muka si pemberi. Itulah brotowali. Saya percaya, sebagian besar orang tahu seperti apa rasanya. Yang pasti, cukup ampuh untuk menyapih seorang bayi dari ketergantungan pada susu emaknya.
Mestinya malam itu saya tak usah berkeluh. Brotowali atau Tinospora tuberculata Beumee ternyata memiliki banyak manfaat. Ya, brotowali atau bratawali merupakan tanaman obat yang dapat dijadikan sebagai obat tradisional untuk mengobati berbagai macam penyakit dalam maupun luar. Kulit batangnya mengandung zat-zat seperti alkaloida dan damar lunak berwarna kuning. Akarnya mengandung zat berberin dan kolumbin. Alkaloid berguna untuk membunuh bakteri pada luka. Zat pahit pikroretin dapat merangsang kerja urat saraf sehingga alat pernapasan bekerja dengan baik dan menggiatkan pertukaran zat sehingga dapat menurunkan panas. Brotowali juga berfungsi sebagai penambah nafsu makan dan menurunkan kadar gula dalam darah. Melihat manfaat itu, tak terlalu sulit bagi saya untuk memaafkan Usep cs. Kini, Usep yang bergelar magister pendidikan (MPd) tengah menempuh pendidikan doktor (S3) di UPI.
Usep adalah tangga pertama menuju hilangnya hak asasi kami sebagai manusia biasa. Di pos berikutnya kami mendapat pertanyaan, “Ada amanat?” “Ada, sudah diberikan ke Kang Usep di pos sebelumnya,” jawab saya yang ketua kelompok. Debat kusir berlangsung bergantian dengan push up, merangkak, guling-guling, dan mendaratnya telapak tangan. Saking banyaknya, berapa kali saya atau kami push up. Naik-turunnya badan berulang setiap kali tidak kompak. Sulit membedakan antara menggigil dengan keringat yang menyergap. Semua menyatu.
Jalan kini mengarah ke pos selanjutnya. Ada sosok tinggi besar, kurus kering kerempeng bermata tajam, kecil-kecil cabe rawit juga ada. Inilah pos angkatan 1997. Saya baru tahu ada orang yang sama dengan menampar tadi siang di Jalan Ciwaruga. Selain Dosu, ada Eka Respationo yang dipanggil Brutus karena bertubuh tinggi besar, Rana Kuya, Ira, dan nama-nama lainnya. Eka dengan botol mineral 1,5 liter terus memukuli setiap anggota kelompok. Dia jarang ngomong. Kami diceramahi itu-itu soal amanat yang bocor tadi. Tentu saja, menu pokoknya adalah push up dan kepak sayap telapak tangan bergantian. Sampai pos ini saya sudah tak bisa lagi membedakan tamparan keras atau ringan. Kalau telinga berdengung, berarti tamparan lebih keras dari biasanya. Basa-basi selesai, dan pipi sudah mati rasa.
Trek selanjutnya adalah mendaki bukit terjal agak licin. Saya sudah sempoyongan. Capek tidak karuan. Masih ada tubuh besar yang menyambut dan perempuan dengan mata tajam di sebelahnya. Dia adalah Hendrayana, bekas Ketua Himas dua periode sebelumnya, dan Yati. Inilah pos 1996. Dengan tenaga tersisa kami berhasil menyerahkan diri ke perangkap baru. Kaos putih yang tak lagi karuan warnanya dilepas. Air pun diguyur ke atas tanah yang sebelumnya juga basah. Kami berguling di sana disaksikan tawa dan mata yang melotot tajam. Ceramah bergantian. Tak ada satu pun yang saya ingat sekarang. Ingatan saya lebih didominasi adegan guling-guling, pipi yang disepuh tangan kanan, dan sederet adegan pendukung. Baru kali saya mengatakan, malam itu saya hampir putus asa.
Saya berharap episode malam berakhir di situ. Kami menuruni bukit dengan gontai. Melintas di pematang. Naik lagi jalan kecil licin. Di antara pagar kebun penduduk, dibatasi tanaman perdu setinggi dua meteran, kami bertemu Risdadang Kamaludin yang sudah saya singgung tadi. Kalaulah darah akhirnya merembes di antara gigi dan bibir, mungkin karena dua hal: 1) Tamparan ekstrakeras dari senior paling ditakuti sepanjang zaman prasejarah, hahahah.. lebayy..; 2) Pipi sudah tak kuat menahan hantaman berpuluh, atau ratus, mulai pertengahan malam. Barangkali itulah pos aliansi atau alumni. Memang itulah pos terakhir sebelum “dievaluasi” kembali di lapangan terbuka. Selain Risdadang, ada Aris AMd yang turut menyumbang rasa.
Itulah malam paling horor yang seolah tak habis untuk diceritakan. Hampir satu tahun kami selalu menceritakan malam itu, terutama saat berkumpul di teras himpinan, di kosan teman, di mana saja. Menariknya, kami menceritakan itu bersama Dosu, Brutus, Usep, Hasan, Hendrayana, Aris, Slamet Widodo (Ketua Himas kala itu), M Taofik, dan barisan paling bengis tadi secara bersama-sama atau bergantian seiring kesempatan. Sambil menonton televisi di lantai dua Himas kami tak habis bercerita. Bercerita sambil tertawa-tawa seolah baru saja membaca cerita lucu dalam novel Wiro Sableng. Bersama para perenggut asasi tadi kami ngaliwet bersama atau bertukar makanan. Malam itu memang sakit, tapi semua selesai malam itu. Tak ada dendam di antara kita. Semua begitu alami.
Fajar menyingsing seiring jarum jam berputar ke arah pagi. Kami kelompok pertama yang tiba di perkemahan. Lega tiada tara. Saya tidak tahu bahwa kemudian semua dikumpulkan di puing api unggun. Laki-laki berbaris dua lajur. Semua hening. Sampai kemudian ada satu mahasiswa baru diseret dari tenda. Bajunya masih bersih. Pun syalnya. Katanya dia sakit, kata panitia tidak sakit. Ditampar kanan-kiri, guling, ditendang sampai terkapar. Mahasiswa itu Mung Mulyana.
Selanjutnya adalah evaluasi perjalanan malam. Masalah demi masalah disampaikan seolah kami berbuat dosa besar. Hukuman lagi. Push up dan pipi lagi menunya. Sampai akhirnya ada perintah buka baju. Kami buka saja baju kumal sisa semalam itu. Kecuali satu orang, Kiki Nurjaman. Dia berdalih membuka baju sama dengan mempertontonkan aurat sehingga melanggar aqidah. Debat dengan penuh intimidasi pun berlangsung. Adu ayat. Rumusnya sudah baku: 1) Senior tidak pernah salah; 2) Bila senior salah, kembali ke pasal satu. Dari rumus itu kita tentu tahu jawaban akhir episode pagi itu. Rumus yang sama pernah saya dapatkan sebelumnya, juga saya praktikkan saat menjadi Komandan Diklat Unit Protokol di Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Kota Bandung, semacam kesatuan khusus yang ditempa secara militer.
Saya tak berhenti berpikir, apa yang saya dapatkan selama BSK. Ada manfaat, ada mudharat. Sampai pada akhirnya saya sampai pada satu kesimpulan: BSK HARUS DIUBAH. Saya berdiskusi cukup panjang tentang hal ini. Tingkat kedua tidak memungkinkan untuk merealisasikan gagasan transformasi itu. Maka masa transisi itu terjadi ketika BSK 2001. Saya banyak berbenturan dengan beberapa nama. Hasilnya tidak sempurna, masih ada satu nama yang matanya bengkak terkena tinju angkatan 1997. Korban itu adalah Agus, dan pelakunya adalah Billy. Bagi saya, berangkat pagi, berjalan siang, berjalan lagi malam sangat tidak efektif. Jika cuma demikian, saya pikir mahasiswa baru tak perlu tenda karena secara praktis tidak pernah dipakai layaknya orang berkemah.
Maka, pada 2002 BSK diubah secara total. Beruntung ada banyak teman sepaham soal ide itu. Pemikiran saya kala itu, BSK merupakan modal dasar untuk menjadi seorang mahasiswa sejarah. Karena itu, dia harus memiliki prasyarat dasar, semacam syarat kecakapan umum (SKU) dalam kepramukaan. Prasyarat itu adalah keterampilan hidup (life skill) di alam terbuka, kerjasama (team work), intelektualitas, kemandirian, dan solidaritas kelompok atau jiwa korsa. Kurikulum BSK dirancang sedemikian rupa hingga dipastikan menyentuh setiap titik dari urat nadi tujuan organisasi. Kami menerapkan standar tinggi untuk itu. Semua punya dasar dan tujuan yang jelas dan terukur. Untuk keperluan itu, BSK dilaksanakan selama tiga hari: Jumat-Sabtu-Minggu.
Itulah pertama kali BSK digelar tiga hari di alam terbuka. Bagi saya, acara dua hari dengan perjalanan siang, lalu perjalanan malam, lalu pagi berkemas pulang sangat tidak efektif. Dan, biaya yang dikeluarkan antara dua hari dan tiga hari relatif sama. Dalam tiga hari itu pula leluasa untuk mengembang skenario kegiatan. Mengapa di alam terbuka? Di sanalah kita akan melihat potensi utuh dari setiap mahasiswa baru. Di sanalah setiap kita berzikir secara nyata. Di sana pula mahasiswa baru dilatih untuk bertahan hidup secara rasional.
Dalam skenario itu pula, mahasiswa baru menyatu dengan lingkungan. Tak ada jam tangan atau telepon seluler. Setiap kesalahan dihukum secara proporsional. Semua menjadi berat bagi mahasiswa baru. Tapi saya bangga dengan hasil itu. Betapapun kontroversialnya BSK 2002 itu. Karena itu, saya tidak bisa mengerti ada sebuah BSK dilaksanakan di kampus. Karena ketidakmengertian itu, saya tidak akan pernah datang ke sana. Ke sebuah acara yang sudah dipahat dalam relung terdalam saya untuk sekadar hadir bersama tamu-tamu istimewa di sebuah kehidupan bernama Himas. BSK adalah adalah ritual tahunan dalam sebuah ritus kehidupan.
Setiabudhi, 20 November 2011.
Herbert Spencer, Peletak Dasar Teori Evolusi Universal
Najip Hendra SP
Teori Evolusi boleh dibilang melekat pada sosok Charles Darwin. Bukunya Origin of Species dianggap sebagai peletak dasar teori evolusi dalam ilmu pengetahuan. Lalu, di manakah posisi Herbert Spencer? Faktanya, Spencer lebih awal memunculkan gagasan teori evolusi ketimbang Darwin. Spencer mengenalkan konsep evolusi sosial dalam bukunya Social Statics pada 1850, sembilan tahun sebelum Darwin menulis Origin of Species (1859). Spencer (1897) menguraikan teori evolusi secara mendalam dalam The Principles of Sociology yang terbit 1897 di New York. Dalam buku ini Spencer menyebut kata “evolusi” dalam beragam variannya sebanyak 249 kali, termasuk kutipan langsung dan daftar isi.
A. Sekilas tentang Herbert Spencer
Spencer lahir sebagai anak tunggal seorang guru sekolah di kota kecil Derbyshire, Midland, Inggris pada 27 April 1820 dan meninggal pada 8 Desember 1903. Dia sebenarnya tidak terlahir tunggal, melainkan sembilan bersaudara. Cuma saja, dia menjadi satu-satunya anak pasangan William dan Haerriet Spencer yang bertahan hidup. Karena alasan kesehatan, Spencer kecil menjalani pendidikan di rumah. Dia tidak belajar seni dan humaniora, melainkan teknik dan bidang utilitarian (Ritzer dan Goodman, 2007).
Potret keluarga Spencer yang bergelut melawan penyakit menjadi semacam mozaik dari kehidupan Inggris zaman Victorian abad ke-19. Inggris yang memasuki Revolusi Industri terperosok ke dalam problem negara industri yang sangat suram sekaligus mengkhawatirkan. Kala itu, bangunan pabrik biasanya menyatu dengan kawasan pemukiman. Bangunannya tua dan tidak terawat, ventilasi minim, kotor, penuh jelaga hitam, sempit, dan sumpek. Selain mengepung kota dengan asap hitam, limbah pabrik juga menimbulkan pencemaran, sanitasi yang tidak terawat, jalanan yang buruk, dan tentu saja polusi.
Dalam usia relatif muda, 17 tahun, Spencer muda terjun ke dunia kerja sebagai insinyur sipil di sebuah perusahaan kereta api London dan Birmingham. Karirnya terbilang bagus hingga akhirnya dia dipercaya menjadi wakil kepala bagian mesin di perusahaan tersebut. Selama periode ini Spencer melanjutkan studi atas biaya sendiri.
Spencer memiliki kemampuan sangat baik dalam mekanika. Kemampuan itulah yang memengaruhi imajinasinya dalam ilmu pengetahuan, terutama tentang biologi, masyarakat, dan ilmu sosial. Pada saat menjadi insinyur inilah Spencer mulai belajar menulis artikel secara serius. Tulisan pertamanya di bidang sosial dengan judul On the Proper Sphere of Government pada 1842 dimuat di majalah Non Conformist. Enam tahun kemudian, 1848, tulisan yang sama dimuat The Economist, majalah ekonomi terkemuka yang berbasis di London.
Tulisan Spencer mendapat sambutan hangat penggemarnya sehingga mereka rela membayar lebih dulu tulisan-tulisan Spencer sebelum tulisan itu diterbitkan. Kondisi inilah yang mendorong Spencer untuk berpikir alih profesi menjadi penulis ilmu pengetahuan bidang pengetahuan sosial, khususnya sosiologi. Untuk mewujudkan cita-citanya tersebut, saat usianya menginjak 28 tahun dia pindah menjadi wakil editor majalah The Economist, berita mingguan yang berbasis di London. Majalah ini merupakan oposisi pemerintah dan pendukung perdagangan bebas. Melalui majalah ini Spencer banyak bertemu dengan orang terkenal pada saat itu, seperti Thomas Huxley dan George Eliot.
Saat usianya memasuki 30 tahun, Spencer telah mampu menerbitkan buku pertamanya yang berjudul Social Statics. Tiga tahun kemudian, pamannya (Thomas Spencer) meninggal dunia dan mewariskan harta cukup banyak kepada Spencer. Berbekal warisan itulah Spencer berani memutuskan untuk berhenti bekerja dan mencurahkan seluruh kegiatannya untuk menulis. Keberhasilan Spencer menulis banyak buku karena selain gemar membaca, Spencer adalah kolektor yang tekun mengumpulkan fakta-fakta mengenai masyarakat di manapun di dunia ini, seorang yang rajin mengumpulkan informasi, membuat sistematika atau klasifikasi data. Spencer memang sejak kecil mempunyai hasrat dan keinginan yang besar untuk menambah dan mengumpulkan ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya dan memahami keseluruhannya.
Spencer juga mengembangkan sistem filsafat dengan aspek-aspek utiliter dan evolusioner. Spencer membangun utiliterisme Jeremy Bentham yang memelopori aliran gerakan reformasi. Jeremy Bentham berpendapat bahwa logika ilmiah harus didasarkan pada pengetahuan yang cukup mengenai kondisi kehidupan sosial yang aktual. Konsep ini mendahului konsep-konsep Charles Darwin (Sukanto: 1982: 36).
Spencer adalah orang yang pertama kali memperkenalkan konsep Survival of the fittest atau yang kuatlah yang akan menang dalam bukunya Social Statics yang terbit pada tahun 1850. Konsep ini untuk menggambarkan kekuatan fundamental ilmu biologi yang menjadi dasar perkembangan evolusioner. Konsepsi ini dipengaruhi karya Thomas R. Malthus mengenai tekanan kependudukan, An Essay on the Principle of Population (1798). sinya konsepnya antara lain adalah perjuangan untuk dapat bertahan bagi suatu masyarakat atau bagi beberapa masyarakat agar menghasilkan keseimbangan karena perubahan yang terjadi dari keadaan yang homogen yang tidak terpadu menjadi heterogen yang terpadu.
Sembilan tahun kemudian teori evolusioner karya Darwin terbit. Spencer dan Darwin melihat adanya persamaan antara evolusi organisme dengan evolusi sosial. Evolusi sosial adalah serangkaian perubahan sosial dalam masyarakat yang berlangsung dalam waktu lama yang berawal dari kelompok suku atau masyarakat yang masih sederhana dan homogen kemudian secara bertahap menjadi kelompok suku atau masyarakat yang lebih maju dan akhirnya menjadi masyarakat modern yang kompleks (Horton dan Hunt, 1989:208).
B. Karya-karya Herbert Spencer
Selama hidupnya, Spencer menghasilkan sejumlah karya besar. Sebagian besar pemikiran Spencer tentang sosiologi ditulis dalam 10 buku (dua jilid Biologi, dua jilid psikologi, tiga jilid Sosiologi, dan dua jilid tentang moralitas) yang kemudian dikemas menjadi Programme of a System of Synthetic Philosophy (1862-1896). Paket ini memuat seluruh teori evolusi universal, meliputi evolusi bilogi, psikologi, sosial, dan etika. Karya-karya tersebut mengukuhkan dirinya sebagai penganut filsafat sintesis, yakni ilmu filsafat yang menggabungkan beberapa ilmu pengetahuan menjadi satu (Soekanto, 1990).
Dari sederet karya tersebut, buku Principles of Sociology merupakan karya monumental Spencer yang mendorong perkembangan Sosiologi sebagai ilmu populer di masyarakat, terutama di Prancis, Jerman, dan Amerika Serikat. Meski begitu, Spencer kurang mendapat sambutan di negeri sendiri.
Berikut sejumlah karya utama Spencer semaca hidupnya:
- Social Statics (1850).
- Principles of Psychology (1855).
- Principles of Biology (1861 dan 1864).
- First Principles (1862).
- The Study of Sociology (1873).
- Descriptive Sociology (1874).
- The Principles of Sociology (1877).
- Principles of Ethics (1883).
- Esai-esai:
- Education (1861)
- The Study of Sociology (1873)
- The Nature and Reality of Religion (1885)
- Various and Fragments (1897)
- Facts and Comments (1902)
Bila dicermati, karya-karya Spencer senantiasa mendasarkan konsepsi bahwa seluruh alam, baik yang berwujud organis, nonorganis, maupun superorganis berevolusi karena dorongan kekuatan mutlak yang kemudian disebutnya sebagai evolusi universal (Koentjaraningrat, 1987:34). Gambaran menyeluruh tentang evolusi universal umat manusia menunjukkan bahwa pada garis besarnya Spencer melihat perkembangan masyarakat dan kebudayaan dari suatu bangsa di dunia sudah melalui tingkatan evolusi yang sama.
C. Spencer tentang Sosiologi
Bagi Spencer, Sosiologi merupakan suatu studi evolusi dalam bentuk yang paling kompleks. Dia menguraikan materi sosiologi secara rinci dan sistematis dalam tiga jilid The Prinsiples of Sociology. Menurutnya, sosiologi merupakan ilmu pengetahuan mengenai hakikat manusia secara inkorporatif dengan pendekatan makro yang berpusat pada manusia. Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari segala gejala yang muncul dari perilaku manusia secara bersama-sama.
Spencer dalam Soekanto (1990: 444-447), objek pokok sosiologi adalah keluarga, politik, agama, pengendalian sosial, dan industri. Tambahannya antara lain asosiasi, masyarakat setempat, pembagian kerja, lapisan sosial, sosiologi pengetahuan dan ilmu pengetahuan, serta penelitian terhadap kesenian dan keindahan. Dia mengingatkan bahwa sosiologi juga harus menyoroti hubungan timbal balik antara unsur-unsur yang ada dalam masyarakat yang tetap dan harmonis, serta merupakan suatu integrasi, seperti pengaruh norma-norma tersebut di atas terhadap kehidupan keluarga serta hubungan antara lembaga politik dengan lembaga keagamaan. Oleh karena itu, Spencer berpendapat bahwa sosiologi adalah psikologi yang dipraktikkan dan mendapat wujud antara lain etika dan peradaban yang terdapat dalam masyarakat.
Haryanto (tt: 14) menyimpulkan, pandangan-pandangan Spencer tentang sosiologi mendapat pengaruh biologi dalam arti luas. Pertumbuhan suatu disiplin ilmu sosiologi dan biologi telah menarik perhatian baru terhadap faktor-faktor biologis di dalam perilaku manusia. Oleh para pendukungnya, sosiologi didefinisikan sebagai “suatu studi sistematik mengenai dasar-dasar biologis dari perilaku manusia”. Interaksi biologi dan kebudayaan mempengaruhi perilaku manusia yang dimulai dengan perkembangan masyarakat manusia. Banyak ahli masyarakat abad pertengahan menganalogikan manusia dengan organisme.
Spencer menekankan pentingnya pendekatan bagi seluruh gejala yang ada serta meningkatkan pendekatan bagi pengkajian kehidupan sosial. Berbeda dengan anggapan masyarakat selama ini tentang semua gejala yang berhubungan dengan masalah kemasyarakatan yang selalu dihubungkan dengan metafisik dan agama, Spencer memperkenalkan pendekatan baru yaitu pendekatan empiris dengan data konkret yang memisahkan antara agama dan metafisik dengan ilmu pengetahuan yang dapat dibuktikan oleh siapa saja dan kapan saja dengan hasil yang sama. Spencer adalah orang yang pertama kali menulis tentang masyarakat atas dasar data empiris yang konkret.
Pendekatan empiris ala Spencer mendapat banyak tantangan pemuka agama. Menyadari hal itu, Spencer kemudian melakukan rekonsiliasi antara ilmu pengetahuan dengan agama. Rekonsiliasi ini dimuat dalam bukunya yang terbit kemudian, yaitu yang berjudul First Prinsciple. Di sana Spencer membedakan fenomena ke dalam dua kelompok, yaitu fenomena atau kejadian yang dapat diketahui dan fenomena atau kejadian yang tidak dapat diketahui. Fenomena dan hal-hal yang dapat diketahui dianggap merupakan pengalaman nyata dan mudah diterima oleh akal manusia, sedang fenomena yang tidak dapat diketahui adalah hal-hal dan kejadian di luar ilmu pengetahuan dan konsepsi manusia (Siahaan, 1986:119-133).
Spencer terus berusaha mencari sumber-sumber asli dan menganalisis perkembangan aneka ragam ide yang tersirat di dalamnya. Dia memulai dengan tiga garis besar teorinya yang disebut dengan tiga kebenaran universal, yakni: 1) Materi yang tidak dapat dirusak; 2) Kesinambungan gerak; dan 3) Tenaga dan kekuatan yang terus-menerus. Selain itu, Spencer menyebutkan adanya empat dalil dari kebenaran universal sebagaimana disebutkan di bawah ini:
- Kesatuan hukum dan kesinambungan antara kekuatan-kekuatan yang tidak pernah muncul dengan sia-sia dan abadi.
- Kekuatan ini tidak musnah akan tetapi ditransformasikan ke dalam bentuk persamaan yang lain.
- Segala sesuatu yang bergerak sepanjang garis setidak-tidaknya akan dirintangi oleh suatu kekuatan yang lain .
- Ada sesuatu irama dari gerakan atau gerakan alternatif.
Spencer lebih lanjut mengatakan, evolusi dalam bentuk yang sederhana hanyalah merupakan suatu gerak yang hilang dan redistribusi dari keadaan. Evolusi terjadi di mana-mana dalam bentuk inorganik seperti astronomi dan geologi, dan dalam kehidupan organik seperti biologi dan psikologi serta kehidupan superorganik seperti sosiologi. Sedang sistem evolusi umum yang pokok menurut Spencer (Siahaan, 1986:119-133) meliputi:
- Ketidakstabilan yang homogen. Setiap homogenitas akan semakin berubah dan membesar serta akan kehilangan homogenitasnya karena kejadian setiap insiden tidak sama besar;
- Berkembangnya faktor yang berbeda-beda dalam rasio geometris. Berkembangnya bentuk-bentuk yang sebenarnya hanya merupakan batas dari suatu keseimbangan saja, yaitu suatu keadaan seimbang yang berhadapan dengan kekuatan-kekuatan lain;
- Kecenderungan terhadap adanya bagian-bagian yang berbeda-beda dan terpilah-pilah melalui bentuk-bentuk pengelompokan atau segregasi.
- Adanya batas final dari semua proses evolusi di dalam suatu keseimbangan akhir.
Giddings (1890) meringkas ajaran sistem sosial Spencer seperti di bawah ini (Haryanto, tt).
- Masyarakat adalah organisme atau mereka adalah superorganis yang hidup berpencar-pencar.
- Antara masyarakat dan badan-badan yang ada di sekitarnya ada suatu keseimbangan tenaga, suatu kekuatan yang seimbang antara masyarakat yang satu dan masyarakat yang lain, antara kelompok sosial satu dengan kelompok sosial yang lain.
- Keseimbangan antara masyarakat dengan masyarakat, antara masyarakat dan lingkungan mereka, berjuang satu sama lain demi eksistensi mereka di antara warga masyarakatnya. Akhirnya konflik menjadi suatu kegiatan masyarakat yang sudah lazim.
- Di dalam perjuangan ini kemudian timbulah rasa takut di dalam hidup bersama serta rasa takut untuk mati. Rasa takut mati adalah pangkal kontrol terhadap agama.
- Kebiasaan konflik kemudian diorganisir dan dipimpin oleh kontrol politik dari agama menjadi militerisme. Militerisme pada umumnya membentuk sifat dan tingkah laku serta membentuk organisasi sosial dalam peperangan.
- Militerisme menggabungkan kelompok-kelompok sosial yang kecil menjadi kelompok sosial yang lebih besar dan kelompok-kelompok tersebut memerlukan integrasi sosial. Proses semacam ini memperluas medan integrasi sosial yang biasanya terdapat pemupukan rasa perdamaian antar sesamanya serta rasa kegotongroyongan.
- Kebiasaan berdamai dan rasa kegotongroyongan membentuk sifat, tingkah laku serta organisasi sosial yang suka pada hidup tenteram dan penuh dengan rasa setia kawan.
- Dalam tipe masyarakat yang penuh dengan perdamaian, kekuatannya akan berkurang namun rasa spontanitas serta inisiatif semakin bertambah. Organisasi sosial menjadi semacam bungkus, sedang anggota masyarakat dapat dengan leluasa pindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Mereka mengubah hubungan sosial mereka tanpa merusak kohesi sosial yang telah ada. Kesemuanya ini merupakan elemen di mana rasa simpati dan seluruh pengetahuan yang ada di dalam kelompok sosial merupakan kekuatan tersendiri bagi masyarakat primitif.
- Perubahan dari semangat militerisme menjadi semangat industrialisme. Semangat kerja keras tergantung pada luasnya tenaga antara kelompok masyarakat yang ada serta kelompok masyarakat tetangganya, antara ras dalam suatu masyarakat yang ada serta masyarakat yang lain, antara masyarakat pada umumnya serta lingkungan fisis yang ada. Akhirnya semangat kerja keras yang disertai dengan penuh rasa perdamaian tak dapat dicapai sampai keseimbangan bangsa-bangsa serta ras-ras yang ada tercapai lebih dahulu.
- Di dalam masyarakat, seperti pada kelompok masyarakat lain tertentu, luasnya perbedaan serta jumlah kompleksitas segenap proses evolusi tergantung pada nilai proses integrasi. Semakin lambat nilai integrasinya, semakin lengkap dan memuaskan jalan evolusi itu. .
D. Spencer tentang Teori Evolusi
Soekanto (1990:484-485) mendefinisikan evolusi sebagai serentetan perubahan kecil secara pelan-pelan dan kumulatif yang terjadi dengan sendirinya dan memerlukan waktu lama. Evolusi dalam masyarakat adalah serentetan perubahan yang terjadi karena usaha-usaha masyarakat tersebut untuk menyesuaikan diri dengan keperluan, keadaan, dan kondisi baru yang timbul sejalan dengan pertumbuhan masyarakat. Perubahan ini tidak harus sejalan dengan rentetan peristiwa di dalam sejarah masyarakat yang bersangkutan.
Menurut Soekanto (1990:345-347), teori tentang evolusi dapat dikategorikan dalam tiga kategori.
- Unilinear theories of evolution. Teori ini berpendapat bahwa manusia dan masyarakat (termasuk kebudayaannya) mengalami perkembangan melalui tahapan tertentu, mulai dari bentuk sederhana menuju ke yang lebih kompleks (madya dan modern) dan akhirnya menjadi sempurna (industrial, sekuler). Pelopor teori ini antara lain adalah August Comte dan Herbert Spencer. Variasi teori ini adalah Cyclical theories yang dipelopori oleh Vilfredo Pareto dengan mengatakan bahwa masyarakat dan kebudayaan mempunyai tahap-tahap perkembangan yang merupakan lingkaran yang pada tahap tertentu dapat dilalui berulang-ulang. Pendukung teori ini adalah Pitirim A. Sorokin yang mengemukakan teori dinamika sosial dan kebudayaan. Menurut Sorokin, masyarakat berkembang melalui tahap kepercayaan, tahap kedua dasarnya adalah indera manusia, dan tahap terakhir dasarnya adalah kebenaran.
- Universal theory of evolution. Teori ini menyatakan bahwa perkembangan masyarakat tidak perlu melalui tahap-tahap perkembangan tertentu yang tetap. Kebudayaan manusia telah mengikuti suatu garis evolusi tertentu. Spencer mengemukakan prinsip-prinsipnya yaitu antara lain mengatakan bahwa masyarakat merupakan hasil perkembangan sifat maupun susunannya dari kelompok homogen ke kelompok yang heterogen.
- Multilined theories of evolution. Teori ini lebih menekankan pada penelitian-penelitian terhadap tahap-tahap perkembangan tertentu dalam evolusi masyarakat. Misalnya mengadakan penelitian tentang pengaruh sistem mata pencaharian dari sistem berburu ke sistem pertanian kekeluargaan dalam masyarakat.
Sementara itu, perspektif evolusioner adalah sudut pandang teoretis paling awal dalam sosiologi. Hal tersebut berdasarkan pada karya August Comte (1798-1857) dan Herbert Spencer (1820-1903). Keduanya menaruh perhatian pada perkembangan masyarakat secara evolusioner dari keseluruhan atau kesatuan yang utuh. Horton dan Hunt (1989:16-17) menjelaskan, perspektif evolusioner adalah perspektif yang aktif, sekali pun bukan merupakan perspektif utama dalam sosiologi.
Dalam bukunya, Positive Philosophy (1851-1854), Comte menulis tentang tiga tingkatan yang pasti dilalui pemikiran manusia yaitu: teologis, metafisik (atau filosofis), dan akhirnya positif (atau ilmiah). Comte berpendapat bahwa masyarakat mempunyai kedudukan yang dominan terhadap pribadi.
Sebaliknya, Spencer berpendapat bahwa pribadi mempunyai kedudukan dominan dalam struktur masyarakat. Dia menekankan bahwa pribadi merupakan dasar struktur sosial, meskipun masyarakat dapat dianalisis pada tingkat struktural. Struktur sosial suatu masyarakat dibangun untuk memungkinkan anggotanya memenuhi berbagai keperluan. Oleh karena itu, banyak ahli memandang Spencer bersifat individualistis. Terkait ketertarikannya pada perkembangan evolusi jangka panjang dari masyarakat modern, Spencer menilai masyarakat bersifat organis. Pandangan ini yang kemudian menjadikan Spencer sering disebut sebagai seorang teoretis organik karena usahanya memperluas prinsip-prinsip evolusi pada ilmu biologi ke institusi sosial.
Lebih jauh Spencer mengungkapkan bahwa perubahan alamiah dalam diri manusia mempengaruhi struktur masyarakat. Kumpulan pribadi dalam masyarakat merupakan faktor penentu bagi terjadinya proses kemasyarakatan yang pada hakikatnya merupakan struktur sosial dalam menentukan kualifikasi. Bagi Spencer, masyarakat merupakan material yang tunduk pada hukum universal evolusi. Masyarakat mempunyai hubungan fisik dengan lingkungan yang mengakomodasi dalam bentuk tertentu dalam masyarakat, terutama dalam organisasinya. Masyarakat tersusun atas dasar hakikat manusia dan bentuknya sangat dipengaruhi oleh alam yang sulit dimodifikasi. Modifikasi yang dilakukan oleh manusia sangat sulit ditentukan akibatnya (Haryanto, tt:24).
Diakui atau tidak, Spencer terpikat Darwinisme sosial populer setelah Charles Darwin menerbitkan buku Origin of Species (1859), sembilan tahun setelah Spencer memperkenalkan teori evolusi universalnya. Spencer memandang evolusi sosial sebagai serangkaian tingkatan yang harus dilalui semua masyarakat yang bergerak dari tingkat yang sederhana ke tingkat yang lebih rumit dan dari tingkat homogen ke tingkat heterogen. Horton dan Hunt (1989:59-61) menilai adanya suatu optimisme di masyarakat. Kemajuan masyarakat yang terus meningkat pesat pasti akan mengakhiri kesengsaraan dan meningkatkan kebahagiaan manusia.
Menurut Haryanto (tt:25), semua teori evolusioner menilai bahwa perubahan sosial memiliki arah tetap yang dilalui semua masyarakat. Perubahan sosial ditentukan dari dalam (endogen) yang sering digambarkan dalam arti diferensiasi struktural, perubahan dalam arti dari yang paling sederhana menuju masyarakat yang lebih kompleks. Masyarakat sederhana tidak terpadu yang tidak pasti (indefinite, incoherent homogenity), memiliki karakteristik, tidak ada pembagian tugas atau peran yang rinci dan lebih banyak bersifat informal. Sedang masyarakat yang lebih kompleks (definite, coherent heterogenity) memiliki karakteristik terspesialisasi dan formal.
Evolusi terjadi pada tingkat organis dan pada tingkat anorganis. Pada tingkat organis, perubahan terjadi dari sel homogen sederhana menuju organisme terpadu yang lebih tinggi dan kompleks. Evolusi anorganis prosesnya adalah proses yang bermula dari bulatan gas yang tidak menentu, tidak terpadu dan homogen, kemudian menggumpal menjadi bintang, planet, matahari, bulan yang berbeda yang kemudian diintegrasikan menjadi satu keseluruhan dalam gerakan yang mengikuti hukum-hukum tertentu. Selain evolusi organis dan anorganis, ada evolusi yang disebut evolusi superorganis. Evolusi superorganis ini hanya terjadi pada masyarakat. Evolusi superorganis di kemudian hari lebih dikenal sebagai evolusi sosial dan evolusi produksi yang sekarang kita kenal sebagai evolusi kebudayaan.
Seperti halnya sel pada organisme yang mempunyai cara dan sifat masing-masing, Spencer menilai watak dan sifat manusia itulah yang membawa perbaikan bagi masyarakat. Watak yang baik mudah menjadi teladan mengalami kemajuan karena rintangan yang muncul dapat terkikis dengan sendirinya pada saat terjadi proses menyelaraskan diri dengan masyarakat dan kemajuan. Hal ini juga berarti perjuangan hidup (struggle for life) dapat diatasi sehingga terbentuk masyarakat terbaik. Perjuangan hidup dan survival of the fittest adalah suatu wujud tenaga evolusi dalam masyarakat. Hal ini membuat manusia dalam masyarakatnya selaras dengan kehidupan politik, industri, dan sebagainya di sekitarnya. Di sini Spencer melihat kehidupan dalam masyarakat selalu mendorong anggotanya bersikap menyesuaikan diri dengan panggilan hidup yang lebih maju.
Peraturan negara harus menjaga agar supaya rakyat dan masyarakat dapat hidup merdeka dan memperjuangkan hidupnya. Spencer tidak setuju dengan peraturan yang melindungi pihak yang lemah, yang tidak mampu menyesuaikan diri terhadap kemajuan masyarakat. Spencer berpendapat bahwa pihak yang lemah hendaknya binasa saja atau harus berusaha belajar keterampilan dan keuletan sehingga nantinya yang akan tinggal hanya mereka yang terkuat (the fittest).
Spencer berpendapat bahwa orang-orang cakap dan bergairah (enerjik) yang akan mampu memenangkan perjuangan hidup dan berhasil, sedang orang yang malas dan lemah akan tersisih dengan sendirinya dan kurang berhasil dalam hidup. Kelangsungan hidup keturunan manusia lebih banyak dipengaruhi oleh kekuatan tenaga hidupnya. Kekuatan hidupnyalah yang mampu mengatasi kesukaran ujian hidup, termasuk kemampuannya menyesuaikan diri (berevolusi) dengan lingkungan fisik dan sosial yang selalu berubah dari waktu ke waktu.
Spencer berpendapat, suatu organisme akan bertambah sempurna apabila bertambah kompleks dan terjadi diferensiasi antara bagian-bagiannya. Hal ini berarti ada organisme yang mempunyai fungsi yang lebih matang di antara bagian-bagian lain dari organisme sehingga dapat berintegrasi dengan lebih sempurna. Secara evolusioner, tahap organisme tersebut akan semakin sempurna sifatnya. Dengan demikian organisme mempunyai kriteria yang dapat diterapkan pada setiap masyarakat yaitu kompleksitas, diferensiasi, dan integrasi. Evolusi sosial dan perkembangan sosial pada dasarnya adalah pertambahan diferensiasi dan integrasi, peningkatan pembagian kerja, dan suatu transisi dari keadaan homogen ke keadaan heterogen (Soekanto, 1990: 39-41).
Dalam bukunya Principles of Sociology, Spencer berpendapat bahwa pada masyarakat industri yang telah terjadi diferensiasi dengan mantap, akan ada stabilitas yang menuju pada keadaan hidup yang damai. Seperti juga Comte, Spencer berpendapat bahwa tujuan hidup setiap manusia adalah menyesuaikan diri dengan panggilan hidup dalam masyarakat sekitarnya yang selalu berevolusi menuju perbaikan dan kemajuan.
Pusat perhatian Spencer juga tertuju pada gerak yang dipandang sebagai suatu tenaga yang menggerakkan proses pemisahan (diferensiasi, membedabedakan) dan proses mengikat (integrasi, persatuan). Tenaga ini membawa kesamaan dan perpecahan dan ketidakpastian dalam evolusi sehingga membentuk kelompok, golongan, ras, suku bangsa, bangsa, dan negara. Evolusi terus berlanjut, ada yang menuju kesempurnaan, tetapi ada juga yang sebaliknya. Evolusi pada sosiologi mempunyai arti optimis yaitu tumbuh menuju keadaan yang sempurna, kemajuan, perbaikan, kemudahan untuk perbaikan hidupnya.
Seperti telah disinggung di atas, pandangan-pandangan sosiologi Spencer sangat dipengaruhi pesatnya kemajuan ilmu biologi. Beberapa di antaranya adalah:
- Pelajaran tentang sifat keturunan (descension), Lamarck (1909) yang menyatakan bahwa sifat manusia yang diturunkan kepada anak cucunya sangat dipengaruhi oleh tempat tinggal dan sifat bangsa itu. Teori evolusi ini berdasarkan pendapat bahwa hewan yang bertulang punggung bisa menyempurnakan bentuk badannya berdasarkan kebutuhannya kepada keturunannya.
- Teori seleksi dari Darwin (1859) mengatakan bahwa alam akan membuang segala sesuatu yang tidak terpakai dan memperkuat segala sesuatu yang berguna, seperti yang terjadi pada binatang, yang kuat akan mampu bertahan hidup dan yang lemah akan binasa.
- Teori tentang penemuan sel. Tubuh hewan dan tumbuh-tumbuhan terdiri dari organisme kecil-kecil yang disebut sel. Sel ini mempunyai sifat dan bentuk yang sama, tetapi mampu mempengaruhi sifat binatang atau tumbuhan berdasarkan ciri yang terkuat pada sel tersebut.
Teori-teori Spencer sangat dipengaruhi oleh pelajaran tentang sifat keturunan Lamarck yang menyamakan masyarakat dengan suatu organisme, dengan sel-selnya, dan selanjutnya ia membandingkannya seperti itu. Pendapat tentang biologi mempengaruhi dunia filsafat, psikologi dan lain sebagainya sehingga terjalin pertalian yang erat antara ilmu pengetahuan itu dengan sosiologi.
Membandingkan masyarakat dengan organisme, Spencer mengelaborasi ide besarnya secara detail pada semua masyarakat sebelum dan sesudahnya. Spencer menitikberatkan pada tiga kecenderungan perkembangan masyarakat dan organisme, yaitu: 1) Pertumbuhan dalam ukurannya; 2) Meningkatnya kompleksitas struktur; 3) Diferensiasi fungsi.
Spencer berkeyakinan bahwa kehidupan masyarakat tumbuh secara progresif menuju keadaan yang semakin baik. Karena itu, kehidupan masyarakat harus dibiarkan berkembang sendiri, lepas dari campur tangan yang mungkin akan memperburuk keadaan. Spencer menerima pandangan bahwa institusi sosial sebagaimana tumbuh-tumbuhan dan binatang, mampu beradaptasi secara progresif dan positif terhadap lingkungan sosialnya. Ia juga menerima sudut pandang Darwinian bahwa proses seleksi alamiah, “survival of the fittest”, juga terjadi dalam kehidupan sosial (istilah survival of the fittest justru diciptakan oleh Spencer beberapa tahun sebelum karya Darwin mengenai seleksi alam muncul). Jika tidak diganggu intervensi dari luar, individu yang layak akan bertahan hidup dan berkembang, sedangkan individu yang tak layak akhirnya punah. Spencer memusatkan perhatian pada individu, sedangkan Comte menekankan pada unsur yang lebih besar seperti keluarga.
Ritzer dan Goodman (2007) merangkum teori evolusi Spencer ke dalam dua perspektif. Pertama, teorinya berkaitan dengan peningkatan ukuran (size) masyarakat. Peningkatan ini menyebabkan diferensiasi fungsi yang dilakukannya. Kedua, masyarakat berubah melalui penggabungan. Makin lama makin menyatukan kelompok-kelompok yang berdampingan. Dia berbicara tentang gerak evolusioner dari masyarakat yang sederhana ke penggabungan dua kali lipat dan penggabungan tiga kali lipat.
Di bagian lain, Spencer menawarkan teori evolusi dari masyarakat militan ke masyarakat industri. Pada mulanya, masyarakat militan dijelaskan sebagai masyarakat terstruktur guna melakukan perang, baik yang bersifat defensif maupun ofensif. Sejalan dengan tumbuhnya masyarakat industri, fungsi perang sebagai perubahan berakhir. Masyarakat industri didasarkan pada persahabatan, tidak egois, dan penghargaan terhadap prestasi.
Dalam tulisannya mengenai etika dan politik, Spencer mengemukakan gagasan evolusi sosial yang lain. Di satu sisi ia memandang masyarakat berkembang menuju ke keadaan moral yang ideal atau sempurna. DI sisi lain ia menyatakan bahwa masyarakat yang paling mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannyalah yang akan bertahan hidup (survive), sedangkan masyarakat yang tak mampu menyesuaikan diri terpaksa menemui ajalnya. Hasil proses ini adalah peningkatan kemampuan menyesuaikan diri masyarakat secara keseluruhan.
Jadi, Spencer mengemukakan seperangkat gagasan yang kaya dan ruwet. Mula-mula gagasannya menikmati sukses besar, tetapi kemudian ditolak selama beberapa tahun, dan baru belakangan ini hidup kembali dengan munculnya teori sosiologi neoevolusi.(*)
Rujukan
Haryanto. (tt). Herbert Spencer (Modul Pembelajaran Universitas Terbuka). Jakarta: Universitas Terbuka.
Horton, Paul B. dan Hunt, Chester L.1989. Sosiologi, Jilid 1 dan 2. Jakarta: Erlangga.
Koentjaraningrat. 1987. Sejarah Teori Antropologi I. Jakarta: UI-Press.
Ritzer, George dan Goodman, Douglas J. 2007. Teori Sosiologi Modern (Edisi VI). Jakarta: Kencana.
Siahaan, Hotman M. (1986). Pengantar ke Arah Sejarah dan Teori Sosiologi. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Spencer, Herbert. 1897. The Principles of Sociology Vol. 1 (Edisi III). New Yrok: A. Appleton and Company.
Sukanto, Soerjono. (1982). Teori Sosiologi tentang Pribadi dan Masyarakat. Jakarta: Ghalia Indonesia.
———–. 1990. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Press.
Mengenal Pemikiran Herbert Spencer (URL http://ipahipeh.blog.fisip.uns.ac.id/2011/06/04/mengenal-pemikiran-herbert-spencer/) diakses pada Rabu, 19 Oktober 2011.
*Sebelum diunggah, artikel ini merupakan salah tugas mata kuliah Teori Ilmu-ilmu Sosial pada Program Magister Ilmu Sejarah Universitas Padjadjaran.
Anomali Sejarah di Gunung Lalakon
Mencengangkan. Itulah barangkali kalimat yang diucapkan awam terhadap hasil analisis geolistrik dan georadar terhadap Gunung Lalakon di Kabupaten Bandung yang dilakukan Turangga Seta, lembaga swadaya masyarakat yang percaya bahwa kebudayaan Nusantara lebih tua daripada Kebudayaan Sumeria, Mesir, atau Maya. Rangkaian penelitian Gunung Lalakon tersebut disajikan cukup komprehensif dalam bantuk laporan mendalam (indepth report) oleh Vivanews dengan judul Berburu Piramida Nusantara. Berikut resume singkatnya:
“Hasil geolisitrik terhadap Gunung Lalakon menunjukkan struktur berbentuk piramida di dalam bukit itu. Ada undak-undakan mirip tangga menuju puncak piramida. Di bagian dasar, ada semacam pintu, dan tampak juga sesuatu yang mirip lorong di dalamnya. Peneliti percaya ada semacam struktur geologis tak biasa di dalam gunung menyerupai piramida itu.”
Rekaman geolistrik boleh jadi menunjukkan hal itu, namun apakah benar dalam material gunung tersebut tersimpan piramida sebagaimana bisa kita saksikan di Mesir. Pertanyaan ini tentu saja membutuhkan jawaban sejarawan. Apa relevansinya? Jelas, jika benar piramida itu ada, maka hal itu merupakan produk budaya dari manusia yang hidup di zamannya. Adalah kejadian atau peristiwa di masa lampau yang menjadi objek dari disiplin ilmu sejarah. Sebagai disiplin, sejarah memilih metode sendiri untuk mengujinya. Dan, kaitannya dengan perkuliahan metode sejarah analisis artikel ini dibuat.
Langkah pertama yang dilakukan untuk menimbang hasil penelitian Turangga Seta adalah memperlakukan Gunung Lalakon dan dimensi di sekelilingnya sebagai sumber sejarah. Mengacu kepada klasifikasi sumber menurut Gottshalk dan Kuntowijoyo dalam Nina Herlina (2008: 7), kita dapat menyelompokkan gunung sebagai sumber benda. Sementara kesaksian tokoh masyarakat setempat, Abah Acu dan Jujun, dikategorikan sebagai sumber lisan. Sejauh ini belum ditemukan sumber tertulis di sekeliling Lalakon.
Langkah berikutnya, pengujian atau kritik terhadap kedua sumber tersebut. Untuk mengetahui lebih jauh tentang kemungkinan adanya piramida di balik kulit gunung tentu saja kita membutuhkan ilmu bantu, setidak-tidaknya geologi dan arkeologi. Dua ilmu bantu ini mutlak diperlukan karena subject matter-nya adalah lapiran bumi yang diduga menyimpan peninggalan arkeologis. Praktisnya, kita harus menunggu hasil akhir riset tim Turangga Seta yang disebutkan melibatkan sejumlah pakar di dalamnya.
Bagaimana dengan kesaksian Abah Acu? Ditinjau dari aspek kekuatan sumber, saya menilai sumber tersebut tidak dimasukkan dalam daftar sumber primer maupun sekunder karena dia hadir jauh setelah zaman piramida Mesir Kuno dibangun pada sekitar tahun 2650 SM. Ada semacam anakronisme di sini. Menempatkannya pada sumber lisan (oral history) pun tak relevan karena lagi-lagi terbentur faktor waktu. Barangkali, yang relatif lebih dekat adalah dengan menempatkannya sebagai tradisi lisan (oral tradition). Masalahnya, sejak kapan tradisi itu berkembang di sana? Wallahu alam.
Pertanyaan berikutnya seputar kesaksian adalah pertimbangan penilaian intrinsik terhadap sumber. Kredibilitas sejatinya diuji dengan kompetensi dan kejujuran. Parameter kompetensi dengan mempertimbangkan kehadiran saksi dengan peristiwa dan keahlian, dua-duanya tidak ada yang memenuhi. Dalam pandangan saya, kesaksian dua sumber dalam artikel di atas lebih tepat dikategorikan sebagai opini atau pendapat yang sulit diukur tingkat kebenarannya secara metode sejarah.
Salah satu –kalau bukan satu-satunya– cara untuk menguji kesaksian sumber lisan dalam konteks Gunung Lalakon adalah dengan teknik koroborasi. Nina Herlina (2008: 34) menjelaskan, koroborasi merupakan upaya mencari dukungan sumber lain untuk mendukung sumber sejarah dari sumber lain yang independen atau merdeka. Dalam kasus ini, sejarawan harus membandingkan kemungkinan adanya timbunan piramida dengan bentuk sejenis di tempat lain pada waktu yang sama atau sezaman.
Sebut saja misalnya mengambil benchmark atau patokan ke periode Mesir Kuno. Pertanyaan selanjutnya, bagaimana hubungan keduanya? Bila pembangunan piramida Lalakon menggunakan teknik yang sama, bagaimana proses transfer ilmu pengetahuan dari Mesir ke daerah yang sekarang berada di Kabupaten Lalakon tersebut? Jauh sebelum pertanyaan ini, apakah pada periode tersebut sudah ada kehidupan dengan peradaban tinggi di nusantara? Sulit menjawab pertanyaan ini.
Ditinjau dari aspek historis, sejarawan Nina Herlina Lubis dalam surat elektroniknya kepada Vivanews menjelaskan, di Tatar Sunda tak ada kebiasaan di Tatar Sunda membuat bangunan piramida dengan ketinggian hampir ratusan meter sebagai tempat suci. “Tempat suci di Tatar Sunda ini seringkali disebut multi-component sites atau situs berkelanjutan,” kata Nina.
Menurut ketua tim penulis Sejarah Tatar Sunda (2003) ini, Tatar Sunda pada masa prasejarah mengenal tempat suci sebagai punden berundak-undak, tempat pemujaan leluhur. Pada masa Hindu Budha (yang hidup pada masa Kerajaan Tarumanegara dan Kerajaan Sunda) tempat suci itu terus dipergunakan. Hanya saja, menhir dijadikan sebagai lingga, lalu bangunan berundak itupun diwujudkan dengan gunung yang di atasnya dibangun lingga. Saat Kerajaan Sunda runtuh, maka lingga pun diganti dengan nisan bagi makam tokoh yang dianggap keramat.
Senada dengan Nina pada akhir pernyataannya, tampaknya pembuktian terhadap dugaan adanya piramida di balik kulit Lalakon harus menunggu hasil riset lanjutan dari ahli geologi dan arkeologi. Nina meyakini bahwa ekskavasi atau penyingkapan merupakan cara tepat untuk menguji kebenaran dugaan Turangga Seta. Terlepas dari soal pembiayaan yang diperkirakan menyedot dana sangat besar, penyingkapan tutupan gunung akan menunjukkan fakta secara terang benderang. Kita tunggu saja. Selamat bekerja anak-anak MIT, Menyan Institute of Technology!
Sehari Kita Berbincang Pancasila
Selalu ada respek untuk setiap kejujuran, kesungguhan, dan perjuangan bagi republik ini. Saya tak peduli dari mana ketiganya datang dari mana, dari siapa. Mengutip Soe Hok Gie, simpatiku untuk mereka yang mengorbankan segala-galanya untuk Republik; Mereka yang ada di kanan dan mereka yang ada di kiri. Hari ini respek itu saya berikan untuk Baharuddin Jusuf Habibie dan Yudi Latif.
Orang pertama atas pidatonya yang cerdas dan menggugah. Sayang saya tak menyimak saat Habibie membacakannya di Gedung DPR/MPR RI 1 Juni 2011 lalu. Saya baru membaca pidato berjudul “Reaktualisasi Pancasila dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara” itu hari ini. Orang kedua atas bukunya “Negara Paripurna: Historisitas, Rasionalitas, dan Aktualitas Pancasila” yang juga pada 1 Juni 2011 kemarin didiskusikan di Graha Sanusi Hardjadinata kampus Universitas Padjadjaran (Unpad).
Saya kagum membaca pidato Habibie. Juga saat menyimak Yudi memberi prolog diskusi. Sayangnya buku Yudi seberat 1,11 kilogram tersebut belum saya miliki. Meminjam ungkapkan Buya Syafii Maarif, buku ini bisa menjadi lentera untuk memandu bangsa ini keluar dari kegelapan dan keterpurukan.
Ada energi positif untuk setidak-tidaknya menengok kembali Pancasila. Tahun ini MPR mengadakan parade pidato kepala negara dan mantan kepala negara tentang Pancasila. Ratusan orang berbondong-bondong ke Graha Sanusi. Ada banyak intelektual dan politisi hadir di sana. Ada juga wakil wali kota Bandung dan mantan wakil gubernur Jawa Barat. Tentu saja, sederet mahasiswi rupawan ikut menyimak takjim. Saya agak bingung, mana yang lebih menyegarkan siang itu; apakah es cendol dan awug yang jadi hidangan ringan atau paras-paras rupawan itu. Entahlah..
Yang pasti, kehausan akan menu Pancasila terpuaskan. Saya menerima tiga makalah pembicara. Ada makalah begawan intelektual Dawam Rahardjo, aktivis kemanusiaan Andreas A. Yawangoe, dan Colin Brown yang memperkirakan dirinyalah satu-satunya orang di ruangan itu yang tidak pernah mengikuti penataran P-4. Belakangan saya juga menerima kiriman soft copy tiga makalah tadi melalui surat elektronik.
Kini, lengkap sudah kebahagiaan saya. Selain mendapat salinan pidato Habibie yang menggebu-gebu, juga makalah dari tiga pemikir tadi. Hmm.. saya ingin berbagi dengan semuanya. Siapa saja. Di bagian akhir tulisan ini saya menampilkan kembali pidato lengkap Habibie yang saya salin dari Tempointeraktif. Sementara yang menginginkan salinan makalah diskusi, saya dengan senang hati berbagi. Kirim saja alamat email, dan saya dengan gembira meneruskan kiriman makalah dari panitia.
Nah, berikut naskah pidato mantan presiden itu.
Yth. Presiden RI, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono
Yth. Presiden ke-5, Ibu Megawati Soekarnoputri
Yth. Para mantan Wakil Presiden
Yth. Pimpinan MPR dan Lembaga Tinggi Negara lainnya
Bapak-bapak dan Ibu-ibu para anggota MPR yang saya hormati
Serta seluruh rakyat Indonesia yang saya cintai,
Assalamu ‘alaikum wr wb, salam sejahtera untuk kita semua.
Hari ini tanggal 1 Juni 2011, enam puluh enam tahun lalu, tepatnya 1 Juni 1945, di depan sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), Bung Karno menyampaikan pandangannya tentang fondasi dasar Indonesia Merdeka yang beliau sebut dengan istilah Pancasila sebagai philosofische grondslag (dasar filosofis) atau sebagai weltanschauung (pandangan hidup) bagi Indonesia Merdeka.
Selama enam puluh enam tahun perjalanan bangsa, Pancasila telah mengalami berbagai batu ujian dan dinamika sejarah sistem politik, sejak jaman demokrasi parlementer, demokrasi terpimpin, era Orde Baru hingga demokrasi multipartai di era reformasi saat ini. Di setiap jaman, Pancasila harus melewati alur dialektika peradaban yang menguji ketangguhannya sebagai dasar filosofis bangsa Indonesia yang terus berkembang dan tak pernah berhenti di satu titik terminal sejarah.
Sejak 1998, kita memasuki era reformasi. Di satu sisi, kita menyambut gembira munculnya fajar reformasi yang diikuti gelombang demokratisasi di berbagai bidang. Namun bersamaan dengan kemajuan kehidupan demokrasi tersebut, ada sebuah pertanyaan mendasar yang perlu kita renungkan bersama: Di manakah Pancasila kini berada?
Pertanyaan ini penting dikemukakan karena sejak reformasi 1998, Pancasila seolah-olah tenggelam dalam pusaran sejarah masa lalu yang tak lagi relevan untuk disertakan dalam dialektika reformasi. Pancasila seolah hilang dari memori kolektif bangsa. Pancasila semakin jarang diucapkan, dikutip, dan dibahas baik dalam konteks kehidupan ketatanegaraan, kebangsaan maupun kemasyarakatan. Pancasila seperti tersandar di sebuah lorong sunyi justru di tengah denyut kehidupan bangsa Indonesia yang semakin hiruk-pikuk dengan demokrasi dan kebebasan berpolitik.
Mengapa hal itu terjadi? Mengapa seolah kita melupakan Pancasila?
Para hadirin yang berbahagia,
Ada sejumlah penjelasan, mengapa Pancasila seolah “lenyap” dari kehidupan kita. Pertama, situasi dan lingkungan kehidupan bangsa yang telah berubah baik di tingkat domestik, regional maupun global. Situasi dan lingkungan kehidupan bangsa pada tahun 1945 — 66 tahun yang lalu — telah mengalami perubahan yang amat nyata pada saat ini, dan akan terus berubah pada masa yang akan datang. Beberapa perubahan yang kita alami antara lain: (1) terjadinya proses globalisasi dalam segala aspeknya; (2) perkembangan gagasan hak asasi manusia (HAM) yang tidak diimbagi dengan kewajiban asasi manusia (KAM); (3) lonjakan pemanfaatan teknologi informasi oleh masyarakat, di mana informasi menjadi kekuatan yang amat berpengaruh dalam berbagai aspek kehidupan, tapi juga yang rentan terhadap “manipulasi” informasi dengan segala dampaknya.
Ketiga perubahan tersebut telah mendorong terjadinya pergeseran nilai yang dialami bangsa Indonesia, sebagaimana terlihat dalam pola hidup masyarakat pada umumnya, termasuk dalam corak perilaku kehidupan politik dan ekonomi yang terjadi saat ini. Dengan terjadinya perubahan tersebut diperlukan reaktualisasi nilai-nilai pancasila agar dapat dijadikan acuan bagi bangsa Indonesia dalam menjawab berbagai persoalan yang dihadapi saat ini dan yang akan datang, baik persoalan yang datang dari dalam maupun dari luar. Kebelum-berhasilan kita melakukan reaktualisasi nilai-nilai Pancasila tersebut menyebabkan keterasingan Pancasila dari kehidupan nyata bangsa Indonesia.
Kedua, terjadinya euphoria reformasi sebagai akibat dari traumatisnya masyarakat terhadap penyalahgunaan kekuasaan di masa lalu yang mengatasnamakan Pancasila. Semangat generasi reformasi untuk menanggalkan segala hal yang dipahaminya sebagai bagian dari masa lalu dan menggantinya dengan sesuatu yang baru, berimplikasi pada munculnya ‘amnesia nasional’ tentang pentingnya kehadiran Pancasila sebagai grundnorm (norma dasar) yang mampu menjadi payung kebangsaan yang menaungi seluruh warga yang beragam suku bangsa, adat istiadat, budaya, bahasa, agama dan afiliasi politik. Memang, secara formal Pancasila diakui sebagai dasar negara, tetapi tidak dijadikan pilar dalam membangun bangsa yang penuh problematika saat ini.
Sebagai ilustrasi misalnya, penolakan terhadap segala hal yang berhubungan dengan Orde Baru, menjadi penyebab mengapa Pancasila kini absen dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Harus diakui, di masa lalu memang terjadi mistifikasi dan ideologisasi Pancasila secara sistematis, terstruktur dan massif yang tidak jarang kemudian menjadi senjata ideologis untuk mengelompokkan mereka yang tak sepaham dengan pemerintah sebagai “tidak Pancasilais” atau “anti Pancasila” . Pancasila diposisikan sebagai alat penguasa melalui monopoli pemaknaan dan penafsiran Pancasila yang digunakan untuk kepentingan melanggengkan kekuasaan. Akibatnya, ketika terjadi pergantian rezim di era reformasi, muncullah demistifikasi dan dekonstruksi Pancasila yang dianggapnya sebagai simbol, sebagai ikon dan instrumen politik rezim sebelumnya. Pancasila ikut dipersalahkan karena dianggap menjadi ornamen sistem politik yang represif dan bersifat monolitik sehingga membekas sebagai trauma sejarah yang harus dilupakan.
Pengaitan Pancasila dengan sebuah rezim pemerintahan tententu, menurut saya, merupakan kesalahan mendasar. Pancasila bukan milik sebuah era atau ornamen kekuasaan pemerintahan pada masa tertentu. Pancasila juga bukan representasi sekelompok orang, golongan atau orde tertentu. Pancasila adalah dasar negara yang akan menjadi pilar penyangga bangunan arsitektural yang bernama Indonesia. Sepanjang Indonesia masih ada, Pancasila akan menyertai perjalanannya. Rezim pemerintahan akan berganti setiap waktu dan akan pergi menjadi masa lalu, akan tetapi dasar negara akan tetap ada dan tak akan menyertai kepergian sebuah era pemerintahan!
Para hadirin yang berbahagia,
Pada refleksi Pancasila 1 Juni 2011 saat ini, saya ingin menggarisbawahi apa yang sudah dikemukakan banyak kalangan yakni perlunya kita melakukan reaktualisasi, restorasi atau revitalisasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, terutama dalam rangka menghadapi berbagai permasalahan bangsa masa kini dan masa datang. Problema kebangsaan yang kita hadapi semakin kompleks, baik dalam skala nasional, regional maupun global, memerlukan solusi yang tepat, terencana dan terarah dengan menjadikan nilai-nilai Pancasila sebagai pemandu arah menuju hari esok Indonesia yang lebih baik.
Oleh karena Pancasila tak terkait dengan sebuah era pemerintahan, termasuk Orde Lama, Orde Baru dan orde manapun, maka Pancasila seharusnya terus menerus diaktualisasikan dan menjadi jati diri bangsa yang akan mengilhami setiap perilaku kebangsaan dan kenegaraan, dari waktu ke waktu. Tanpa aktualisasi nilai-nilai dasar negara, kita akan kehilangan arah perjalanan bangsa dalam memasuki era globalisasi di berbagai bidang yang kian kompleks dan rumit.
Reformasi dan demokratisasi di segala bidang akan menemukan arah yang tepat manakala kita menghidupkan kembali nilai-nilai Pancasila dalam praksis kehidupan berbangsa dan bernegara yang penuh toleransi di tengah keberagaman bangsa yang majemuk ini. Reaktualisasi Pancasila semakin menemukan relevansinya di tengah menguatnya paham radikalisme, fanatisme kelompok dan kekerasan yang mengatasnamakan agama yang kembali marak beberapa waktu terakhir ini. Saat infrastruktur demokrasi terus dikonsolidasikan, sikap intoleransi dan kecenderungan mempergunakan kekerasan dalam menyelesaikan perbedaan, apalagi mengatasnamakan agama, menjadi kontraproduktif bagi perjalanan bangsa yang multikultural ini. Fenomena fanatisme kelompok, penolakan terhadap kemajemukan dan tindakan teror kekerasan tersebut menunjukkan bahwa obsesi membangun budaya demokrasi yang beradab, etis dan eksotis serta menjunjung tinggi keberagaman dan menghargai perbedaan masih jauh dari kenyataan.
Krisis ini terjadi karena luruhnya kesadaran akan keragaman dan hilangnya ruang publik sebagai ajang negosiasi dan ruang pertukaran komunikasi bersama atas dasar solidaritas warganegara. Demokrasi kemudian hanya menjadi jalur antara bagi hadirnya pengukuhan egoisme kelompok dan partisipasi politik atas nama pengedepanan politik komunal dan pengabaian terhadap hak-hak sipil warganegara serta pelecehan terhadap supremasi hukum.
Dalam perspektif itulah, reaktualisasi Pancasila diperlukan untuk memperkuat paham kebangsaan kita yang majemuk dan memberikan jawaban atas sebuah pertanyaan akan dibawa ke mana biduk peradaban bangsa ini berlayar di tengah lautan zaman yang penuh tantangan dan ketidakpastian? Untuk menjawab pertanyaan itu, kita perlu menyegarkan kembali pemahaman kita terhadap Pancasila dan dalam waktu yang bersamaan, kita melepaskan Pancasila dari stigma lama yang penuh mistis bahwa Pancasila itu sakti, keramat dan sakral, yang justru membuatnya teraleinasi dari keseharian hidup warga dalam berbangsa dan bernegara. Sebagai sebuah tata nilai luhur (noble values), Pancasila perlu diaktualisasikan dalam tataran praksis yang lebih ‘membumi’ sehingga mudah diimplementasikan dalam berbagai bidang kehidupan.
Para hadirin yang berbahagia,
Sebagai ilustrasi misalnya, kalau sila kelima Pancasila mengamanatkan terpenuhinya “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”, bagaimana implementasinya pada kehidupan ekonomi yang sudah menggobal sekarang ini?
Kita tahu bahwa fenomena globalisasi mempunyai berbagai bentuk, tergantung pada pandangan dan sikap suatu Negara dalam merespon fenomena tersebut. Salah satu manifestasi globalisasi dalam bidang ekonomi, misalnya, adalah pengalihan kekayaan alam suatu Negara ke Negara lain, yang setelah diolah dengan nilai tambah yang tinggi, kemudian menjual produk-produk ke Negara asal, sedemikian rupa sehingga rakyat harus “membeli jam kerja” bangsa lain. Ini adalah penjajahan dalam bentuk baru, neo-colonialism, atau dalam pengertian sejarah kita, suatu “VOC (Verenigte Oostindische Companie) dengan baju baru”.
Implementasi sila ke-5 untuk menghadapi globalisasi dalam makna neo-colnialism atau “VOC-baju baru” itu adalah bagaimana kita memperhatikan dan memperjuangkan “jam kerja” bagi rakyat Indonesia sendiri, dengan cara meningkatkan kesempatan kerja melalui berbagai kebijakan dan strategi yang berorientasi pada kepentingan dan kesejahteraan rakyat. Sejalan dengan usaha meningkatkan “Neraca Jam Kerja” tersebut, kita juga harus mampu meningkatkan “nilai tambah” berbagai produk kita agar menjadi lebih tinggi dari “biaya tambah”; dengan ungkapan lain, “value added” harus lebih besar dari “added cost”. Hal itu dapat dicapai dengan peningkatan produktivitas dan kualitas sumberdaya manusia dengan mengembangkan, menerapan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Dalam forum yang terhormat ini, saya mengajak kepada seluruh lapisan masyarakat, khususnya para tokoh dan cendekiawan di kampus-kampus serta di lembaga-lembaga kajian lain untuk secara serius merumuskan implementasi nilai-nilai Pancasila yang terkandung dalam lima silanya dalam berbagai aspek kehidupan bangsa dalam konteks masa kini dan masa depan. Yang juga tidak kalah penting adalah peran para penyelenggara Negara dan pemerintahan untuk secara cerdas dan konsekuen serta konsisten menjabarkan implementasi nilai-nilai Pancasila tersebut dalam berbagai kebijakan yang dirumuskan dan program yang dilaksanakan. Hanya dengan cara demikian sajalah, Pancasila sebagai dasar Negara dan sebagai pandangan hidup akan dapat ‘diaktualisasikan’ lagi dalam kehidupan kita.
Memang, reaktualisasi Pancasila juga mencakup upaya yang serius dari seluruh komponen bangsa untuk menjadikan Pancasila sebagai sebuah visi yang menuntun perjalanan bangsa di masa datang sehingga memposisikan Pancasila menjadi solusi atas berbagai macam persoalan bangsa. Melalui reaktualisasi Pancasila, dasar negara itu akan ditempatkan dalam kesadaran baru, semangat baru dan paradigma baru dalam dinamika perubahan sosial politik masyarakat Indonesia.
Para hadirin yang saya hormati,
Oleh karena itu saya menyambut gembira upaya Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang akhir-akhir ini gencar menyosialisasikan kembali empat pilar kebangsaan yang fundamental: Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI. Keempat pilar itu sebenarnya telah lama dipancangkan ke dalam bumi pertiwi oleh para founding fathers kita di masa lalu. Akan tetapi, karena jaman terus berubah yang kadang berdampak pada terjadinya diskotinuitas memori sejarah, maka menyegarkan kembali empat pilar tersebut, sangat relevan dengan problematika bangsa saat ini. Sejalan dengan itu, upaya penyegaran kembali juga perlu dilengkapi dengan upaya mengaktualisasikan kembali nilai-nilai yang terkandung dalam keempat pilar kebangsaan tersebut.
Marilah kita jadikan momentum untuk memperkuat empat pilar kebangsaan itu melalui aktualisasi nilai-nilai Pancasila sebagai weltanschauung, yang dapat menjadi fondasi, perekat sekaligus payung kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan membumikan nilai-nilai Pancasila dalam keseharian kita, seperti nilai ketuhanan, nilai kemanusiaan, nilai persatuan, nilai permusyawaratan dan keadilan sosial, saya yakin bangsa ini akan dapat meraih kejayaan di masa depan. Nilai-nilai itu harus diinternalisasikan dalam sanubari bangsa sehingga Pancasila hidup dan berkembang di seluruh pelosok nusantara.
Aktualisasi nilai-nilai Pancasila harus menjadi gerakan nasional yang terencana dengan baik sehingga tidak menjadi slogan politik yang tidak ada implementasinya. Saya yakin, meskipun kita berbeda suku, agama, adat istiadat dan afiliasi politik, kalau kita mau bekerja keras kita akan menjadi bangsa besar yang kuat dan maju di masa yang akan datang.
Melalui gerakan nasional reaktualisasi nilai-nilai Pancasila, bukan saja akan menghidupkan kembali memori publik tentang dasar negaranya tetapi juga akan menjadi inspirasi bagi para penyelenggara negara di tingkat pusat sampai di daerah dalam menjalankan roda pemerintahan yang telah diamanahkan rakyat melalui proses pemilihan langsung yang demokratis. Saya percaya, demokratisasi yang saat ini sedang bergulir dan proses reformasi di berbagai bidang yang sedang berlangsung akan lebih terarah manakala nilai-nilai Pancasila diaktualisasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Demikian yang bisa saya sampaikan. Terimakasih atas perhatiannya.
Wassalamu ‘alaikum wr wb.
Jakarta 1 Juni 2011
Bacharuddin Jusuf Habibie
Alamat Dinas Pendidikan se-Banten
Dinas Pendidikan Provinsi Banten
JL Syeh Nawawi Al Bantani KP3B Palima – Serang
0254-267064
Dinas Pendidikan Kabupaten Tangerang
Jl. Perintis Kemerdekaan II
Cikokol – Kota Tangerang
Telp. 552 3260 Fax. 557 947 16
Dinas Pendidikan Kabupaten Lebak
Jl. Siliwangi Pasir Ona
Rangkasbitung – Banten
Telp. (0252) 280786
Dinas Pendidikan Kota Tangerang
Gedung Cisadane Lt. I
Jl. KS. Tubun NO. 1
Telp. 55767074 – Tangerang
Dinas Pendidikan Kota Tanggerang Selatan
Komp. Perkantoran Pemerintahan Kota Tangsel
Jalan Witana Harja – Tangerang Selatan
021 -7402165 / 7405768
Dinas Pendidikan Kota Cilegon
Jalan Kepodong Kav Blok F NO 11
Telp. 0254 – 374273
Dinas Pendidikan Kabupaten Pandeglang
Jalan Jenderal Sudirman No 2
Cikupa – Pandeglang
0253 – 201300 / 201330
Dinas Pendidikan Kota Serang
JL Ki Ajurum No 30 Kecamatan Cipocok Jaya
Kota Serang 42121 Telp 0254 – 220613
Dinas Pendidikan Kabupaten Serang
Jalan Penancangan Baru No 35
Serang 0254 – 200286
Kawin, Setelah itu Sakit (Berbagi Kekonyolan Pagi)
Sangat jarang, bahkan mungkin tidak pernah, saya ngeblog pagi-pagi layaknya hari ini. Biasanya jam segini saya masih bermalas-malas di rumah, bahkan belum bangun. Pagi ini lain cerita. Pukul 06.45 saya mendapat SMS mengagetkan, “A.. Hampura agung te masuk.. Agung na ka bancen a..” Suerrr saya kurang mengerti maksud “ka bancen”. Perkiraaan saya, mungkin maksudnya sakit, sehingga tak bisa masuk. Tentu, saya tak perlu menggunakan metode Sherlock Holmes –layaknya istri saya menyimpulkan posisi saya lagi di rumah tadi malam,hehehe..- untuk menyimpulkan itu.
Tanpa ba bi bu, saya langsung meluncur ke kamar mandi. Sikat gigi, mandi tak usahlah. Cukup cuci muka. Kalaupun saya tadi malam makan pete tiga papan, ah itu lain soal. Masalah itu beres dengan sikat gigi. Tak juga ngopi, rutinitas yang berlangsung saban pagi sejak bertahun-tahun. Target saya, tiba di Violet Copy Centre secepat mungkin. Kalau mungkin, secepat kilat. Hahahah..
Benar, si Agung absen hari ini. Kabancen itu sakit, mungkin juga kasibat, tak tahu ada istilah lain yang lebih pas. Dalam hati saya bergumam, untung kemarin saya tak menanyakan Pak Teguh (Kabid KSPK BKKBN Jawa Barat yang jadi pemimpin redaksi saya di Majalah Warta Kencana) yang tempo hari mau mengajak saya ke Karawang. Saya tahu kalau dia terlalu sibuk untuk mengingat janjinya ngajak saya ke Karawang. Jadi, kalau saya tak mengingatkannya, saya anggap dia memang tak pernah bilang. Saya yakin dia juga lupa pernah bilang begitu di Jayagiri sehari sebelumnya.
Hmm.. si Agung sakit. Manusiawi, tapi agak mengelitik. Agung menambah daftar aksioma dalam memori saya. Begini kira-kira; Setiap pegawai baru tentu ingin menunjukkan bahwa dia rajin. Selain rajin bekerja, dia juga tekun beribadah. Pegawai ingin menunjukkan citra bahwa saya tak salah memilih dia bekerja di perusahaan (ehem.. ehem… perusahaan, hahahah). Oya, bagian ini anggap saja kalau saya sedang berbagi pengalaman sebagai pebisnis pemula. Ini adalah pengalaman Violet Copy Centre memiliki karyawan yang lajang untuk kemudian menikah. Dua karyawan laki-laki saya memiliki stereotipe yang sama, rajin di awal lalu kemudian cenderung santai –untuk menghindari sebutan malas- setelah menikah.
Saya mencatat dalam ingatan, si Ucil pegawai saya sebelumnya sangat rajin di awal. Kemudian jadi pemalas. Setelah menikah, malasnya menjadi-jadi. Lebih dari itu, dalam seminggu hampir bisa dipastikan sakit. Parahnya lagi, kerjanya jadi nggak karu-karuan manakala berantem dengan istrinya. Sebagai keluarga pemula, penyesuaian psikologis memang butuh waktu. Lama-lama jengkel juga. Si Ucil saya suruh mengundurkan diri saja. Tidak dipecat lho.. Tekanan Dewan Syuro PKS kepada Arifinto yang tepergok nyabul di sidang paripurna beberapa hari lalu untuk mundur, lebih kurang mirip dengan apa yang saya lakukan kepada si Ucil. Dalam hal ini, saya lebih maju dari Dewan Syuro, hahahah… Anjrit kampring!
Kini, si Agung. Dia menikah belum lama. Sebulan bekerja di tempat saya, dia bilang mau menikah. Saya bercanda, “Gung, lamun geus kawin sok geringan siah!” “Ah, Agung mah moal.” Dia mantap mengatakan itu. Saya juga mantap dalam hati, lihat saja nanti. Faktanya, si Agung mulai geringan setelahnya. Saya tidak ingin membuat generalisasi. Ini hanya pengalaman. Dan, kata orang bijak, “Pengalaman adalah guru terbaik.” Pengalaman tak perlu sertifikasi, tak perlu pendidikan profesi. Dia begitu otentik, sehingga keabsahannya tak perlu diragukan. Saya percaya itu. Ini pula yang barangkali mengilhami Bung Karno menulis pidato pembelaan di hadapan MPRS dengan judul Jas Merah; Jangan Sekali-sekali Melupakan Sejarah. Historia magistra vitae!
Eits, tapi jangan terlalu serius. Tak perlu berlebihan menyikapi karyawan. Sekali lagi, saya hanya berbagi. Setidak-tidaknya berbagi kekonyolan. Sebaiknya, berilah dia kepercayaan. Ini penting karena tanpa itu, hati akan selalu resah dan curiga kepada pegawai. Jangan pula berlebihan. Maklum, seperti kata Bang Napi, *tuing-tuing* kejahatan muncul bukan semata-mata ada keinginan, tapi juga kesempatan. Bang, buka dong topengnya! Heuheuheu…
Akhirul kalam, kalimat kedua dalam tulisan ini berlaku ketika saya memulai ngetik, bukan sekarang. Sekarang sudah 10.30, setiap hari pun saya sudah berkeliaran di luar rumah. Lama juga ngetik sependek ini. Maklum, saya pagi-pagi ke Violet bukan buat ngeblog, tapi buat motokopi. Wajar tulisan ini berkali-kali kepotong motokopi, ngejilid, etc.. Oh, ternyata asya belum sarapan..
Alamat Kantor Bupati/Wali Kota di Indonesia
Kantor Bupati Bandung
Jl. Raya Soreang No. 141, Bandung – Jawa Barat
Telp. (022) 5891004
Kantor Bupati Bekasi
Jl. A. Yani No. 1, Bekasi – Jawa Barat
Telp. (021) 8801336
Kantor Bupati Bogor
Jl. Raya Tegar Beriman, Cibinong – Jawa Barat
Telp. (0251) 8754733
Fax. (0251) 8754707
Kantor Bupati Ciamis
Jl. Jend. Sudirman No. 16, Ciamis – Jawa Barat
Telp. (0265) 771019
Kantor Bupati Cianjur
Jl. H. Siti Jenab No. 31, Cianjur – Jawa Barat
Telp. (0263) 261890
Fax. (0263) 263686
Kantor Bupati Cirebon
Jl. H. Sunan Kalijaga No. 7, Cirebon – Jawa Barat
Telp. (0231) 321231
Kantor Bupati Garut
Jl. Pembangunan No. 189, Garut – Jawa Barat
Telp. (0262) 233838
Kantor Bupati Indramayu
Jl. Mayjen. Sutoyo No.1/E, Indramayu – Jawa Barat
Telp. (0234) 2722454
Kantor Bupati Karawang
Jl. A. Yani No. 1, Karawang – Jawa Barat
Telp. (0267) 402111
Kantor Bupati Kuningan
Jl. Siliwangi No. 88, Kuningan – Jawa Barat
Telp. (0232) 871040
Fax. (0232) 871068
Kantor Bupati Lebak
Jl. Alun-Alun Selatan No. 2, Rangkasbitung – Banten
Telp. (0254) 20106
Kantor Bupati Majalengka
Jl. A. Yani No. 1, Majalengka – Jawa Barat
Telp. (0233) 281201
Kantor Bupati Pandeglang
Jl. A. Satriawijaya No. 1, Pandeglang – Banten
Telp. (0254) 201001
Fax. (0254) 20889
Kantor Bupati Purwakarta
Jl. Gandanegara No. 25, Purwakarta – Jawa Barat
Telp. (0234) 200036, 200039
Kantor Bupati Serang
Jl. Veteran No. 1, Serang – Banten
Telp. (0254) 200904, 201952
Kantor Bupati Subang
Jl. Dewi Sartika No. 2, Subang – Jawa Barat
Telp. (0260) 411006
Kantor Bupati Sukabumi
Jl. R. Syamsudin, S.H., No. 54, Sukabumi – Jawa Barat
Telp. (022) 222040
Fax. (022) 262533
Kantor Bupati Sumedang
Jl. Prabu Geusan Ulun No. 36, Sumedang – Jawa Barat
Telp. (022) 201236
Fax. (022) 201236
Kantor Bupati Tangerang
Jl. Daan Mogot No. 53, Tanggerang – Banten
Telp. (0254) 5524864
Kantor Bupati Tasilmalaya
Jl. Mayor Utarya No. 1, Tasikmalaya – Jawa Barat
Telp. (0265) 330945, 336450
Fax. (0265) 333937
Kantor Gubernur Banten
Jl. Telp. (0254) 200123
Fax. (0254) 200520
Kantor Gubernur Jawa Barat
Jl. Diponegoro No. 22, Bandung – Jawa Barat
Telp. (022) 4204483, 4239450
Fax. (022) 4236347, 4231161
Kantor Walikota Bandung
Jl. Wastukencana No. 2, Bandung – Jawa Barat
Telp. (022) 4207706
Kantor Walikota Bekasi
Jl. Ir. H. Juanda No. 100, Bekasi – Jawa Barat
Telp. (021) 8811611
Kantor Walikota Bogor
Jl. Ir. H. Juanda No. 10, Bogor – Jawa Barat
Telp. (0251) 321000, 324473
Kantor Walikota Cirebon
Jl. Siliwangi No. 84, Cirebon – Jawa Barat
Telp. (0231) 202059
Fax. (0231) 204357
Kantor Walikota Cirebon
Jl. Jend. Sudirman No. 2, Cilegon – Banten
Telp. (0254) 552369, 5522277
Kantor Walikota Depok
Jl. Margonda Raya No. 54, Depok – Jawa Barat
Telp. (021) 7760850, 7521440
Fax. (021) 7760850
Kantor Walikota Sukabumi
Jl. R. Syamsudin, S.H., No. 25, Sukabumi – Jawa Barat
Telp. (022) 225020
Fax. (022) 240746
Kantor Walikota Tanggerang
Jl. Sudirman, Tanggerang, Banten
Telp. (0254) 5523001











Mereka Bilang